Pengantar Studi Konflik Palestina

Pengantar Studi Konflik Palestina
By Tim Penterjemah COMES

Tidak mungkin kita menyikapi pergulatan konflik yang berlangsung di atas tanah Palestina yang terjajah sekarang ini sebagai konflik antara kelompok manusia seperti lazimnya. Seperti juga tidak mungkin memposisikan pergulatan dalam konflik ini sebagai bentuk kelanjutan dari perseteruan yang tak pernah berhenti, antara berbagai kekuatan yang besar untuk memperebutkan kekuasaan di atas tanah Palestina. Baik alasan yang bersifat ekonomi, militer dan atau alasan agama sekalipun. 
Pergulatan dalam konflik yang dialami oleh umat sekarang ini – dengan level yang berbeda-beda – dalam melawan dan menentang musuh Zionis, menjadi konflik multidimensional yang di dalamnya terdapat berbagai kepentingan. Baik kepentingan yang berbentuk historis wilayah itu atau konflik yang berbentuk kepentingan politik negara tertentu, atau kepentingan ekonomi dan kepentingan agama. Bahkan kepentingan sekelompok orang yang ingin menanamkan kultur dan budaya tertentu ke dalam peradaban Arab dan Islam, untuk mengambil peranan penting dalam mempengaruhi peradaban manusia secara universal. 

Untuk menjelaskan hakikat konflik Palestina, cukuplah kita membaca fase-fase historical yang dilalui oleh tanah Palestina. Dimana ketika imperialisme Eropa berkompetisi untuk merebut tahta kekuasaan di Timur Tengah, setelah masa kerajaan Ustmaniyah pada akhir abad ke 18. Juga dengan target agar mereka dapat menguasai jalan yang sangat strategis menuju India. Ini merupakan factor yang esensi dalam pembentukan kerangka perpolitikan Negara-negara Eropa di Timur Tengah.

Sementara itu, para aktifis Yahudi pada waktu itu berusaha maksimal – dengan dukungan penuh dari Negara Eropa dan yang berpartisipasi pada waktu itu diantaranya Inggris dan Jerman – melakukan pressure dan tekanan kepada kerajaan Ustmaiyah untuk mencabut Piagam dari Sultan Abdul Hamid II. Agar mau mengizinkan orang-orang Yahudi untuk menjadi penduduk dan tinggal di Palestina dan mengizinkan mereka untuk melakukan exodus ke sana. Tetapi Kesultanan dalam kerajaan Ustmaniyah menolak dan melawan tekanan dari pihak Eropa dan menentang mentah-mentah rayuan busuk orang-orang Yahudi. 

Dalam kurun waktu antara tahun1900 – 1901, Sultan Abdul Hamid menerbitkan undang-undang larangan kepada seluruh pelancong Yahudi dunia untuk menetap di Palestina lebih dari tiga bulan. Juga beliau menerbitkan aturan yang melarang orang-orang Yahudi untuk membeli sejengkal tanah Palestina. Untuk mengantisipasi perubahan tanah Palestina pada kondisi sulit di atasi dan mengantisipasi terjadinya pemisahan tanah itu dari jasad umat Islam yang lainnya. 

Pada tahun 1902, orang-orang Yahudi mengusulkan penawaran "menarik" kepada Sultan Abdul Hamid, berupa jaminan pelunasan semua utang luar negeri kerajaan Ustmaniyah dan akan membangun benteng pertahanan bagi kerajaan itu. Bahkan akan memberi pinjaman lunak sebesar 35 juta Lira emas untuk kas Negara yang mengalami krisis ekonomi, sebagai imbalan bagi Sultan atas jasanya, dan semua itu akan dijamin oleh seluruh konglomerat Yahudi. 

Tetapi Sultan Abdul Hamid menolak rayuan busuk dan usulan itu dengan tegas, dan mengirimkan memorandum kepada Theodore Herzl, yang tetulis dalam otobiografinya : "Sampaikan pesanku kepada DR. Herzl, janganlah ia mengambil langkah yang serius dalam hal ini, karena aku tidak dapat melepaskan dari tanah Palestina walaupun hanya sejengkal, karena tanah itu bukanlah milikku tetapi milik rakyat. Yang mereka dapatkan dengan perjuangan keras dan tetesan darah mereka sendiri. Simpanlah uang kalian itu, apabila kerajaanku hancur dan musnah pada suatu hari nanti, sesungguhnya kalian bisa mengambilnya tanpa sepeserpun uang yang perlu kalian bayarkan untuk tanah itu. Tetapi selagi hayatku masih dikandung badan, lalu kalian tusukkan pisau di jasadku, sesungguhnya itu lebih ringan dan mudah bagiku, daripada aku harus menyaksikan tanah Palestina terlepas dari kerajaan Islam. Dan aku yakin ini tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup, karena aku tidak mampu menahan sakitnya badanku dikoyak-koyak sedangkan aku masih bernapas". 

Ketika orang-orang Yahudi pesimis dan bahkan apriori terhadap kerajaan Ustmaniyah, mereka menggunakan alternative lain yaitu bagaimana menjatuhkan kerajaan itu dari dalam. Dengan bantuan penyamaran Yahudi suku Donma yang berpura-pura masuk Islam dan menggunakan nama-nama Turky. Penyamaran Yahudi Donma begitu sempurna sehingga mereka mampu menyusup ke dalam "Organisasi Persatuan Dan Kemajuan" ( OPK ). Bahkan mereka berhasil mendapatkan keanggotaan dalam organisasi itu, hingga pada tahun 1907 OPK yang sudah disusupi Yahudi Donma itu mampu memegang kendali pucuk kekuasaan. 

Dengan keberhasilan Yahudi Donma mengendalikan kerajaan Ustmaniyah, maka aktifitas Zionis di Palestina semakin meningkat dan kuat. Karena mendapat dukungan dari para simpatisan OPK dari Yahudi Donma yang menempati pos-pos jabatan strategis dalam pemerintahan Ustmaniyah. Dan bahkan Raja baru Ustmaniyah mengizinkan orang-orang Yahudi internasional untuk melakukan exodus ke Palestina dan bahkan membeli tanah di sana. 

Keadaan ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh mereka yang memberi keleluasaan kepada organisasi- organisasi Zionisme untuk memulai aktifitasnya. Sampai menjelang kejatuhannya Khilafah Ustmaniyah pada tahun 1924 dan militer Inggris dengan mudah menginjakkan kakinya di sana dan menjajahnya. Keinginan dan rencana politik Imperialis Eropa untuk memisahkan tanah Palestina dari Negara-negara Arab mendapat sambutan hangat dari gerakan Zionisme yang mempunyai target utama untuk mendirikan Negara Yahudi di atas tanah Palestina. Tetapi sesungguhnya para pemimpin Eropa itulah yang menawarkan jasanya kepada orang-orang Yahudi untuk mendirikan Negara Yahudi di sana, sebelum hal itu terpikirkan oleh gerakan Zionisme beberapa tahun lamanya, terutama pihak Prancis dan Inggris yang ingin mencari solusi tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari warga Yahudi di Eropa. Dan juga untuk mewujudkan target lainnya dalam legalisasi penjajahan mereka di Timur Tengah sehingga mendapat dukungan penuh dari Negara-negara yang beraliran dan bersimpati kepada gerakan Zionisme dan ethnis Yahudi. 

Dalam hal ini sangat jelas ada persaingan kepentingan politik antara Prancis dan Inggris dalam memperluas wilayah jajahan mereka di Timur Tengah. Karena tujuan kedua Negara itu hanya bagaimana mereka bisa melanggengkan hegemoni politiknya di wilayah tersebut dan bagaimana mereka bisa menjajah Negara yang bersampingan dengan wilayah jajahannya; juga bagaimana bisa membangun berbagai fasilitas dan sarana yang mampu melindungi kepentingan mereka. 

Karena setelah kegagalan ekspedisi Napoleon Bonaparte di Mesir dan Negara-negara Syam, Inggris merasa perlu untuk mencari jendral-jendral alternative lainnya yang handal sebagai pengganti penguasa di wilayah Timur Tengah yang mampu mangungguli atau bahkan mengalahkan Prancis. 

Pihak Inggris melihat bahwa tanah Palestina merupakan wilayah yang sangat strategis untuk memperlihatkan superioritasnya atas Prancis dan untuk melanggengkan hegemoni politiknya di wilayah Timur Tengah, karena Palestina terletak di tengah-tengah Negara-negara Arab dan menjadi pintu penyambung utama antara Benua Asia dan Afrika. 

Memperhatikan kondisi geografis Palestina yang sangat strategis itu yang terletak di antara dua benua ( Asia dan Afrika ), maka imperialis Eropa dan Inggris khususnya sangat berkepentingan untuk memisahkan antara benua Asia dan Afrika dengan Negara-negara Arab, untuk menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan bagi Negara-negara Arab untuk bersatu di masa mendatang. 

Posisi dan sikap Inggris yang sesungguhnya nampak jelas ketika Muhammad Ali Basya sebagai Gubernur Mesir melakukan ekspedisi ke Negara Syam yang mengutus anaknya Ibrohim Basya ke wilayah itu. Ekpedisi itu sangat mengusik kepentingan inggris, karena mereka khawatir akan terjadi kerja sama antara Mesir dan Negara Syam atau bahkan mereka bisa bersatu dalam satu Negara. Atas dasar prediksi itulah pihak Inggris dengan bantuan dari kerajaan Ustmaniyah yang sudah terinfiltrasi oleh Yahudi berkonspirasi untuk menggagalkan ekspedisi Ibrohim Basya ke Negara Syam. 

Setelah ada interpensi dari pihak Inggris, Perdana Menteri Inggris Palmerstone mengirim surat pemberitahuan kepada Duta Besarnya di Istambul pada tahun 1840. Yang menerangkan beberapa keuntungan besar bagi kerajaan Ustmaniyah yang telah mendukung dan bahkan melindungi berlangsungnya exodus warga Yahudi internasional ke Palestina : " Sesungguhnya kembalinya orang-orang Yahudi ke tanah Palestina atas panggilan dan perintah resmi dari Sulthan Ustmany, akan menjadi bumerang bagi Muhammad Ali Basya dan siapa saja yang mengikuti jejaknya". 


Pada bulan Maret 1840, seorang bangsawan Yahudi "Rothschild" mengirimkan "berita khusus" kepada Perdana Menteri Inggris Palmerstone: "Sesungguhnya kekalahan yang dialami oleh Muhammad Ali Basya dalam ekspedisinya ke Negara Syam dan kekacauan pemerintahannya di Mesir, tidaklah cukup bagiku. Karena aku tahu di Negara-negara Arab ada kekuatan magnetis yang mereka sadari sendiri bahwa untuk mengembalikan dan mengulang kejayaan masa lalu mereka, sangat tergantung pada kesatuan dan persatuan antara Negara-negara Arab itu sendiri. Sesungguhnya apabila kita mencermati peta dan letak geografis tanah Palestina di atas bumi ini, maka kita akan mendapatkan bahwa sungguh tanah ini merupakan jembatan penyambung utama antara Mesir di Benua Afrika dan Negara-negara Arab di Benua Asia. Perlu anda ketahui bahwa tanah Palestina merupakan pintu gerbang menuju bagian timur dunia. Dan satu-satunya solusi untuk mengantisipasi persatuan mereka, kita harus menanamkan berbagai kekuatan politik di pintu gerbang itu, agar pintu gerbang itu menjadi penghalang dan benteng pembatas utama bagi bahaya Arab untuk menyatu dengan Mesir di Benua Afrika. Dengan rencana tadi saya kira program exodus besar-besaran warga Yahudi internasional bisa berjalan dengan lancar. Rencana itu bukan hanya bermanfaat bagi warga Yahudi untuk kembali ke bumi yang sudah dijanjikan bagi mereka seperti tertera dalam "perjanjian lama", tetapi juga sangat membantu dalam memfasilitasi imperialisme Inggris dan programnya. Saya kira tidak perlu terulang lagi "percobaan" yang kalian lakukan terhadap Muhammad Ali Basya, baik dengan rencana mendirikan Negara yang kuat di Mesir ataupun usaha untuk menyatukan antara Mesir dan Negara Arab lainnya dengan menfasilitasi mereka jalur komunikasi. Karena itu akan berakibat fatal dan buruk bagi masa depan politik kalian di Timur Tengah". 

Dua dokumen formal ini, satu dari Inggris dan yang lainnya dari bangsawan dan tokoh Yahudi memperjelas kesamaan interes, missi dan visi mereka untuk memerangi terwujudnya kesatuan dan persatuan Negara-negara Arab di Timur Tengah. Dan menurut mereka satu-satunya cara yang paling efektif untuk mengatasi persatuan Negara Arab hanya dengan mendirikan Negara Yahudi di tengah-tengah wilayah Arab. 

Sebuah laporan yang ditulis langsung oleh satu komite yang dibentuk oleh Perdana Menteri Inggris Henry Campble-Banzman pada tahun1907, menganjurkan : "agar menjadikan wilayah Arab dan sekitarnya tetap terpecah belah dan berada dalam kemunduran ekonomi. Selain itu harus tetap mewaspadai persatuan para pemimpin Arab baik secara ikatan intelektual dan pemikiran, ikatan emosional dan ataupun ikatan histories. Program itu bisa tercapai melalui pemisahan total antara benua Afrika dan benua Asia, dengan cara mengadakan bentuk pagar pemisah yang hidup ( manusia) yang kuat dan dan menakjubkan di sepanjang jembatan bumi penyambung antara Afrika dan Asia. Sehingga akhirnya akan terbentuk di wilayah itu sebuah kekuatan yang menakjubkan yang berdekatan dengan terusan Swiss yang akan membantu kepentingan kita dan menjadi momok utama bagi penduduk wilyah tersebut". 

Yang sebagian dari tujuan itu bisa tercapai lewat kesepakatan dan perjanjian "Syckes and Picot" tahun 1916. Dengan perjanjian itu Negara Prancis berhasil mencaplok beberapa wilayah di Negara Syria dan bagian selatan Anatholia sampai ke Al Mousel di Iraq yang mereka warnai dengan warna biru. Sedangkan Inggris mampu mencaplok bagian selatan Suriah sampai ke Iraq di bagian utara kota Baghdad dan Bashroh. Sedangkan beberapa wilayah yang terletak di teluk Arab seperti pelabuhan Akka dan Jericho menjadi bagian Prancis yang diwaranai dengan warna merah. Sedangkan bagian Negara Palestina diwarnai dengan warna yang coklat, yang mereka sepakati agar daerah ini menjadi daerah netral dan berada di bawah pengawasan internasional. Begitulah konfirasi antara imperialis Inggris dan Prancis mampu menghalangi dan membuyarkan persatuan Negara-negara Arab. 

Setelah kesepakatan ini ditandatangani, para pemimpin gerakan Zionisme yang dipimpin langsung oleh "Lord Rothschild dan Weisman" mengadakan pembicaraan langsung dengan Inggris. Yang melahirkan kesepakatan dan perjanjian "Balfuor". Salah satu sebab yang paling mendasar bagi Inggris untuk menyetujui perjanjian itu adalah agar Negara Yahudi tersebut menjadi pelindung dan benteng awal untuk menjaga terusan Swiss dan untuk meneruskan program pemecah belahan Negara-negera Arab. 

Laporan itu sendiri dideklarasikan pada tanggal 2 Nopember 1917 oleh Menteri Luar Negeri Inggris "Arthur Balfuor" pada waktu itu, dengan bentuk laporan formal dari Ballfour ke Rothschild : "Bahwasanya pemerintah Inggris yang agung sangat bersimpati dan melihat urgennya mendirikan Negara khusus bagi warga Yahudi di tanah Palestina. Dalam hal ini pemerintahan Inggris akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan itu dengan menggunakan berbagai fasilitas yang dimilik. Mohon hal ini disebarkan kepada segenap warga Yahudi bahwa sesungguhnya mereka akan mendapatkan apa yang dinikmati oleh warga non yahudi di Palestina dan tidak akan ada diskriminasi baik secara hak kewarganegaraan dan ataupun hak keagamaan, dan juga tidak akan ada perbedaan hak perpolitikan yang didapatkan oleh warga Yahudi di negara-negara lainnya. Aku akan sangat berterimakasih apabila deklarasi ini disampaikan juga kepada organisasi gerakan Zionisme". 

Pada tanggal 11 Desember 1917, tentara Inggris yang dikomandani langsung oleh Jendral Allenby memasuki daerah Yerusalem untuk merealisasikan perjajian dan kesepakatan Balfour yang mengakibatkan bentrokan fisik dan konfrontasi antara warga Yahudi dan warga Arab Palestina. Pada waktu yang bersamaan terbentuklah perkumpulan warga Arab untuk menentang realisasi kesepakatan yang menguntungkan Zionis itu. Ketika warga Yahudi ingin mengadakan peringatan hari ditandatanganinya kesepakatan Balfour, warga Arab Palestina mengancam akan mengadakan demonstrasi besar-besaran. Tetapi mendapat ancaman dari ketua Komisi tertinggi Inggris "Herbert Somail" untuk menangkap seluruh warga Arab yang berpartisipasi dan mengambil bagian dalam demonstrasi itu. 

Dengan diumumkanya hasil kesepakatan Balfuor, mengakibatkan munculnya protes keras dari warga Arab baik yang ada di Palestina ataupun di Negara-negara Arab lainnya. Melihat hal itu sadarlah rakyat Palestina bahwa tanah mereka akan dipisahkan dengan bagian Negara Arab lainnya oleh pihak penjajah Inggris, apalagi setelah Dewan Keamanan Liga Bangsa Bangsa ( sekarang PBB ) menerbitkan resolusi tentang pemberian mandat kepada Inggris atas tanah Palestina pada tahun 1919. 

Bagaikan menyelam sambil meminum air, pihak penjajah Inggris dalam usaha maksimal mereka menenangkan Negara-negara Arab lainnya, mereka juga berusaha memisahkan wilayah Palestina dari wilayah Negara Syam ( Syria - Lebanon – Yordania) tetapi rencana itu tidak berhasil, karena rakyat Palestina melakukan revolusi sosial pada tahun 1920. 

Ketika berlangsung konfrensi Versailles pada bulan Januari 1919, gerakan Zionisme mengajukan proposal program aktual yang sudah mereka kaji dengan seksama untuk mengimplementasikan dengan segera proyeksi itu. Dalam proposal itu mereka mengusulkan dua hal pokok : 

1. Mengusulkan agar Inggris sebagai Negara pemegang mandat, menjadi pengawas langsung dalam mengimplementasikan perjanjian Balfuor. 
2. Batasan Palestina dimulai dari pinggiran kota Saydah, sumber air yang ada di sungai Litani, sungai Yordan, Horan, bagian utara Yordania, Al-Aqaba, dan beberapa bagian dari gurun Sinai di Mesir. 

Dalam konfrensi ini juga Inggris mendapat mandat untuk membawahi Negara yang sebelum perang berada di bawah pengawasan Jerman dan Turky, selain itu konfrensi ini juga menganjurkan Liga Bangsa-Bangsa untuk membentuk Badan pendelegasian khusus dan dua Negara Inggris dan Prancis mengutus perwakilannya dalam Badan itu. 

Pada konfrensi San Remo tanggal 31 Mei 1920, disetujui pengalihan wewenang pemerintahan yang dimandatkan kepada Inggris. Inggris dalam hal ini langsung menunjuk seorang Zionis Yahudi "Herbert Somail" sebagai Pejabat Komisaris tertinggi di Yerusalem, sebelumnya Ia mejabat Menteri Dalam Negeri Inggris yang sangat interes dan simpatik dengan kepentingan gerakan Zionisme. 

Hanya tiga hari saja setelah diumumkannya pengalihan wewenang penguasa di Palestina yang di ambil alih oleh Inggris, pihak Inggris langsung mengumumkan isi dari perjanjian Balfuor yang membuat rakyat Palestina marah dan mengakibatkan konfrontasi antara tentara Inggris dan sipil Arab Palestina. Lebih jauh dan dengan arogansinya Inggris melarang acara Konfrensi Palestina II yang akan dilaksanakan di Jericho tahun 1920. 

Setelah Churchill menjabat Menteri Pemukiman, ia mengadakan dan menggelar konfrensi untuk anggota militer dan para pejabat tinggi Inggris di Kairo untuk mengadakan evaluasi terhadap posisi Inggris di wilayah itu. Konfrensi itu sendiri merekomendasikan beberapa hal penting : 
meneruskan program implementasi dari perjanjian Balfuor, karena Inggris merupakan pemegang mandat dan penanggung jawab pengadaan tanah dan Negara untuk warga Yahudi Internasional. 
Agar Inggris membangun perumahan dan pemukiman di bagian timur Yordania untuk warga Arab. Dan Raja Abdullah sebagai penanggung jawab proyek itu yang harus mengadakan laporan berkala kepada pemerintah Inggris sebagai pemegang mandat dari Liga Bangsa Bangsa, tanpa mengganggu system administrasi dan birokrasi di Palestina dan pemerintahan Inggris sebagai pemegang mandat di sana. Dan pihak Yordania harus siap-siap untuk menampung para pengungsi dari warga Arab Palestina yang akan diusir dari tanah mereka. 

Karakteristik rencana Inggris dan Gerakan Zionisme di Palestina mulai nampak jelas sejak permulaan abad ke 20, dan warga Arab Palestina sudah mengutarakan penolakan mereka sejak pertama kali Zionis mengusulkan rencana itu. Mereka khawatir rencana exodus warga Yahudi ke Palestina akan mempengaruhi populasi dan eksistensi warga Arab Palestina di sana dan mereka memperingatkan warga Yahudi internasional agar mengurungkan niat mereka untuk melakukan imigrasi dari Negara asli mereka. 

Kalau diteliti historical Palestina masa lampau, sesungguhnya warga Arab Palestina tetap berkeyakinan dan menghendaki agar tanah Palestina tetap berada di bawah naungan "Syria Alkubro" (Negara-negara Syam) dan menolak pembagian dan pemisahan dari Negara Syam, karena itu merupakan hasil dari perjuangan mereka. Rakyat Palestina juga menolak usulan pengadaan daerah khusus bagi warga Arab di luar Palestina, walapun sesungguhnya warga Arab Palestina mempunyai problem multidimensi untuk menetap di Palestina. Karena selain mereka menghadapi penjajahan dari Inggris mereka juga menghadapi program Inggris lainnya yang akan menggiring exodus besar-besaran warga Yahudi internasional ke bumi dan tanah kelahiran warga Arab Palestina. Sementara warga Arab di Negara-negara Syam lainnya hanya menghadapi keganasan penjajahan dari kolonial Inggris dan Prancis saja tanpa ada program mendatangkan Yahudi Internasional ke wilayah mereka masing-masing. 

Karena itu berbagai konflik timbul ke permukaan pada awal tahun 1920-an, salah satunya adalah tuntutan dari warga Arab Palestina yang menuntut Negara Palestina merdeka. Tuntutan ini merupakan ekses dari tuntutan serupa yang terjadi di berbagai penjuru wilayah dan Negara Arab lainnya. Konflik semacam ini sesungguhnya yang paling ditunggu-tunggu oleh pihak kolonial Inggris dan Prancis agar terjadi perpecahan di tubuh Negara-negara Syam, karena dengan perpecahan itu maka setiap wilayah akan menghadapi masalah mereka sendiri-sendiri. 

Rencana pendirian "Persatuan Negara Arab" yang dijanjikan oleh kolonial Inggris kepada Al-Shareef Husain Bin Ali mulai redup dan samar dan bahkan menghilang dalam benak dan eksistensi para kolonial Eropa. Setiap warga Arab yang ada di wilayah Negara –negara Syam lebih menfokuskan perhatian mereka kepada wilayah masing-masing, berjuang sendiri-sendiri untuk mengusir para penjajah dari tanah dan Negara mereka. Hal ini sangat mempengaruhi rakyat Palestina yang sama-sama berjuang untuk melepaskan diri dari jeratan para kolonialisme Eropa. Melihat hal itu maka rakyat Palestina lebih memilih berpisah dari Negara kesatuan Syam, tanpa mereka sadari bahwa tanah Palestina merupakan bagian selatan Negara-negara Syam. 

Pada waktu rakyat Palestina berjuang mati-matian menolak keabsahan perjanjian Balfuor dan menentang melonjaknya jumlah warga Yahudi yang exodus ke Palestina di bawah payung pihak Inggris, warga Arab lainnya tidak bisa membantu karena mereka sendiri sedang berjuang melawan penjajahan kolonial Eropa yang bercokol di beberapa Negara Arab. 

Dengan kondisi Negara-negara Arab yang seperti itu dan dengan dukungan penuh dari pihak Inggris yang menjadi komando besar dalam menghancurkan rakyat Arab, eksistensi gerakan Zionisme semakin kuat menjelang tahun 1930 dan 1940. Sehingga ketika Negara-negara Arab lainnya merdeka menjelang tahun 1940, sungguh itu sangat terlambat untuk berpartsipasi dalam membela rakyat Palestina dalam melawan dan menghentikan langkah-langkah yang sudah diambil oleh kolonial Inggris dan gerakan Zionisme internasional di sana, yang sudah memproklamirkan diri di depan seluruh dunia tentang eksistensi gerakan Zionisme. 

Akibat keterlambatan itu akhirnya tanah Palestina terlepas dari genggaman umat Islam pada peperangan yang berlangsung pada tahun 1948, dan sejak itulah konflik Palestina masuk dalam lembaran perpolitikan Arab. 

Tetapi Zionis berkeyakinan bahwa eksistensi mereka di atas territorial tanah Palestina yang mereka rebut dan deklarasikan pada tahun1948 itu belum cukup, karena belum mencakup teritorial yang mereka yakini termasuk tanah Israel. Berbekal keyakinan itu maka Zionis Israel memfokuskan diri dalam optimalisasi kekuatan militer mereka pada tahun-tahun berikutnya untuk mendekralasikan eksistenssi mereka yang lebih luas dan untuk mengusir orang-orang Arab Palestina dari tanah itu. 

Pada tahun 1956 negara Yahudi Zionis itu berkolaborasi dengan Prancis dan Inggris untuk menyerang Mesir. David Ben Gurion memberi informasi kepada pihak Synagogue bahwa keikutsertaan dan partisipasi mereka dalam serangan itu untuk "membebaskan tanah rakyat Yahudi ( Gurun Sinai ) yang di kuasai oleh para pengacau". Walaupun target yang sesungguhnya adalah untuk mengusir tentara Mesir dari perbatasan Israel dan untuk menjauhkan mereka dari terusan Swiss agar tidak bisa melewatinya. Karena kalau tidak dijauhkan dari terusan Swiss, akan memudahkan militer Mesir untuk menyerang Negara Israel dan sampai di gurun Al-Nakkab. 

Zionis berpendapat bahwa gurun Al Nakkab merupakan tempat yang sangat strategis yang wajib dilindungi bagaimanapun resikonya dari sentuhan tangan militer Mesir, karena kalau gurun itu dikuasai dan berada di bawah kekuasaan Zionis, maka mereka bisa memisahkan Negara-negara Arab menjadi dua bagian dan memutus hubungan komunikasi lewat daratan antara Negara-negara Arab itu. 

Zionis menuntut pihak Dewan Keamanan PBB untuk mengembalikan gurun Al Nakkab kepada mereka pada tahun 1947, sehingga ketika mediator internasional "Count Bernadette" mengusulkan dan menganjurkan agar PBB mengembalikan gurun Al Nakkab kepada warga Arab pada tahun 1948, pihak Zionis mengancam akan membunuhnya. 

Rencana kolonial Eropa untuk mengabulkan seluruh permintaan pihak Zionis tidak berhasil melalui serangan yang mereka lancarkan pada tahun 1956. Tetapi karena pihak Arab selalu ragu-ragu dan tidak optimal dalam mempertahankannya, maka kondisi ini menjadi momen yang tepat dan kesempatan emas bagi pihak Zionis untuk memperkuat angkatan bersenjata mereka. Agar efektif dalam melancarkan serangan balik yang mereka laksanakan pada tahun 1967. Akibat serangan itu sendiri wilayah Tepi Barat dan jalur Gaza terlepas dari tangan warga Arab Palestina, padahal hanya kedua wilayah itulah yang berada di bawah kekuasaan warga Arab Palestina setelah perang tahun 1948. 

Bahkan Zionis Israel juga mampu mencaplok gurun Sinai dari tangan Mesir dan daratan tinggi Golan dari tangan Syria, tetapi dengan adanya perjanjian damai dengan Mesir dengan syarat ada jaminan dari pasukan Zionis untuk tidak menyerang daerah gurun Sinai, pihak Zionis akhirnya mau meninggalkan gurun Sinai dan menarik tentaranya dari sana, dengan syarat Negara Zionis itu tetap menjajah dan bertahan di Jalur Gaza , Tepi Barat dan daratan tinggi Lebanon sampai perbatasan territorial bagian selatan Lebanon. 

Perlawanan Rakyat Arab. 

Perjuangan rakyat Arab tidak berhenti dan tak mengenal lelah dalam membela hak-hak mereka di Palestina sejak awal abad ke 19. Hingga pada tahun 1918 terbentuklah "Komite Al-Fidaiyah"(Berani Mati ) sebuah organisasi yang bergerak di bawah tanah dan rahasia yang beranggotakan sejumlah anggota Polisi Palestina. Organisasi ini mempunyai peranan yang sangat dominan dalam menyiapkan revolusi rakyat Arab di Palestina dan dalam menyebarkan informasi yang mempengaruhi opini publik di tengah warga Arab Baduy di bagian timur Negara Yordania tentang bahayanya gerakan Zionisme internasional. 

Tetapi karena para pemimpin organisasi ini banyak yang ditahan dan bahkan dipenjara membuat organisasi tersebut melemah peranannya, walaupun aktifitas penangkapan itu sendiri tidak membuat redup perlawanan dari rakyat Arab Palestina untuk menghantam rencana penjajahan gerakan Zionisme. 

Terbukti dengan munculnya banyak revolusi yang dilakukan oleh rakyat Arab seperti Revolusi Nabi Musa tanggal 4 sampai 10 April 1920; Revolusi Jaffa dari tanggal 1 sampai 5 Mei 1921 dan Revolusi Al Buraq tanggal 15 Agustus 1929. Walaupun semua revolusi itu sangat terbatas sekali efektifitasnya, karena hanya didasarkan ikatan emosional saja tanpa ada koordinasi yang baik dan tidak terorganisir. Yang mengakibatkan terbatasnya efektifitas dan keampuhan berbagai revolusi itu untuk berkembang menjadi sebuah gerakan yang terjaga kontinyuitasnya, apalagi untuk mencapai target-targetnya. Tetapi walaupun demikian minimal revolusi-revolusi itu mempengaruhi opini publik untuk memperlambat terlaksananya sebagian program gerakan Zionisme walaupun dalam waktu yang temporer. 

Di lain pihak para pemimpin dan pejuang Palestina membentuk Komando Mujahidin Palestina sebagai bentuk perlawanan maksimal terhadap musuh Zionis. Yang paling phenomenal dalam hal ini adalah Pasukan Mujahid Izzudin Al Qossam yang terbentuk pada tahun 1935, Syaikh Al Qossam sebagai Komandan Pasukan Mujahid itu datang langsung ke kota Jericho dari Syria setelah gagalnya revolusi Syria melawan Prancis. 

Syaikh Al Qossam melalui aktifitas jihadnya di Palestina sebagai dosen. Kemudian baru bergabung dengan Komite Pemuda Muslimin ( KPM ) pada tahun 1926. Bahkan beliau sendiri merupakan penggagas pendirian KPM cabang Jericho pada Tahun 1928. Dan terpilih menjadi Ketua Cabang KPM Jericho ketika berlangsung pemilihan pengurus cabang KPM Jericho. Kemudian pada tahun 1930 beliau menjadi Anggota Komite Pengurus, dan terpilih kembali manjadi Ketua Cabang pada tahun 1933. 

Syaikh Al Qossam juga sering berkeliling di seluruh kota di Palestina karena ia juga merupakan Anggota keagamaan di Mahkamah Palestina. Sambil berkeliling ia melakukan aktifitas pendidikan militer bagi pemuda secara rahasia dengan anggota pertama sekitar 5 orang. Selain itu ia juga menyebarkan pemahaman anti Zionis Yahudi dan kolonial Inggris, karenanya ia mampu membangun gerakan jihad yang mempunyai dasar pemahaman Islam yang benar dan dengan pemahaman metodha jihad yang komplit, karena ia berpendapat bahwa hanya jihadlah satu-satunya solusi untuk memerdekakan tanah Palestina. 

Syaikh Al Qossam juga mulai mengorganisir dan membina pasukan khusus rahasia yang kemudian hari dikatagorikan sebagai pasukan rahasia terpenting dan menjadi pasukan berani mati yang paling phenomenal yang dikenal dalam sejarah perjuangan Palestina dan Arab umumnya sepanjang era tersebut . 

Pusat benteng pertahanannya terletak di Kota Lama di Jericho. AsySyaikh bergaul langsung dengan petani dan orang-orang miskin di sekitarnya yang mengakibatkan ia mempunyai popularitas dan pengaruh besar bagi seluruh rakyat Palestina. Selain merekrut sekitar 200 sampai 800 anggota pendukung, ia juga ia membentuk lima komite pada tahun 1935 : 

1. Komite Dakwah dan Publikasi. 
2. Komite Latihan Militer. 
3. Komite Logistik. 
4. Komite Pemilihan. 
5. Komite Humas. 

Berbagai konflik yang terjadi sekitar tahun 1935, mamaksanya untuk memulai revolusi pada bulan Nopember 1935. Deklarasi pasukan Al Qossam mempunyai ekses yang besar terhadap eksistensi perjuangan rakyat Palestina dalam melawan gerakan Zionisme, karena gerakan Al Qossam benar-benar serius dalam mencari solusi konflik dalam menggapai seluruh cita-cita bersama rakyat Palestina. 

Generasi awal dari gerakan jihad Izzuddin Al Qossam merupakan contoh pergerakan jihad paling istimewa, baik dari segi kualitas organisasi ataupun pencapaian target-target dan tujuannya, apalagi kalau dilihat dari loyalitas mereka kepada Islam yang tergambar dalam jiwa Syaikh Al Qossam sebagai ulama dan tokoh agama yang datang dari Syria ke Palestina hanya untuk berjihad. Selain itu gerakan jihad bersenjata ini mempunyai tujuan prinsipil yaitu hanya untuk melawan dan menghantam Yahudi dan Inggris. 

Gerakan jihad Izzuddin Al Qossam memberi sumbangsih yang sangat besar dalam menyadarkan umat Islam Palestina bahwa untuk melawan penjajahan Zionis harus menggunakan kekuatan militer dan pasukan bersenjata. 

Pada 12 Nopember 1935 Syaikh Al Qossam bersama 52 orang pengikutnya pergi menuju pinggiran kota Janin dan mengajak para petani Palestina untuk menyerang tentara Inggris di kota Yahbud tetapi mereka terkepung oleh tentara Inggris. Saat itu Syaikh Al Qossam diminta untuk menyerahkan diri, tetapi Syaikh Al Qossam menolak meskipun akhirnya Syaikh Al Qossam mati syahid bersama 2 orang pengikutnya. Selain itu banyak juga mujahid yang ditawan oleh tentara Inggris dalam peperangan antara pasukan Mujahid Al Qossam dan pasukan Inggris yang sengit itu. 

Syahidnya Syaikh Izzuddin Al Qossam membuat seluruh lapisan rakyat Palestina berkabung, sehingga penguburan jenazahnya diselenggarakan dalam bentuk upacara resmi kenegaraan. Tetapi Syahidnya Syaikh Al Qossam tidak membuat surut dan padam kobaran api jihad dalam dada setiap rakyat Palestina, malah sebaliknya Syahidnya Syaikh Al Qossam memberi inspirasi kepada mereka untuk terus melanjutkan gerakan jihadnya. 

Dengan ekses itu pula terjadilah revolusi terbesar rakyat Palestina pada tahun 1936 yang dikatagorikan sebagai revolusi terlama dan terlengkap dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina. Karena selain revolusi, pada tahun itu terjadi pula demonstrasi dan bentrokan dengan Zionis di seluruh pelosok kota-kota besar dan perkampungan Palestina tanpa terkecuali. Lebih dari itu revolusi itu memadukan antara kekuatan garakan sosial dan kekuatan persenjataan gerakan jihad yang ada. 

Para pengamat sejarah mengungkapkan beberapa unsur penting dalam lahirnya revolusi itu, diantaranya : 
Melonjaknya jumlah pengangguran. 
Kegiatan exodus dan imigrasi warga Yahudi internasional yang samakin intensif, yang mendapat dukungan maksimal kolonial Inggris dalam merealisasikan program itu. 
Perampasan tanah milik rakyat Palestina oleh warga Yahudi, atas perintah dan tekanan dari pihak kolonial Inggris. 
Krisis ekonomi berkepanjangan pada tahun 1935. 
Situasi politik di Mesir dan Syria dalam melawan kolonial Prancis dan Inggris. 
Serangan militer Italia ke Ethiopia, yang mendapat reaksi keras dari penduduk sekitar dan mengakibatkan tumbuhnya harapan rakyat setempat untuk mengadakan perang perlawanan sebagai bentuk reformasi system perpolitikan di wilayah itu. 
Situasi keamanan dan politik antara warga Arab dan Yahudi yang semakin memanas. 

Kejadiannya sendiri mulai pada tanggal 15 April 1936, ketika Komite Al Fidaiyah membunuh warga sipil Yahudi dan melukai dua orang lainnya di wilayah Nablus dan Tulkarm. Pada malam berikutnya orang-orang Yahudi membantai dua warga sipil Arab di bagian utara jalan raya di perkampungan Ulaibi. Sehingga ketika penguburan jenazah dua warga Yahudi yang tebunuh, terjadi bentrokan fisik antara warga Yahudi dan warga Arab. Konfrontasi serupa terjadi di daerah perbatassan kota Jaffa dan Tel Aviv. 

Akibatnya Otoritas Inggris langsung mengumumkan jam malam bagi warga sipil di kota Jaffa dan Tel Aviv. Bahkan selanjutnya pihak otoritas Inggris memberlakukan keadaan Darurat Sipil di seluruh kawasan Palestina, kemudian pada tanggal 20 April 1936 terbentuklah Komite Arab di kota Nablus, yang mendeklarasikan Perlawanan Rakyat Arab. 

Setelah kekuatan militer Inggris mendapat tambahan kekuatan sampai hampir mencapai 20.000 personil, terjadilah peperangan yang dahsyat antara Pasukan Revolusioner Rakyat Arab dan pasukan militer Inggris yang bergabung dengan militer Zionis pada bulan Oktober tahun 1935. 

Melihat kondisi itu Delegasi Palestina berkunjung ke Amman, Riyadh dan Baghdad, tetapi akibat dari tekanan kolonial Inggris maka para pemimpin Arab mengeluarkan "Seruan Bersama" pada tanggal 10 Oktober 1935, yang menyerukan kepada seluruh rakyat Arab untuk: "menghentikan Revolusi dan menyerahkan proses politik diselesaikan lewat loby-loby dan "niat baik" pihak kolonial Inggris yang agung, yang berjanji akan melaksanakan keadilan dan menghilangkan tindakan diskrimatif atas seluruh warga Palestina". 

Karena adanya seruan Seruan bersama para pemimpin Arab itu akhirnya Dewan Tinggi Komite Perlawanan Rakyat Arab memutuskan untuk menghentikan perlawanan mereka lewat revolusi dan membubarkan komite itu sekaligus menyuruh seluruh revolusioner Arab untuk kembali ke Negara mereka masing-masing. 

Korban dalam revolusi kali ini sebanyak 16 anggota Polisi dan 22 anggota pasukan militer Inggris meninggal dan melukai sekitar 104 anggota polisi dan 148 anggota pasukan militer Inggris dan sekitar 80 warga sipil Zionis meniggal dan melukai sekitar 308 warga sipil Zionis. Adapun dari pihak revolusioner rakyat Arab sekitar 145 orang mati syahid dan yang terluka sekitar 804. 

Kolonial Inggris mengutus Tim Komite Kerajaan ke Palestina untuk mendiskusikan fakta dan kondisi itu tetapi rakyat Palestina menolak untuk bertemu dengan Tim itu, walapun mereka akhirnya bersedia menerima Tim itu karena mendapat tekanan dari para Pemimpin Arab lainnya. Sesungguhnya gerakan revolusi tidak pernah berhenti terbukti setelah beberapa hari kemudian terjadi lagi revolusi setelah terbunuhnya seorang pejabat di Kota Al Jaleel "Andrews". Selain akibat pembunuhan itu, revolusi bersenjata terulang lagi di seluruh wilayah Palestina karena pihak Inggris ingin meninjau kembali kesepakatan yang pernah disepakati dengan para pemimpin Arab di Palestina. Bahkan Inggris juga ingin merubah kesepakatan beberapa butir pasal kesepakatan diantaranya tentang pembagian tanah Palestina antara warga Arab dan warga Zionis. 

Pukulan telak dan menyakitkan dalam sejarah jihad perlawanan dan perjuangan rakyat Palestina adalah kekalahan pasukan tentara mereka dalam perang melawan pasukan militer gabungan Inggris dan Zionis pada tahun 1948. Kekalahan ini mempunyai preseden buruk bagi keberlanjutan kerangka jihad dan perjuangan rakyat Palestina yang mengakibatkan melemahnya semangat perjuangan revolusi mereka dan membuat mereka memutuskan untuk merubah bentuk perlawanan ke dalam system dan organisasi formal yang ditangani langsung oleh official internal Palestina. 

Eksistensi komite Al Fidaiyah dalam melakukan konfrontasi sosial terus berlanjut, bahkan mereka merubah pandangan itu dan kembali melihat bahwa perlawanan rakyat Palestina masih mempunyai peranan penting dalam menghadapi gerakan Zionisme di Israel bahkan sebagian organisasi lainnya ingin mengadopsi system perlawanan mereka yang mampu menghalangi berdirinya Negara Zionis bahkan terkadang menghancurkan program dan rencana Zionis. 

Tetapi kesalahan fatal yang dilakukan oleh beberapa pemimpin organisasi masyarakat mengakibatkan melemahnya peranan perjuangan rakyat Palestina dan menjadikan peranan aktif perjuangan mereka diambil alih oleh Organisasi Pembebasan Palestina ( PLO ) yang seolah-olah menjadi sentral payung dalam perlawanan rakyat Palestina. Kondisi ini sungguh sangat memperlemah dan mempersempit pergerakan jihad dan perlawanan rakyat Palestina, karena di dalam Organisasi itu ( PLO ) terjadi bentrokan berbagai kepentingan pemimpin politik dari kelompok-kelompok yang berbeda-beda aliran dan kebijakan politiknya dari organisasi-organisasi Arab dan kekuatan regional ataupun internasional. 

Tetapi karakteristik prinsipil gerakan Zionisme dan proyek multidimensi mereka menjadi motivasi dasar bagi seluruh rakyat Palestina untuk tetap berpartisipasi dalam perjuangan melawan kebrutalan Zionis sambil terus berusaha menemukan solusi dan system tepat dan aktual untuk menghadapi gerakan Zionis itu. 

Revolusi sosial yang dilakukan oleh rakyat Palestina yang melahirkan gerakan "Intifadhah yang berkah" pada tahun 1987 dan munculnya "Gerakan perlawanan Islam ( HAMAS)" yang lahir di tengah-tengah rakyat Palestina dari luar "rahim" para penguasa PLO, sebagai bukti bahwa api perjuangan dan jihad tak pernah padam dari dada rakyat Palestina. Bahkan selanjutnya kedua gerakan itu bisa dikategorikan sebagai lokomotif pertama dalam menghancurkan proyek dan rencana Zionis dan bahkan menjadi momok utama yang mengancam eksistensi Gerakan Zionisme di Israel. 

Gerakan Intifadhah dan HAMAS merupakan dua benteng pertahanan rakyat Palestina yang tidak pernah pudar dalam menghadapi gerakan Zionisme, walaupun berbagai organisasi sosial perlawanan lainnya telah bubar, kalah dan redup. Dan ingatlah bahwa rakyat Palestina tak pernah mati berapapun luka yang terdapat dalam tubuh mereka, mereka tetap mampu untuk bangun dan bangkit lagi dalam meraih kemenangan yang sudah dijanjikan

Comments

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia