Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Wednesday, January 31, 2024

Tulisan SKS: Detik-detik Akhir Januari

Apakah yang akan terjadi dalam enam puluh menit terakhir di bulan Januari?

Apakah bisa, dalam waktu yang kurang satu jam ini bisa menuliskan sesuatu di blog?

Mari kita coba.
Ah masa? Yakin lu, bisa?

Dalam satu bulan terakhir, ada satu kegaduhan yang disebabkan oleh seorang bapak yang getol banget membantu anaknya dalam masa menjelang pemilihan suara. Suara-suara sumbang dan protes dari berbagai pihak tak diabaikannya. Seolah tutup mata pada pasangan anaknya yang memiliki banyak sekali problematika di masa lalu dan di masa kini seolah tidak ambil peduli, toh terpenting duitnya seolah tak berseri. Lucu memang, ketika yang di bawah tidak boleh memihak satu pun, eh yang atas malah getol banget menunjukkan keberpihakan pada satu calon, yang ada anaknya si bapak itu tadi.
Read More

Sunday, December 31, 2023

Sekedar Mengingat Kembali, Dua Ribu Dua Tiga

Sekelebat itu 2023 berlalu begitu cepat, seperti kilat yang menyambar lalu lenyap  sebelum meninggalkan gelegar yang membuatku tersadar. Tersadar tentang apa yang didapat dari tahun 2023. Tidak ada yang diingat, sekiranya bisa aku mengatakan demikian. Seperti halnya gaji yang datang di tanggal dua lima, hanya untuk habis bahkan sebelum lewat tengah hari.

I just silently accept everything as it is. That's my basic problem, really. - Haruki Murakami

Haruki Murakami dalam satu tulisan yang entah aku baca dimana, dia mengatakan bahwa respon dia ketika menerima semuanya apa adanya terkadang bisa menjadi masalah yang mendasar dalam dirinya, begitu pula yang aku rasakan selama di tahun dua ribu dua tiga.

Aku merasa selama setahun ini waktu berjalan seperti terburu-buru, buru-buru lekas sampai kantor, buru-buru dalam mengerjakan sesuatu, dan bahkan buru-buru dalam mencari rasa bahagia. Untuk bagian ini aku setuju pada beberapa kalimat yang ditulis Alexandre Dumas dalam kata-kata sambutan dari bukunya yang terkenal, The Count of Monte Cristo.

"We are always in a hurry to be happy,... for when we have suffered for a long time, we have great difficult in believing in good fortune."

Kadangkala, aku merasa kehidupan berlangsung secara kaku nan rigid sebagaimana pola pikir Allegri yang sedemikian keras kepalanya memaksa Vlahovic untuk menahan diri atas nafsu offensive-nya, dan menahan laju serang ketika sudah unggul satu bola.

Aku merasa kehidupan juga menawarkan hal yang sama seperti halnya sedang menonton sepakbola. Berbagai taktik formasi dan pilihan hidup seseorang semuanya ada disini. Mau bermain pragmatis ya boleh, mau main agresif juga boleh, mau mainnya wait and see juga boleh, segalanya bebas.

Semakin lama, aku sadar bahwa seharusnya 2023 tidak boleh berlalu begitu saja, tanpa ada kesan yang tersisa. Tapi, apa iya aku di tahun 2023, tak ada momen yang bisa dibanggakan?

Dan, ketika dijewantahkan lewat tulisan, ternyata ingatan-ingatan akan momen yang berkesan di 2023 berkelindan begitu saja di dalam kepala. Dan, ternyata banyak juga. Hahaha

Seperti pertama kali pindah gedung, dari yang sebelumnya hanya ada dua lantai jadi pindah ke gedung lantai lima, dan ruang kerja ada di lantai empat, tanpa lift pula. Untungnya kedua kaki bukan lidah yang gampang mengeluh dan mengumpat.

Lalu ada lagi momen pertama kali naik pesawat. Tidak tanggung-tanggung, sekalinya naik pesawat itu dari Jakarta ke Jayapura. Demi Tuhan, naik pesawat itu sensasinya sangat tidak terjelaskan. Secara halus, pengalaman itu bisa dijabarkan dalam frasa yang mengagumkan tentang betapa indahnya pemandangan bumi dari atas langit. Secara kasarnya, entah karena kualitas dari jenis maskapai atau apa, jujur saja naik pesawat, apalagi duduk di bagian paling belakang dekat WC, mengingatkanku akan perjalanan naik bis pas melintasi jalur selatan pulau Jawa, via Tasikmalaya-Cimahi-Cilacap.

Suara mesin, sensasi goyang yang terasa, dan beruntungnya ada obat anti mabok yang membuatku tak perlu terjaga berjam-jam sepanjang perjalanan ke Jayapura. Tak sampai dua jam setelah meminum itu obat, aku sudah tidak sadar, dan ketika terbangun, pesawat sudah ada di atas langit Papua. Sekali lagi, demi Tuhan, aku merasa begitu beruntung pernah merasakan naik pesawat. Suka-suka lu aja deh.

Selanjutnya, ternyata begini nikmatnya rasa pas dapat uang THR dari kantor? Rasanya sungguh adiluhung, nikmatnya sungguh aduhai betul. Demi Tuhan, rasanya sudah sedemikian lama tidak menerima tunjangan hari raya.

Katanya tidak ada, eh pas dipikir lagi, sudah dapat tiga. Lalu untuk berikutnya ada momen dimana aku lupa tentang apa yang terjadi lima bulan berikutnya. Karena ketika tersadar, tanggal sudah menunjukkan angka 31 Desember 2023. Alhasil besok bukan lagi ekor tiga, tapi ekor empat. Seperti halnya kini pikiran yang semakin mampat menjabarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berikutnya di tahun dua ribu dua empat. Ya semoga saja, dia menawarkan lebih banyak syukur penuh berkat daripada umpat-umpat keparat yang sering diucapkan para pendukung Emyu yang melihat Ten Hag tak kunjung disikat.

Sepertinya cuma itu saja yang aku ingat, bila pun ada yang terlewat ya sudah biarkan saja. Karena begitulah kehidupan, Sobat. Suka membuat orang lupa, lupa yang sempat viral, lupa lupa ingat. 

Jadi begitu saja ya, selamat tahun baru dan semoga segala pengharapan di tahun depan bisa menjadi kenyataan, termasuk pengharapan atas kehendak Tuhan yang lekas mengijinkanku menjadi seorang bapak atau semoga saja pekerjaan diberi kelanggengan dan terus diperpanjang masa kontraknya. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal alamin.

Karawang, 31 Desember 2023


Selamat Tahun Baru!

Read More

Friday, November 17, 2023

128 Tahun Bank BRI Tumbuh Hebat dan Kuat Bersama Masyarakat Indonesia

Tidak terasa sudah hampir 128 tahun, Bank BRI hadir di Indonesia, dan memberikan pelayanan perbankan untuk masyarakat Indonesia. Kehadirannya yang begitu dekat dengan masyarakat, menjadikan Bank BRI tidak bisa dilepaskan dalam segala aspek kehidupan.

Berbagai layanan, inovasi, dan program yang ditawarkan Bank BRI menjadikannya sebagai Lembaga perbankan yang begitu dipercaya oleh masyarakat Indonesia secara luas. Selama 128 tahun, Bank BRI tumbuh hebat dan kuat.

 

Read More

Tuesday, October 31, 2023

Setidaknya Tidak Menambah Kerunyaman Hidup

Entah kenapa aku merasa bahwa membeli buku, lagi dan lagi, walau tumpukan buku yang harus dibaca itu masih banyak itu menjadi salah satu trik Coping Mechanism untuk mengatasi kerunyaman hidup. Walau hidup masih runyam, tapi setidaknya tidak ditambah penyesalan tidak beli buku inceran.

 

Adalah sebuah penyesalan yang tiada habisnya bila melewatkan kesempatan untuk mendapatkan buku inceran. Kesempatan yang sepertinya tidak akan muncul lagi untuk jangka waktu dekat, seperti halnya blog pribadi yang melewatkan tanpa ada tulisan dalam satu bulan.

Read More

Saturday, September 23, 2023

Tetap Tenang, Tetap Tenang, Tetap Tenang!

Adalah empat puluh tiga ribu lima ratus rupiah, jumlah saldo yang tersisa di rekening bank. Tidak bisa diambil, bahkan barang sepuluh atau dua puluh ribu. Sungguh sebuah kepedihan yang nyata ketika menyadari bahwa uang di dompet sudah tidak ada bekasnya.


Untungnya, tanggal gajian tinggal beberapa hari lagi. Urusan nanti mau bagaimana itu lain soal, namun untuk sekarang membeli beras dan kebutuhan lainnya seketika terasa begitu memusingkan. Ah sial, memang benar adanya, tidak punya rasanya sungguh memusingkan.


Read More

Wednesday, August 30, 2023

Bagaimana Bisa Terjadi?

Banyak kehidupan yang sudah dia lihat sebelum dia terbangun dan tersadar kembali. Setiap kali dia hilang kesadaran, dia akan terbangun di tempat lainnya dengan sosok yang berbeda, namun dengan jiwa yang sama, jiwa dirinya sendiri.

 

 

Ananta terbangun di atas ranjang rumah sakit dengan balutan perban menutupi sekujur badan. Hanya bagian wajah dan telapak tangan yang terbebas dari balutan perban. Tengah malam, dia tersadar, dengan kepala pengar, ingatan masih belum pulih benar. Tidak banyak yang dia lakukan selain mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Ananta, masih mengingat dengan jelas, bahwa waktu itu dia sedang berjalan pulang sehabis bekerja seharian. Dia berjalan sendirian di waktu malam sepanjang jalan, menuju tempat pemberhentian bus yang akan mengantarnya pulang. 


Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja, samar-samar dia mengingat bahwa saat itu dia sampai di persimpangan jalan. Sorot lampu begitu jelas, dengan cepat datang menerjang ke arahnya. Suara-suara dengung di telinganya menjadi hal yang terakhir dia ingat sebelum menjadi gelap semuanya.

Semakin lama dia mencoba untuk mengingatnya, semakin sakit pula kepala berdenyut seolah memintanya untuk berhenti. Dalam kesadaran yang setipis tisu, dia masih sempat mencoba untuk merasakan seluruh tubuhnya yang terasa berbeda, dengan dua tonjolan di dadanya yang menandakan dirinya seorang Wanita. 


Seketika dia berteriak membangunkan pasien lain di sebelahnya, dan memancing para suster berdatangan ke ranjangnya.


“Tenang nona, tenang nona Ravenna. Angela, lekas panggil dokter jaga. Angela!” 


Sejak kapan namaku Ravena? Sejak kapan diriku jadi seorang Wanita? Benaknya menolak kenyataan itu semua. Suara itu kembali berdengung di dalam kepalanya.


“Sejak kapan!” Suaranya menghilang ketika Dokter yang dipanggil suster telah datang, dan kemudian menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Obat bius, sepertinya.


Dan di ujung kesadarannya, Ananta masih sempat bertanya kepada dokter dan suster yang tadi berteriak memanggil temannya.


“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?!”


Lalu semuanya menjadi gelap seketika.

 

Ketika Ananta terbangun kembali, dia diherankan dengan kondisi kamar yang begitu berbeda dari kamarnya. Terlihat kamarnya begitu mewah, dengan pencahayaan yang begitu terang, selimut yang menyelimuti tubuhnya pun begitu hangat.

 

Dari ujung mata, dia melihat ada ruangan yang lampunya menyala. Dari balik lampu yang menyala, terdengar suara shower menyala, mungkin ada seseorang yang sedang mandi. Dia terheran dengan kondisi badannya yang tidak memakai apa-apa, hanya berbalut selimut saja.

 

Kesadarannya perlahan pulih, ketika dia mencoba bangkit dari ranjang, kakinya bisa merasakan hawa dingin lantai yang dipijaknya dan menemukan seluruh pakaiannya berceceran di lantai.

 

“Dimanakah aku?”

 

Sayup-sayup suara shower air berhenti dan terganti suara orang bersenandung, suara seorang Wanita, entah siapa dia. Ananta masih saja terpaku di atas ranjang, dengan pengar yang masih menguasai kepalanya. Matanya melirik sekilas ke atas meja, dan melihat ada foto seorang wanita muda yang sedang merangkul seorang pria, yang juga entah siapa.

 

“Eh sayang, sudah bangun.” Ananta terkaget dengan sensasi hangat yang tiba-tiba memeluk tubuhnya.

 

Masih berbalut handuk, wanita itu tiba-tiba memeluknya. Begitu hangat, begitu rapat, terasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhnya, yang entah bagaimana, memancing sensasi terbakar lainnya, yang seketika begitu mendadak.

 

Aroma harum menguar dari tubuh wanita yang memeluknya, yang dia yakini sebagai istrinya, atau sebagai kekasihnya. Entah mengapa dia tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya, selain ingatan di malam ketika sorot cahaya menerjangnya. Jangankan istri, dia bahkan seingatnya saja dia belum memiliki kekasih. Lalu wanita itu siapa? Kenapa dia begitu mesra memeluknya?

 

Lalu dia membalas menciumnya, dan melucuti handuk si wanita, sampai kemudian dia tidak lagi ingat apa yang terjadi setelah dia meledakkan bagian tubuhnya di dalam tubuh wanita yang sedari tadi mendesah dan memanggil-manggil namanya.

 

“Oh, Marioku sayang, kamu begitu kuat. Begitu nikmat. Ayo sayang teruskan, lebih kuat, ah!”

 

Hah? Mario?! Siapa lagi Mario?! Siapa Mario?!

 

 

Rasanya masih begitu jelas bagaimana dia menghajar kekasih dan lelaki selingkuhannya. Betapa puasnya dia melihat selingkuhan kekasihnya babak belur berlumuran darah di atas ranjang. Tak jauh dari ranjang, di dekat pintu kamar mandi, tergeletak tubuh kekasihnya yang tak juga sadarkan diri. Entah masih hidup atau sudah mati, dia tidak peduli.

 

Terpenting, dia sudah tahu bahwa kekasihnya selingkuh. Dan dia sudah puas melampiaskan rasa sakit hatinya. Berbulan-bulan dia bekerja jauh di tengah laut demi meminang kekasihnya, rela berhari-hari digoyang samudra, eh ternyata kekasihnya lagi sibuk digoyang sama lelaki lainnya.

 

Terkadang kenyataan memang sebrengsek itu, pikirnya. Apalagi si Ravenna itu, cantik-cantik bisanya banyak banget. Muka lugu kelakuan sungguh terlalu.


"Brengsek!"

 

Dan, dalam perjalanan pulang, dia sempat mampir ke bar terdekat untuk meredakan pening kepalanya. Tiga gelas, empat gelas, dua botol, tiga botol minuman keras tandas. Semuanya berserak di atas meja. Hari masih belum terlalu malam, namun kepala rasanya begitu pengar. Mungkin memejamkan mata barang sejam dua jam, cukup membuatnya tenang.

 

 

Dalam kondisi yang setengah sadar, dia memilih untuk berkendara pulang menuju rumahnya. Namun sayang, di tengah jalan, dia sempat kehilangan kesadaran dan tertidur sebentar. Tanpa sadar, dia memacu mobilnya dengan kecepatan berlebih. Dan di pertigaan dekat pemberhentian bus, dia masih ingat ada sosok lelaki yang tidak mau menghindar meskipun sudah diklakson berulang kali.

 

Dia melihat tubuh lelaki itu tertabrak dan terpental cukup jauh, sebelum mobil yang dia kendarai menjadi lepas kendali dan menabrak bus yang sedang berhenti.

 

Di ujung nafas terakhirnya, dia tersenyum melihat berbagai ingatan akan betapa banyak kehidupan yang sudah dia lihat sebelum dia terbangun dan tersadar kembali. Setiap kali dia hilang kesadaran, dia akan terbangun di tempat lainnya dengan sosok yang berbeda, namun dengan jiwa yang sama, jiwa dirinya sendiri.


Sebelum menyadari bagaimana bisa semuanya terjadi?

Read More

Monday, July 31, 2023

Tidak Ada Apa-apa

Jam sebelas malam lewat sekian menit, di tanggal tiga puluh satu juli dua ribu dua tiga. Tidak ada yang berubah, walau besok sudah bulan agustus. Harapan akan tagihan cicilan bulanan masih belum juga lekas putus.

Tanggal tiga puluh satu juli, beberapa barang masih belum bisa terbeli. Masih syukur ada beras yang mengisi kuali, tak apa walau sayuran ternyata belum sempat kebeli. Tadi pagi, rasanya buru-buru sekali gegara bangun kelewat siang, lewat jam tujuh pagi.

Sampai satu jam terakhir di bulan juli, belum terjadi apa-apa, sungguh tidak ada apa-apa. Termasuk notifikasi tentang bukti pembayaran asuransi kesehatan yang sudah tiga bulan belum terbayarkan.

Brengsek betul ya, rasanya sudah bekerja sedemikian keras, namun masih saja ada yang terlewat, belum sempat terbayarkan di bulan juli.

Semoga saja, bulan agustus menawarkan rejeki yang tidak putus-putus.

Aamiin.
Read More