Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Friday, October 9, 2015

Sang Pembaca

Setumpuk buku dipegangnya begitu saja, dengan satu tangan sekaligus lima buku dalam tangkupan. Tangan yang satu sibuk mencari buku baru, tangan yang satu sibuk menjaga lima buku calon ladang ilmu. Matanya menyapu ke segala penjuru, mengamati tanda, mengamati pola, menjadikannya almanak yang kelak akan dipungutnya, dibacanya, dihisap sari pati ilmunya. Perlahan tapi pasti langkahnya perlahan menjadi gontai, bukan karena kesulitan membawa beban buku yang terlalu banyak, tapi karena beban pikiran yang menumpuk bertumpuk menjadikan pikirannya lapuk, layaknya kerupuk yang sudah tak berbentuk.


Membaca, mungkin hanya itu pelariannya. Dengan kacamata minus yang jadi ciri khasnya, dengan belang warna di antara kedua frame lensanya, dia perlahan beringsut menyeret tubuhnya menjauhi segala keriuhan sekitarnya. Tercatat lima belas buku berada di tangannya, berbagai macam jenis, komik, novel, cerpen, sampai resep makanan pun dia bawa. Nampaknya dia mengambil buku secara acak, menjadikannya ajang penghiburan diri. Kadang tertawa, kadang terbahak, kadang tergugu, kadang tersenyum getir, begitulah dia ketika sedang membaca bukunya. Tanpa peduli tatapan aneh orang-orang sekitar, lembar demi lembar buku pilihannya telah habis dia babat, dia baca, dia kelumat segala maknya, dia resap segala ilmunya. Ah baginya, bahagia itu sederhana. Cukup membaca berbagai macam buku, tak peduli buku baru ataupun lama, toh nikmatnya tetap sama.


Membaca, hanya dia yang bisa setelah kehilangan semuanya. Kehilangan keluarganya, kehilangan kekasihnya, kehilangan dunianya, semuanya lenyap ditelan angkara semesta. Hanya dia yang tersisa di desanya, desa di pinggiran kota tua, kota tua yang perlahan ditinggal penduduknya pergi ke ibu kota. Tanpa pilihan, tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah kaki menuntunnya kemana, dia memutuskan untuk membaca. Membaca setiap tanda alam, membaca setiap pola, membaca buku biasa. Pembaca dari desa, begitulah orang-orang memanggilnya. Tanpa malu salah, tanpa malu benar, padahal bisa saja mereka menjuluki dirinya sebagai pembaca dari kota. Tapi apa daya, keperluan mencari harta jauh lebih berharga dibanding hanya dihabiskan dengan membaca, begitu kilahnya mereka.


Perpustakaan kota, surga tersembunyi di belantara gedung-gedung yang menjulang seolang menopang langit. Tempatnya terjepit di antara dua gedung berpuluh tingkat, sekali saja kepala mendongak, seketika pula terasa sesak, melihat tingginya gedung pencakar langit di kanan kirinya. Perpustakaan kota, tempat pertama yang didatangi ketika dia sampai di kota. Tak banyak pengunjung yang datang waktu itu, tanpa banyak tanya dia berbalik ke arah pintu dan memasukinya. Kamar mandi, tempat pertama yang dipilihnya ketika memasukinya. Entah kenapa? Mungkin dia ingin membasuh mukanya, membersihkan sisa-sisa duka yang tersisa, menghapus jejak luka yang terlihat menganga di jiwanya, tapi bisa apa air kran membersihkannya? Nyatanya dia tak peduli, yang terpenting aku mandi dan mengganti setelan bajunya, begitu pikirnya. Dia tahu, tampilan luar jadi ajang penilaian pertama ketika di kota. Sekiranya hanya itu saja yang dia tahu tentang hidup di kota.

Perlahan, setumpuk buku tua sudah jadi temannya. Setumpuk ensiklopedi menjadi kawannya. Dan buku resep makanan sebagai teman tidurnya. Lucu memang, melihat buku resep makanan dijadikan teman tidurnya. Tapi apa mau dikata, kata Pak Darman, lelaki tua penunggu perpustakaan kota mengijinkannya menjadi penjaga perpustakaan bersamanya. Ah pucuk dicinta ulam pun tiba, bak gayung bersambut dia pun menerimanya. Tiada hari tanpa membaca, begitulah prinsip hidupnya. Mulai dari pojokan sana, sampai pojokan sini, seluruh penjuru perpustakaan pernah dijajahnya. Hampir seluruh koleksi buku sudah dibacanya, dari buku yang beraliran kanan, beraliran kiri, sampai resep makanan pun sudah dilahapnya. Kalau pun ada yang menantangnya beradu ilmu, mungkin dia yang jadi pemenangnya.


Sang pembaca, begitulah para pengunjung menjulukinya. Dengan senyum ramah yang jadi andalan, dia membantu setiap pengunjung mencari buku pilihannya tanpa terkecuali. Perlahan tapi pasti, di tangannya perpustakaan menjadi arena belajar bagi semua. Menjadikannya seperti surga, menawarkan bahagia kepada semuanya, tanpa pandang bulu, tanpa pandang strata, semua bebas membaca di tempatnya. Ah rasanya, jika saja sekolah formal begini suasana mungkin negeri ini tak perlu pusing mencari para calon penerusnya. Ah memang benar, selalu ada pelangi di balik hujan badai. Masa lalunya yang kelam, perlahan tergerus lepas dibalik tawanya yang lepas. Sapa ramah, rasa antusias kepada setiap pengunjung, kepada setiap buku yang dibacanya telah merubah banyak dirinya. Dari yang dulunya tak tahu apa-apa, menjadi sosok yang tak banyak kata. Layaknya padi yang makin menguning, makin berisi makin menunduk, menjadi bijaksana. Baginya membaca adalah segalanya. Karena dia tau, tanpa membaca mungkin dia tak akan pernah ada, takkan pernah menjadi Sang Pembaca.



Dengan membaca sepahit apapun masa lalumu, semua terasa akan baik-baik saja. Karena dengan membaca jiwamu menjadi seluas samudra, menjadi bijaksana. Membaca, membuat masa lalumu terasa seperti latihan berjalan untukmu. Dengan membaca semua terasa baik-baik saja. Karena membaca bisa membuat kita bahagia, membuat lebih bijaksana, dan banyak manfaatnya. 

Jadi, membacalah!

40 comments:

  1. membaca memang banyak manfaat nya, selain menambah pengetahuan juga banyak banget manfaat nya, kadang kalo saya lagi stres atau galau mending blog walking atau gramedia aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mbak, kadang pas kondisi hati dan pikiran lagi tak karu-karuan biasanya sih aku larinya kalo gak ke gramedia ya perpustakaan daerah. Ya sekedar untuk membaca, menguras masalah

      Delete
  2. Replies
    1. iya, karena membaca adalah kegiatan menyingkap tabir dunia lewat buku

      Delete
  3. The power of 'membaca'. Ya setuju, membaca awalnya semacam pelarian, makin ditekuni makin di dalami banyak hal yang dapat dipetik dari membaca. Hinga kita menemukan apa yang kita inginkan. Termasuk kebahagiaan.

    Semangat membaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena menurut saya kebahagiaan yang sederhana adalah dengan membaca buku :))

      Delete
  4. Dengan membaca sepahit apapun masa lalumu, semua terasa akan baik-baik saja. Karena dengan membaca jiwamu menjadi seluas samudra, menjadi bijaksana. Membaca, membuat masa lalumu terasa seperti latihan berjalan untukmu. Dengan membaca semua terasa baik-baik saja. Karena membaca bisa membuat kita bahagia, membuat lebih bijaksana, dan banyak manfaatnya.


    Good Article :)

    ReplyDelete
  5. Bijak amat....
    klo pernah denger mambaca itu adalah jendela dunia, gw setuju banget, klo jendela hati kamu apa kabarnya?

    ReplyDelete
  6. Jadi inget tumpukan buku di rak, banyak yang belum kubaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibaca lagi aja bu, kalo gak dibaca lagi ya bisa nih dibagi-bagi ke saya saja :D

      Delete
  7. setuju, deh. Dengan membaca kadang imajinasi kita bermain. Perasaan kita pun ikut terbawa. *makanya saya paling gak suka baca cerita tentang selingkuh. Suka pengen banting bukunya hahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kalo buku soal selingkuh mah iya, yg ada malah greget X)

      Delete
  8. apa ini penggambaran tentang kamu? :)))
    ada kata kacamata minusnya :))

    ReplyDelete
  9. Dengan membaca saya bisa memilih dunia mana yang enak untuk disinggahi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan membaca kita bisa menjadi sang traveller, time traveller X)

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Wah tulisan yang menarik hari gue untuk membuka link postingannya, walah setelah dibuka ternyata temanya tentang membaca buku. Dulunya gue adalah seorang yang gak terlalu suka buku, tapi lambat laun gue biasain buat membaca lebih rileks dan fokus, ternyata ada khasiat tersendiri dan perasaan senang jika membaca buku. Selain bisa menambah pengetahuan, membaca buku juga bisa membuat hati lebih tenang dan sejuk :)

    salam kenal mas:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa iya kak, begitulah manfaatnya membaca
      iya salam kenal kembali X)

      Delete
  12. Tidak bisa membayangkan orang bisa bijaksana tanpa membaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanpa membaca, kedalaman ilmu seakan terlihat begitu nyata, Begitu dangkal

      Delete
  13. membaca itu bagaikan mesin waktu yang membawa kita ke dimensi lain. Melepas kita dari raga kita, terbawa bersama alur cerita menuju tempat-tempat dan kisah yang gak pernah kita tau kapan kisah itu akan berakhir. Yap, itulah hebatnya membaca. Ada yang bilang sebagai jendela dunia, tapi aku lebih senang menyebutnya sebagai pelarian :)

    salam kenal ya mas :D

    ReplyDelete
  14. Dengan membaca bisa memperoleh ilmu dari berbagai sumber tapi tidak semua orang menyukai baca buku, hmmm. :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya tak apa, tetaplah membaca dan tetaplah bergembira dalam membaca :))

      Delete
  15. baca baca baca...
    you are right.. book is a life..
    my great gift from god is book..

    ReplyDelete
  16. haha perbanyak membaca biar tak banyak lupa :D

    ReplyDelete
  17. Kini membaca sering di kompi dan HP, dulu hanya tok baca di buku, saat nyusun skripsi rajin bingit ke perpustakaan, kini sudah tak pernah lagi masuk ke perpustakaan. Tehnologi sdh memudahkan segalanya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mbak, dan karena teknologi pula yg membuat perpusatakaan kota menjadi sepi. Apalagi semenjak ada google, semua materi sangat mudah dicari, tak perlu baca buku..

      Delete
  18. Kalo kata ERK: Karena setiap lembarnya mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara membuka jendela dunia.
    Selain menulis, ya harus membaca. Nanti seret ide kalo kurang bacaan. Hehe. :D
    Tapi kadang kalo baca buku yang sastra banget, otak gue ngebul. Nggak kuat. Hahahaha.

    ReplyDelete
  19. Asik baca postingannya. :)
    Seperti self reminder.
    Dulu hampir sebulan sekali rajin banget beli buku baru buat dibaca.
    Sekarang malah di rak banyak buku masih disegel belum sempat dibuka
    :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaaha daripada tak dibaca, bisa disumbangin itu bukunya mbak haha

      Delete