Curug Penganten. Pesona yang Tersembunyi.


Sebelum pergi ke Curug Penganten, disarankan untuk pergi bersama orang yang sudah tahu jalannya atau menyewa jasa pemandu yang tersedia. Karena jalan menuju ke Curug Penganten itu menembus hutan bambu dan hutan belantara yang cenderung jarang dikunjungi oleh pengunjung. Banyaknya persimpangan jalan juga bisa membuat kita salah jalan, dan sangat disarankan ketika berangkat untuk memberi jejak atau tanda pada setiap jalan yang dilewati, hal ini bermanfaat agar nantinya ketika pulang tidak tersesat karena sudah banyak orang yang tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Curug Penganten, merupakan dua curug (air terjun) yang lokasi bersebelahan sehingga disebut sebagai CURUG PENGANTEN. Curug Penganten terletak di Dusun Kalipagu, Ketenger Baturaden. Lokasi Curug Bayan tahu tidak? Lha kalo tahu, dari Curug Bayan naik ke atas lagi, naik motor sekitar 15 menit dari Curug Bayan, maka sampailah di tempat checkpoint pertama, buat parkir motor atau juga buat beli makanan dan minuman. Sangat disarankan untuk memakai sepatu, celana panjang, baju lengan panjang atau jaket, jas hujan serta perlengkapan survival untuk mengantisipasi jika tersesat. Jangan lupa, pelindung kamera untuk melindungi kamera ketika mau berfoto di bawah curug penganten, karena kencangnya angin yang membawa uap air dan embun akan membuat lensa kamera basah dan berkabut.




http://tantodanardwi.blogspot.com/2013/10/curug-penganten.html
Ini Bukan foto saya

Perjalanan menuju Curug Penganten, pertama-pertama melalui jalanan setapak di tengah-tengah hamparan sawah hijau. Jalanan setapak ini cukup panjang, dan cukup melelahkan. Namun dengan pemandangan di kanan kiri jalan, apalagi ketika cuaca cerah maka rasa lelah akan terlupakan seketika. Pada fase perjalanan ini relatif lancar tanpa halangan, tapi ya kalo belum terbiasa jalan jalan jauh, bisa melelahkan.

http://tantodanardwi.blogspot.com/2013/10/curug-penganten.html
Ini juga bukan foto saya

Setelah berlelah-lelah berjalan mencari kitab suci menyusuri jalan setapak dan puluhan anak tangga seperti gambar di atas, maka sampailah pada checkpoint selanjutnya, yaitu DAM Belanda yang sekarang dikelola oleh PDAM. Beristirahatlah sejenak untuk menarik nafas ataupun selfie, disini sangat disarankan untuk ber-selfie ria karena background pemandangan alam ketika cerah sungguh sangat bagus. Dan dari DAM Belanda, Pancuran Pitu (Tujuh) Baturaden dapat dilihat dengan jelas. Namun disini aku tak akan bahas pancuran pitu. Dari DAM Belanda menuju Curug penganten kira kira memakan waktu 2-3 jam dengan berjalan kaki. Pulang-pergi, untuk perjalanan saja memakan waktu sekitar 6 jam.

Selanjutnya mulailah pada perjalanan yang sesungguhnya, perjalanan menembus hutan. Diawali dengan menyeberang jembatan kecil di atas pipa PDAM, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menembus jalanan yang penuh dengan semak belukar di kanan kiri. Sangat disarankan untuk memakai sepatu, dan celana panjang, karena kita akan melalui jalanan yang becek gak ojek, eh maksudnya jalanan becek dan licin, belum lagi dengan banyaknya pacet (lintah) yang banyak hidup bertebaran selama perjalanan menembus kelembaban hutan bambu.

http://tantodanardwi.blogspot.com/2013/10/curug-penganten.html

http://tantodanardwi.blogspot.com/2013/10/curug-penganten.html
Kedua foto punya Tanto

Seingat saya, perjalanan menuju Curug Penganten itu kalau ketemu persimpangan jalan selalu ambil jalan ke kiri, karena jalan ke kanan itu menuju ke arah gunung slamet. Jalanan mulai melalui jalan-jalan kecil, licin, becek, dan kanan-kiri penuh dengan semak belukar, Sangat disarankan untuk mencari kayu untuk dijadikan pegangan hidup tongkat biar gak terpeleset. Kalau bisa, alangkah baiknya ketika merasa capek untuk beristirahat sejenak, namun istirahatnya jangan terlalu lama karena akan melemahkan semangat karena perjalanan masih jauh.




Menuju Curug Penganten, seingat aku itu melewati beberapa sungai, baik itu sungai ber-arus deras seperti foto di bawah ini. Pertama melewati sungai dengan menyeberangi jembatan bambu, namun selanjutnya menyeberang sungai dengan meniti di atas bebatuan sungai yang licin. Jadi, harap hati-hati, Info saja sih, air di sungai-sungai ini bisa diminum secara langsung dan airnya juga seger banget kayak senyuman gebetan. Jadi, kagak usah takut untuk kehausan selama perjalanan.



Setelah berjalan kaki menembus hutan selama 2-3 jam, maka sampailah kita pada persimpangan terakhir. Yang mana persimpangan ini jika ambil ke kiri itu langsung ke arah curug penganten  dan jika ambil ke kanan itu masuk checkpoint terakhir. Rasa lelah setelah berjalan jauh menembus hutan belantara akan terbayarkan dengan melihat keindahan pemandangan Curug Penganten. Mendengar deburan air yang jatuh dari ketinggian rasanya puas banget, rasanya lega karena tujuan akhir sudah terlihat. Sebelum ke Curug Penganten disarankan untuk ke Checkpoint Terakhir. Checkpoint terakhir itu semacam tanah datar buat istirahat dengan background Curug Penganten. Kemarin kita tidak langsung turun ke Curug Penganten, tapi ke Checkpoint dulu buat istirahat. Di checkpoint terakhir ini,  sangat disarankan untuk mengisi perut dan tentunya foto selfie jangan ketinggalan dengan background curug penganten. Dibolehkan untuk membuat api disini, tapi jangan lupa untuk mematikannya sebelum meninggalkan checkpoint. Kalo kita sih kemarin malah bikin kopi. Join kopi.








Setelah melepas lelah dan perut sudah kenyang, kami memutuskan untuk langsung ke Curug Penganten. Dari checkpoint terakhir menuju Curug Penganten ternyata lumayan jauh kira-kira 15-25 menit dari Checkpoint, dan medannya pun lumayan sulit. Karena harus berjalan di antara barisan mantan bebatuan sungai yang licin sangat diharapkan untuk berhati-hati, karena jika terpeleset resikonya akan sangat fatal, langsung terhantam batu bisa pingsan, kan bahaya.

Well, akhirnya kita berlima sampai juga di Curug Penganten. Seperti namanya, Curug Penganten memang seperti penganten yang lagi jejeran (bersebelahan). Mandi bentar, berendam di air yang dingin, minum air sungai langsung tanpa dimasak, dan tentunya tak ketinggalan foto-foto selalu jadi tagline utama perjalanan kali ini. Sangat disarankan untuk tidak terlalu lama mandi ataupun berendam di Curug Penganten, karena sangat dingin. Takut masuk angin.














Dan untuk perjalanan pulang relatif lebih ringan, tinggal belok kanan terus sembari mengikuti tanda yang dibuat ketika perjalanan berangkat tadi, dan sekiranya ketika perjalanan sangat disarankan untuk membawa jas hujan, karena cuaca di hutan sangat tidak menentu. Hujan deras bisa datang kapan pun.

Saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan, khususnya kepada Agam (Senior pas SMA) sang pemandu jalan, Ridwan, Wiso, dan Adit. Terima kasih atas pengalaman pertama menembus hutan demi Curug Penganten. Sekian dan terima kasih.

Purwokerto, entah berapa lagi menunggu buat sidang skripsi. Saya mulai lelah menunggu.

Referensi
http://tantodanardwi.blogspot.com/2013/10/curug-penganten.html

Comments

  1. Ya ampun bacanya aja udah serem ada yang nggak tahu jalan pulang. Seru nih tempatnya. Anyway, baru pertama kali main kesini nih. Salam kenal ya. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lain kali main kesini dev, kagak nyesel deh cape-cape jalan berjam-jam X) salam kenal

      Delete
  2. Keren! Dan penuh tantangan...
    Dan ke curug memang menarik, untungnya di Bogor ini curugnya lumayan banyak juga hehehe

    ReplyDelete
  3. Kayaknya seru tuh disitu, bisa menikmati alam :)

    ReplyDelete
  4. Di Kuningan di kota kelahiran juga ada curug seperti ini namanyya Curug Putri :)

    ReplyDelete
  5. Wah... ternyata bnar banyak temapt indah di Indonesia, tapi sayangnya curug/air terjun jadi sedikit jelek namanya gara2 film horor murahan. Semoga dengan adanya tulisan ini membuat nama air terjun menjadi menarik para wisatawan kembali. Nice Post Bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha bener banget tuh, jaman sekarang film horor murahan jualannya bukan filmnya, tapi paha dada pemain wanitanya haha

      Delete
  6. Replies
    1. haha silahkan berkunjung.. butuh pemandu wisata silahkan hubungi saya, untuk masalah biaya bisa dinegosiasikan

      Delete
  7. Tempatnya bagus. Semoga dikasih kesempatan buat kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo butuh pemandu atau pendamping (hidup) ke curug silahkan hubungi saya :") saya bisa membantu

      Delete
  8. Tempatnya keren,,utk mencapai tempat2 indah kebanyakan hrs melewati dulu medan jalan yg sulit

    ReplyDelete
  9. Macam2 jejak petualan gitu ya, menelurusi hutan. Btw, hutannya ada binatang buasnya gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo soal binatang buas sih kagak ada bang.. tapi kalo soal macan kumbang aku kurang tau :3

      Delete
  10. Waduh jalannya masih ngeri juga ya, takut kesasar.
    Tapi puas ya kalo udah nyampe curugnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha tenang gakbakal kesasar kok, butuh pemandu? silahkan hubungi saya :D

      Delete
  11. Sebelum pergi ke Curug Penganten, disarankan untuk pergi bersama orang yang sudah tahu jalannya atau menyewa jasa pemandu yang tersedia. ---> Saya kirain, mas nya mau nulis: Sebelum pergi ke Curug Penganten, disarankan untuk pergi bersama penganten anda, haha.

    Baru pertama kali main kesini nih. Informatif blog nya. Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kalo tak punya penganten gimana mbak? masa iya bawa penganten orang ? haha

      Delete
  12. Ini curug bukannya jadi judul pelem ya? Kirain fiksi doang. Ngebaca sambil liat fotonya, kok serem gitu ya? Tahu2 nyasar. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kalo yg judul film itu "air terjun penganten" haha

      Delete
  13. dari jembatan kuning PDAM arahnya kmana mas? heheh
    mohon bimbingan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lurus aja nanti di jembatan PDAM ada persilangan jalan, lha itu ambil jalan ke kiri... menembus hutan

      Delete
  14. Lebih baik tulisan di BLOG di revisi, tidak usah diberitahu arah jalan, takutnya banyak yang mengikuti arahan dari tulisan di postingan ini eh malah nyasar, dan kalau bisa pakai pemandu
    dan jangan lupa Take nothing but picture. Leave nothing but foot print. Kill nothing but time..
    Tetap menjaga alam ini supaya dapat dinikmati generasi mendatang

    ReplyDelete
  15. Ini hampir sama dengan curug ciparay persisi seperti di gambar atas. ke curug itu selalu dengan perjalanan melelahkan tapi lelah akan hilang setelah diobati dengan keindahan alam ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia