Pengemis, Antara Iba dan Tipu Daya

Pengemis, setiap kali bertemu kesan pertama kali yang muncul adalah kasihan, rasa iba lebih mendominasi di atas logika. Kasihan dengan rela (meskipun terpaksa) memberi mereka benda yang mereka sebut "uang recehan". Logika seolah terkubur dalam oleh rasa iba yang lebih mendominasi alam bawah sadar.

Setiap hari, tidak di jalan, di depan toko, di pinggir jalan, di pertigaan lampu lalu lintas, bahkan sampai ke kampus-kampus pengemis itu selalu ada. Dengan bermodal tampang memelas, baju kumal, ratapan memohon, mereka meng-eksploitasi rasa iba yang kita punya. Satu dua kali kita memberi ke pengemis mungkin masih wajar, tapi kalo berulang kali dan lebih sering kali terjadi yang ada justru membuat saya berpikir, itu orang pekerjaan hariannya ngemis-ngemis kali ya? Kok tiap hari minta mulu. Bukan maksud untuk pelit ataupun enggan berbagi tapi seyogyanya dilihat dari tampilan mereka yang relatif lebih segar bugar dibanding saya yang bermata kuyu akibat keseringan begadang kenapa tidak kerja yang layak saja, ya kalo dilihat minimal jadi kuli atau tukang parkir juga masih layak. Bukannya aku enggan untuk memberi uang kepada mereka, jangankan memberi uang untuk mereka.. untuk mem-fotokopi revisian terkadang saja saya masih kelimpungan mencari uang kemana-mana. Tapi, mereka dengan mudahnya meminta-minta uang kepada setiap orang.

Berbagai model pengemis ada di dunia ini, dari yang tampangnya kakek/nenek tua, ibu dengan 3 anak kecil, orang-orang cacat, anak-anak kecil, sampai dengan model pengemis anak muda yang masih segar bugar tanpa cacat di fisiknya. Okelah, kalo pengemis itu orang-orang yang sudah tua dan usia lanjut, ataupun orang yang memiliki cacat dalam tubuhnya. Saya masih rela untuk menyisihkan rejeki yang aku punya mereka. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih muda dan memiliki tubuh segar bugar, serta fisik yang lengkap, namun justru mengemis-mengemis seolah tak punya daya dan tenaga untuk bekerja? Entahlah tak habis pikir saya memikirnya.

Menjamurnya pengemis saat ini tak lepas dari yang namanya globalisasi. Globalisasi telah merasuk begitu dalam ke dalam masyarakat sehingga mampu merubah cara pandang dan gaya hidup mereka. Globalisasi semakin membuat mereka malas dalam bekerja namun ingin mendapatkan uang banyak. Makin banyaknya tuntutan akan gaya hidup mereka telah membutakan mata mereka sehingga demi memenuhi kebutuhan nafsu mereka, mereka rela menjadi pengemis. Jadi, tak heran jika melihat banyak pengemis yang memiliki gadget-gadget modern, motor, ataupun barang mewah yang lainnya. Hal ini tak lepas dari perubahan gaya hidup mereka.

Jadi, kesimpulannya adalah sebagian pengemis melakukan aksi mengemis-mengemis bukan karena keterbatasan ekonomi dan kebutuhan mereka akan pangan, namun terkadang justru karena adanya usaha untuk memuaskan nafsu mereka semata. Jiwa mengemis seakan telah merasuk, mereka malas bekerja namun ingin mendapat uang banyak dengan cara mengemis. Mereka memanfaatkan rasa iba yang kita miliki demi pemuasan gaya hidup mewah mereka. Jadi, jangan heran kalo semakin hari makin banyak pengemis yang muncul. Jangan heran pula, jika ada yang diluar kerjanya mengemis namun ketika di rumah ternyata memiliki rumah bagus dengan berbagai macam perabotan yang ada, berikut barang-barang mewah.

Dan, yang menjadi pertanyaan besar adalah... Haruskah kita memberi uang kepada setiap pengemis? Ah entahlah... Ternyata pengemis jauh lebih pintar dibanding saya dalam meng-ekploitasi rasa iba dengan ratapan memelas dan bersandarkan anggapan "sedekah" kepada orang yang (katanya) pengemis. Entahlah, selalu saja muncul pertentangan-pertentangan lain dalam pikiran saya kalo membahas pengemis.

Biarkanlah semua jadi urusan mereka sendiri. Toh, kita memberi uang kepada pengemis dengan dasar ingin bersedekah demi ridho ilahi. 

Comments

  1. Menurut gua sih bro, bener kata lo, kalo pengemisnya orang-orang yang sudah tua dan usia lanjut, ataupun orang yang memiliki cacat dalam tubuhnya sih gpp sekali-kali kita memberinya, tapi kalo mereka yang masih muda dan memiliki tubuh segar bugar, serta fisik yang lengkap, seharusnya mereka diberikan lapangan pekerjaan, biar ada usahanya sedikit :D


    http://coretanrisqi.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha maka dari itu bro, tapi diberi pekerjaan pun masih sulit juga jika mental mereka bukan mental bekerja tapi mental pengemis -.-

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia