Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Wednesday, December 27, 2017

Cerita Dari Tengah Laut

Terkadang memendam rindu terlalu lama itu seperti menendam bara dalam sekam, tampak samar, namun semakin lama terpendam api semakin besar, semakin berkobar, membuatmu hangus terbakar.

Setiap pagi, yang pertama kali aku lihat dari setiap bangun tidurku adalah setumpuk buku, yang membujur menumpuk menjadi satu, tepat di sampingku, tepat di sebelah tidurku. Seringkali dalam tiap ruas kesadaranku yang belum pulih benar, terkadang setumpuk buku itu terlihat seperti kamu, yang tampak tersenyum malu-malu, lalu mengecup pipiku, sembari mengucap selamat pagi padaku.

Read More

Thursday, December 14, 2017

Cerita Tentang Kedua Orang Tua

Pada akhirnya, yang tersisa dari seorang manusia adalah kenangan tentang dirinya, seperti genangan air yang tercipta tatkala hujan lebat telah mereda.

Jika pada akhirnya, aku hanya akan mengalami berbagai macam kepahitan dan perpisahan penuh dilema, niscaya ketika akan lahir, aku akan meminta untuk tidak dilahirkan ke dunia.


Di awali sebuah lentera, kegelapan malam sedikit tercerahkan. Dimulai dari setitik cahaya yang perlahan mendekati tepian kota, menjadikannya terang dan jelas, bahwa titik cahaya itu adalah sebuah kereta kuda. Sebuah kereta kuda yang mendekati sebuah rumah di tepian kota, yang oleh orang sekitar dikenal sebagai satu-satunya dokter persalinan yang tersisa.

Read More

Wednesday, December 6, 2017

Belajar Sejarah di Museum Sumpah Pemuda

foto: wikipedia.org

Dari sekian banyak pilihan tempat wisata di Jakarta, pastinya sebagian wisatawan bertanya-tanya apakah di Ibukota ini terdapat satu tempat wisata yang memberikan cerita-cerita sejarah.

Deretan museum di Kota Tua memang punya ceritanya sendiri. Namun, ada satu museum yang juga memiliki banyak sejarah. Museum tersebut adalah Museum Sumpah Pemuda. Namun, siapa sangka museum ini dulunya adalah sebuah kos-kosan yang dihuni oleh para pelajar Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1908, pemilik kos-kosan Sie Kong Liang membuka kamar-kamar penginapan untuk siswa-siswa dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Stovia dan Rechtsschool, RS.
Read More

Sunday, November 26, 2017

Cerita Tentang Semesta Angkasa Raya

Suatu pagi aku terbangun dengan rasa aneh di kepala, dengan sebuah rasa yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Pagi itu, umurku hampir dua puluh lima, umur dimana konon katanya bagi sebagian perempuan adalah umur yang wajib untuk segera menikah, takut jadi perawan tua, begitu kata para tetangga. Tapi setidaknya di umurku yang hampir dua lima tahun ini sebuah cerita tiba-tiba berputar di kepala. Meskipun masih tampak samar-samar, namun bayangan itu mengingatkanku akan sesuatu.

Sejenak memberi jeda kepada pikiranku untuk memproses lebih jauh, aku putuskan untuk menjerang air, berharap secangkir kopi hitam mampu membuat bayangan itu menjadi lebih jelas. Tak berapa lama, secangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji di atas meja. Aku rengkuh tubuh cangkirnya sejenak untuk meresapkan hangat tubuhnya. Entah kenapa, ketika aku sesap secangkir kopi hitam itu untuk kali pertama, seketika bayangan yang tadi buram mendadak menjadi jelas. Membentuk sebuah cerita, membentuk sebuah nama, seketika menjelas menjadi sebuah roman muka, seorang laki-laki berkacamata. 

Read More

Tuesday, November 21, 2017

Cerita Dari Balik Reruntuhan

Sore itu hujan turun dengan begitu derasnya, dengan sesekali terdengar petir menyambar, mengkilat lalu meninggalkan gemuruh yang menggetarkan bumi yang kini aku pijak. Dari timur jauh, aku lihat cakrawala berkelap-kelip, dengan bunyi dentuman yang saling menyalak, tanda semakin dekat. 

Sesekali aku melihat pesawat berlambang swastika mondar-mandir di udara, mengejar pesawat berlambang palang merah, seolah ingin memburunya, menghabisinya sebelum dia menjatuhkan perbekalan yang dibutuhkan warga kota. Warga kota akan sebuah kota di timur laut Rusia, yang terkepung hampir seribu hari. Sebuah kota yang diberi nama sang pembebas negara dari kuasa kerajaan lama dan merubahnya menjadi sebuah komuni raksasa. 

Read More

Thursday, October 26, 2017

Cerita Tentang Nyonya Lakarna

Malam belum larut benar, tatkala aku temukan dirinya terbaring sesenggukan di atas tempat tidurnya. Dirinya terlihat begitu berantakan, dengan tisu bekas pakai berceceran di lantai kamarnya. Nampaknya dia masih tersadar, tatkala aku usap rambutnya, seolah memastikan bahwa dirinya itu nyata. Kedua matanya terlihat memerah, tatkala ku sibak rambut panjang yang menutupi wajahnya.

Dirinya masih belum mau membuka mulutnya, tatkala ku angsurkan gelas berisi air putih kepadanya, sekedar untuk menenangkannya. Namun dia tak segera meminumnya, dia hanya melihat, dan menimang-nimang seolah heran tatkala melihat isi gelas yang dia pegang. Kesabaran, hanya itu yang aku punya saat itu. Kesabaran menunggu, sejenak menanti dirinya tenang, dan mau menceritakan semuanya. Dirinya terlihat begitu terguncang, pundaknya nampak bergetar, sesenggukan, dan sedikit mereda, tatkala pada akhirnya dia mulai minum air dari gelas yang dipegangnya.

Read More

Thursday, October 12, 2017

Sebuah Pertanyaan Agung

Pernahkah kamu merasa, kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab tanda tanya itu. Tanda tanya agung.” – Reuben, (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh).

Kehidupan di dunia ini akan terasa berbeda jika tanpa manusia. Populasi manusia tersebar secara acak di berbagai belahan dunia. Tersebar ke segala penjuru, dari sudut ujung Semenanjung Siberia sampai ke tepian Semenanjung Iberia, dari ujung Kutub Utara sampai ke seberang selatan Benua Antartika, tercecer segala jenis manusia yang terbagi dalam berbagai macam suku bangsa, ras, agama, dan bahasa. Semua hidup bersama, dengan satu tarikan nafas yang sama, di bawah langit yang sama, di Bumi yang sama, dengan sebuah tanda tanya yang sama. Tanda tanya tentang dirinya. Untuk apa dirinya hidup di dunia?

Read More

Sunday, October 8, 2017

Tidak Sesuai Harapan

Suatu sore, aku berjalan jauh memutar, melingkari setiap sudut kota yang biasa aku lewati setiap pulang kerja, lalu berkelok menyasar menembus jalanan lain. Sengaja menghindar, menjauh dari keramaian, memilih berjalan sendiri, memilih lorong yang sepi. Sekiranya di lorong sepi aku merasa sendiri, namun nyatanya aku tak sendiri. Dari kejauhan aku melihat senja yang bertopang dagu sendiri. Melebarkan senyum simpulnya, mengharapkan balas jasa atas setiap keindahannya. Tapi terkadang hanya pertanyaan sama yang jadi balasannya, “Mampukah aku bertahan?”

Ada seorang laki-laki tua, terduduk sendiri di pojokan jalan, yang perlahan menyepi berkawan sepi. Kedua tangan tuanya, begitu lincah menari di atas lembar putih kertasnya. Menggambar sesuatu untuk hadiah perpisahan anak kecilnya, menggambar keindahan senja yang terakhir katanya, senja terakhir sebelum waktu penghakiman tiba. Penghakiman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.
Tapi apa harus begitu?. Kenapa tetap menerimanya?” begitu tanyaku.
Mungkin alam semesta sedang berbaik hati pada saya, memberi keringanan hukuman atas rasa sakit yang saya alami selama ini.” Begitu jawabnya.
Rasa sakit apa? Aku tak mengerti, dia pun hanya tersenyum penuh arti.

Read More

Wednesday, September 27, 2017

Sebuah Titik Balik?

Nampak di depanku terbentang sebuah koridor sempit yang memanjang, nampak gelap dengan kanan kirinya penuh semak belukar. Hanya menatap ujungnya saja sudah membuat banyak orang bergidik ngeri, apalagi sampai memasukinya, dan berjalan di dalamnya?

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Read More

Sunday, September 10, 2017

Pendakian Gunung Cikuray, Hari Pertama

Selalu ada titik dimana sesuatu bermula...~ Jazuli Imam, Pejalan Anarki

Senja di Puncak Cikuray

Dari balik tenda yang bergetar hebat tergoyang angin kencang pegunungan, nampak di dalamnya ada seorang lelaki, meringkuk dalam sleeping bag-nya, berbalut jaket tebal, bergetar, menggigil kedinginan.
--------------------------------------------------------------------------

Read More

Tuesday, August 29, 2017

Sebuah Pilihan Sulit

Hening seketika tercipta, tatkala kamu mulai membuka obrolan mengenai hubungan kita. Hubungan yang sudah terbentang sepanjang hampir satu dekade, bermula di kala seragam putih biru, sampai kini berganti seragam putih hitam, aturan seragam pegawai dalam salah satu korporasi dalam negeri. Tempat dimana kita bekerja.

Hening semakin menggantung, tatkala kamu berhenti bicara, dan berbalik menatapku tanpa bicara. Menatapku dengan kedua bola mata yang menyiratkan penuh harap. Tatapanmu begitu teduh, yang semakin lama membuat pikiranku semakin keruh. Tanpa terucap kata, aku sambar segelas kopi di atas meja dengan tergesa, yang seketika cipratannya menciptakan noda hitam pada kemeja putih, seragam kerjaku.

Read More

Monday, August 28, 2017

Cara Kreatif RGE dalam Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan

Kerusakan lingkungan secara nyata sudah terjadi di dunia. Akibatnya iklim kian sukar ditebak dan bencana terjadi di mana-mana. Butuh keseriusan dari semua pihak untuk melaksanakan perlindungan terhadap kelestarian alam. Namun, diperlukan cara-cara kreatif seperti yang dilaksanakan oleh grup Royal Golden Eagle (RGE).

Sumber : RGE

Saat ini, kerusakan alam memicu pemanasan global. Beragam bukti nyata terpampang. Es abadi di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sehingga permukaan air laut meningkat. Kekeringan juga terjadi di sejumlah sumber mata air hingga musim yang sukar sekali diprediksi.

Read More

Sunday, July 16, 2017

Bullying Itu Tidak Lucu

Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia, pernah berkata bahwa, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”(*) Tapi bagaimana dengan mereka, mereka yang mengaku sebagai mahasiswa, dengan tega melakukan tindakan yang tercela. Menghina dan membully seorang mahasiswa juga yang kebetulan berbeda dengan mereka. Konon kabarnya, si korban hampir setiap hari menerima bully­an dari teman-teman kampusnya. Sedemikian kesalnya, si korban melemparkan tempat sampah ke arah pembully-nya. Dan, lebih menyedihkannya lagi adalah mahasiswa-mahasiswa lain yang melihatnya justru menertawakannya, seolah-olah itu merupakan hal yang biasa terjadi, dan dianggap lucu. Bullying itu tidak lucu, gaes!

Dan, lewat rekaman video berdurasi beberapa detik ini, seluruh dunia pun sadar bahwa sesungguhnya kegiatan bullying itu masih saja menghantui, terkhusus bagi mereka yang memiliki kekurangan dalam tubuhnya.

Ini videonya:
 Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=FNd8DcAQKBY 

Setelah menonton video ini, yang saya pikirkan cuma satu. “Sebenarnya, apa yang ada di pikiran mereka?” Kok tega-teganya membully sesama mahasiswa satu kampusnya sendiri, hanya karena kebetulan dia memiliki kekurangan pada tubuhnya. Sekiranya, pernahkah mereka berpikir bahwa dia (Korban) pun tidak pernah memiliki keinginan untuk terlahir sebagai seorang Tunagrahita?

Read More

Sunday, July 2, 2017

Tulisan Pertama di Bulan Juli

Setelah kesana kemari melakukan pencarian, akhirnya tiap orang akan kembali bertemu dengan sebuah tempat dimana ia memulai (pencarian) untuk kali pertama. – T.S. Elliot

Agenda sebelum kembali ke tanah rantau, adalah menata apa yang sudah ada. Termasuk menata rasa ikhlas untuk meninggalkan sementara kenangan bahagia yang terwakilkan oleh aksara, yang tertumpuk rapi di dalam lemari tua. Menatapnya, bagiku merupakan bahagia yang sederhana. Terasa sederhana, namun begitu nelangsa. Sekiranya andai aku bisa menambah waktu liburan lebih lama, dengan sangat rela, akan aku habiskan untuk membaca setumpuk buku baru yang belum terbaca. Atau setidaknya mengenang kembali kisah cinta Alamanda, di dalam buku Cantik itu luka.


Selain orang tua, tumpukan buku-buku inilah yang selalu mengingatkanku akan kata pulang. Mengingatkan akan sebuah mimpi lama, yang sampai sekarang belum terwujud juga. Rumah. Tempat segala rasa kembali berpulang, tempat merubah segala gundah menjadi remah-remah penuh hikmah, Rumah, tempat dimana segala lelah terasa begitu mudahnya, lenyap begitu saja. Dan tidak ada tempat yang paling menyenangkan daripada kampung halaman (rumah) dan tidak ada komunitas yang lebih ekslusif daripada keluarga.(*) Dan semua itu, untuk sementara hanya bisa aku temukan disini, di kampung halaman. Jauh di pelosok negeri.

Read More

Monday, June 19, 2017

Alangkah Lucunya

Lembar kosong, hanya lembar kosong yang masih terpampang di depannya. Setelah sekian lama duduk sendirian, disini, di pojokan Kafe Lagundi. Secangkir kopi hitam nampak di depannya, dingin, dan tak tersentuh. Seperti halnya gadget di sakunya yang terus bergetar sedari tadi, tanpa sempat dia angkat, apalagi dia jawab. Terpampang di layarnya, sebuah nama, nama seorang wanita yang lambat laun perlahan menjadi sebuah cerita lama yang terulang lagi dan lagi, di benaknya. Seperti hantu yang terus menghantuinya, meskipun dia sudah mengikhlaskannya pergi, kini dia muncul lagi, disini, di tempat yang sama, empat tahun lalu, dan kini dia menunggunya kembali.

Waktu perlahan terus berputar, seperti halnya kepingan kenangan yang terus berputar di kepalanya, seperti sebuah proyektor yang menampilkan kilasan-kilasan akan masa lalu, yang sesungguhnya enggan untuk mengingatnya, namun juga senang untuk menontonnya berulang kali. Adalah sebuah alasan, tatkala dia memutuskan untuk enyah dari kota yang sama dengan dirinya. Empat tahun, bukanlah waktu yang sebentar, namun juga bukan waktu yang lama, untuk sekedar mengeringkan sisa luka yang menjaram dalam dada. Tanpa terobati, hanya bisa tertutupi, tertutupi oleh beberapa wanita yang datang silih berganti, singgah sejenak untuk mengisi hati. Lalu pergi tanpa permisi.

Read More

Monday, June 5, 2017

Cerita Sedih di Hari Minggu

Saya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, perihal sorak surai yang mendadak muram, perihal pengulangan yang terjadi untuk ketiga kali, entah apa yang terjadi, saya selalu menjadi orang terakhir yang terdiam tak percaya, dengan segala yang terjadi. Untuk ketiga kalinya, saya kembali menerima medali perak, entah mengapa saya merasa aneh. Aneh yang membingungkan. Bingung perihal ketidakberuntungan yang selalu memayungi, kalah untuk ketiga kali di laga puncak. Jujur saja, semua itu membuat saya tidak mengerti.

Perihal malam yang tak sesuai dengan harapan, harapan bahwa sekiranya keping terakhir akan saya dapatkan tadi malam. Namun nyatanya yang saya dapatkan hanyalah keping-keping hati yang berserakan. Seperti halnya derai air mata yang tercucur dari mata mereka, namun anehnya hal itu tidak terjadi pada saya. Apakah saya sudah mati rasa? Ataukah saya sudah kehilangan rasa percaya? Entahlah.

Read More

Saturday, May 20, 2017

Best Blogger Moment

Hidup itu seperti sekotak coklat, kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kau dapatkan. – Forrest Gump

Dua ribu dua belas, adalah tahun pertama, dimana saya mulai menuliskan sebarisan kata tanpa makna, yang mana kemudian saya sebarkan semuanya lewat blog. Pada awalnya, niat menulis di blog hanyalah untuk kepentingan tugas kuliah saja. Tugas kuliah Media Politik yang mewajibkan tiap mahasiswanya membuat sebuah esai politik yang mana kemudian dipostingkan di tiap blog miliknya. Awalnya hanya iseng semata, namun siapa sangka semua menjadi awal dari segalanya. Awal dari cerita-cerita yang tak pernah saya sangka bahwa saya bisa menuliskannya, disini, di Sastra Ananta.


Sastra Ananta, adalah nama yang dipilih untuk blog saya. Kenapa? Sastra Ananta berasal dari Bahasa Sansekerta, merujuk pada dua kata pertama; Sastra (Tulisan/Karya) dan Ananta (Tiada habisnya), jika digabungkan maka artinya adalah “Karya yang tiada habisnya”. Orang bilang Nama adalah doa, nama adalah harapan, itulah sebabnya nama Sastra Ananta saya pilih dan dijadikan sebagai nama blog, karena saya berharap bisa terus berkarya, bisa terus menulis, selamanya. Karena saya percaya, menulis adalah berkarya untuk keabadian. Dengan menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.*

Read More

Monday, April 24, 2017

Sebuah Cerita: Lautan, Senja, dan Aksara

Aku ingin bercerita tentang suatu masa, dimana ada seorang anak lelaki yang nekat pergi seorang diri, menuju rimba industri di sebuah kota kecil dekat ibu kota. Kota yang tak dikenalnya, kota yang tak pernah terlintas di kepalanya, kota yang berjarak delapan jam perjalanan dari kota asalnya, kota yang tak pernah disangka akan memberinya sebuah pengalaman langka, berlayar di bawah senja.


Berlayar di bawah senja, baginya adalah pengalaman yang langka. Dengan menikmati hiruk pikuknya deburan ombak, yang seolah saling bersahutan dengan deru mesin kapal, di tengah lautan, nikmat Tuhan mana yang dia dustakan? Sebagai orang asli pegunungan, lautan adalah khayalan yang sering dia impikan, selayaknya surga yang dirindukan, selayaknya kamu muara segala kerinduan, lautan adalah kemustahilan yang selalu dia usahakan. Sekiranya semesta sedang berbaik hati padanya, dia pun kembali bertemu lautan, tak hanya bertemu, dia pun berlayar di tengahnya, dengan tujuan pulau seberang, ditemani langit senja yang tak pernah bosan, dalam menawarkan keindahan.

Read More

Saturday, April 15, 2017

Tulisan Tanpa Arah

Akhir-akhir ini, saya merasa ada sebuah pusaran kasat mata yang menyedot segala bentuk semangat yang ada pada diri saya.

Dimulai pada suatu hari, dimana tanpa sengaja ada sebuah benda kasat mata yang datang dan menghantam tepat di tengkuk belakang kepala. Tanpa sengaja, keakuratannya telah memicu aktif sebuah lubang tersembunyi yang ada dalam diri saya, yang terbuka perlahan, menyedot segala sesuatu secara perlahan. Sekiranya, sejak hari itu saya merasa ada yang berubah, tanpa bisa dicegah. Terasa ada sesuatu yang salah.



Gejala pertama dimulai dengan enggannya mata terpejam di waktu malam. Lubang kecil terasa telah tercipta di balik sudut mata, yang kadang kala selalu menghantui lewat gelapnya. Gelap yang tak biasa, gelap yang mampu membuat kesadaran lari terbirit mengadu kepada kedua mata, untuk segera terbuka, dan mengerjap cepat meraba dan mencari saklar di pojokan kamar. Biasanya mata akan tetap terjaga sampai jelang waktu setengah dua, tepat dimana gerobak nasi goreng terakhir bergelegak jalannya, lewat tepat di depan jendela kamar saya.

Read More

Sunday, March 26, 2017

Pentingnya Self-Editing Dalam Menulis

Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir." 

Terkadang, jauh lebih mudah menuliskan sesuatu dengan bebasnya tanpa perlu memakai batas-batas tulisan yang bernama kerangka. Seperti halnya dulu, ketika Gusdur masih menjadi orang nomor satu, Bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritku, mengarang bebas adalah keahlianku. Namun dulu adalah dulu, dan kini adalah kini. Semakin banyak aku merasa tahu, semakin banyak pula aku tidak tahu, salah satunya adalah tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Baru sadar, ternyata tulisanku masih banyak kekurangannya.

http://blog.galedu.com/google-anita-borg-scholarship-beasiswa-unggulan-wanita/

Suatu waktu, seorang Lelaki Tua pernah berkata kepada sahabatnya, “Barangkali aku harus bercerita dengan duka suatu saat, pada umur kita, akan berjumpa persimpangan seperti jalan bercabang dua. Dimana aku telah berjalan pada salah satunya, jalan yang jarang sekali dilalui. Dan disitulah perbedaan kita...”*
Read More

Saturday, March 11, 2017

Surat Dari Warsawa

Sejatinya hari ini adalah hari pernikahanku, sejatinya, jika aku tak memilih pergi, meninggalkan semuanya. Meninggalkan semuanya, termasuk kedua orang tuaku yang menangis terharu tatkala tahu, aku tak pernah datang ke pesta pernikahanku, pernikahan settingan mereka. Sekiranya, jika dikutuk menjadi batu adalah hukuman terberat bagi seorang anak durhaka, niscaya aku akan segera membeku, mematung jadi batu, tepat di depan pintu pesawat, yang akan membawaku terbang pergi, meninggalkan Indonesia.

Pulasan make up masih saja membekas di sekujur wajahku, terlihat jelas bekas aliran air mata yang membasahi kedua pipiku, tanpa peduli lagi menyekanya, tanpa peduli lagi untuk menghapusnya. Ku tatap lekat awan yang berjejer dari balik jendela, yang berbaris rapi dengan sesekali terganti lautan yang membiru. Entah datang darimana jiwa pemberontak ini. Seumur hidupku, aku selalu menurut pada orang tuaku, soal inilah soal itulah, pilihan pendidikan, pilihan tempat kerja, semua ditentukan oleh mereka. Namun ketika mereka mencampuri masalah hati, maaf aku tak bisa, sekali lagi maaf aku tak bisa, karena aku sudah punya pilihanku sendiri. Dan sialnya, mereka tak menyetujuinya, alasannya biasa, klasik, masalah kelas sosial, kata mereka dia itu tidak sebanding dengan keluarga kita. Sialan.

Read More

Tuesday, February 28, 2017

Minggu, Harinya Berbahagia

Apakah salah, jika hari minggu hanya diisi dengan acara membaca dan berdiam di kontrakan saja, tanpa pergi ke suatu tempat (wisata) yang mana (katanya) akan membuat hati gembira, bahagia?

Lalu apakah bahagia itu? jika sekiranya bahagia itu hanya dinilai dari aktifitas liburan ke tempat wisata di hari minggu, saya rasa itu terlalu berlebihan. Seperti halnya kata peribahasa “Banyak Jalan Menuju Roma”, sekiranya pula, banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membuat hati bahagia. Tak hanya satu, tak hanya seribu, tak hanya berlapis-lapis seperti iklan wafer di TV, bahagia itu (ternyata) begitu sederhana. Dan tiap orang punya caranya tersendiri untuk merasa bahagia.

Lain hati, lain pikiran, lain pula sudut pandang, begitu pula cara berbahagia, pasti saling berlainan. Seperti halnya yang saya lakukan untuk berbahagia, semua terlihat begitu sederhana. Seperti halnya Nasi Rendang paket Sederhana yang katanya sederhana, yang ternyata harganya membuat saya menyesal telah membelinya, seharga dua hari jatah makan, enak sih tapi saya salah memilih tempat membelinya, kayaknya. Bahagia itu sederhana, semua tergantung pada kita untuk melihatnya dan mensyukuri apa yang kita punya. Bersyukur, itu kunci utama dan yang pertama untuk membuat hati bahagia.

Read More

Sunday, February 19, 2017

Menjelajah Waktu Bersama Langit Musik

One good thing about music, when it hits you, you feel no pain. – Bob Marley

Musik, semua orang pasti pernah mendengarkan musik. Setiap orang menyukai musik, entah itu dalam bentuk sebuah aransemen instrumental, melodi, atau sebuah lagu. Sebuah lagu yang terdengar dengan sengaja maupun yang tidak disengaja, terkadang membawa sebuah memori yang menyeretnya kembali ke masa lalu, kembali bertemu dengan sebuah romansa kehidupannya yang telah usang, yang telah tertutup hari-hari terbaru.

http://www.langitmusik.co.id/promo_detail/314


Dan kini, berkat sebuah lagu yang tersetel secara tak sengaja lewat aplikasi Langit Musik dua hari yang lalu, sebuah romansa datang secara tiba-tiba. Sebuah romansa yang kembali berputar kencang, dan mengingatkanku pada sebuah hari di Bulan Februari, hari ulang tahunnya seorang wanita. Seseorang yang pernah saya anggap seperti martabak, begitu spesial. Terdengar begitu perlahan, mengalun merdu, membuat saya terpaku ragu, lalu saya kirimkan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, lewat sebuah pesan singkat, seharga dua ratus perak, namun sukses membuat hati saya teracak-acak. Ah lemahnya saya.

Read More

Friday, February 10, 2017

Saya Bertanya Kepada Semesta

Hujan pertama di pagi hari. Gerimis, dingin, dan menggigil, seperti halnya kisah manis yang setiap mengingatnya terasa begitu pahit. Datang terlalu dini, tanpa permisi, lalu menari sesuka hati, menjebak setiap manusia di bilik selimut hangatnya, enggan untuk beranjak dari lelap, memilih menderu, memanaskan, dan memacu mesin tidurnya.

Dua per lima manusia, pernah mengaburkan sebuah berita demi keselamatan dirinya. Entah itu berita buruk yang dianggap baik, atau berita baik yang dibuat buruk. Segalanya dilakukan demi sesuap nasi, katanya sebagai upaya untuk mengepulkan asap di dapurnya. Entahlah mana yang benar, dan mana yang salah, semuanya menjadi nampak tak kasat mata batas kebenarannya. Apalagi ketika disangkut-pautkan dengan masalah keyakinan, segalanya rela dipertaruhkan, demi sebuah pembenaran, demi membela keyakinannya, begitu katanya.

Read More

Saturday, January 21, 2017

Semua Tak Sama

Perihal sebuah cerita yang tiada habisnya, tatkala semua tokohnya saling sibuk meninggikan egonya. Tanpa adanya kesepahaman, tanpa ada keselerasan, tanpa ada toleransi, semuanya sibuk meninggikan diri. Adalah sebuah keniscayaan tatkala semuanya sudah berjalan terlalu lama, enggan untuk berhenti, namun malas untuk melanjutkan lagi. Dan begitulah kini, yang tersisa dari sebuah kisah lama, yang kini telah menjadi sebuah diorama.

Adalah sebuah dilema, tatkala ditawarkan dua pilihan, menjadi mantan atau manten. Tanpa kesiapan mental, tanpa alasan yang jelas, terciptalah alasan ketiga, menghilang. Tanpa kabar, tanpa cerita, tanpa aba-aba, tanpa pertanda, tiba-tiba menghilang begitu saja. Selayaknya matahari yang tenggelam di ufuk barat, hanya untuk muncul kembali di ufuk timur. Seperti itulah dirinya, yang kini tiada lagi sempat memberikan jeda, untuk sebuah tanya, “Kenapa kau datang kembali?”

Read More

Sunday, January 15, 2017

Bagaimana Dia Hidup?

Apakah salah, jika setiap bangun pagi yang teringat hanyalah kebingungan-kebingungan yang tiada habisnya?

Adalah sebuah kebingungan tatkala bangun pagi namun mendapati dirinya seorang diri dalam satu bilik kamar sempit, yang terasa begitu menghimpit. Adalah sebuah keniscayaan tatkala bangun pagi hanya untuk diam merenungi diri yang masih saja terjebak dalam sepi. Adalah sebuah kesia-siaan tatkala bangun pagi yang dilihat hanyalah ada atau tidaknya sosok yang menemani tidurnya. Entah bagaimana adanya hidupnya semakin hari semakin dipenuhi perenungan akan hidupnya sendiri.

Read More