Mendung Di Awal April

Mendung mana yang tak malu
Melihat wajah sendumu yang begitu ayu
Kamu begitu ayu, namun nasibmu begitu pilu
Sengsara, Derita, dan air mata seolah jadi teman baikmu

Aku bukan pecandu, bukan pula penipu
Aku hanyalah seorang perindu
Perindu akan cintamu yang telah layu.

Kamu bilang aku pecandu.
Iya, aku memang pecandu, Pecandu akan senyum manismu
Senyum manismu yang kini telah layu
Senyum manismu yang kini terganti sembilu

Kamu laksana mahkota peri
Tak bisa raih hanya bisa ku cari
Aku cari kau sembunyi, aku dekati engkau memilih berlari
Aku berhenti, kamu balik mencari
Ah susahnya jatuh cinta sama seorang bidadari.

Comments

  1. Merindu itu perih, seperih luka yang ditatar garam nan tajam, pekat meski putih. Ah, sepertinya mas tau bgt rasanya merindu yang juga sedang saya lawan rasa sakitnya. Hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perih mana yang bisa mengalahkan perihnya akn sebuah kerinduan. Kerinduan akan orang-orang yang terkasih.. :))) haha rindu itu obatnya cuma satu, ketemuan :)

      Delete
  2. eciyeeeee aku cuma bisa bilang itu -____-

    ReplyDelete
  3. Ga capek jadi perindu? Makanya temuin dong bidadarinya :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. temuin gimana mbak? -__- dia nya saja tinggal di khayangan -.- kagak ada angkot yg nganter kesana mbak

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia