Tulisan Akhir Bulan Juli

Suatu sore, aku berjalan jauh memutar, melingkari setiap sudut kota yang biasa aku lewati setiap pulang kerja, lalu berkelok menyasar menembus jalanan lain. Sengaja menghindar, menjauh dari keramaian, memilih berjalan sendiri, memilih lorong yang sepi. Sekiranya di lorong sepi aku merasa sendiri, namun nyatanya aku tak sendiri. Dari kejauhan aku melihat senja yang bertopang dagu sendiri. Melebarkan senyum simpulnya, mengharapkan balas jasa atas setiap keindahannya. Tapi terkadang hanya pertanyaan sama yang jadi balasannya, “Mampukah aku bertahan?”

Ada seorang laki-laki tua, terduduk sendiri di pojokan jalan, yang perlahan menyepi berkawan sepi. Kedua tangan tuanya, begitu lincah menari di atas lembar putih kertasnya. Menggambar sesuatu untuk hadiah perpisahan anak kecilnya, menggambar keindahan senja yang terakhir katanya, senja terakhir sebelum waktu penghakiman tiba. Penghakiman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. “Tapi apa harus begitu?. Kenapa tetap menerimanya?” begitu tanyaku. Dan apa jawabnya? “Mungkin alam semesta sedang berbaik hati pada saya, memberi keringanan hukuman atas rasa sakit yang saya alami selama ini.” Rasa sakit apa? Aku tak mengerti, dia pun hanya tersenyum penuh arti.


Tanpa terasa hari telah berganti malam, dan langkah kakiku seketika tersuruk terhenti di kedai kopi di tengah kota, tanpa ragu ku langkahkah kakiku masuk dan memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Kulihat kondisi di dalamnya hampir sama seperti kedai kopi pada umumnya, yang menjadi pembeda adalah meja pojok di dekat jendela. Ada seorang lelaki muda yang duduk sendirian. Secangkir kopi panas tersaji di mejanya, belum disentuhnya. Dibiarkan mengepul, dibiarkan aromanya menguar ke udara, menambah syahdu, seperti tatapan matanya, yang selalu tertuju ke arah jalan raya, seolah menanti seseorang yang tak kunjung datang.

Tak berapa lama, lonceng pintu berbunyi, tanda ada pengunjung yang masuk ke kedai kopi. Seorang wanita muda berkacamata, dengan rambut lurus sedada, berkemeja merah muda, dengan rok span sebatas paha, seperti sehabis pulang kerja. Matanya menyebar ke segala penjuru kedai kopi, seolah mencari sesuatu, dan ketika ketemu apa yang dia cari, seketika terulas senyum manis di wajahnya. Tatapan matanya berbinar-binar seperti bentuk keindahan lainnya. Seolah ingin menandingi keindahan yan ditawarkan senyumannya.

Dalam beberapa detik saja, dia kini sudah berada di depan lelaki muda di kursi pojok dekat jendela. Sang lelaki tidak menyadari keberadaannya, matanya tetap terpaku pada jalan raya. Sekali tepuk pundaknya, dia terlonjak kaget seperti disadarkan dari tidurnya. Seolah tidak menyangka bahwa dia bertemu dengan wanitanya tatkala dia sedang menanti kekasih yang lainnya. Tanpa diminta, dikecupnya pipi kiri oleh sang wanita. Tanpa membalas, hanya tersenyum getir tak percaya, bahwa dirinya bertemu dengan sang wanita, di tempat biasa dia berkencan dengan kekasih yang lainnya.

Tak berselang lama, sang wanita pamit sebentar ke kamar mandi, mau merias ulang make-up, katanya. Ah apakah wanita pada umumnya seperti itu? sudah cantik pun tetap saja merias mukanya dengan beraneka rupa kosmetik yang tak pernah aku mengerti. Dan benar saja, ketika sang wanita sedang di kamar mandi, Kekasih lainnya datang dan dia langsung main peluk saja, cium pipi kanan cium pipi kiri, seolah sudah lama tak bertemu dengan sang lelaki. Raut muka sang lelaki terlihat berbeda sekali dibanding saat dia bertemu dengan Sang Wanita sebelumnya. Lebih berbinar, lebih nampak hidup, terlihat seperti telaga yang terkena sinar matahari pertama. Kecemerlangannya begitu terlihat. Bajingan yang beruntung! Sialan betul!

Wah bakalan ada perang dunia ketiga, begitu pikirku. Lalu seketika mereka terlibat obrolan yang mengasyikkan, dengan sesekali diselingi canda tawa, pelukan, ciuman di pipi, kadang menyasar ke bibir. Wah sialan betul, bercumbu di depan umum, untung cuma aku saja yang lihat. Lumayan hiburan. Bebas bermesraan sebelum kena tamparan, aduhai indah nian. Dan mungkin, semesta sedang menggelapkan pikiran si Lelaki, dia seolah terlupa perihal keberadaan sang wanitanya yang sedang di kamar mandi. Entah kenapa dia tidak segera pergi dari tempat itu, dan memilih melanjutkan obrolan penuh pelukan mesra dengan wanita yang satunya. Muka terlihat ala kadarnya, tapi selera wanitanya berkelas semua. Sialan betul ya.

Dan benar saja, seperti yang sudah aku duga, apakah perang dunia ketiga akhirnya akan tercipta juga. Dimulai dari teguran halus, seolah-olah menawarkan daftar menu, sang wanita kini telah kembali di meja sang lelaki, dengan tatapan penuh dengan tidak percaya, namun uniknya di bibirnya terselip senyuman aneh, yang aku sendiri tak tahu artinya. Dan reaksi sang lelaki, seperti yang kalian duga, jumpalitan kesana kemari, menghapus bekas lipstik di pipi kiri, seperti adegan komedi, kekasih lainnya buru-buru membereskan diri, seolah-olah bertingkah seperti sales marketing, bersalaman erat, lalu pamit undur diri. Woy ekspresinya mana? Kok adegan jambak-jambakan tidak ada?! Yah penonton kecewa!

Setelah tahu bagaimana akhir sebuah drama yang ada di depan mata, yang ternyata tidak sesuai dengan harapan. Aku lebih memilih beranjak pergi, tanpa pernah tahu apa yang akan dilakukan Sang Wanita kepada Si Lelaki. Apa peduliku?! Karena bagiku, mengurusi urusan orang lain jauh lebih memusingkan dibandingkan menguruskan lingkar pinggang yang semakin melebar kemana-mana.

Comments

  1. Aku jadi ngerasa bingung niih...jadi ternyata ia cuma seorang sales..?

    Yang janjian ketemu "client"...?


    *iih...kepo deh!
    Fandhy kan cuma mencuri pandang yaa..?

    ReplyDelete
  2. Jika lebih lama lagi mungkin kau akan tahu maksud dari kedua orang tersebut

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia