Posts

Showing posts from September, 2014

Aku Bisa Apa

Mencoba lupa itu sulit, apalagi melupakan sesuatu yang indah akan kekasih yang telah pergi. Tapi, terkadang jauh lebih susah untuk bangkit. Bangkit dari keterpurukan rasa setelah ditinggal pergi sang pujaan hati. Pujaan hati yang mana telah kita bela sepenuh hati dan berkorban sekuat jiwa namun tetap saja dia memilih pergi. Pergi dari kita yang telah berjuang sekuat tenaga hanya untuk menyenangkan hatinya. Namun tetap saja semua sia sia belaka. Aku bisa apa.
Manusia itu bisanya cuma berharap dan berusaha, namun kalo Tuhan berkehendak lain kita bisa apa. Mungkin dulu kita pernah berharap bahwa kita akan terus bersama, bersama dalam menjalani sisa waktu kita. Namun nyatanya semua sia sia. Aku berjuang sekuat tenaga untuk kamu, tapi nyatanya kamu malah berjuang dengan yang lain. Katanya kamu tak pernah lagi hubungan sama dia, namun nyatanya kamu tetap berhubungan mesra dengannya, jadi aku bisa apa? Melarangmu? Ah aku bisa apa.

Namanya Juga Mimpi

Image
Selamat siang teman teman semua, ketemu lagi dengan saya sang mahasiswa tua, mahasiswa hampir wisuda namun terkendala sulitnya tugas akhir HAHA. September, bulan dimana mahasiswa baru tercipta dan datang mencoba menaklukan kampus dengan penuh gaya. Penuh gaya dengan berbalut gaya anak SMA, namun pemikiran masih belum terjamah, masih kayak anak SMA. Jadi, maklum kalo masih labil. 

Masa-masa awal kuliah adalah masa paling indah, masa dimana kita belum terkena bujuk rayu skripsi ataupun bujuk rayu revisi. Masa-masa awal kuliah, masa dimana kita bisa bebas, bebas mencari pacar teman sebanyak mungkin. Masa menyenangkan dimana belum kenal sama yang namanya Setan Pikiran yang bernama tugas kuliah. Mahasiswa baru, status dimana kita bisa bergaya dan bebas mencari pacar berbagai rasa. Ngomongin soal pacar, bagi mahasiswa tua punya pacar adalah sebuah dilema, di satu sisi sangat dibutuhkan sebagai penyemangat, di satu sisi juga bisa merusak. Merusak fokus dan pikiran akan tugas akhir. Biasanya…

Sekiranya Kita Gagal

Sekiranya kita mengalami kegagalan, tetaplah berbaik sangka sama Tuhan dan sekiranya kita mengalami kegagalan yang begitu menyakitkan janganlah kita menyalahkan takdir, namun curigailah diri kita sendiri dan intropeksi. Mungkin kegagalan itu merupakan sinyal bahwa selama ini kita kurang bersungguh-sungguh dalam pencapaian cita-cita kita, dan kita kurang konsisten. Atau mungkin cita-cita itu sendiri masih samar, belum ada deskripsi yang jelas bagi cita-cita kita.
Sekiranya cita-cita itu telah jelas, mungkin saja kita belum mengoptimalkan potensi-potensi yang kita miliki. Dengan kata lain, mungkin selama ini kita belum benar-benar bersyukur, dan kita harus ingat untuk selalu bersyukur. Namun jika kita telah mengoptimalkan segala kemampuan yang kita miliki dan kita masih gagal pula, toh semua itu merupakan takdir dari Tuhan. Namun ingatlah bahwa itu hal yang perlu kita sikapi dengan bijak, bukan lantas kita katakan, “Memang sudah nasib saya begini, mau diapain lagi?” (Alias berputus asa…