Ritual Memanggil Hujan: Mencuci Motor

Konon katanya, salah satu cara memanggil hujan adalah mencuci motor. Langit tak akan peduli dengan cuaca, secerah apapun kondisi langit hari dimana engkau mencuci motor, di ujung fase pengeringan, langit akan memberimu kejutan. Hujan. 

Hujan tanpa diduga, datang begitu saja tanpa pertanda. Memaksamu untuk memilih; minggir berteduh atau terus melaju menerobos hujan. Keduanya menghasilkan hasil akhir yang sama saja, ah buah simalakama, tidak ada bedanya. Toh pada akhirnya, motormu akan kotor juga. Entah karena terciprat air, terciprat lumpur, atau terendam genangan sisa hujan di sepanjang jalan. Hasil akhirnya sama saja, motor kembali kotor. Pikiran juga.

Begitu pula yang terjadi.

Akhir tahun, Hari Minggu, Siang begitu cerah, langit begitu biru, seolah tidak ada pertanda akan turunnya hujan. Dengan semangat membuncah, melihat semua itu sebagai berkah. Kapan lagi mencuci motor, cuaca mumpung cerah. Mestakung ceunah. Sepeda motor segera diparkir, dengan standar ganda, motor begitu gagah, sungguh menarik. Menarik hati untuk terus bersabar melihat kondisi motor yang sedemikian kumal. Tampak lumpur sudah mengering dan mendarah daging di beberapa bagian. Sepertinya mencuci motor akan menyenangkan.

Sumber Foto: Kompas

Segala keperluan segera disiapkan: Ember, selang air, busa, sabun motor, dan beberapa hal lagi yang tidak boleh disebutkan Namanya. Semuanya terlihat begitu lancar tanpa kendala, bahkan lumpur yang sudah mengering itu, entah kenapa begitu mudah rontok terbilas oleh air. Bahkan sempat terbersit ide, jika kondisi terus seperti ini, mungkin membuka bisnis pencucian motor bisa jadi ide bagus.

Tidak terasa motor sudah sedemikian bersih. Begitu mengkilap, dan terlihat seperti motor baru, baru kredit. Sembari bersenandung kecil, motor dikeringkan dengan perlahan, diusap dengan lembut. Hati dipenuhi oleh rasa sayang, hati dipenuhi oleh rasa bahagia yang nyata. Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Entah dari mana datangnya, langit mendung tiba-tiba sudah di atas kepala. Tak berselang lamaa, turunlah hujan begitu derasnya.

Sembari berteduh, jauh di dalam hati terbersit pikiran yang amat sempit. Salah satu kebahagiaan pencari kerja seperti saya adalah melihat motor bersih mengkilap dan wangi. Siap kembali mencari kerja. Negara sudah banyak merampas kebahagiaan saya. Langit, kamu jangan seperti negara ya.

Eh tapi tidak apa-apa. Negara punya kaki sama tangan namanya pemerintah. Pemerintah punya kuping dan mata, Langit tidak punya. Ya dimaklumi kalau langit tidak mengerti, mengerti akan penderitaan dan kesusahan orang miskin. Kalau pemerintah lain lagi ceritanya.

Tapi pemerintah yang mana? Negara yang mana?

Ya itulah.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana