Cerita di Tahun 2016

Tersirat gundah dibalik sebuah tawa yang begitu menggelora, yang semarak, serentak lalu menggema, tepat di waktu awal mula tatkala kembang api pertama mulai menyalak dan meledakkan angkasa dengan percikan rona yang membuat mata terpana.

Seketika sangkakala memainkan musiknya, yang merepet layaknya senapan mesin yang membabat seluruh lembar waktu yang telah lalu. Menyalak satu persatu, diiringi peluk haru di sela riuhnya malam itu, terselip sebuah tanya, "akankah terjadi lagi pengulangan cerita yang dulu?" Dengan mata masih mengadah ke angkasa, dalam hati dia menjawab "entahlah!"



Manusia hakekatnya adalah mahluk pencetus rencana, namun sebagaimana manusia, selalu saja ada batasnya. Rencana manusia hanyalah sebuah rencana biasa, bagi-NYA rencana manusia sudah digariskan sedari sebelum masa dimana nyawa masih terpisah dari raga. Sekiranya, jika Tuhan sudah berkata apa, laut terbelah pun akan terjadi seketika. Begitupula, sosok lelaki yang kini masih terpaku menatap langit, meski kini kerlap-kerlip kembang api yang terusir dari angkasa. Apa yang dipikirkannya masih saja sama, "Bagaimana selanjutnya?"

Teringat akan sebuah janji, dimana dia ingin sekali memberi bukti, bahwa sekiranya sosok ini bisa memberi sebuah bukti, bahwa eksistensinya tak lagi hanya sekedar di lajur linimasa. Namun siapa mengira, ternyata lirik-lirik lagu Sarjana Muda masih saja melekat dalam nasibnya. Kesana kemari, dia menjajakan diri, dengan bermodal ijasah sarjana, dengan nilai IPK diatas tiga koma, ternyata masih saja tiada panggilan wawancara. 

Ditatapnya lagi, angkasa yang semakin bermuram durja, diterawangnya jauh entah melihat apa. Dia masih saja diam di tengah lapangan, berdiri seorang diri di tengah lapangan alun alun kota, tanpa menyadari bahwa kini waktu mulai beranjak ke angka dua dini hari. Dengan tatapan nanar, dia hembuskan perlahan setiap doa dan harapan yang begitu sederhana. Satu saja, sukses di dunia kerja.

Terlewat dua bulan tanpa progres yang jelas, tak terhitung sudah berapa banyak dia kirimkan surat lamaran kerja. Sekiranya dia pernah meledek dirinya sendiri "Ah macam mana kau ini?! Sarjana tak guna. Mati saja kau!" Entah harus bagaimana lagi, dia pun tak mengerti. Apakah ada yang salah dengan surat lamarannya, apakah ada yang kurang? Ya ternyata ada yang kurang, kurang intropeksi diri. Sejak saat itu, dia pun tak lagi memaksa dalam mencari kerja. Dia pasrah.

Dimulai dengan bismillah, dia pun mulai beralih jalur, tak lagi mengincar suatu pekerjaan tapi beralih kepada dunia penulisan, ya meskipun sampai saat ini dia belum menelurkan satu buku pun, selain skripsi tentu saja. Dimulai dengan pergantian nama, menjadi sebuah nama yang berarti karya sekaligus doa yang tiada habisnya, Sastra Ananta

Tiada yang mengira, dunia ternyata serba terbalik di matanya. Kini, bekerja di dalam kubikel tak lagi jadi impiannya, dia robohkan batas yang menghimpitnya, membiarkan dirinya bebas seutuhnya, membiarkan pikirannya menerjang jauh, membiarkan kedua tangannya menggoreskan jejak-jejak kata di jalur linimasa. Dia akhirnya mengerti, bahwa memaksakan kehendak akan sesuatu hanyalah tindakan sia-sia, membuatnya semakin tertekan dan lupa bahwa dia pun berhak untuk berbahagia.

Waktu adalah pemburu, yang akan menikammu secara perlahan jika tak sadar akan keberadaannya. Banyak orang berkata, bahwa hidup adalah sekedar menumpang minum, hidup hanyalah sementara, dan sebagainya. Tapi bagi dia, hidup adalah sebuah progresi yang terus berjalan, terus berputar, dan terus berlalu, dengan berbagai macam cerita yang tersisa sebagai jejak yang tertinggal di belakang. 

Di suatu hari, seorang kawan pernah bertanya "Kau sekarang kerja dimana?" seketika dia diam tanpa kata, tak bisa menjawab, hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman, lalu berlalu begitu saja. Seketika dia pun tersadar, bahwa dia sebenarnya yang dia cari adalah sebuah jawaban. Jawaban dari sebuah pertanyaan, yang tak bisa dia jawab dengan lapang dada.

Di kala Hari Raya, tiada waktu tanpa dihabiskan dengan berbagai macam pertanyaan "kamu sekarang kerja dimana?" "Pacarnya anak mana?" dan blablabla. Pertanyaan basa basi yang terlalu basi untuk dimakan dan dijawab mentah-mentah. Sekiranya jika dia menjawab "Persetan!" akan dianggap tak sopan, pada akhirnya senyum palsu yang jadi jawabannya, dengan ditutup sebuah kalimat, "belum bekerja..., doakan saja.. "

Sekiranya dia pernah berbangga, bahwa dia menjadi seorang sarjana pertama di keluarga besarnya. Tapi sekiranya kini dia merasa dirinya bagaikan sebuah beban keluarga, yang bisanya hanya meminta tanpa pernah bekerja. Ya, anggapan bahwa sarjana yang menganggur itu hina, tampak jelas bekasnya di setiap pertanyaan tentang pekerjaan yang didapatnya. Perihal jawaban, yang kini tak lagi dia pikirkan, namun justru begitu memusingkannya. Dia menjawab "Blogger!" tiada yang paham, dia menjawab "Penulis" hanya cibiran yang dia dengar, "Katanya penulis, tapi kok bukunya belum ada?" Terasa begitu pedas.

Dua bulan jelang tutup tahun, tersiar kabar berita, bahwa suatu tempat percetakan di sebuah kota, sedang membuka lowongan kerja. Awalnya dia tak begitu tertarik, bukan karena tak niat bekerja, tapi karena sudah begitu lelah akan sebuah progresi yang hasilnya itu lagi, itu lagi. Namun, datanglah sebuah titah yang tak bisa dia bantah, titah dari ibunya "Nak, cobalah daftar sekali lagi. Bismillah nak." Dia hanya mengiyakan saja. Bismillah.

Dalam waktu satu bulan, dia mengurusi segalanya, mengurusi segala fase-fase seleksinya. Tanpa adanya harapan akan sebuah kata terima, dia biarkan semua berlalu dan berjalan begitu saja. Dia sudah siap jika pada akhirnya kata penolakan sekali lagi dia terima, apapun hasilnya dia akan terima dengan lapang dada. "Toh, sekiranya aku sudah mencoba dan berusaha." begitu kilahnya jika penolakan kembali dia terima. Dengan bermodal ijasah SMA dia mendaftarkan dirinya. "Jangan lupa bismillah nak." Begitu pesan ibunya, tatkala dia akan memulai seleksi hari pertama.

Banyak fase sudah dia lewati, tanpa sadar dia kini sudah dihadapkan pada papan pengumuman hasil ujian psikotest. Nampak namanya tercetak jelas di papan pengumuman kelulusan. Tanpa kata, dia pun berbalik begitu saja. Menjauhi papan pengumuman, dan menyampaikan kabar gembira kepada ibunya. Dia masih ingat akan suara tangis haru ibunya, tangisan bahagia yang sekaligus membuat dirinya nelangsa, Sang Ibu tidak menyangka jika anaknya lolos psikotes. Fase berikutnya hanya tersisa tes kesehatan dan wawancara, ibunya percaya bahwa dia pasti akan dengan mudah melewatinya. ibunya ganya berpesan "Jangan lupa berdoa, nak." Dan benar saja, begitu tersadar kini dia sedang duduk di hadapan lembaran kontrak kerja yang harus dia tandatangani. Memang benar adanya akan sebuah petuah dalam sebuah lagu dangdut bahwa "Ridho Illahi ada pada Ridhonya seorang ibu."

Apakah salah, jika seorang sarjana bekerja di sebuah percetakan dengan modal ijasah SMA-nya bukan S1-nya? :)))

Diterima kerja di percetakan pun ternyata cibiran masih saja datang, "Masa seorang sarjana kerjanya di percetakan?!" Dia nelangsa, mau berkelit terasa tiada gunanya. Jadi dia diamkan saja segala cibiran dan pertanyaan. Dia hanya mencoba bermain dengan logika, mencoba bermain dengan logis, tak terlalu mengaharapkan akan sesuatu pekerjaan yang utopis, dia hanya mencoba realistis, bahwa kini dia punya pekerjaan. Dia hanya mendesah pelan dan berkata dalam hati, "Persetan dengan cibiran sang benar, karena aku percaya sinisme bukan untukku." Karena hidupnya bukan untuk mereka.

Tak terasa, sudah hampir sebulan dia bekerja di percetakan, bekerja di luar kota dan jauh dari orang tua memaksa dia untuk berubah. Tak lagi manja, tak lagi malas. Kebiasaan bangun kelewat siang terganti dengan kebiasan bangun dini hari, entah sekedar untuk menanti suara adzan pertama atau sekedar membaca buku ditemani secangkir kopi, dia mulai terbiasa akan kebiasaan baru. 

Bagi (anggapan) mereka bekerja di percetakan itu berat, dikejar banyak target, sudah begitu gaji kecil pula, serba mepet. Tapi bagi dia, ternyata begitu menyenangkan bekerja di percetakan, ya kapan lagi coba dia mendengar mesin cetak mendengung, kapan lagi menikmati aroma wangi kertas setiap hari, kapan lagi coba dia melihat banyak tumpukan kertas berwarna-warni yang jika di dunia mereka buat rebutan dan banyaknya kepemilikan jadi patokan akan sebuah kekayaan. Dia bahagia bekerja di percetakan, tidak lagi peduli akan cibiran sang benar, sinisme orang-orang tentang "Seorang sarjana yang bekerja di percetakan dengan ijasah SMA-nya".

Dia kini menyadari bahwa bahagia dalam bekerja itu bukanlah soal dimana dia bekerja atau besaran gaji yang dia terima, tapi tentang bagaimana dia bisa melihat suatu pekerjaan dari berbagai sudut pandang. Sebagaimana dalam buku Hector and The Search for Happiness, Francois Lelord pernah berkata,"Lesson no. 20: Happiness is a certain way of seeing things." Dia percaya bahwa bahagia dalam bekerja akan membuatmu ringan dalam melangkah, lincah dalam bergerak, dan hati terasa lapang. 

Ah memang benar, ada sesuatu yang menyenangkan dalam setiap pekerjaan, jika ada hati di dalamnya. 


Sekian.

Karawang, 25 Desember 2016

Comments

  1. Ikut senang, alhamdulillah akhirnya Fandhy berhasil melepaskan status sebagai penganggurannya (padahal blogger tuh kan ga nganggur ya). Semoga 2017 nanti segalanya dilancarkan dalam meraih mimpi-mimpinya. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mau gimana lagi mbak, sejauh blogger belum termasuk pekerjaan yang resmi di negeri ini, tentu saja sebagian mengira blogger itu pengangguran

      Delete
  2. In syaa allah bukunya sebentar lagi launch yaa, mas.

    Tulisan yang indah.
    Sayang kalau hanya dinikmati beberapa orang saja.

    Gaungkan ke seluruh dunia, mas!
    Fightiiing...!

    ReplyDelete
  3. saya jadi mikir kalau selama ini saya masih banyak menggerutu dalam bekerja, tidak nerima apa yang telah di dapatkan saat ini.. habis baca ini saya banyak belajar kalau bekerja harus ikhlas dan niatkan untuk ibadah. terima kasih inspirasinya

    ReplyDelete
  4. Dapat kerjaan itu baru cerita awal perjalanan yang sesungguhnya, Fan, terus semangat dan jangan cepat jenuh. Dan, jangan pernah berhenti menulis!

    ReplyDelete
  5. Seseorang yang sama lainnya, si sarjana pembawa map bertualang mencari tempatnya berproses. Entah sudah berapa map yang terkirim, tapi tak satu pun yang kembali. Suatu hari satu map kembali, seseorang itu senang karena diterima. Berbulan-bulan ditunggu ternyata pemimpinnya menolak. Seseorang itu sedih, tapi dia menemukan tempat berproses yang baru, tempat dia menciptakan kebahagiannya sendiri. :)

    ReplyDelete
  6. Fandy :)
    selamat ya atas pekerjaan barunya. jangan lupa untuk tetap menulis sesibuk apapun itu. karena menulis juga sebagian dari rukun menulis yang pertama. hahahaha.

    ReplyDelete
  7. wah, sukaaaak tulisannya. ah, apapun pekerjaannya, jodoh nggak kemana #halah :"D

    ReplyDelete
  8. gue malah galau anjir baca tulisanmu ini. aku lagi dalam fase fase nyari kerja itu dan jadi relate banget :')

    SELAMAT SUDAH KETERIMA KERJA \O/

    ReplyDelete
  9. Dan detik ini kita sudah di Januari 2017. Ya.
    Inget ini juga aku ikutan baper, sih. Soalnya 2016 kita hampir sama, Bang. Hehe. Bedanya, kita beda lulusan.

    Alhamdulillah tahun ini dapet kerja juga. Tapi... Aku nggak habis pikir, kenapa ngelamar pake ijazah SMA? ._. Tapi mau bagaimanapun juga, semuanya patut disyukuri.

    Sekarang jadi anak rantauan Karawang. Aku di Purwakarta. Meet up yuk Bang!^^

    ReplyDelete
  10. Ha ha pantes aja di Twitter sering bilang lagi di tanah Sunda. Ternyata kerja di Karawang ya.

    Selamat ya, Mas Fand. Mari kita sama-sama songsong dunia kerja ini! Semangat! Saatnya delete lagu Sarjana Muda.

    Oiya. Seperti biasa, tulisannya indah :)

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah. Selamat mendapatkan pekerjaan Mas Fandy. Semangat terus kerjanya dan jangan berhenti nulis dan terus meramaikan timeline Twitter-ku ya!

    ReplyDelete
  12. Waduh. Kalo dengerin omongan orang mah gak ada habisnya. Yang penting mah lu ngejalaninnya dengan perasaan bahagia~
    Semangat!

    Oiya, emang baru bisa disebut penulis ketika punya buku, ya? Penulis batu nisan gimana tuh? Hhh~

    ReplyDelete
  13. Selamat ya mas. Semoga sukses di tempat kerjanya :)

    ReplyDelete
  14. Jadi pacar anak mana ???? atau masih jomblo hehehe
    Btw semoga 2017 ini membawa banyak keberkahan

    ReplyDelete
  15. Semangat, dan selamat untuk pekerjaannya :)

    ReplyDelete
  16. Selamat ya mas.
    Kerja di PERURI tentunya lebih berkelas dong dari pada di percetakan biasa di seberang kampus, hehehe..

    ReplyDelete
  17. congrats mass buat pekerjaannya . semoga sukses ya. kalo butuh inspirasi karya sastra coba dibaca disini Karya sastra semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  18. Selamat atas pekerjaan barunya ya. Dulu saya juga pernah merasakan sulitnya mencari kerja. Bosan dan sebalnya ditanya "kerja di mana?" sampai pertanyaan "kapan nikah?"
    Oke gak ada hubungannya ya. Hehe. Ya apapun pekerjaannya, apapun gelarnya, yang penting seneng dan ikhlas aja ngejalaninnya.

    ReplyDelete
  19. Selamat atas aktivitas barunya, moga sukses :D
    BTW emang manusia tempatnya berencana, tapi Tuha tahu yg terbaik :D

    ReplyDelete
  20. selamat kang.. semoga sukses dunia akhirat, dan selamat sampai tujuan, aamiin..

    ReplyDelete
  21. selamat kang.. semoga sukses dalam karir, keluarga, dunia dan akhirat..

    ReplyDelete
  22. Selamat menempuh kehidupan baru ya Fan..
    Baik2 kerja di sana

    ReplyDelete
  23. Rejeki itu gak akan kemana, pasti udah ada jalannya. JUga gak perlu terlalu memperdulikan perkataan orang, gak akan ada habisnya, deh!
    Lagipula Mas Fandhy kerja bukan di percetakan biasa, tempat cetak UANG, loh!!!
    Selamat ya, di mana pun tempat kerjanya, kalo dijalani dengan hati pasti akan menyenangkan :)

    ReplyDelete
  24. Ngebaca istilah sangakakala malah jd takut hehe... semoga di tahun 2017 kita semua menjadi lebih sukses lagi

    ReplyDelete
  25. Selamat mas. Semoga makin sukses dan makin heits semoga bisa jadi batu loncatan yang besat untuk kesuksesan yang tiada tara

    ReplyDelete
  26. Mas Fan, udah dapet kerjaan baru lalu kapan mau traktir aku beli buku? :3
    Muehehe sukses terus ya, Mas Fan!

    ReplyDelete
  27. pekerjaan apapun, asalkan halal dan kita bisa menikmatinya, maka kerjakanlah. Kalau kita tidak bisa menikmatinya tetapi kita butuh pekerjaan tersebut plus gajinya, maka berusahalah untuk dinikmati. tetap semangat uda

    ReplyDelete
  28. semoga dengan menggunakan seragam semakin menambah semangat dan paling ngga satu resolusi tercapai. kerja bagus, halal dan rejeki lancar

    ReplyDelete
  29. selamat ya sudah bekerja. tidak mudah memang mengabaikan omongan orang yang terlalu kepo dengan kehidupan kita. tapi tetaplah percaya, semua ada masanya :)

    ReplyDelete
  30. selamat untuk pekerjaannya mas Fandhy, mudah2an betah ya hehe.. mau gimanapun juga komentator dikehidupan kita pasti ada aja, pokoknya tetep semangat deh

    ReplyDelete
  31. Smoga kerjaannya lancar!!!

    Sempat ngrasain dicibir byk org gara2 ngeblog. Ya kalau kita suka, knapa mreka yg repot ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia