Sebuah Cerita: Lampu Kamar Depan

Lampu kamar depan rumahmu perlahan padam, pertanda sebuah isyarat, bahwa sebentar lagi kamu akan beranjak pergi. Dari dalam rumah, terdengar suara motor yang dituntun perlahan, lalu muncul keluar dari balik pintu. Terlihat kamu yang sudah memakai helm berlogo tiga huruf mati, pertanda akan segera pergi. Tapi sebelum itu terjadi, aku tahu pasti, kamu akan berhenti dulu, memarkirkan motormu di depan pintu, merogoh sakumu, mengeluarkan kunci, lalu menggembok rumahmu, dan perlahan mengekol motormu. 

Satu engkol, dua engkol, dan motor tak kunjung nyala, dari seberang rumah, aku terus mengamatimu, lalu dirimu terlihat menepuk jidat, lupa bahwa ternyata kunci motor belum dipasang ke motor. Ah pantas saja motor tidak mau menyala. Aduhai bodohnya dirimu, tak pernah berubah sedari dulu.

Waktu itu malam baru datang, jadi gelapnya masih temaram, dan sisa-sisa senja masih tampak terlihat oleh mata. Namun, waktu itu adalah waktumu untuk keluar dari rumahmu. Waktunya berangkat kerja, begitu katamu. Meskipun aku tidak tahu, kerjamu itu apa, tapi sungguh itu bukan urusanku. Dari sedari pertama kali kamu pindah ke rumah itu, sampai sekarang, kebiasaanmu pun tidak pernah berubah. Masih saja ceroboh seperti dulu. Mudah untuk aku hafal diluar kepala kebiasaanmu itu. 

Kamu adalah perempuan tanpa suara, yang jauh lebih banyak tersenyum daripada menebar kata. Aku tidak tahu, sudah berapa lama aku mulai memendam rasa. Rasa penasaran bagaimana yang terjadi jika malam ini aku menyatroni rumahmu yang sedang ditinggal pergi. Lalu aku gasak semua harta bendamu yang ada di rumah. Lalu aku acak-acak semuanya, kemudian pergi, dan pura-pura tak peduli. Dan, kembali mengamatimu dari seberang rumah tak berpenghuni. Seperti kebiasaan sehari-hari.

Ya setidaknya lumayanlah hasilnya bisa untuk makan sehari hari. Aku yakin, kamu pun tidak akan menyadari bahwa rumahmu baru aku satroni. 

Tertanda, lelaki yang tak pernah ingin mencuri.
Tapi kamu memberi kesempatan untuk mencuri.
Jadinya, jiwa pencuri yang telah lama pergi, kini kembali lagi.

-----------------------------------------------------------------------------------

Benar saja, di pagi hari terjadi kehebohan tetangga kanan-kiri. Kehebohan yang disebabkan oleh ulah pencuri yang membobol rumah kosong yang tak berpenghuni. Sedikit banyak orang tahu, bahwa rumah itu sudah tidak berpenghuni lebih dari tiga tahun lalu. Setelah penghuni terakhir ditemukan mati tenggelam di kali. Dan tiada yang berani mengusik barang-barang yang tertinggal di dalam rumah itu, sejak hari itu rumah dibiarkan kosong tak berpenghuni.

------------------------------------------------------------------------------------

Jadi, Sebenarnya tadi malam itu rumah siapa yang aku curi? Lalu, Siapakah perempuan yang selama ini aku lihat keluar masuk rumah dari rumah itu setiap hari?!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir