Cerita Sedih di Hari Minggu

Saya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, perihal sorak surai yang mendadak muram, perihal pengulangan yang terjadi untuk ketiga kali, entah apa yang terjadi, saya selalu menjadi orang terakhir yang terdiam tak percaya, dengan segala yang terjadi. Untuk ketiga kalinya, saya kembali menerima medali perak, entah mengapa saya merasa aneh. Aneh yang membingungkan. Bingung perihal ketidakberuntungan yang selalu memayungi, kalah untuk ketiga kali di laga puncak. Jujur saja, semua itu membuat saya tidak mengerti.

Perihal malam yang tak sesuai dengan harapan, harapan bahwa sekiranya keping terakhir akan saya dapatkan tadi malam. Namun nyatanya yang saya dapatkan hanyalah keping-keping hati yang berserakan. Seperti halnya derai air mata yang tercucur dari mata mereka, namun anehnya hal itu tidak terjadi pada saya. Apakah saya sudah mati rasa? Ataukah saya sudah kehilangan rasa percaya? Entahlah.


Entah kenapa saya selalu memikirkan perihal dua lesatan yang (entah kenapa) selalu terbentur oleh kaki kawan, dan mengecoh saya dalam setiap gerakannya, mengubah alur lesatannya, lalu menembus jala. Setiap memikirkannya kembali, entah kenapa semua terasa begitu sesaknya. Perihal jala yang seharusnya saya jaga, entah kenapa saya biarkan terkoyak untuk keempat kalinya. Entah kenapa, saya merasa seharusnya saya bisa berusaha lebih keras lagi, untuk mencegahnya, ya setidaknya untuk menjaga agar rasa percaya tidak goyah di hati mereka. Namun apa daya, segalanya rontok begitu saja.

Saya masih berdiri seorang diri, tatkala suara peluit terakhir dibunyikan. Perihal sebuah kepastian akan pengulangan kekalahan yang terjadi untuk ketiga kalinya. Saya masih berdiri disini, tatkala saya tahu bahwa kali ini Sang Piala terbang ke Semenanjung Iberia. Bukan ke Catalonia, tapi langsung menuju Ibukota. Malam itu, saya merasa ada badai yang mengamuk dalam hati saya, merontokkan segalanya, menerbangkan semuanya, termasuk rasa percaya yang saya punya.

Kebenaran adalah misteri, yang terkadang sulit dipahami, namun kenyataan ternyata jauh lebih rumit lagi, yang terkadang tidak pernah saya habis pikir, dan tidak bisa saya mengerti. Seorang pemuda dari Madeira, dan Seorang Pemuda dari Andalusia, tajam di sektor penyerangan, dan kokoh seperti batu karang di pertahanan. Sebelumnya, trio kawan di depan saya mungkin menjadi yang terkokoh di seantero Eropa, namun entah kenapa tadi malam, kami semua terlihat begitu rapuhnya. Begitu mudahnya diterobos, begitu mudahnya dibelah, Kami seperti sebongkah mentega yang lumer terbelah oleh pisau panas. Dan inilah yang membuat saya tak habis pikir, kenapa segalanya terjadi justru di laga krusial? Kenapa tidak terjadi di Kota Bologna?

Perjalanan menuju ruang ganti kali ini mungkin akan menjadi perjalanan terpanjang yang pernah saya rasakan. Berangkat dengan semangat membara, pulang dengan hati penuh lara, dengan semangat yang menguap entah kemana. Saya masih mendengar sorak surai muram orang-orang yang mendukung kami, saya masih ingat teriakan mereka, saya masih ingat tangisan mereka, dan saya masih ingat, dengan lekat, perihal air mata yang enggan tumpah, yang seketika menghangat di pelupuk mata, lalu tumpah begitu saja, jauh di belakang mereka.

Sebagai seorang pemain sepakbola, sudah sewajarnya untuk mendambakan suatu piala, apalagi piala yang belum pernah diraihnya. Di ranah Eropa, Piala berkuping besar menjadi impian bagi setiap pemain, menjadi idaman bagi setiap kapten, tidak terkecuali dengan saya. Bersama Si Nyonya Tua, sudah tiga kali saya mencoba untuk meraihnya, namun tiga kali pula kegagalan yang menjadi hasil akhirnya. Perihal umur yang mulai senja, saya sempat berharap setidaknya upaya kali ini bisa menjadi upaya yang terakhir untuk meraihnya, namun ternyata Dewi Fortuna memilih akhir cerita yang berbeda.

https://www.bola.net/open-play/potret-kesedihan-gianluigi-buffon-ec5545.html

Kecewa, tentu saja saya kecewa. Siapa juga yang akan tertawa gembira tatkala kekalahan menimpa dirinya? “Sebuah kekecewaan besar karena saya mengira kami sudah melakukan semuanya untuk menang. Kami memainkan babak pertama dengan baik dan sempat merepotkan mereka (Madrid). Lalu, kemudian Anda tersentak karena hasilnya tak sesuai yang kami inginkan.”(*)

Mungkin saya pikir kekecewaan kali ini jauh lebih besar dari kekalahan Italia di final Piala Eropa lima tahun yang lalu. Liga Champions entah kenapa tidak berjodoh dengan saya, tiga kali berlaga di laga puncak, tiga kekalahan yang saya dapat.

Namun setidaknya, (mungkin) saya masih memiliki satu kesempatan lagi untuk meraihnya di tahun depan. Ya setidaknya, tahun depan di ibukota Ukraina, Dewi Fortuna menawarkan cerita akhir yang bahagia, sebagai penutup karir saya sebagai seorang pemain sepak bola.

Ya semoga saja.

Forza Juventus!


(*) Penuturan Gianluigi Buffon perihal kekalahannya, seperti yang dilansir Daily Mail

Comments

  1. Wahhh aku nggak tahu spa pemain bola ini, tapi baca ini sedih jugaa yah..
    Kasihan Juve.. semoga lain kali bisa menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah saya maklumi mbak jen, namanya juga wanita, jadi ya wajar kalo tak paham soal pemain sepak bola. ya seperti halnya saya yg terkadang tidak paham soal kosmetik dan jenis sepatu wanita X)

      Delete
  2. Turut berduka ya, Fan. Aku sih enggak ikut nonton, karena pak suami cuma mau nonton AC Milan doang. Tapi yang pasti aku sempat sebal sama pertandingan bola ini, karena bikin aku enggak bisa nikmatin sinetron kesayangan saat sahur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha sekiranya adalah sebuah perdebatan yang menarik. Perdebatan utk menentukan siapa yang bakalan menang, tatkala memperebutkan sebuah benda yang bernama, televisi. X)

      Delete
  3. suamiku juventini, jadi dikit banyak aku hapal pemain2 juve.. om buffon ini meski udah berumur tetep yah gantengnya ga ilang-ilang :D
    biasanya aku ikut nemenin nonton dan pas kemaren gak ikut nemenin karena ngantuk hehe.. pas sahur doi mukanya lesu banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa pula yang bakal senang apabila tim idolanya kalah, kalah di final pula. Ya wajar saja jika suaminya mbak yesi itu murung kecewa pas sahur wkwkw

      Delete
  4. Beban moral seorang atlit sepak bola yang memiliki banyak pendukung, ternyata cukup berat juga ya...
    Harus berusaha sebaik mungkin untuk bisa memenangkan pertandingan demi pendukungnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah sebuah tuntutan profesi mbak, harus ada pertanggung jawaban atas segala gaji yg sudah dibayarkan. Orang jawa bilang "ono rego, ono rupo"

      Delete
  5. Namanya bermain dengan sikulit bundar memang ga bisa ditebak, tapi menurut saya juve adalah team kuda hitam yang mungkin tidak ada yang mengira bisa sampai dipuncak.

    Kalo kata teman saya "kalah menang itu biasa, tapi kalo kalah terus itu kebiasaan"

    Hahah Froza Juve

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adalah sebuah diskusi yang layak diperdebatkan, apabila ada seseorang yang mempertanyakan loyaltas seseorang yang memuja tim sesuatu, hanya berdasarkan pertimbangan gelar dan kemenangan saja. Karena menurut saya, menang kalah adalah hal yang terlalu biasa dalam sebuah permainan sepak bola.

      Delete
  6. Awalnya aku mikir, ini tulisan merujuk pada lagunya Marshanda `Kisah Sedih Di Hari Minggu`.
    Lhaa...ternyataa...

    Ikut berduka sedalam-dalamnya yaa, Fan...
    Semoga di pertandingan berikutnya Juventus mendapatkan hasil yang sakinah mawaddah dan warahmah.
    Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha bukan mbak, ini mah cuma sebatas tulisan biasa

      Delete
  7. Pemilihan diksinya bagus bagus. .

    Btw semua pasti ada hikmahnya. Dapat perak jg tidak memalukan. . walau mungkin ga ada peningkatan, tapi setidaknya tidak menurun

    Ahahahh komen apa sih aku ini. Aku pikir ini cerpen tadinya.

    Rupanya reportase bola dari sudut pandang seorang penulis/novelis xixixi keren jg lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas pujiannya mbak ^_^

      Ya tapi bagaimana pun mendapat tiga medali perak, meraih peringkat dua untuk kali ketiga dalam tiga kali percobaan itu layak dipertanyakan.

      'Apakah sekiranya dewi fortuna membenci saya?'

      Delete
  8. duh duh.. kalah dalam pertandingan memang tidak mengenakkan. apalagi sampai 3 kali. tapi semoga ke depan Juventus kian bersinar yeiii...

    saya nggak ngerti bola, tapi ada juga teman yang uring-uringan karena tim sepak bola kesayangannya kalah bertanding :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah saya maklumi mbak, namanya juga wanita, jadi ya wajar kalo tak paham soal pemain sepak bola. ya seperti halnya saya yg terkadang tidak paham soal kosmetik dan jenis sepatu wanita X)

      Delete
  9. Sebelum peluit selesai, aku sempat lihat lalu sorak kemenangan grup sebelah. Udah lama jg gak ngikutin bola.

    kalo sdh 3 kali gagal, kudu bner2 cari apa yg krg bner. Kalah emang menyakitkan tapi tetep kudu semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bagaimana pun adalah sebuah permasalahan yang benar-benar salah, apabila segala upaya dan usaha sudah dilakukan namun ternyata hasilnya tak sesuai dengan harapan. Itulah kenapa muncul ujar-ujar "Terkadang kenyataan itu kejam!"

      Delete
  10. Tiap pertandingan ada menang kalah. tapi 3 kali gagal padahal kemenangan di depan mata, hem ada yg aneh ya, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena menurut saya, menang kalah adalah hal yang terlalu biasa dalam sebuah permainan sepak bola.

      Delete
  11. AKu ga baca berita ttg Juventus, tapi sekelibat hanya baca headline judulnya aja. Pas baca yang ini, jadi semakin bikin sedih. Perjuangan slama 3 kali belum membahkan hasil, ditambah dengan semakin bertambahnya usia.

    Tetap semangat, semoga di pertandingan yang ke-4 bisa membuahkan hasil, dan Dewi Fortuna ikut berpihak
    btw, ini tulisannya cakep bener penyampaiiannya hheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha terima kasih atas pujiannya..

      Ya inilah tulisan perihal sebagaimana seorang pendukung tim sepakbola, menyikapi kekalahan tim pujaannya di laga puncak

      Delete
  12. Saya kira kemarin Juve yg juara mas.. bisa jadi kado untuk Buffon .. tapi ternyata CR7 emang luar biasa.. gak jadi ketemu di Super Cup nih mas sama tim favorit saya hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang dasar si ronaldo itu tak bisa dibendung hahaha

      Delete
  13. Buffonn... Nggak papa kalah, kamu tetep masih jadi kiper termahal kok. Hehehe... :D

    ReplyDelete
  14. Pilu gini aku bacanya. Padahal nggak tau apa2. Semoga kemenangan di lain kesempatan menajdi takdirmu ya, siapapun kamu

    ReplyDelete
  15. Banyak fans juventus yang kecewa dengan kekalahan yang dialami tetapi, seharusnya kita sebagai fans tidak boleh kecewa harus suppport terus tim kesayangan kita

    ReplyDelete
  16. Ya ampun Mas Fan, buat klub kesayangan aja segini bagus tulisannya. Gimana tulisan buat si doi ya? #eaa

    ReplyDelete
  17. Buffon itu salah satu pemain bola paling ganteng yang aku naksir sejak kecil. Ya semoga tahun depan inter bisa menang. #ehgimana 不不不

    ReplyDelete
  18. Plrase mas. Hari minggu jangan sedih. Diisi dengan yang bahagia agar 6 hari kedepan lebih produktif hehehe. Peace

    ReplyDelete
  19. I’m not that much of a internet reader to be honest but your blogs really nice, keep it up! I'll go ahead and bookmark your website to come back later. Cheers gmail.com login

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia