Tidak Ada Waktu

Akhir-akhir ini ada begitu banyak hal yang aku pikirkan. Mulai dari jam kerja yang semakin keterlaluan, beban pekerjaan yang semakin berat, serta mulai terasa merosotnya ketahanan tubuh dalam menghadapi semuanya. Aku merasakan begitu Lelah, baik secara fisik maupun psikis, sampai-sampai yang aku inginkan hanyalah tidur, tidur dan tidur. Apakah ini artinya aku sedang mengalami Burn-Out?

Hari demi hari, kondisi tidak semakin baik, apalagi jika ditambah dengan cuaca yang tidak menentu, kadang hujan gerimis kadang hujan badai, seringkali aku merasa begitu muak, ingin rasanya memberontak dan teriak. Tapi aku tidak bisa. Tubuhku menyerap semuanya, tubuhku meredam semuanya. Bahkan, untuk pertama kalinya, sholat malam dan tadarus membaca kitab suci, tidak memberi efek sama sekali. 

Apakah ini tandanya aku harus istirahat dan menghentikan semuanya? Berhenti sejenak, dan memberi jeda yang aku butuhkan selayaknya spasi di setiap kalimat yang aku tuliskan. Karena semakin tidak ada jeda, segala sesuatu semakin tidak jelas, dan tidak ada artinya, selayaknya menulis tanpa spasi.

Jangankan untuk menulis, untuk sekedar membaca buku atau bermain voli saja sudah tidak ada waktu. Bahkan tidak jarang, waktu makan dan sholat sering terlewati. Beban pekerjaan semakin banyak, tapi petugas semakin dikurangi. Bahkan seringkali petugas yang tersedia dimutasi ke tempat lain, dengan alasan tempat lain kekurangan petugas. Alhasil, beban pekerjaan milik petugas yang dimutasi itu mau tidak mau dilimpahkan ke petugas yang tersisa. Ya bayangkan saja sendiri, bagaimana rasanya. Cepat atau lambat, ketahanan tubuh akan runtuh juga. Cepat atau lambat, akan mulai muncul pemikiran; Sebenarnya, ini kerja apa dikerjain?

Tidak ada waktu untuk rekreasi dan menyalurkan hobi, bahkan untuk mengeluh pun sudah tidak punya waktu lagi.

Secara struktural, baik secara finansial, sosial, fisik maupun mental, semuanya mulai terasa goyah. Habis secara tenaga, waktu, uang, dan pikiran, dan tidak ada timbal balik yang jelas. Sedangkan apa yang didapatkan setiap bulan, itu sangat tidak sesuai dengan beban pekerjaan yang semakin hari semakin berat, belum lagi ditambah ketika cuaca sedang tidak bersahabat, rasanya mulut tidak bisa berhenti untuk mengumpat. 

Apalagi dengan beban pekerjaan yang ditambah terus menerus, semakin lama kesehatan fisik dan mental pun tergerus. Setiap hari tubuh terasa seperti dikeremus. Mencoba untuk terus professional mengerjakan segala sesuatunya, namun semakin lama kelamaan tidak ada upaya perbaikan yang berarti. Semakin lama terasa seperti zombie.

Hidup memang tidak adil; begitu kata mereka, tatkala mendengar aku mulai bercerita tentang kehidupan.

Bekerja memang melelahkan; begitu kata mereka, ketika aku mencoba bercerita tentang pekerjaan.

Ah kerjaan lu mah enak, lha gue?

Brengsek! Malah adu nasib.

Comments

  1. Berhenti sejenak, tapi tidak meninggalkan. Beban akan terasa lebih besar jika tidak dilewati secepatnya, bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Terkadang banyak orang diluar sana yang menginginkan apa yang sering kita keluhkan setiap hari. Apalagi soal pekerjaan, kenyamanan, dan kehidupan. Kita adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namun, pada akhirnya tubuh sudah mencapai batasannya, jika dipaksakan lagi tentu akan roboh juga. Daripada memaksakan apa yang sudah tidak bisa dipaksakan, ya tahu diri.

      Delete
  2. Yeah it so delicious flavor mindset

    ReplyDelete
    Replies
    1. segala sesuatunya tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja

      Delete
  3. I've been there....I'm still do actually.

    Memang rasanya begitu memuakkan menghadapi semua tekanan demi tekanan yang terus datang tanpa mempedulikan bagaimana tertekannya kita dengan tekanan yang sudah ada. Namun, seolah semua tak bermakna. Yang ada hanya, kerjakan dan selesaikan, tanpa mau tahu dan peduli.

    Tapi, saya percaya, semua ini sudah menjadi rencana-Nya yang Maha Indah. Dijalani saja. Toh Beliau sang Maha Adil.

    Kalau kerjanya lebih besar dari kompensasinya, nanti Beliau yang akan mengganti kekurangannya. Pun demikian sebaliknya, ketika kompensasi lebih kinclong dari kerjanya, nanti Beliau pulalah yang akan ambil kelebihannya.

    Lelah, penat? Istirahatlah sejenak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dituliskan di atas, bahkan jam makan dan jam ibadah saja sampai terlewat akibat banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan, maka apa boleh buat? Jika ditahan semakin lama, akan terasa semakin berat saja, sedangkan apa yang didapat dari pekerjaan itu sungguh tidak sebanding. Sekali lagi, ini bukan masalah bersyukur atau tidak bersyukur, untuk soal ini, sudut pandang tidak sesempit itu

      Delete
  4. Kalau kata Kunto Aji sih, ini semua bukan salahmu. Jadi kalau capek berhenti dulu Kak, baru lanjut lagi. Berhenti dalam artian nenangin diri bisa hang out, ngejalanin hobi, atau ibadah. Tergantung invidiu masing2.

    Karena hidup bukan perlombaan, siapa cepat sampai tujuan. Hidup itu kayak lari marathon, tiap indvidu punya pace-nya masing2 dan boleh berhenti kapan aja ketika dia capek dan lanjut lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'Berhenti dalam artian nenangin diri bisa hang out, ngejalanin hobi, atau ibadah. "

      Ah andai saja semudah itu untuk bisa menikmati waktu untuk memulihkan diri, ah andai saja.

      Delete
  5. Semangat, semangaattt!
    Winner never quit
    Quiter never win!

    ReplyDelete
  6. Bener kak. Terkadang dalam keadaan yang sangat lelah yang kita butuhkan segera adalah JEDA. Tapi sayang ya, tuntutan hidup untuk mendapatkan Jeda ini yang sulit. Semoga Allah kuatkan dan berikan kemudahan ya Kak. Semoga kakak ada waktu untuk jeda, untuk menepi sejenak, untuk kembali mengumpulkan kekuatan, untuk merenung, mengumpulkan semangat lalu bertanya pada diri. Aku sedang kenapa? Apa yang aku butuhkan? Apa yang harus aku lakukan? Apa solusi yang bisa aku lakukan dll. Pasti akan ada banyak pertanyaan dalam diri yang butuh jawabannya ya. Apapun itu smga Allah mudahkan kak.

    Aku tahu aku cuma bisa berkata. Cuma bisa dngerin lewat cerita ini. Tpi doa yang tulus untukmu. Smga dimudahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas doanya mbak.

      Pada akhirnya setelah melalui perenungan yang panjang, dan ditambah dengan pembicaraan dengan keluarga besar perihal bagaimana selanjutnya, akhirnya solusi terbaik adalah berhenti, dan mencari pekerjaan lagi.

      Karena rejeki bisa dicari di tempat lain, asalkan ada niat diri dan usaha serta doa, niscaya akan ada jalannya.

      Bismillah.

      Delete
  7. Ah iya, klo kata orang jawa mah sawang sinawang
    padahal, setiap pekerjaan ada plus minusnya y

    ReplyDelete
  8. Hidup memang tidak adil; begitu kata mereka, tatkala mendengar aku mulai bercerita tentang kehidupan.

    Aseekkkkkk xixixix

    ReplyDelete
  9. Saya pernah tuh mengalami seperti itu waktu bekerja di Jakarta. Hidup rasanya seperti zombie. Perlu refreshing, ambil cuti sejenak. Kalau masih berulang, pertimbangkan cari pekerjaan di tempat lain, dengan jam lebih fleksibel. Mental health itu penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya juga inginnya begitu kak, ingin menggunakan cuti untuk menenangkan diri, hanya saja tidak semudah itu untuk mendapatkan cuti, sedangkan ada kalanya ketika sedang ada event, tidak boleh libur, sedangkan badan sudah sedemikian lelahnya, tapi tidak diperbolehkan libur, ya bagaimana lagi, cepat atau lambat akan tidak tahan juga, badan akan kelelahan

      Delete
  10. Intinya harus bersyukur sih kak. Seberat apapun beban kita, ingatlah masih banyak beban yg msh diterima org lain. Meski banyak yg bilang, ga usah bandingkan hdp kita dgn orang lain. Tp ya hdp hrs disyukuri krn masih banyak di luar sana yg berjuang utk mendapat pekerjaan.

    Perbanyak sedekah biar hidup makin berkah. Sesekali traveling biar pikiran cerah. OK kak? hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk bagian ini, bukan lagi sekadar tidak bersyukur atau bersyukur, karena untuk sudut pandang ini tidak seciut itu, saya tetap melakukan pekerjaan secara profesional tapi jika semakin lama tidak ada perbaikan, justru beban pekerjaan semakin ditambah, tenaga semakin dikurangi, tentu akan remuk juga.

      Travelling? Boro-boro untuk travelling, bahkan untuk mengeluh saja saya tidak punya waktu, saking sedemikian banyak beban pekerjaan

      Delete
  11. Sering tuh lagi mau curhat malah ada penderitaan. Hidup kadang selucu ini

    Balik ke diri sendiri kayanya nih. Buat diri kita bahagia dengan hal-hal simpel

    ReplyDelete
  12. Pernah ada di keadaan harus maksa diri bertahan dan ya, pada akhirnya gak kuat juga. :))
    Memang cuma diri kita yang tau apa yang terbaik buat kita. Semangat semangat!

    ReplyDelete
  13. Apapun yang kita lakukan selalu ada komentar dari orang lain....bikin capek rasanya

    ReplyDelete
  14. Kalau bekerja secara berlebihan memang jadinya seperti itu. Dan cukup sulit untuk bangkit jika tidak disertai rasa syukur karena berhasil mengalahkan pekerjaan itu.

    ReplyDelete
  15. Kalau diriku sekarang semuanya harus balance kak. Play Hard Work Hard... hehehe ngga mau terlalu memaksakan diri dan belajar untuk memahami tubuh dan kapasitas. Dimana level tertinggi setelah di boost. selebihnya no...... hidup perlu dinikmati karena waktu tak dapat diputar kembali

    ReplyDelete
  16. I feel you kak. Menyedihkan memang, sudah tahu pekerjaan banyak, malah seenaknya mengurangi orang. Kalau butuh pekerja, aku siap kok! #eh

    Terkadang memang perlu beristirahat penuh, benar-benar beristirahat, memanjakan diri. Mungkin sekarang pandemi, tapi cobalah mencari tempat spa yang aman.

    Tiduran sambil dipijat bisa melenturkan otot dan membuat rileks. Terdengar saran asal memang, tapi dulu buatku works banget.

    Semangat selalu ya kak!

    ReplyDelete
  17. Kalau boleh saran jangan sampai tinggalkan shalat. Justru disitu kita bisa berkeluh kesah pada-Nya. Jika kita sedang capek batin, tandanya Yang Maha Kuasa justru pengen kita meluangkan waktu berdoa pada-Nya.

    ReplyDelete
  18. Sepertinya memberi jeda kepada diri memang diperlukan. Ingat kata2 nyleneh "kerja lembur bagai quda" seharusnya kita jangan sampai mati2an begini sampai tidak bisa menikmati hidup.
    Semangat selalu kak

    ReplyDelete
  19. Been there, Kak. Burn out karena kerjaan, akhirnya cabut sih. Hehe. Kalau perlu, minta bantuan profesional juga gapapa, Kak. Semoga bisa segera nemu jalan keluarnya.

    Biarpun berasa nggak ngefek, jangan lupa ibadah jalan terus. Insha Allah dimudahkan Allah untuk ketemu jalan keluar dari masalahnya. Semangat, Kak..

    ReplyDelete
  20. Kadang saya sendiri juga suka merenung tentang pekerjaan yang semakin menumpuk dan malah bikin stress.

    Biasanya saya rehat dan jeda dulu saja dari aktivitas, bahkan kadang diam nggak ngapa-ngapain.

    Karena kalau cerita ke teman juga, kadang bukan didengar yang ada malah diceramahin yang ujung-ujungnya memang adu nasib. Hiks..

    ReplyDelete
  21. Wah! Saya jadi bingung nih mau komentar apa. Saya juga seringkali merasakan yang sama sih, apa lagi kalau sedang hectic banget sama kerjaan. Kerjaan yang satu belum selesai, malah muncul lagi kerjaan baru.

    Kalau seandainya cerita ke orang lain, malah tidak ada solusi, mungkin baiknya cari waktu yang benar-benar pas untuk diri sendiri. Lakukan me-time apa pun yang disuka. Terakhir, menurutku sih pada akhirnya the best self healing terbaik adalah tetap berdoa dan perbanyak memohon pertolongan ke Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Istirahat sebentar sih kayaknya pilihan paling bijak untuk saat kayak gitu ya. Kadang kalo lagi dalam keadaan yang mirip begitu, aku suka ambil jeda cuma buat diem aja. Duduk diem sambil merem terus pelan-pelan mikirin langkah kakiku mau dibawa ke mana selanjitnya.

    ReplyDelete
  23. Istirahat sejenak gak apa-apa dari rutinitas, yang penting ibadah jangan ditinggal karena itu kuncinya

    ReplyDelete
  24. I feel you kak, huhu

    Aku pernah kerja pegang 3 divisi sekaligus, gilak capek banget. Pas aku protes katanya aku nggak loyal sama perusahaan, karyawan yang pamrih! dan hal ini dibahas di meeting BOD dong! Astaga!

    Sampai direkturku tuh jutek banget, tiap aku minta ttd berkas mukanya kayak nahan pup astaga!

    Lembur ngurusin berkas sampe jam 8 malem juga gak dikasih lemburan, uang makan pun enggak. Yang ada aku keluar uang sendiri buat beli makan dan uang extra buat naik ojol, takut kalau udah malem naik angkot, mana sepi banget anjir! Wkwkw... jadi ikutan curhat aku.

    ReplyDelete
  25. ngerasain banget sih, Mba.. karena sebagai ibu yg urus anak2, pekerjaan rumah, dan juga sambil kerja freelance, rasanya 24 jam itu kurang yak haha tapi ya gimana gak mungkin juga protes ke yang bikin waktu kan. biasanya aku akalin dengan jaga kesehatan fisik dan mental plus sebisa mungkin atur waktu dengan baik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw kok Mbak, sih.. Kaaakk maksud akuuu haha maafkeun ibu2 kalo udah curcol mah suka kebablasan

      Delete
  26. Ya ampooonnn
    Aku baca ini berasa bercermin, akhir2 ini kyk sibuk melulu hampir gak ada waktu buat jeda. Tp kyknya krn kesalahanku sendiri krn kyk lg serakah mau ngerjain semuanya huhuhu
    Sedang berusaha bertahan seminggu lagi moga bisa selow kembali :D

    ReplyDelete
  27. Aku juga sebel banget pas lagi cerita eh ujung-ujungnya ada orang yang adu nasib, lucu aja gitu gak mau kalah perihal penderitaan juga hehe, jadi dari pada gondok biasanya langsung aku iyain aja biar cepet beres terus kabur

    ReplyDelete
  28. Semangattt Fandhy! Kamu bisa!
    Ayo lewati semua ini dengan tegar. Jeda sejenak dulu kalau memang sangat lelah. Mungkin bisa izin sehari buat rehat (bener-bener rehat) entah apapun akibatnya nanti? Karena bagaimanapun harus jeda sejenak agar tidak terlalu burn out.
    Tapi iya, saranku sholatnya diutamain. Karena kita bisa curhat pada-Nya sepuasnya, dan biasanya dari situ kita bisa dapat kekuatan. Insyaa Allah bisa, ya!

    ReplyDelete
  29. Aku pernah mengalami ini dan hal yang aku lakukan adalah break, ambil cuti, nggak pegang kerjaan apa pun. Hanya melakukan hal yang aku suka... setelah beberapa hari dan merasa lebih baik, baru kembali bekerja.

    Coba acknowledge dan validasi emosi, Mas. Inhale, exhale....

    ReplyDelete
  30. Salah satu ujian terberat menjadi manusia, terjaga dari tindakan adu nasib :))

    Selalu merasa bangga sendiri, ketika mampu hanya jadi pendengar yg baik dulu saja, dan baru urun komentar kalau dipaksa *eh

    Eniwe, semoga badan segera fit dan kerjaan ada celah buat berasa enteng ya

    ReplyDelete
  31. Selalu bersyukur dengan segala keadaan dan semoga Allah gantikan dengan pahala yang berlipat atas kerja keras yang dilakukan.
    Huhu..maaf yaa...komenku jad kaya tausiyah.

    Aku sendiri kayanya gak pernah ngalamin terlalu sibuk. Kayanya masih bisa kalau dibuat sholat. Hanya keseringannya menunda-nunda lalu terlena dengan waktu yang ada.

    ReplyDelete
  32. Terkadang kalau udah cerita pasti ada aja ya orang yang suka membandingkan. Padahal masing-masing dari kita punya masalahnya masing-masinglah. Jadi kalau ada yang cerita, mungkin coba didengarkan dan berikan semangat.

    Emang gak enak sih rasanya burn out tapi gak bisa liburan atau sedikit rehat untuk memberi jeda. Bahkan saat burn out tidur 1 jam aja udah bikin senang.

    ReplyDelete
  33. Semangat ya kak, memang kadang ada titik dimana kita merasa lelah banget jalani hidup. Kalau merasa capek dan ada rasa gak berguna yaudah istirahat dulu dan menjalani me time kemudian lakukan aktivitas lain. Terus bersyukur dan mengingat begitu banyak karunia yang sudah kita dapat.

    ReplyDelete
  34. Namun, sayangnya pekerjaan yang sebelumnya memiliki jam kerja yang tidak tentu, bahkan untuk jatah cuti pun hampir tidak ada. Jatah libur hanya 4 hari kadang 5 hari per minggu, sistem kerja 5+1. 5 hari kerja, 1 hari libur.

    Dan, jadi lebih sulit lagi ketika sedang ada event, tidak bisa libur sama sekali. Belum lagi kondisi cuaca yang tidak menentu. Semakin lama, melelahkan juga. Lelah fisik, lelah pikiran.

    ReplyDelete
  35. Tiap orang pasti ada porsi ujian hidup masing-masing ya, Kak. Moga ada jalan keluar yang terbaik supaya tetap bisa jaga keseimbangan hidup

    ReplyDelete
  36. Aku baca tulisan ini malah ngerasa lagi denger bercerita. Memang ada satu masa saat kita mulai lelah dengan semua. Kalau baca komen-komen di sini emang perlu rehat dan jeda sesaat. Anyway, kalo kita lagi cerita dan lawan bicara malah adu nasib emang menyebalkan sih. Huhuhu

    ReplyDelete
  37. setiap orang punya timeline masing-masing ya.. jadi memang harus bersyukur dan keep on track di masing2 gak usah nengok sebelah yak

    ReplyDelete
  38. Semangat kita, lurus aja ya kak kalo nengok-nengok capek
    ada kadang juga gitu udah lumrahnya nikmati masa-masa lagi gak enak dan lagi enak.

    ReplyDelete
  39. Pernah di posisi yang sama, rasanya ditekan di pekerjaan yang buka kesukaan itu pengen buru-buru kabur cari yang lain.

    Yang aku lakuin kalo udah stres gitu, kabur mencari ketenangan mandi air hangat rempah, ngespa, berbagai quality time yang bikin mood jadi kembali bagus.

    Semangatt yaa..

    ReplyDelete
  40. Aku pernah di posisi kayak gini. Waktu itu solusi yang aku ambil adalah ambil cuti. Nggak lama. 1 hari tapi benar-benar memanfaatkan 1 hari ini untuk bersenang-senang.m
    Melupakan semua urusan kerja. Eh iya kalau sedang sakit jangan dipaksa masuk kerja. Istirahat benar-benar di rumah. Biar badan pulih 100% baru masuk kerja. Sekali-sekali boleh lah egois saat sakit.

    ReplyDelete
  41. pastinya hal yang tak enak dirasakkan ya, waktu habis namun seakan berjalan di situ-situ saja. bukan hal yang mudah juga pastinya untuk memilih dan memutuskan langkah baru. tak apa untuk mengeluh dan tak harus selalu apa-apa positif, justru itu yang akan membuat tetap waras dan tak terjebak dalam positivity yg semu. semoga segera lekas mendapatkan yang terbaik.

    ReplyDelete
  42. Tidak ada waktu ini kadang hanya sebuah alasan (eh ini pada diri saya sih). kayak misalnya gak ada waktu untuk olahraga, gak ada waktu untuk ngaji, eh tapi kok aku ada waktu buat nonton drakor sih? wkwkwk
    Baca tulisan ini saya jadi instropeksi deh, memang tidak ada waktu atau tidak mau meluangkan waktu? hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana