Fenomena Artis Dalam Pemilu Calon Legislatif

Psikologi Politik merupakan satu kajian ilmu yang memadukan antara ilmu politik dengan ilmu psikologi. Psikologi Politik adalah ilmu yang mempelajari perilaku aktor politik. Kajian utama dari hubungan antara Psikologi dan Politik adalah berkaitan dengan pikiran, emosi, dan perilaku manusia dalam politik. Contoh aspek yang diteliti dalam psikologi politik adalah, pemerintahan, aktor pengambil keputusan, organisasi internasional dan partai - partai politik. 

Penggabungan antara konsep dan teori ilmu Psikologi dengan ilmu Politik merupakan hal yang sangat mengesankan. Perspektif Psikologi Politik dapat memberikan satu bentuk analisa yang lebih komprehensif terhadap sebuah fenomena politik. Politik tidak lepas dari seorang aktor politik, entitas politik dan tata pemerintahan politik. Setiap aspek tersebut sangat berkaitan erat dengan individu (manusia) sebagai pelaksana politik. Psikologi politik akan sangat berguna dalam menganalisis sebuah fenomena politik yang sedang terjadi. Misal, fenomena banyaknya artis-artis yang terjun dalam pemilihan calon legislatif.

Menurut Theo Haiman, Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan. Dalam hubungan ini keputusan partai sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh pemimpin partai sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah. Salah satunya dengan mengusung artis-artis yang ingin turun dalam pemilu caleg.

Keputusan (decision) adalah membuat pilihan diantara beberapa altenatif. Sedang istilah Pengambilan Keputusan (Decision Making) menunjukkan proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai. Pengambilan keputusan sebagai konsep politik menyangkut keputusan - keputusan yang diambil secara kolektif dan mengikat seluruh masyarakat. Keputusan yang dibuat oleh partai politik dengan mengusung artis-artis untuk terjun ke pemilihan caleg mungkin dilakukan karena partai politik kurang terkenal di masyarakat, dan untuk mempopulerkannya dibutuhkan artis-artis yang relatif lebih terkenal dibanding nama partai politik tersebut untuk mendongkrak nama partai pengusungnya.

Hal ini sangat menarik, karena artis kebanyakan tak memiliki latar belakang politik namun ikut andil dalam proses pemilihan calon legislatif. Dengan bermodal kepopuleran mereka dan janji-janji manis akan perubahan nasib rakyat, para artis terjun ke pemilihan caleg. Namun jika sudah terpilih, akankah Artis yang terpilih jadi anggota legislatif pada nantinya akan membuat kebijakan yang sesuai dengan apa yang rakyat butuhkan? Atau justru akan melupakan janji-janji kampanye mereka?

Jadi kesimpulannya, Fenomena maraknya artis-artis terjun dalam pemilihan caleg yang diusung oleh partai politik, mayoritas didasari oleh nilai kepopuleran yang dimiliki oleh mereka sehingga masyarakat akan cenderung melihat sisi kepopulerannya sebagai artis dibanding dengan pengalaman politiknya. Namun, karena memiliki nilai lebih dari segi kepopuleran, maka banyak partai politik yang mengusung mereka untuk bersaing dalam pemilihan caleg. Karena ketenaran mereka akan sangat berpengaruh terhadap perolehan suara mereka yang nantinya akan berkorelasi dengan perolehan kursi legislatif yang didapat oleh partai politik yang mengusung para artis.

(Ditulis sebagai tugas kuliah Mata Kuliah Psikologi Politik)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia