Proporsal Penelitian. Cara Bikinnya Gimana?

Ada bulan ada bintang, ada siang pasti ada malam. Begitu pula dengan skripsi, ada Outline pasti ada juga Proposal. Yak proposal penelitian, proposal yang isinya rencana-rencana untuk menguasai dunia penelitian untuk mencari data buat skripsi. Untuk para mahasiswa angkatan tua, macam saya. Proposal adalah teman tidur sekaligus teman curhat dari berbagai masalah percintaan, perkuliahan, sampai masalah selingkuhan. Ya elah! Tapi begitulah adanya. Proposal, i love you! :')

Sudah hampir 4 bulan terakhir ini proposal dengan setia menemani hari-hari saya. Ibarat kata pepatah "Tiada Pacar, proposal pun jadi" Ngaco banget! Harus saya akui Proposalku ini jauh lebih setia dibanding mantanku yang kemarin. Proposal menemaniku dimana pun dan kapan pun, di kala sakit dia selalu menyemangatiku untuk sembuh, dan memberi saya semangat. Ah kamu memang baik. :')

Oke, kembali ke topik. Proposal penelitian itu adalah semacam perumusan bagaimana nantinya kita (Para Skripsi-mania) akan mencari data di lapangan. Lapangan bola van? Bukan! Maksudnya lapangan, iya lapangan! Observasi, buat nyari data-data buat skripsi.


Sulitkah bikin Proposal? Ya, sulit. Dan sangat sulit, kalo menurut para adik-adik angkatan yang baru pertama kali berjumpa dengan proposal. Tapi menurutku sih bikin proposal itu gampang gampang sulit, being hard to be easy. Akan terasa sangat gampang kalo udah ketemu feel-nya sama udah yakin dengan tema skripsi yang akan kita ambil. Dan akan terasa sangat sulit ketika penyakit males mulai melanda. Ah masalah klasik.

Langsung saja, proposal penelitian memiliki berbagai macam bagian-bagian penting yang tak boleh dilewatkan apalagi dilupakan. Ini penting untuk diingat, terkadang banyak yang merasa desperate kalo disuruh bikin proposal. Ibarat kalah sebelum berperang, belum juga mencoba bikin udah menyerah duluan. Tapi begitulah adanya, manusiawi . Saya juga dulu awalnya sempat jiper pas disuruh bikin proposal, tapi sekarang berkat doa orang tua dan kaum dhuafa saya sudah lumayan mahir membuat proposal penelitian.

Proposal penelitian memiliki beberapa sistematika yang berurutan dan bersifat sistematis. Tak boleh dilewat ataupun tak boleh diloncat. Harus urut dari A sampai Z. Dan berikut adalah bagian-bagian proposalnya :

1. Judul Penelitian.
Berisi judul skripsi yang nantinya akan kita ambil. Judul itu penting, karena keunikan suatu judul akan menjadikan skripsi kita memiliki ciri khas yang berbeda dengan karya skripsi orang lain. Biasanya sih yang menjadi tolak ukur judul adalah apa keunikannya, urgensi, dll

2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup sering disebut pula tema. Tema yang ada dalam outline kita. Biasanya sih dalam ruang lingkup ini merupakan Tema Umum dalam outline.
3. Latar Belakang
Latar belakang berisi latar belakang dari masalah-masalah terkait yang mendasari kita untuk mengambil judul dan tema skripsi. Biasanya dalam latar belakang berisi implementasi antara teori dengan kenyataan di lapangan dan terkait dengan masalah yang nantinya akan kita bahas dalam skripsi. Dalam membuat latar belakang alangkah baiknya kalau kita memakai cara penulisan deduktif. Cara penulisan deduktif yang mana dalam penulisannya mengalir secara runtut dan urut dari tema umum sampai tema khusus, mengalir dari pembahasan luas sampai ke pembahasan yang terfokus pada pembahasan inti. Biasanya dalam latar belakang diselipi dengan berbagai data-data pendukung.

4. Perumusan Masalah
Perumusan masalah berisi perumusan masalah yang nantinya akan kita cari dan kita bahas untuk menyelesaikan masalah seperti yang ada di judul. Perumusan masalah dibuat biasanya berdasarkan uraian latar belakang.

5. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dibuat berdasarkan perumusan masalah, yang nantinya dengan dibuatnya pembatasan masalah akan memudahkan si peneliti dalam membatasi ruang lingkup pembahasan sehingga akan terfokus dan tak menjalar kemana-mana.

6. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berisikan tujuan-tujuan mulia. Tujuan mulia yang didasari dengan perumusan masalah dan pembatasan masalah. Intinya penelitian ini dibuat untuk apa?

7. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritisnya dengan adanya penelitian dengan tema tertentu dalam bidang kajian tertentu diharapkan mampu memberi kontribusi dalam perkembangan bidang kajian tema skripsi yang diambil. Sedangkan, Manfaat Praktisnya adalah dengan diadakannya penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi, kontribusi, dan memberian pemahaman kepada masyarakat secara umum mengenai tema penelitian.

8. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Terdahulu
Tinjauan Pustaka berisikan konsep-konsep sebagai teori pendukung atas tema skripsi yang akan diambil. Biasanya tinjauan pustaka berisikan data-data yang diambil dari buku-buku, dari pendapat para ahli, dan dari berbagai sumber yang ada. Dalam tinjauan pustaka berisi landasar teori dan kerangka pemikiran. Sedangkan penelitian terdahulu difungsikan sebagai pembanding.

9. Metodologi Penelitian
Dalam metodologi penelitian berisikan perspektif penelitian yang melandasi penelitian tersebut. Selain itu, dalam bagian metodologi penelitian ini terdapat pengguanan paradigma yang nantinya akan mempengaruhi dalam gaya penulisan skripsi kita. Biasanya sih dalam skripsi, rata-rata mahasiswa memakai paradigma non-positivisme, khususnya konstruktivisme. Yang mana paradigma konstruktivisme merupakan paradigma yang memandang suatu fenomena dalam bentuk konstruksi mental yang berlipat serta pengalaman menjadi dasar dan lokal spesifik yang sangat tergantung dengan informan.

A. Metode Penelitian
Metode penelitian berisikan metode yang nantinya akan kita pakai dalam penelitian. Biasanya sih metode-metode yang sering dipakai dalam penelitian adalah metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Namun, mayoritas rata-rata mahasiswa angkatan tua seperti saya lebih memilih Donita metode penelitian kualitatif sebagai metode penelitiannya.

B. Pendekatan Penelitian
Kamu kira cuma gebetan doang yang pake cara pendekatan, penelitian juga pake pendekatan. Pendekatan penelitian itu ada banyak, namun terkadang yang umum itu ada tiga, yakni pendekatan Studi Kasus, Semiotika, Hermeneutika. Dalam kenyataannya pendekatan studi kasus jauh lebih banyak dipake dibanding cara pendekatan-pendekatan yang lainnya. Katanya sih, pendekatan studi kasus itu lebih enteng dibanding pendekatan yang lainnya.

C. Fokus Penelitian
Berisikan fokus penelitian berdasarkan aspek dan sub-aspek kajian penelitian. Biasanya fokus penelitian ini sebagai upaya untuk membatasi studi dan berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi-ekslusi suatu informasi yang diperoleh di lapangan.

D. Lokasi Penelitian
E. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian maksudnya adalah sasaran yang digunakan dalam penelitian ini itu siapa saja.

F. Teknik Pemilihan Informan
Dalam hal ini, teknik pemilihan informan untuk memilih informan yang nantinya akan dijadikan narasumber dan sumber informasi mengenai informasi-informasi yang digunakan dalam penelitian.

G. Jenis dan Sumber Data
Berisikan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan para informan. Sedangkan, data sekunder berisikann data-data yang diperoleh secara tidak langsung melalui buku, sumber-sumber data yang lainnya yang berhubungan dengan tema skripsi.

I. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang diterapkan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data: Observasi, Wawancara Mendalam, Studi Dokumentasi, Studi Pustaka.

 J. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga dengan mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

K. Keabsahan Data atau Validasi Data
Validasi data adalah suatu kegiatan pengujian terhadap keobjektifan dan keabsahan data. Validasi data dilakukan untuk mendapatkan data yang benar-benar mendukung sesuai dengan karakteristik permasalahan ataupun tujuan penelitian. Validasi atau pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan berpedoman pada hasil refleksi atas aktivitas dan pengamatan.

L. Jadwal Penelitian atau Waktu Penelitian 

10. Daftar Pustaka
11. Lampiran (Pedoman Wawancara)

Untuk lebih lengkapnya kalian bisa melihat contoh Proposal Penelitian dibawah ini :


1.      Judul Penelitian :           Strategi Kampanye Politik Pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta Tahun 2012

2.        Ruang Lingkup :           Marketing Politik

3.        Latar Belakang Masalah
Indonesia saat ini adalah merupakan negara yang sudah menganut sistem demokrasi, dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pada suatu negara. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.[1] Didalam prakteknya kedaulatan rakyat disini adalah pemerintah legislatif maupun eksekutif yang di pilih secara langsung oleh rakyat atau wakil-wakil rakyat di lembaga perwakilan atau parlemen. Agar para wakil rakyat tersebut dapat bertindak atas nama rakyat, maka wakil-wakil rakyat harus ditentukan sendiri oleh rakyat. Pemilihan yang dilakukan saat ini adalah menggunakan sistem pemilu (Pemilihan Umum).
Pemilihan umum adalah sarana demokrasi yang telah digunakan diberbagai negara termasuk Negara Indonesia, yang notabene memiliki masyarakat yang beragam dan berbeda-beda. Suara dan partisipasi masyarakat adalah prioritas utama yang dibutuhkan dalam pemilu. Hal ini karena dalam negara demokrasi, setiap warga negara berhak untuk ikut dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik. Pemilihan Umum yang ada di Indonesia bukan saja hanya Pemilihan Umum untuk memilih presiden dan wakil presiden saja. Namun, Pemilu juga dapat untuk memilih gubernur dan wakil gubernur.
Ketika menjelang hari-hari pemilihan, pasangan calon yang mencalonkan diri akan melakukan kampanye. Sejak dulu sampai sekarang, kampanye politik merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para aktor-aktor politik menjelang pemilihan umum dalam meraih dukungan suara saat pemilihan umum. Penemuan-penemuan baru tentang alat komunikasi secara langsung ikut membantu dan mempermudah para aktor politik untuk meraih simpati masyarakat dan meraih dukungan menjelang pemilihan umum. Berbagai cara dilakukan oleh para pasangan kandidat dalam pemilu demi meraih simpati dan dukungan dari masyarakat. Baik dengan melalui kampanye politik melalui media cetak, media elektronik, sampai media internet yang sedang berkembang pesat saat ini.
Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu[2]. Sedangkan Kampanye politik adalah penciptaan, penciptaan ulang, dan pengalihan lambang signifikan secara sinambung melalui komunikasi. Kampanye menggabungkan partisipasi aktif yang melakukan kampanye dan pemberian suara. Kampanye politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pada pemilihan umum.
Tujuan utama dari kampanye adalah merebut perhatian masyarakat, dengan menyampaikan pesan-pesan politik serta menyampaikan visi dan misi yang diusung oleh para pasangan calon masing-masing yang ikut dalam pemilihan umum. Tujuan lain dari kegiatan kampanye adalah untuk membentuk pencitraan bagi para calon pasangan yang diusung oleh suatu Parpol maupun yang independent. Pencitraan tersebut, akan membuat perhatian kepada masyarakat untuk memperoleh banyak perhatian serta dukungan yang besar apabila pencitraan tersebut sukses dilakukan. Pencitraan dilakukan demi menarik perhatian masyarakat, serta menunjukan kepada masyarakat bahwa pasangan calon tersebut memiliki suatu kebijaksaan serta memiliki karakteristik yang disegani oleh siapapun. Tujuan pencitraan adalah untuk meraih perhatian publik.
Banyak cara dan strategi kampanye yang dilakukan para calon menjelang pemilihan umum, dimulai dengan strategi kampanye dengan menggunakan media cetak, dan media elektronik. Strategi kampanye melalui media cetak dapat berupa kampanye melalui selebaran, pamflet, Koran, majalah dan sebagainya. Setelah kampanye melalui media cetak muncul lagi strategi kampanye melalui media elektronik. Dimana para aktor politik mulai beralih menggunakan media elekronik, sebagai media untuk berkampanye. Kampanye melalui media cetak dinilai memiliki efek yang lebih mengena dan bersifat global. Namun, di awal tahun 2000-an muncul strategi kampanye melalui media internet. Dimana strategi ini didukung dengan semakin majunya perkembangan teknologi, khususnya perkembangan internet.
Internet mempunyai karakteristik yang unik, dapat dengan lebih mudah dan luas berpengaruh kepada masyarakat. Media internet juga mempunyai karakteristik pembiayaan yang lebih efisien dalam mencapai tujuannya diandingkan media-media lain yang konversional. Hal ini akan menjadikan kampanye yang dilakukan melalui media internet akan lebih efektif untuk menjaring sumberdaya dukungan dari masyarakat.
Munculnya Media internet sebagai media kampanye politik telah berhasil mendobrak cara-cara konvensional dalam melakukan kampanye yang mana dulu kampanye politik dilakukan dengan media cetak dan media elektronik setiap kali menjelang pemilihan umum. Internet menawarkan banyak kelebihan sebagai media kampanye dibandingkan dengan media cetak maupun elektronik. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari kampanye politik melalui media jejaring sosial antara lain: Biaya kampanye relatif lebih murah, Lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga, Lebih efisien dalam menyebarkan visi, misi, isu-isu politik yang berkaitan dengan calon maupun pesaing calon yang terkait dalam pemilihan umum, dan sebagainya.
Kampanye politik melalui media internet pertama kali digunakan oleh Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2008. Dimana Barack Obama memang menjadi satu-satunya orang diantara para calon-calon presiden tersebut yang sejak awal menjadikan internet sebagai alat publikasi dan penggiringan opini publik. Dengan internet, Obama bisa sejak awal mempengaruhi pandangan publik mengenai keunggulan dirinya dibandingkan calon-calon yang lain. Dengan internet pula, Obama mampu untuk membangkitkan emosi publik sehingga dengan secara sukarela menjadi simpatisan yang sangat loyal kepada dirinya. Bahkan simpatisan-simpatisan ini pun bukan saja yang berwarga negara Amerika Serikat, namun juga tidak bisa dibilang sedikit simpatisan-simpatisan yang berwarga negara lain. Tanpa sedikit pun uang yang harus dikeluarkan untuk itu, Obama mampu mendorong simpatisan simpatisannya tersebut untuk secara langsung mempublikasikan dirinya dan mengangkat karakter dirinya. Strategi ini kemudian ditiru oleh Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
Perkembangan internet di Indonesia menunjukkan fenomena baru saat masuk ke dalam ranah politik. Kemenangan pasangan Jokowi-Ahok juga dipengaruhi dengan kemenangannya di internet. Dimana Jokowi dan tim suksesnya juga menggunakan media jejaring sosial sebagai media kampanye mereka, seperti facebook, twitter, blog, dan youtube. Tim sukses Jokowi-Ahok melancarkan sejumlah kampanye dengan mengandalkan media sosial. Dimana Jejaring sosial lebih memiliki fungsi dalam menggiring opini publik untuk mencitrakan salah satu kandidat dalam pertunjukan politik yang tengah digelar dan ini dimanfaatkan betul oleh tim sukses Jokowi-Ahok
Saat ini peran internet tidak bisa diremehkan. Hal ini disadari betul oleh Pasangan Jokowi-Ahok menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012. Dimana, Di Jakarta sendiri, data yang diperoleh dari salingsilang.com yang dihimpun April hingga Juli 2012 dalam pilkada DKI putaran pertama memperlihatkan banyaknya perbincangan di Twitter mengenai kandidat pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012. Dari enam kandidat saat itu, Jokowi menjadi salah satu yang banyak diperbincangkan di situs layanan microblogging tersebut. Kemudian diikuti Foke dan Faisal Beim. Jokowi mencatatkan jumlah 297.925 tweet dengan 89.945 pengguna yang mengkicau tentang Jokowi-Ahok. Sedangkan untuk Foke-Nara mencatatkan 289.566 kicauan dengan 73.314 yang mengicau. Kemudian diposisi ketiga ditempati calon independen yaitu Faisal-Biem 211.954 tweet dengan 20.624 orang yang berkicau Begitu pula di facebook, grup resmi Dukung Jokowi - Ahok untuk Gubernur DKI beranggotakan 101.789 orang (September 2012) dan halaman resmi Joko Widodo dan Basuki T Purnama untuk Jakarta Baru berjumlah 61.964 yang menyukainya. Jauh melebihi kandidat mana pun juga dalam Pilkada DKI ini. (September 2012). Keberhasilan ini barangkali memancing pemikiran, bahwa internet dapat diandalkan sebagai jurus baru dalam mobilisasi politik. Yang dipengaruhi adalah opini publik, termasuk kemampuan mengubah preferensi pemilih atas kandidat tertentu. Kampanye melalui media internet selain lebih efektif dalam mengkomunikasikan kepada masyarakat Jakarta mengenai program-programnya dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012, kampanye melalui media internet juga tidak mengkotori fasilitas-fasilitas umum dengan berbagai macam selebaran-selebaran, pamflet, baliho, dan berbagai macam atribut kampanye yang lainnya.
Di internet, khususnya di jejaring sosial, masyarakat akan dengan mudah membicarakan tentang sosok jokowi, khususnya membicarakan tentang baju kotak-kotak sebagai ciri khas jokowi, video program Jokowi untuk Jakarta Baru, sampai Video parodi lagu One Direction yang diplesetkan jadi lagu kampanye untuk Jokowi-Ahok yang lagi tenar akhir-akhir ini. Untuk kasus video parodi ini, mereka sukses besar di kalangan anak muda dimana banyak anak muda yang tertarik banyak akan video ini karena selain lagunya diolah dari lagu boyband yang sedang naik daun One Direction, juga karena lagu ini memiliki lirik lagu yang lucu dan merupakan cerminan dari birokrasi Jakarta yang berbelit-belit dan banyak pungutan liar. Hal ini dibuktikan dengan Video parody Jokowi-Basuki yang sudah ditonton lebih dari 1,707,269 orang per 27 Desember 2012. Munculnya strategi kampanye lewat internet telah mendobrak pandangan dan cara-cara dalam berkampanye. Selain biaya relative lebih murah dan hemat tenaga dan waktu, cara ini juga tidak mengotori fasilitas umum yang ada dengan berbagai macam atribut calon, baik berupa tempelan, baliho, dan sebagainya.

4.        Perumusan Masalah
1)      Bagaimana strategi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?
2)      Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendorong dan penghambat kampanye pasangan jokowi-ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?

5.        Pembatasan Masalah
Berdasarkan perumusan masalah, maka penelitian ini hanya akan dibatasi pada strategi dan faktor-faktor yang menjadi pendorong dan penghambat kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.

6.        Tujuan Penelitian
Berdasarkan pembatasan masalah, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk :
1)      Memahami dan mendeskripsikan strategi kampanye yang digunakan pasangan Jokowi-Ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
2)      Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi pendorong dan penghambat kampanye politik pasangan jokowi-ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur.di DKI Jakarta tahun 2012.


7.        Manfaat Penelitian
7.1.  Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu politik, khususnya kajian mengenai kampanye politik dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan media jejaring sosial sebagai media kampanye politik. selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan referensi bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam disiplin ilmu politik yang memfokuskan pada kajian marketing politik dan penelitian lebih lanjut.
7.2.  Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pilihan kepada para pengamat politik, pengamat media, politikus, aktor-aktor politik, serta tokoh-tokoh masyarakat mengenai kampanye politik melalui media jejaring sosial.

8.      Tinjauan Pustaka
8.1.  Landasan Teori dan Kerangka Pemikiran Penelitian
Pemilihan umum merupakan salah satu sarana demokrasi. Pesta demokrasi yang merupakan perwujudan tatanan kehidupan negara dan masyarakat yang berkedaulatan rakyat, pemerintahan dari dan untuk rakyat. Dimana hak pilih setiap masyarakat secara langsung merupakan salah satu hak yang harus bisa terpenuhi. Setiap masyarakat berhak untuk menyalurkan aspirasinya dalam pemilu, seperti  pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2012 Pemilihan yang dilaksanakan dengan dua putaran. Dimana, putaran pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2012, yang kemudian dilanjut dengan putaran kedua yang dilaksanakan pada tanggal. 20 September 2012 Melalui pemilu, setidaknya dapat dicapai tiga hal. Pertama, lewat pemilu kita dapat menguji hak–hak politik rakyat secara masif dan serempak. Kedua, melalui pemilu kita dapat berharap terjadinya proses rekrutmen politik secara adil, terbuka, dan kompetitif. Ketiga, dari pemilihan umum kita menginginkan adanya pola pergiliran kekuasaan yang damai.
Pemilihan umum merupakan wahana bagi masyarakat untuk menentukan para calon pemimpin, para calon legislatif, para calon kepala daerah yang dinilai layak untuk duduk di pemerintahan. Dimana, pemilihan umum berlangsung dengan aman dan tertib, khususnya pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2012 dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta selanjutnya. Banyak cara dilakukan oleh para calon guna meraih simpati masyarakat, salah satunya dengan cara marketing politik.
Marketing Politik merupakan suatu hal yang jamak dilakukan menjelang pemilihan umum. M. N. Clemente mendefinisikan marketing politik sebagai pemasaran ide-ide dan opini-opini yang berhubungan dengan isu-isu politik atau isu-isu mengenai kandidat. Secara umum, marketing politik dirancang untuk mempengaruhi suara pemilih di dalam pemilu. Menurut A. O’Cass marketing politik adalah analisis, perencanaan, implementasi dan kontrol terhadap politik dan program-program pemilihan yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan memelihara pertukaran hubungan yang menguntungkan antara partai dan pemilih demi tujuan untuk mencapai political marketers objectives.
Paradigma dari konsep marketing politik adalah; Pertama, Marketing politik lebih dari sekedar komunikasi politik. Kedua, Marketing politik diaplikasikan dalam seluruh proses, tidak hanya terbatas pada kampanye politik, namun juga mencakup bagaimana memformulasikan produk politik melalui pembangunan simbol, image, platform dan program yang ditawarkan.Ketiga, Marketing politik menggunakan konsep marketing secara luas yang meliputi teknik marketing, strategi marketing, teknik publikasi, penawaran ide dan program, desain produk, serta pemrosesan informasi. Keempat, Marketing politik melibatkan banyak disiplin ilmu, terutama sosiologi dan psikologi. Kelima, Marketing politik dapat diterapkan mulai dari pemilu hingga lobby politik di parlemen[3].
Dalam prosesnya, marketing politik tidak terbatas pada kegiatan kampanye politik menjelang pemilihan, namun juga mencakup even-even politik yang lebih luas seperti pemilihan umum. Tujuan marketing dalam politik menurut Gunter Schweiger and Michaela Adami adalah; (1) Untuk menanggulangi rintangan aksesibilitas; (2) Memperluas pembagian pemilih; (3) Meraih kelompok sasaran baru; (4) Memperluas tingkat pengetahuan publik; (5) Memperluas preferensi program partai atau kandidat; (6) Memperluas kemauan dan maksud untuk memilih.
Marketing Politik menekankan penggunaan pendekatan dan metode marketing dalam menyusun produk politik, distribusi produk politik kepada publik serta meyakinkan bahwa produk politiknya lebih unggul dibandingkan dengan pesaing, sehingga membantu politikus dan partai politik untuk membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Menurut Philip Kotler dan Neil Kotler (1999), Seorang pasangan kandidat jika ingin sukses dalam pemilihan umum, perlu memahami market atau pasar, yakni para pemilih, beserta kebutuhan dasar mereka serta aspirasi dan konstituensi yang ingin kandidat representasikan.
Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu[4] Tujuan utama dari kampanye adalah merebut perhatian masyarakat, dengan menyampaikan pesan-pesan politik serta menyampaikan visi dan misi yang diusung oleh para pasangan calon masing-masing yang ikut dalam pemilihan umum sehingga ketika dalam proses pemungutan suara dilangsungkan maka si pemilih tersebut akan memilih calon tersebut.
Kampanye Politik mencapai masa puncaknya pada saat menjelang pemilihan langsung. Dimana para aktor politik yang berkepentingan saling berlomba menarik simpati masyarakat. Kampanye politik adalah penciptaan, penciptaan ulang, dan pengalihan lambang signifikan secara sinambung melalui komunikasi. Kampanye menggabungkan partisipasi aktif yang melakukan kampanye dan pemberian suara. Para aktor politik melakukan kampanye dengan berusaha mengatur kesan pemberi suara tentang mereka dengan mengungkapkan lambang-lambang yang oleh mereka diharapkan akan mengimbau para pemilih. Media yang digunakan oleh para pelaku kampanye, promoter, dan jurnalis yang memainkan peran dalam media turut menciptakan dan memodifikasi lambang-lambang signifika.[5] Kampanye politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pada pemilihan umum.
Pesan-pesan kampanye juga terbuka untuk didiskusikan, bahkan gagasan-gagasan pokok yang melatarbelakangi diselengarakannya kampanye juga terbuka untuk dikritisi. Keterbukaan seperti ini dimungkinkan karena gagasan dan tujuan kampanye pada dasarnya mengandung kebaikan untuk publik. Segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi, yaitu mengajak dn mendorong public untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye pada prinsipnya adalah contoh tindakan persuasi secara nyata.[6]
Segala bentuk Media tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Dimana media memiliki peranan penting dalam setiap kehidupan manusia. Definisi media menurut Grossberg, Media merupakan institusi yang difungsikan untuk mengembangkan kebebasan berpendapat dan menyebarkan informasi ke segala arah, yakni kepada publik dan institusi lainnya termasuk pemerintah.
Media saat ini telah menjelma menjadi alat kampanye yang murah bagi peserta pemilu, baik partai politik maupun kandidat perorangan untuk menyampaikan pesan, visi-misi, dan program kepada masyarakat pemilih Peran media sangatlah penting, sebab media memiliki suatu kekuatan besar untuk menggalang massa yang besar. Media baru seperti media sosial juga telah menjadi rujukan utama informasi bagi pemilih untuk mendapatkan informasi.
Media baru seperti media jejaring sosial sedang mempromosikan sebuah demokrasi yang lebih baik dengan para pemilih yang tercerahkan. Di samping itu media jejaring sosial juga mampu mereduksi ketidakadilan sosial dalam kehidupan publik. Sifatnya yang partisipatoris dan setara membuat internet menjadi point penting dalam kampanye politik. Sebagai salah satu media jejaring sosial, Facebook dan Twitter bisa menjadi senjata ampuh untuk meraih kemenangan gemilang dalam kampanye politik. Tak kalah menariknya, bagaimana gerakan akar rumput yang melibatkan kaum muda bisa menggunakan Facebook dan Twitter untuk menggalang kekuatan dalam mencapai tujuan bersama. Tak ayal pasangan jokowi-ahok menggunakannya sebagai strategi kampanye dalam ajang pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
Kemunculan internet telah membawa angin perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Dimana dahulu masyarakat ketika membutuhkan suatu informasi, maka tempat yang mereka datangi pertama kali adalah perpustakaan dan museum yang menyimpan informasi yang diperlukannya. Namun, dengan munculnya internet maka semua itu bisa diganti dengan cara cukup browsing di internet mencari informasi yang diperlukannya.
              Internet memiliki jaringan komputer tanpa batas yang menghubungkan komputer satu dengan komputer lainnya di seluruh penjuru dunia. Hadirnya internet sangat membantu kita dalam mencari sebuah informasi secara cepat dan tanpa terbatas waktu.Internet hadir untuk memberikan kemudahan pada manusia dalam menjelajah dunia dan mencari informasi secara cepat.
Media Jejaring Sosial menjadi salah satu bagian dari internet, dimana media jejaring sosial berkecimpung dalam aspek-aspek pergaulan antar individu dalam suatu wadah atau jaringan di internet. media jejaring sosial sendiri adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Media Jejaring Sosial meghapus batasan-batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu, dengan Media Jejaring Sosial ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka bereda dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam.
Tak bisa dipungkiri, media sosial telah tumbuh menjadi alat baru untuk melakukan kampanye politik. Sebagai sebuah alat, kampanye melalui media sosial diyakini mempunyai dampak yang dahsyat namun biaya relatif lebih murah dibanding kampanye dengan cara konvensional. Media sosial memang telah mampu menjadi tali penyambung berbagai kepentingan masyarakat dunia. Media sosial juga telah membantu menyebarkan gagasan-gagasan yang baik bagi kehidupan manusia. Informasi yang disebarkan seringkali lebih aktual dibanding dengan media massa konvensional, seperti Koran, majalah, televisi, radio, dan sebagainya.
Kerangka Pemikiran Penelitian


Pemilihan Umum
 












8.2    Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu penting dilakukan dalam sebuah penelitian. Selain sebagai pembanding (komparasi) serta referemsi, penelitian-penelitian terdahulu juga memiliki tujuan untuk memetakan posisi penelitian yang dilakukan dengan melakukan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian.
Tabel 1 : Matriks Analisis Penelitian Terdahulu
Judul penelitian Terdahulu
Tahun
Persamaan yang diteliti
Perbedaan yang diteliti
Masduki, “Kampanye Politik dalam Internet (Studi Wacana Teun A. Van Dijk dalam Website www.sbypresidenku.com)
2010
Menganalisis mengenai tema yang sama, yaitu kampanye politik
Metode penelitian yang digunakan.

Objek penelitian tentang kampanye, dimana peneliti terdahulu meneliti pemilu secara umum, sedangkan saya meneliti pemilihan gubernur dan wakil gubernur.
Farida Laela, “Analisis Kemenangan Mardjoko-Husein dalam Pilkada Banyumas 2008 ditinjau dari Komunikasi Politik
2008
Penggunaan metode penelitian yang sama taitu Kualitatif.

Menganalisis kemenangan calon di pilkada.
Fokus penelitian yang akan diambil, penelitian terdahulu tentang pilkada Banyumas sedangkan penelitian saya adalah pilkada DKI Jakarta

9.      Metodologi Penelitian
9.1.  Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif menghasilkan data berupa ucapan, tulisan, dan perilaku serta penekanan pada aspek subjektif yang dapat diamati dari subyek-subyek itu sendiri[7] Metode penelitian kualitatif adalah observasi atau pengamatan, wawancara atau penelaahan dokumen. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor, Metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.[8] Metode deskripsi kualitatif dalam penelitian ini digunakan karena gambaran yang diperoleh mengenai konteks permasalahan yang dikaji lebih akurat dan jelas. Oleh karena itu, metode peneliti kualitatif dipandang sesuai untuk mendeskripsikan strategi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
9.2.  Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Studi Kasus. Pendekatan Studi Kasus adalah studi pengujian secara rinci terhadap latar, subjek, atau satu tempat penyimpanan dokumen-dokumen tentang suatu peristiwa tertentu. Secara umum, studi kasus merupakan strategi yang cocok bila pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “how” atau “why”, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena masa kini di dalam kehidupan nyata. [9]Pendekatan penelitian ini digunakan untuk meneliti mengenai Strategi Kampanye Politik Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012.
9.3.  Fokus Penelitian
Tujuan penetapan fokus penelitian adalah untuk membatasi studi dan kajian penelitian. Fokus penelitian bersifat tentative, artinya dapat terjadi perubahan ketika peneliti menemukan hal yang menarik di lapangan. Penetapan fokus penelitian dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang sesuai dengan penelitian tentang kampanye politik, khususnya strategi kampanye politik pasangan jokowi-ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta pada tahun 2012.
Tabel 2 : Matriks Fokus Kajian Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Aspek Penelitian
Sub-aspek kajian penelitian
Strategi Kampanye Politik Pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
Strategi Kampanye Politik dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.

Faktor-faktor pendorong dan penghambat strategi kampanye politik.dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.
Strategi Kampanye Politik melalui internet

Faktor pendorong strategi kampanye politik

Faktor Penghambat strategi kampanye politik

9.4.  Lokasi Penelitian
Penelitian dengan Judul “Strategi Kampanye Pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012” ini mengambil lokasi di Provinsi DKI Jakarta.
9.5.  Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah Ketua Organisasi pendukung pasangan Jokowi-Ahok (Relawan Jokowi-Ahok), bagian Humas pendukung pasangan Jokowi-Ahok (Relawan Jokowi-Ahok), Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta, dan masyarakat DKI Jakarta. Secara umum, penelitian ini difokuskan pada strategi dan faktor pendorong dan penghambat kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
9.6.  Teknik Pemilihan Informan
Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. Purposive Sampling digunakan apabila anggota sample yang dipilh secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya.[10] Teknik Purposive Sampling bertujuan untuk merinci kekhususan ke dalam temuan konteks yang unik, dan menggali informasi yang menjadi dasar rancangan dan teori yang muncul.[11] Untuk menjadi sumber data yang akurat, Purposive Sampling dilakukan dengan cara mengambil subyek penelitian dan bukan didasarkan pada strata, random atau daerha tetapi didasarkan pada tujuan tertentu. Pemilihan informan tidak didasarkan pada kuantitas, tetapi pada kualitas informan yang akan diteliti. Dimana, dalam penelitian tentang strategi kampanye politik pasangan jokowi-ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012 ada beberapa orang yang akan dijadikan informan, antara lain :
1.                  Ketua Organisasi Relawan Jokowi-Ahok.
2.                  Kepala Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta.
3.                  Bagian Humas Organisasi relawan Jokowi-Ahok.
4.                  Masyarakat DKI Jakarta.
9.7    Sumber Data
Penelitian kualitatif harus memiliki kualifikasi yang sifatnya antara lain responsif, adaptif, dan lebih bersifat holistis, serta mampu mengejar pemahaman lebih dalam. Oleh karena itu, maka peneliti menggunakan sumber data sebagai berikut :
a)        Data Primer, adalah data yang diperoleh dari informan secara langsung dan mendalam melalui wawancara mendalam atau melalui pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tentang Strategi Kampanye Politik Pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
b)        Data Sekunder, adalah data yang diperoleh dari buku, dokumentasi, arsip, media massa serta berbagai sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung penelitian tentang Strategi Kampanye Politik Pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
 9.8    Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang valid guna mendukung dan mampu membuktikan dalam pembahasan masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu :
1)        Wawancara Mendalam, yaitu bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu untuk mendapatkan data yang memiliki kedalaman data. Wawancara mendalam akan memudahkan peneliti untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari informan. Selain itu, dengan wawancara mendalam peneliti akan mengumpulkan data yang lengkap, mendalam, dan kaya serta memudahkan peneliti ketika dihadapkan pada permasalah seperti kurangnya data-data yang diperoleh sehingga peneliti dapat melakukan wawancara kembali kepada informan sampai data yang dibutuhkan terpenuhi. Peneliti membutuhkan pedoman wawancara yang merupakan beberapa pertanyaan umum seputar strategi kampanye  politik pasangan jokowi-ahok dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur di DKI Jakarta tahun 2012.
2)        Observasi, adalah suatu teknik pengumpulan data dalam penelitian, dimana peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap suatu kondisi, proses, dan perilaku. Selain itu, observasi dilakukan guna mendukung suatu penelitian. Pengamatan secara langsung yang dilakukan peneliti terhadap fenomena yang terjadi seperti tingkah laku, tindakan, proses dan gaya bahasa yang digunakan dalam media jejaring sosial akan memudahkan peneliti untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala yang timbul berkaitan dengan objek penelitian.
3)        Dokumentasi, yaitu merupakan aktivitas yang dilakukan peneliti guna memperoleh data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian melalui buku-buku literature, arsip, foto-foto, atau dokumen lain yang berhubungan dengan penelitian. Dengan adanya data yang berasal dari dokumen-dokumen, maka peneliti lebih mudah untuk menguji, menafsirkan mengenai fenomena yang terjadi.
9.9    Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari hasil observasi dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga dengan mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.[12] Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data interaktif[13], Antara lain sebagai berikut :
1.        Pengumpulan Data, merupakan proses awal dari keseluruhan rangkaian analisis data. Pada tahapan ini data yang berupa hasil wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi disusun secara teratur dalam bentuk kata-kata yang sangat banyak sebelum nantinya akan dianalisa. Agar mempermudah proses analisa data, maka satu persatu data yang telah dikumpulkan perlu dipilih-pilih kembali untuk memperoleh data yang yang relevan dan mana yang tidak relevan. Oleh karena itu diperlukan langkah berikutnya, yaitu reduksi data.
2.        Reduksi Data, merupakan proses pemilihan, pemusatan, dan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data. Reduksi data dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung, dari awal penelitian sampai laporan akhir tersusun lengkap. Mereduksi data berarti merangkum, memilah hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
3.        Penyajian Data, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan perencanaan kolom data dalam bentuk matriks gambar atau skema  dan table bagi data kualitatif dalam bentuk khusus secara sistematis. Kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah peneliti menyediakan data yang didapat peneliti dari lapangan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Penyajian data dapat diartikan sebagai sekumpulan informasi yang tersusun dan member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
4.        Penarikan Kesimpulan, merupakan proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama proses penelitian berlangsung. Sejak pertama melakukan observasi dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu mencari pola tema, hubungan persamaan, hipotesis dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk kesimpulan yang masih bersifat tentatif.
Model Analisis Interaktif[14] :
 
Berdasarkan pada gambar diatas dan pengertian di atas, keempat pengertian di atas saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Maka dari itu, keempatnya harus saling mengisi dan melengkapi agar dapat menghasilkan data yang maksimal.

9.10     Validasi Data
Validasi data adalah suatu kegiatan pengujian terhadap keobjektifan dan keabsahan data. Validasi data dilakukan untuk mendapatkan data yang benar-benar mendukung sesuai dengan karakteristik permasalahan ataupun tujuan penelitian. Validasi atau pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan berpedoman pada hasil refleksi atas aktivitas dan pengamatan. Penelitian ini dalam mengungkapkan keabsahan data melalui teknik triangulasi data. Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap informasi yang diperoleh. Denzin Guba dalam Moleong membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan data yakni yang memanfaatkan sumber, metode, penidik, dan teori.[15]
Cara lain untuk membandingkan dan mengecek ulang derajat kepercayaan dapat diperoleh dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut:
1.        Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara;
2.        Membandingkan apa yang dikatakan orang dengan apa yang dikatakannya secar pribadi;
3.        Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu;
4.        Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda; dan
5.        Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berlainan.

9.11     Jadwal Penelitian
No
Jenis Kegiatan
Bulan Ke-
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
Tahap Persiapan
Tahap Pelaksanaan
Tahap Pengumpulan Data
Tahap Pengolahan dan Analisis Data
Pembuatan Laporan
V
V
V
V
V
V
V


V
V
V
V
V

Daftar Pustaka
Buku Teks
Alfian, D. (1991). Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Ariane, L. (2010). Komunikasi Politik. Bandung: Widya Padjajaran.
Azwar, S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budiardjo, M. (1998). Partisipasi dan Partai Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Budiardjo, P. M. (2009). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Cangara, H. (2009). Komunikasi Politik (Konsep, Teori, dan Strategi). Jakarta: Rajawali Pers.
Firmanzah. (2008). Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hasan, I. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Laouw, P. E. (2005). The Media and Political Process. London: Sage Publication.
Lichtenberg, J. (1991). Democracy and The Mass Media. New York: Cambridge University Press.
Moleong, L. J. (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Newman, B. I. (1999). Handbook of Political Marketing. California: Sage Publication.
Nimmo, D. (2010). Komunikasi Politik : Khalayak dan Efek (Cetakan kelima). Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Nurudin. (2008). Komunikasi Propaganda (Cetakan Ketiga). Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabet.
Surbakti, R. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Grasindo.
Tamin, D. I. (2003). Politisi & Media. Jakarta: Perhumas.
 Internet
http://kampanyeonline.blogspot.com/2008/11/artikel.html diakses pada pukul 12:23 WIB pada tanggal 22 desember 2012.
http://silianraya.blogspot.com/2012/11/peran-media-sebagai-alat-komunikasi.html diakses pada  pukul 12:25 WIB tanggal 22 Desember 2012
http://nurudin-umm.blogspot.com/2012/11/media-sosial-sebagai-alat-propaganda.html diakses pada pukul 13:33 WIB pada tanggal 23 Desember 2012
http://mediasucahya.wordpress.com/2010/02/17/media-massa-dan-iklan-politik/ diakses pada pukul 15:45 WIB pada taggal 23 Desember 2012.
http://www.utuhtaedini.com/menciptakan-citra-dalam-kampanye/ diakses pada pukul 16:22 WIB pada tanggal 23 Desember 2012.
http://pah3chan.wordpress.com/2011/11/17/efektifitas-kampanye-di-media-massa/  diakses pada pukul 16:55 WIB pada tanggal 24 Desember 2012
http://teorimp.wordpress.com/2010/12/28/pengertian-marketing-politik/ diakses pada pukul 22:22 WIB pada tanggal 24 Desember 2012




Pedoman Wawancara
1.             Pertanyaan untuk Ketua Organisasi Relawan Jokowi-Ahok :
a)      Mengapa Pasangan Jokowi-Ahok lebih memilih internet sebagai media kampanyenya dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?
b)      Apa Strategi yang digunakan oleh Pasangan Jokowi-Ahok dalam melakukan kampanye di internet dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?
c)      Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penghambat dan pendorong dalam strategi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?
d)     Faktor-faktor apa sajakah yang mendorong penggunaan internet sebagai strategi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?
2.      Pertanyaan untuk Kepala Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta :
a)      Apakah kampanye politik yang dilakukan pasangan Jokowi-Ahok melalui internet melanggar aturan-aturan pemilu?
b)      Bagaimana KPU menyikapi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok melalui internet?

3.      Pertanyaan Untuk Bagian Humas Organisasi Relawan Jokowi-Ahok :
a)      Bagaimana Strategi kampanye politik melalui internet pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012 bisa berjalan?
b)      Bagaimanakah menyikapi tanggapan dari masyarakat mengenai isu-isu yang berkembang di masyrakat mengenai pasangan Jokowi-Ahok yang berawal dari strategi kampanye pasangan Jokowi-Ahok di internet?
c)      Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penghambat dalam strategi kampanye politik pasangan Jokowi-Ahok dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta tahun 2012?

Nama   : Fandhy Achmad Romadhon
Nim     :F1D010046



[1] http://www.wikipedia.org diakses pada tanggal 17 mei 2013 pukul 13.22 WIB
[2] Venus, 2004 hal 7
[3] Firmanzah, Marketing Politik; Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008) hal 33.
[4] (Venus, 2004:7).
[5] Dan Nimmo: 2008. Hal : 44
[6] Venus, 2004. Hal : 7
[7] Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Alfabeta : Bandung. 2003. Hal 19-20
[8] Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan XXI.PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. 1986. Hal: 198
[9] Robert K. Yin. Studi Kasus Desain dan Metode (Jakarta: Raja Gravindo Persada. 2006). Hal 1.
[10] Husaini Usman dan Purnomo Setiadi. Metodologi Penelitian Sosial. Cetakan IV. Jakarta. PT. Bumi Aksara. 2003 Hal : 47
[11] Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosda Karya. 2009. Hal : 224.
[12] Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif Bandung. Alfabeta. 2008. Hal 89.
[13] Miles & Huberman, 1997
[14] Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru (Jakarta: UI Press. 1992). Hal 19
[15] Moleong. Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan XXI. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. 2005, hal 330-331.

Comments

  1. asli postingan lo panjang banget sob... kasian yang baca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iyaa gakpapa pak, emang bikin proposal penelitian emang panjang :D

      Delete
  2. gue juga lagi bikin yang beginian nih di. ada kiat buat ngilangin rasa gerogi pas presentasi gak? musuh besar gue tuh ngomong depan orang -__-

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia