Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Thursday, December 27, 2018

Sebuah Pertanyaan

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri perihal pertanyaan yang sebenarnya ada di sekitar kita, tapi entah disadari atau tidak, kita sering mengabaikannya. Pertanyaan yang mana bisa membuat kening berkerut-kerut ketika memikirkan jawabannya. Padahal pertanyaan itu sungguhlah sederhana. Hidup ini sebenarnya untuk apa? Untuk apa kita hidup?

Kalian jangan melihatku seperti itu?! Aku pun sampai sekarang belum tahu jawabannya, makanya aku tanya ke kalian, apakah kalian bisa membantuku dalam menjawab pertanyaan itu? Atau setidaknya kalian bisa menemukan jawabannya untuk kalian sendiri. Ya setidaknya, jika kalian sudah menemukan jawabannya, kalian jangan lupakan aku ya? Sampai umurku hampir dua puluh enam tahun pun aku masih belum bisa menjawab pertanyaan itu.


Sebenarnya, aku hidup ini untuk apa ya? Sungguh terima kasih jika kalian mau membantuku untuk menemukan jawabannya. Namun, jangan kalian paksa aku untuk memilih nomor satu atau nomor dua, karena jawabannya sudah pasti. Segala sesuatu yang jelas dan terbaik untuk negeri ini. Dan untuk pilihannya, aku tidak akan memberi tahu. Secret bos! Lahaciya.

Setiap orang pasti takut mati, diakui atau tidak, semuanya pasti akan mati. Lalu, pernahkan kalian dalam suatu waktu tiba-tiba memikirkan akan kematian? Atau setidaknya, pernahkah kalian dalam satu malam menjelang waktu tidur kalian, tiba-tiba memikirkan kematian? Awalnya hanya terbersit saja, namun kemudian pikiran itu membesar, dan membuatmu berpikiran beraneka rupa perihal kematian, sampai membuatmu tak bisa memejamkan mata.

Setidaknya, ketika kalian mencoba memejamkan mata, dalam kegelapan tiba-tiba pikiran itu datang, dan memaksamu untuk tidak tertidur, membuatmu kembali terjaga, lalu malam itu dihabiskan dengan begadang sampai waktu dini hari hanya untuk memikirkan semuanya. Jika kalian pernah mengalaminya, maka kalian tidak sendiri. Karena aku pun pernah mengalaminya. Menyebalkan memang pikiran tersebut, karena semakin kita mencoba mengabaikannya, pikiran itu justru semakin girang bukan kepalang, menggoda dengan kebinalan yang tidak pernah kita bayangkan. Dan pada akhirnya, mata tak bisa lagi terpejam.

Namun setidaknya yang kita ketahui adalah kenyataan bahwa pagi sudah datang. Dan entah sejak kapan, tanpa kita menyadarinya, kita telah tertidur. Mungkin, begitulah mode shutdown yang ada di dalam otak, yang akan tersetel secara otomatis ketika otak sudah lelah memikirkan suatu hal. Tanpa kita sadari, otak mengambil alih semuanya, dan memaksa mata untuk terpejam dan tertidur, hanya untuk tersadar di pagi harinya bahwa kita semalam memikirkan apa? Semuanya menjadi kosong. pikiran pun kosong. Dan kita hanya bisa bengong. Mungkin inilah yang disebut oleh masyarakat awam sebagai momen Mengumpulkan nyawa kembali, karena ketika kita tidur, nyawa kita seolah terpencar kemana-mana.

Jadi, enaknya bagaimana? Kalau aku lebih memilih untuk tidur lagi saja.

Lalu apalagi selanjutnya?

Selanjutnya yang terjadi adalah bukan urusan kita untuk menentukannya. Karena disadari atau tidak, selanjutnya yang terjadi itu adalah hasil simpul tali temali rumit semesta yang mana untuk ukuran logika yang terkadang tidak seberapa itu sangat jauh dari kata mampu untuk menjelaskannya. Ya setidaknya menjelaskannya dengan kata-kata yang lebih bisa dimengerti oleh kita semua.

Selanjutnya adalah Rahasia. Rahasia Semesta. Rahasia Semesta yang mendasari kita untuk membuat rencana perihal apa-apa yang ingin kita lakukan di masa depan. Lalu bagaimana rahasia selanjutnya itu bekerja, itu biarkanlah menjadi urusan semesta saja. Kita alangkah baiknya untuk fokus dalam urusan sesama manusia saja. Salah satunya kita tidak berhak menilai bahwa bencana alam yang terjadi di suatu negeri itu adalah salah pemerintahannya.

Macam mana pula itu bisa disangkut-pautkan dengan gonjang ganjing jelang pemilihan kepala negara? Bagaimana bisa, logika dipaksa untuk menelan kenyataan bahwa ternyata masih banyak orang yang memanfaatkan bencana menjadi bahan untuk mengkritisi pemerintahan yang tidak sesuai dengan pilihannya? Lalu dilanjutkan dengan anjuran agar tahun depan ganti presiden agar negeri jauh dari bencana. Sungguh, itu sungguh dibutuhkan logika surgawi agar bisa mengerti. Logika remukan rempeyek mana ini mana bisa mengerti? Duh sedih aku tuh.

Untuk siapa pun selanjutnya yang akan jadi kepala negara, itu tidak ada pengaruhnya dengan banyak atau tidaknya bencana yang akan terjadi di kemudian hari. Sungguh merupakan penyesatan logika jika masih menggunakan ilmu cocoklogi hanya untuk mengagungkan nafsu birahi politiknya, dan menjatuhkan nama baik saingannya. Sungguh tidak elok rasanya, negeri yang aman tenteram nan penuh toleransi dan kedamaian ini dirusak oleh segelintir orang demi kepentingan ambisi politiknya. Sungguh tidak bisa dimengerti kenapa masih banyak juga yang termakan oleh informasi palsu, informasi penuh hasutan, yang mana persatuan dan kesatuan negeri menjadi taruhannya. Sungguh tidak bisa dibayangkan selanjutnya yang akan terjadi, jauh dalam lubuk hati, diam diam terus menguatkan diri, dan berdoa kepada Tuhan agar berbaik hati memberi negeri ini kekuatan, perdamaian, dan persatuan sampai akhir zaman nanti.

Lalu, buat kalian yang merasa paling benar akan keyakinannya, apakah pernah menyadari bahwa sesungguhnya keyakinan orang itu berbeda-beda? Dan tidak usah pula menggunakan keyakinan yang dianut sebagai bahan untuk menghakimi sesama manusia. Menghakimi sesama manusia yang kebetulan berbeda keyakinan, ataupun memiliki keyakinan yang sama tetapi berbeda pilihannya. Jangan teralu merasa benar sendiri, karena negeri ini tidak hanya dihuni oleh kalian saja. Ingat! Bhinneka Tunggal Ika.

Sekali lagi. Bhinneka Tunggal Ika!

Bhinneka Tunggal Ika.

Karawang, Tengah Hari.
24 Desember 2018.

15 comments:

  1. Saya setuju, kita sebagai sesama manusia harus saling menghargai. Karena di Indonesia adalah negara yang memiliki agama dan suku lebih dari satu.

    ReplyDelete
  2. Kalo kata Mbah Nun feat Kyai Kanjeng, "tidak ada yang benar benar benar, tidak ada yang benar benar salah."

    ReplyDelete
  3. hmmm...mungkin memang baiknya saling menghargai, perbanyak senyum, karena saling menghargai dan senyum itu melegakan

    ReplyDelete
  4. Jadi sebenarnya buat apa hidup ini?
    Belakangan aku merasa hidup hanya untuk mempersiapkan diri setelah mati. Hidup memang cuma sekali, tapi kematian pun hanya akan datang sekali, dan aku meyakini life after death itu yang akan kekal abadi. Jadi harus dipersiapkan kapan pun dia datang.

    ReplyDelete
  5. Kalo aku ditanya, untuk apa kamu hidup?
    Aku akan jawab: Aku hidup untuk mati.
    Ya nanti kita kan akan abadi saat mati: dijemput oleh-Nya.
    Udah tahu soal ini, tapi masih belum banyak berbenah diri

    ReplyDelete
  6. Sampai sekarang pun kadang Eny bingung loh 😂 diriku ini siapa sih? Buat apa tapi pusing juga gak kalo dipikirin yang penting dijalani hhi

    ReplyDelete
  7. Hahaha seriiingg, trus kadang juga kepikiran, andai dulu aku ambil jalan A atau B mungkin skrng aku akan begini atau begitu. Tapi pd akhirnya saya nyadar itu gak ada gunanya. Jd ya nikmati saja hidup yg skrng :D

    Hmm yg terakhir haha, tau deh, politik emang gtu, Yg ribut yg bawah2, pdhl yg jadi "aktornya" ya keliatannya rukun. Ah moga aman2 aja ntr deh.

    ReplyDelete
  8. Kalau saya memang dulu sempat berfikir seperti itu, tetapi dengan mencoba dekat ke agama, akhirnya gak bingung lagi. Sebetulnya jawabannya simple, ada di Al-Quran, cuma memang ada beberapa colekan dari Filsafat yang membuat orang goyah, kalau saya sebaiknya jauhi saja filsafat.

    Ksalau masalah keyakinan sih, yang membuat onar hanya sejumlah kecil kelompok atau oknum saja, kalau kita berdiri di titik netral, di masa teknologi canggih ini disertai bukti ilmiah tidak susah koq membuktikan mana yang benar, cuma kan gak semua orang mau jujur mengakui atau entah ada udang di balik batu.

    Keberagaman memang harus disyukuri, cuma kalau toleransi ya ada batasnya. Toh di mesir masih ada kristen koptik, so, let's thinking smart.

    ReplyDelete
  9. iyesss itulah pentingnya menjadari akan pertanyaan dasar siapa dan mengapa itu ya. kalau kita sudah sampai pada penemuan bahwa kita sebenarnya sama-sama manusia yg punya hak sama maka jelas jawabannya bahwa tak perlu mempersoalkan perbedaan. karena di situlah terdapat toleransi

    ReplyDelete
  10. Aku juga kadang gak ngerti tujuan hidup ini buat apa, pada ribut sana sini, berlomba ini itu sampai menghalalkan segala cara. Mending tidur aja

    ReplyDelete
  11. Tujuan hidup sudah direncanakan, tetap saja Tuhan yang menentukan. Baik.

    ReplyDelete
  12. Ya sering banget muncul pertanyaan seperti itu, dan mungkin ada beberapa hal yang saya temukan, untuk saat ini untuk apa saya hidup? Saya pikir untuk mengantre menunggu giliran dijemput ke alam kematian, pada saat mengantre tersebut kita bisa melakukan banyak hal (hal baik maupun buruk).

    ReplyDelete
  13. Pertanyaan pertamaku tentang tujuan hidup datang ketika aku patah hati saat SMA. Enggak sampai seminggu dijawab sama Allah. Aku kecelakaan:(. Patah tulang siku, betis berlubang dan hangus dagingnya ketimpa knalpot motorku sendiri. Lebam dan bekas luka dimana-mana. Tapi Allah kasih aku kesempatan kedua. Kalau saja hari itu takdirku mati, ya bakal mati deh. Pada akhirnya aku mencari tahu dan sadar bahwa tujuan hidup ya buat mempersiapkan bekal di akhirat. Baik dengan cara beribadah, bermanfaat untuk sesama, dan menjadi Khalifah. Iya ada hubungannya sama pemilu. Jadi pemimpin, kudu bener, kudu pakai jalan yg bener. Pingin pemimpin kita baik? Perbaiki dulu diri kita masing-masing:)

    ReplyDelete
  14. Manusiawi sih merasa paling benar, tapi yang gak wajar kalau memaksakan kehendak kita pada orang lain, itu namanya terlalu. Ujung2nya nanti saling gontok2an.

    ReplyDelete
  15. Jika ada sebuah pertanyaan,
    Hidup ini sebenarnya untuk apa?

    aku hanya bisa menjawab bahwa
    "hidupku untuk beribadah kepada Allah SWT"

    ReplyDelete