Sebelas Maret

Tak Terasa bulan Maret 2014 sudah berjalan 10 hari. Tak terasa besok sudah tanggal 11 Maret, tanggal yang memiliki arti besar bagi saya dan bagi negara saya tercinta, INDONESIA. 

Tanggal 11 Maret 1993, tepat di hari itu seorang anak laki-laki telah lahir di dunia ini, dan anak itu bernama Fandhy Achmad Romadhon, pemilik warung akun blog ini. Tak terasa sudah hampir 21 tahun saya ada di dunia ini. Sudah banyak pengalaman yang saya alami, namun masih kalah banyak dibandingkan dengan pengalaman negeri saya tercinta ini. Tanggal 11 Maret, seolah tak bisa dilepaskan dengan sejarah negeri ini.

Tanggal 11 Maret 1966, tanggal dimana dulu tepat 48 tahun lalu terjadi suatu kejadian yang menggoncangkan Indonesia. Lewat sebuah surat perintah dari Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto, yang mana isinya menginstruksikan Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) dan sekaligus Menteri Panglima Angkatan Darat yang dijabat oleh Letjen. Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk serta perlu adanya ketenangan dan kestabilan pemerintahan dan jalannya revolusi. Sebuah surat yang menjadi awal sebuah masa, Masa Orde Baru. Masa Orde Baru yang akan bertahan selama 32 tahun. Dan surat itu bernama Surat Perintah Sebelas Maret, atau yang sering dikenal dengan sebutan SUPER SEMAR!

http://www.infonews.web.id/2013/03/sejarah-surat-perintah-sebelas-maret.html

Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) adalah sebuah goresan tinta sejarah yang sampai saat ini menjadi kabur akan kebenarannya. Secara umum, isi Supersemar adalah perintah Presiden Soekarno kepada Letnan Jendral Soeharto saat itu yang secara tersirat mengalihkan tanggung jawab kepresidenan. Sudah lebih dari empat puluh delapan tahun berlalu, misteri Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) hingga kini belum juga terpecahkan. Bahkan naskah asli surat tersebut masih menjadi misteri, sampai saat ini belum diketemukan.

Sejumlah versi proses terbitnya Supersemar pun beredar. Entah siapa yang benar. Namun dari sejumlah keterangan, yang tidak bisa dibantah adalah Supersemar yang disimpan di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) adalah Palsu. Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu kini ada tiga versi (sumber):

Versi Pertama, yakni surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.

Versi Kedua, berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno.

Versi Ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.

Supersemar sendiri keluar karena dipicu adanya peristiwa G30S/PKI yang menewaskan jenderal-jenderal Indonesia. Akibat adanya peristiwa tersebut, muncul reaksi rakyat melalui aksi demo massa menentang PKI. Hingga pada 12 Januari 1966 muncul tiga tuntutan rakyat yang biasa disebut Tritura yang isinya : bubarkan PKI, turunkan harga, dan bersihkan kabinet dari G30S/PKI. Supersemar yang ditandangani oleh presiden Soekarno sebenarnya adalah Surat Mandat yang diberikan kepada Soeharto untuk mengamankan keadaan negara yang sedang gawat. Memang pada waktu itu kondisi sosial-politik sedang kacau balau pascapemberontakan G30 S/PKI. Karena itu, seharusnya Soeharto menyerahkan kembali mandat tersebut kepada presiden Soekarno setelah selesai menjalankan tugas.

Namun yang terjadi justru tidak demikian. Skenario untuk menjatuhkan presiden Soekarno ternyata sudah direncanakan matang-matang. Supersemar ternyata bukan dijadikan sebagai surat perintah pengamanan, namun justru menjadi surat pelimpahan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto. 

Sejarah mencatat bahwa Soeharto memanfaatkan Supersemar untuk sedikit demi sedikit melucuti kekuasaan Soekarno. Bahkan dia memantapkan tujuannya itu dengan cara merekayasa terselenggaranya Sidang Umum (SU) MPRS pada Juli 1966. Hasilnya, 2 ketetapan yang “mendukung” Soeharto, keluar, yaitu TAP No. IX/1966 dan TAP No. XV/1966. Dengan adanya ketetapan ini maka seolah Supersemar telah “dikukuhkan”, dari hanya “sekedar” perintah eksekutif, menjadi “ketetapan” yang hanya MPR itu sendiri yang berkewenangan untuk mencabutnya. TAP yang pertama memberikan jaminan terhadap Letnan Jendral Soeharto, untuk setiap saat menjadi presiden “apabila Presiden berhalangan”. Namun, MPRS saat itu tidak memberikan penjelasa apapun tentang apa yang dimaksud dengan “berhalangan”. (sumber)

Sejak Sidang Umum MPRS ini, kesan terjadinya dualisme kepemimpinanpun semakin hebat. Padahal dualisme kepemimpinan ini hanya rekayasa. Yang sebenarnya terjadi adalah adanya semacam perlawanan politik dari Soeharto kepada Soekarno. Apapun yang diucapkan Soekarno, selalu mendapat penentangan dari militer yang sepenuhnya dikendalikan Soeharto, serta para mahasiswapun terus-menerus berdemonstrasi di seluruh pelosok tanah air. Di satu pihak, Soeharto hampir sepenuhnya mengambil alih kekuasaan, di pihak lain Soekarno terus-menerus meneriakkan bahwa dirinya masih Presiden dan Panglima Tertinggi yang sah. (sumber)

Pada 20 Februari 1967, Presiden Soekarno dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan secara resmi kepada Soeharto dengan membuat memo pengunduran diri sebagai presiden RI. Memo tersebut yang kemudian dijadikan landasan hukum sidang istimewa MPRS (7-12 Maret 1967). Sidang tersebut menghasilkan Tap MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 yang isinya pencabutan kekuasaan Presiden Soekarno atas segala kekuasaan pemerintah negara dan mengangkat pengemban supersemar sebagai presiden. Dasar pengangkatan Soeharto sebagai pengemban Supersemar adalah hasil dari sidang umum, Tap MPRS No. IX/MPRS/1966.

Pada akhirnya, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) adalah akhir dari sebuah masa pemerintahan Orde Lama, dan menjadi sebuah tonggak awal masa pemerintahan Orde Baru yang kemudian akan bertahan selama 32 tahun. Sebuah surat perintah yang awalnya hanya sebuah surat perintah pengamanan, namun justru disalahgunakan untuk pengalihan kekuasaan tertinggi. Sebuah surat pengalihan, pengalihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke tangan Soeharto. Pengalihan masa pemerintahan Orde Lama menuju Orde Baru. Suatu masa pemerintahan yang bertahan lebih dari 3 dekade. Masa Orde Baru.

Selamat Malam dan Selamat Memperingati Hari Sebelas Maret. Selamat Memperingati Surat Perintah Sebelas Maret SUPERSEMAR! Selamat Ulang Tahun Fandhy Achmad Romadhon, semoga tahun ini bisa jadi tahun wisuda. :)

http://hanyasenja.wordpress.com/2012/04/05/gak-suka-dengan-ulang-tahun/

Selamat Ulang Tahun! Fandhy Achmad Romadhon!

Purwokerto, Satu Hari sebelum Hari Ulang tahun. 10 Maret 2014.

Referensi
http://sejarah.kompasiana.com/2013/03/12/surat-perintah-11-maret-1966-supersemar-kejatuhan-soekarno-awal-terenggutnya-kedaulatan-indonesia-542107.html
http://bayuuboyy.blogspot.com/2012/02/peristiwa-sejarah-supersemar.html
http://diarydiar.wordpress.com/2013/11/06/rahasia-di-balik-super-semar/
http://indocropcircles.wordpress.com/2013/03/05/misteri-supersemar-surat-perintah-11-maret-1966/
http://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Perintah_Sebelas_Maret
http://www.infonews.web.id/2013/03/sejarah-surat-perintah-sebelas-maret.html
http://dilaguntur.blogspot.com/2011/09/sejarah-lahirnyasupersemar.html

Comments

  1. Asiiiik ada yang ultah nih besok. Minta traktir aaah

    ReplyDelete
  2. Wah ultah ya hari ini. Selamat ya. Semoga mejadi super fandy.

    ReplyDelete
  3. Aih... SUPERSEMAR... itu alat tak kasat mata untuk melanggengkan kekuasaan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa dan sampai saat ini supersemar yg asli masih raib entah kmn

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia