Celotehan Kemarin Malam

Menjadi pintar tak hanya pintar bicara dan berteori, buat apa mengaku pintar kalo karya tak pasti ?

Lebih baik mengaku tak pintar, tak pintar dalam teori tapi dunia mengakui dan mengapresiasi karya yang telah dibuatnya.

Membicarakan kepintaraan seseorang memang tak akan ada habisnya. Mereka dengan bangga membicarakan kepintaran dengan menjatuhkan orang lain.

Mencari di atas rerumputan ibarat mengayuh dalam riak. Tak berbekas tanpa arah. Hanya tersisa cuma jejak, jejak yang terpetak. Masa Lalu.

Ah aku memang tak pintar dalam merangkai cinta. Jangankan merangkai cinta, merangkai kata pun terkadang aku masih terbata-bata.

Memang benar, terkadang malam adalah pelampiasan yang tepat untuk menghapus kekecewaan akan pagi. Pagi yang terlalu cepat pergi.

Mana yang benar, dan mana yang salah. Itu bukan jadi masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kamu tak bisa membedakan bedanya.

Malam dan pagi, tak akan pernah menyatu. Bagaikan rindu di atas jerami, jerami yang terkobar bara api.

Lilin membantuku terang di kala gelap. Dan kamu membantuku bangkit disaat terlelap, terlelap dalam ketidakpastian. Ketidakpastian hidup.

Mentari mana yang tak akan cemburu melihatmu tersenyum sendu di kala senja. Menari menyambut senja, dan pergi menyambut malam.

Ada kalanya berbicara panjang lebar pun tak akan mampu mengalahkannya, mengalahkan rasa yang ada di dalam dada. Rasa sembilu akan rindu.

Esok mana yang tak cemburu, melihatmu hari ini menderu. Menderu dalam balutan tangisanmu, tangisan akan rasa bahagia pernikahanmu.

Jangan salahkan malam jika membuatmu terluka, dan jangan salahkan pagi jika membuatmu merana. Tapi, salahkan dirimu yg mengijinkanmu terluka

Membahas gelap bagaikan membahas air dalam tetesan dalam gua. Tak ada akhir, namun memiliki kesan dalam. Sedalam lubang batu karena air gua.

Memaki dan dimaki, itu adalah hal biasa dalam hidup. Tinggal bagaimana kamu memosisikan dirimu di antara keduanya. Mau memaki atau dimaki?

Berjanji itu bagaikan malam panjang di atas kereta. Kereta yang membawa berlalu. Berlalu mengejar pagi yang telah meninggalkanmu.

Kota mana yang tak mati melihatmu terisak dalam pilu. Jangankan kota, para malaikat pun seakan tak rela melihat menetesnya air matamu.

Melempar angan menangkap sepi, bagaikan umpama sebuah pedati yang mengharapkan jadi tunggangan pak menteri.

Melempar sepi menangkap hati, bagaikan seorang pelari yang mengharapkan sebuah medali. Medali hati, hati yang dikejar sepi.

Mendengar celoteh rembulan bagaikan mendengar celoteh kehidupan. Kehidupan yang berharap keindahan dibalik kejamnya Kenyataan.

Aku bukan ahli merangkai kata, tapi seorang pengukir kata. Pengukir kata dalam tiap kesempatan, dan bercita-cita untuk berguna.

Berkelakar dalam melodi, mencari sesuatu yang pasti. Mencari kenari dalam kantong Ponari. Tak ada yang dicari, tak ada yang menemui.

Berjuang keras dalam kesunyian, dan biarkan kesuksesan kita menggema keseluruh dunia. Selamat malam anak muda. :)

Comments

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia