Banjir!

Akhir-akhir ini berita banjir Jakarta sedang membanjiri halaman depan berbagai berita, baik berita koran, maupun berita televisi. Kalo kita membicarakan kota Jakarta, hal pertama yang muncul di benak kita adalah MACET, kemudian diikuti masalah BANJIR, iya banjir. Dan, untuk tulisan ini yang akan saya bahas adalah masalah Banjir.
          Bagi kota Jakarta, banjir adalah masalah klasik. Masalah klasik dari tahun ke tahun yang tak kunjung terselesaikan justru semakin parah. Berganti-ganti gubernur yang memimpin Jakarta, dan berganti-ganti pula kebijakan yang dikeluarkan untuk menangani masalah banjir. Namun hasilnya, masih belum memuaskan. Selalu saja, setiap datang hujan deras ah jangankan hujan deras, hujan gerimis saja bisa membuat Jakarta menjadi banjir. Sebegitu rumitkah masalah banjir, sampai-sampai tak kunjung bisa terselesaikan?
          Baiklah, untuk pertama-tama kita liat masalah banjir dari sisi ilmu alam. Banjir umumnya terjadi karena ketidakmampuan sungai dalam menampung debit air yang mengaliri sungai, dan akibatnya sungai meluap dan menyebabkan banjir. Selain itu ada pula istilah “Banjir Kiriman”, Banjir kiriman merupakan banjir yang terjadi akibat hujan deras yang terjadi di daerah hulu sungai yang kemudian menciptakan debit air yang berlebih, dan debit air berlebih itu kemudian mengalir melalui sungai menuju ke muara sungai, maka banjir melanda daerah muara, dan Jakarta merupakan kota besar yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta sudah tidak lagi berfungsi maksimal dalam menampung air. Selain karena pendangkalan dan rumah-rumah penduduk yang menyemut di sepanjang pinggirannya, juga karena sungai-sungai ini penuh dengan sampah.
          Untuk mencegah terjadinya banjir yang sering kali melanda Jakarta alangkah baiknya Pemerintah Jakarta melakukan cara-cara menangguangi banjir berikut, antara lain:
1.             Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat Jakarta untuk tidak membuang sampah ke sungai, Upaya yang sulit dilakukan, karena membuang sampah ke sungai sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian warga Jakarta. Padahal seharusnya mereka tahu, bahwa membuang sampah ke sungai itu bisa menghambat aliran sungai dan menyebabkan banjir. Solusi pemerintah, adalah menyediakan tempat sampah khusus bagi warga di sekitar aliran sungai, hal ini dilakukan untuk melatih kebiasaan warga di sekitar aliran sungai untuk membuang sampah pada tempatnya, dan bukan membuang sampah di sungai.
2.             Melakukan pengerukan sungai-sungai yang ada di Jakarta, khususnya sungai ciliwung yang sudah mengalami pendangkalan. Hal ini penting dilakukan agar debit air yang mengalir di sungai ciliwung menjadi lancar. Selain itu, pengerukan dilakukan untuk membuang sampah yang ada di dalam sungai.
3.             Membuat saluran-saluran air. Saluran-saluran air yang dibuat untuk membantu tugas sungai-sungai yang ada di Jakarta. Ketika sungai di Jakarta tak lagi mampu menampung jumlah debit air maka air bisa disalurkan ke saluran-saluran air yang nantinya akan dialirkan ke sungai. Solusi pemerintah, membangun saluran banjir kanal.
4.             Merehabilitasi daerah-daerah resapan air. Daerah-daerah resapan air yang ada di Jakarta saat ini sudah sangat minim. Minimnya daerah resapan air di Jakarta karena banyak di antara beralih fungsi menjadi daerah perkantoran dan pertokoan. Akibatnya ketika hujan turun di Daerah Jakarta maka akan dengan mudah terjadi genangan-genangan yang kemudian menjadi banjir. Genangan-genangan ini terjadi karena tak adanya daerah-daerah resapan air. Solusi Pemerintah, Adalah dengan membuat sumur-sumur resapan. Sumur resapan adalah sarana untuk penampungan air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Sumur serapan berfungsi untuk membantu penyerapan air hujan ke dalam tanah dan kembali ke siklus air yang semestinya sehingga tidak menggenang di permukaan dan menyebabkan banjir. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah.
5.             Bekerja sama dengan daerah daerah di sekitar Jakarta, khususnya di wilayah hulu sungai Ciliwung. Kerja sama dapat dilakukan dengan cara mereboisasi hutan-hutan disekitar daerah puncak yang menjadi hulu sungai ciliwung. Banjir sering terjadi karena daerah-daerah resapan air di puncak telah beralih fungsi menjadi vila-vila mewah.
6.             Melestarikan Hutan, Kegiatan pembalakan di mana perjalanan di daerah pinggir sungai digemari menyebabkan tanah terhakis dan runtuh ke sungai. Keadaan yang sama juga terjadi bila aktivitas pembalakan yang giat dilakukan di lereng-lereng bukit. Karena itu pemeliharaan hutan merupakan cara yang baik untuk mengatasi masalah banjir, karena hutan dapat dijadikan kawasan tadahan yang mampu menyerap air hujan dari mengalir terus ke bumi. Dengan melakukan reboisasi. Hutan memiliki fungsi untuk menyerap air hujan dan mengalir dengan perlahan-lahan ke anak-anak sungai. Ia juga bertindak sebagai filter dalam menentukan kebersihan dan kejernihan air.
7.             Membuat Lubang Biopori sebanyak mungkin, Lubang biopori bisa dilakukan oleh setiap warga Jakarta. Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria. Cara membuatnya cukup mudah, kita cukup membuat lubang di tanah dengan menggunakan bor tanah. Diameternya cukup 10 cm dengan panjang kira-kira sebesar 100 cm. Semakin banyak lubang biopori di halaman rumah, kita semakin aman dari bahaya banjir.


Sekiranya tulisan saya hari ini, semoga bermanfaat. Selamat Malam.

Comments

  1. nah, alam memang sulit ditaklukkan dengan teknologi rekayasa, namun yang tersulit ditaklukan sebenarnya adalah kebiasaan manusia agar tergugah memperbaiki perilakunya. untuk setidaknya tidak merusak lingkungan sehingga bisa mengurangi dampak banjir.

    salam
    http://jarwadi.me

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, bener... tapi jauh lebih sulit merubah disiplin warga jakarta utk tidak membuang sampah di sungai dibanding merekayasa cuaca...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia