Apa Gunanya?

Apa gunanya menabung mendung, jika hujan pun tetap datang tatkala langit tak lagi mendung. Semua tak bisa diprediksi, seperti alam semesta yang penuh misteri. Namun dibanding alam semesta, misteri akan senyumanmu jauh lebih sulit untuk aku pahami. Entah itu senyum bahagia, senyum luka, atau senyuman terpaksa, aku tidak tahu. Satu hal yang aku tahu adalah senyuman itu bukan untuk aku.

Apa gunanya menabung harapan, jika harapan itu sendiri datang hanya untuk menikam lebih dalam. Lebih dalam dari sebelumnya, dan meninggalkannya dengan penuh luka. Luka lebar menganga merobek tiap senti kepercayaan yang ada. Mendadak musnah tak berbekas, layaknya semilir angin malam yang datang hanya membawa kesegaran semu. Kesegaran semu yang justru membuatnya semakin parah. Semakin parah dalam berharap, berharap sesuatu yang tak pasti.

Apanya gunanya memiliki mimpi, jika ternyata itu semua hanya mimpi kosong. Mimpi kosong yang tak kunjung datang, layaknya anak pedalaman yang menginginkan pendidikan yang layak untuk mereka. Buat apa memiliki mimpi, jika itu semua hanya membuatnya takut, Takut untuk bermimpi. Mimpi hanya membuat mereka takut, takut akan kenyataan yang ternyata jauh dari angan, khayalan, dan mimpi mereka. Tak ada ketakutan yang lebih menakutkan dari sebuah ketakutan akan mempunyai mimpi. Takut akan sebuah mimpi sama saja merubah diri menjadi zombie.  

Apa gunanya mengeluh, jika pada nantinya hanya untuk menjadi enggan. Enggan dan tak rela tatkala hidup ingin menarik diri dari raga mereka. Manusia yang memanusiakan, atau memanusiakan manusia itu terkesan sama namun dalam prakteknya sangat berbeda. Karena banyak di antara mereka justru dengan tega "memakan" sesamanya, memakan sesama manusia layaknya serigala. Benar kata Plautus, Homo Homini Lupus. Manusia yang satu menjadi serigala bagi yang lain.

Apa gunanya menjadi berguna, jika pada akhirnya hanya untuk dikorbankan layak gulma sang pengganggu. Berguna tak selamanya benar, justru kadang menjadi tak berguna akan membuat kita tahu, tahu akan tujuan kita sebenarnya. Apakah menjadi berguna atau menjadi tidak berguna. Bukankah barang tidak berguna pun bisa didaur ulang kembali? Begitu pula pikiran yang tak berguna bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang baru, Namun bagaimana caranya? Itulah masalahnya!

Apa gunanya hidup, jika untuk bersyukur saja enggan. Apa gunanya hidup, jika cuma untuk menikmati hidup seorang diri. Apa gunanya hidup, jika untuk sekadar bahagia pun dihalang-halangi. Apa gunanya hidup, jika pada akhirnya hanya jadi gurauan roda jaman. Apa gunanya hidup, jika hanya untuk saling berlomba, berlomba saling memangsa. Apa gunanya hidup, jika simpati dan empati pun sudah tak ada gunanya? Apa gunanya hidup, jika setiap detik hanya berisi ratapan dan keluhan. Apa gunanya ..... ah sudahlah tangan ini tak kuasa lagi untuk melanjutkannya.

Bukan bermaksud untuk tidak mensyukuri, tapi ini semua hanyalah ulah campur tangan dan alam pikiran yang lagi tak berbentuk. Terdengar seperti alibi, namun memang begitulah adanya. Di luar alam sadar semua terjadi begitu saja. Layaknya mengigau, semua terjadi di luar nalar. Pada awalnya memang terkesan enggan, namun apa daya alam semesta memaksaku. Dibandingkan dengan kuasa alam semesta, aku mah apa atuh. Apa gunanya menolak alam semesta jika pada akhirnya tetap menulis juga. Anggap saja ini hasil mengigau semalam. Ah sudahlah. Selamat Malam.

Ini sebenarnya hasil tulisan tadi malam, berhubung lagi jadi korban sabotase, maka tak dapat jatah sinyal koneksi internet.

Purwokerto, Satu Minggu sebelum Hari Ulang Tahun.

Comments

  1. Apa gunanya menanti jika hakikatnya kau pun tahu dia tak kan datang menghampiri :3

    ReplyDelete
  2. Paragraf satu dan dua aku lagi ngerasain itu...
    Cocok bnget... Jadi sedih... Hhe

    ReplyDelete
  3. apa gunanya mensyukuri hal yang tak ingin disyukuri..
    wahahah, anak politik kalau mengigau ditengah malam jadi berat2 bahasanya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah berat berat pun tak sebanding berat beban tanggung jawab yang mesti aku pikul -__-

      Delete
  4. Apa gunanya hidup jika sudah terlalu lama sendiri . .
    Baca post lo bikin gue pengen menyesali hidup nihhh . . :'(

    ReplyDelete
  5. *ngangguk-ngangguk aja deh*

    Bang, kamu kalo ngigo kok panjang amat kalimatnya? padahal aku kalo ngigo, gak tau apa yang dingigoin.

    ReplyDelete
  6. "Apa gunanya hidup, jika untuk bersyukur saja enggan."
    Wah speechless deh bacanya :)

    ReplyDelete
  7. apa gunanya ngeblog, kalo belum ke https://aksarasenandika.wordpress.com/

    ReplyDelete
  8. Gue suka tulisan lo (bukan orangnya) hahaha

    Anak majelis, nih, kayaknya...

    ReplyDelete
  9. Weeew masih banyak hikmah kok mas jd apa apa di dunia ini apalagi hdup, pasti ada gunanya. wc aja ada gunanya haahahaa

    ReplyDelete
  10. Ngigonya keren.. Bisa jadi postingan blog kayak gini.. Sarat makna lagi :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia