Makna Kehidupan

Makna Kehidupan*

Diri yang bercerita menjadi bintang dalam artikel “A Problem”, karya Jorge Luis Borges. Artikel ini tentang Don Quixote, sosok pahlawan yang menjadi judul novel terkenal Miguel Cervantes. Don Quixote menciptakan dunia imajiner bagi dirinya sendiri, yang di dalamnya dia menjadi pahlawan legendaris, maju memerangi raksasa dan menyelamatkan Putri Dulcinea del Toboso. Dalam realitasnya, Don Quixote adalah Alonso Quixano, seorang lelaki tua dari dusun; sedangkan putri Dulcinea adalah perempuan petani miskin dari desa tetangga; dan raksasa-raksasa adalah kincir-kincir angin.

Borges bertanya-tanya, apa yang terjadi jika dengan keyakinan dalam fantasi-fantasi itu, Don Quixote menyerang dan membunuh orang sungguhan? Borges menanyakan sebuah pertanyaan fundamental tentan kondisi manusi: Apa yang terjadi bila benang-benang yang dipintal oleh diri kita yang bercerita menyebabkan gangguan berbahaya bagi diri kita dan orang di sekitar kita? Ada tiga kemungkinan utama; kata Borges. 

Kemungkinan pertama adalah tidak terjadi apa-apa. Don Quixote sama sekali tidak terganggu setelah membunuh orang sungguhan. Delusi-delusinya begitu menguasainya sehingga dia tidak akan mampu menyadari perbedaan antara melakukan pembunuhan sesungguhnya dan perkelahiannya dengan raksasa-raksasa kincir angin imajiner.

Kemungkinan kedua, begitu dia membunuh seseorang, Don Quixote akan ketakutan sehingga dia akan terguncang oleh delusi-delusinya. Ini mirip dengan tentara yang berperang karena yakin bahwa mati karena membela negara adalah baik, tetapi akhirnya terdelusi sepenuhnya oleh realitas perang.

Tetapi, ada kemungkinan ketiga, yang jauh lebih rumit dan jauh lebih mendalam. Sepanjang dia memerangi raksasa-raksasa imajiner, Don Quixote hanya bermain sandiwara. Namun, begitu dia benar-benar membunuh seseorang, dia akan lekat dengan fantasi-fantasinya, dengan segala kekuatan yang dimilikinya, karena hanya fantasi itu yang akan memberi makna atas perbuatan jahatnya yang tragis. Secara paradoks, semakin banyak kita berkorban untuk sebuah cerita imajiner, semakin gigih kita memegangnya karena kita tak kuasa menepis keinginan memberi makna pada pengorbanan-pengorbanan ini dan pada penderitaan yang telah kita timbulkan. Lebih mudah hidup dengan fantasi karena fantasi memberi makna pada penderitaan.

Diri kita yang bercerita akan jauh lebih suka meneruskan penderitaan pada masa depan agar tak perlu mengakui bahwa penderitaan kita pada masa lalu hampa tanpa makna. Dan, tidak sedikit dari kita yang tetap memegang erat pernikahan yang tidak berfungsi, serta tetap terpaku pada pekerjaan-pekerjaan tanpa harapan akan pengembangan karier, dan tetap terikat sepenuhnya pada semua itu tanpa pernah mengakui bahwa semua itu adalah sebuah kesalahan yang mengikat, menyeret, dan menghantuinya sepanjang hidupnya. Namun, jika pada akhirnya kita ingin mengakui sepenuhnya kesalahan masa lalu, diri kita yang bercerita harus menemukan suatu belokan dalam plot yang dapat mengimpaskan kesalahan-kesalahan ini dengan makna.

Kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya diri itu sendiri pun cerita imajiner yang hanya menyimpan beberapa sampel pilihan yang lalu mencampurkannya dengan potongan-potongan dari film yang kita tonton, novel yang kita baca, lagu yang kita dengar, pidato yang kita dengar, dan khayalan yang kita nikmati, dan dari semua campur aduk itu akan terjalin sebuah cerita yang tampak tersambung tentang siapa saya, dari mana saya berasal, dan kemana saya akan menuju. Cerita ini mungkin bahkan membuat saya mengorbankan hidup saya, jika memang plot cerita mengharuskan demikian.

Kita semua punya jalan hidup sendiri-sendiri. Sebagian orang menjalani kehidupan tragedi, yang lain berkutat dengan drama-drama keagamaan tanpa akhir, sebagian lagi melekatkan dirinya pada kehidupan yang penuh ironi, tidak sedikit juga yang mendekatkan kehidupan mereka seakan-akan film laga, dan tak sedikit dari mereka yang kehidupannya berlaku seakan-akan sedang berada dalam sebuah cerita komedi. Namun, pada akhirnya semua itu hanya cerita-cerita, dan yang membedakan hanya bagaimana cara kita meresapi makna. Makna Kehidupan.

----------------------------------------

*Makna Kehidupan, merupakan salah satu bab yang dibahas dalam buku Homo Deus, Masa Depan Manusia, karya Yuval Noah Harari.

Comments

Popular posts from this blog

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana

Apa Salahnya Memilih Diam ?