Antara Aku, Kamu, dan Tempat itu

Indah, itulah namamu. Begitu indah untuk disebut dalam tiap bait doa.
Doa yang selalu dilantunkan dalam setiap kata.
Setiap kata yang terbalut akan puja dan rasa harap.
Harap akan cinta dan sejuta rasa.

Indah, begitulah suara candamu. Tawa canda bagaikan sebuah melodi.
Melodi, bagiku kamu adalah melodi. Melodi syahdu yang mengalun dalam setiap rindu.
Rindu akan kamu, rindu akan tatapan matamu, rindu akan senyummu yang malu-malu.
Malu, hanya itu yang ada di hatiku ketika melihatmu tersenyum padaku. Ah saya malu.

Dulu, tapi itu dulu. Sekarang kamu sudah beda.
Beda rasa dan beda raga, itulah kamu.
Kamu yang dulu hanya biasa ku lihat di pelataran sekolahmu.
Pelataran sekolah jadi saksi dimana kamu dan aku berpisah.
Berpisah bukan karena aku, tapi karena mereka.
Mereka yang berlagak layaknya jagoan telah merenggutmu pergi.
Pergi jauh, sejauh apapun itu tak akan pernah bisa aku raih.
Meraihmu laksana meraih buih dalam telaga, dan itu susah.
Begitu susah karena sekarang kamu sudah terkubur di dalam tanah.

-______________________________________________________-

Comments

  1. uhuhuhuhuhuuuuuuuu.........................................................!!!!!

    ReplyDelete
  2. Beda rasa dan beda raga, udah kayak nyobain makanan aja

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia