Hujan Kata

Hujan datang menerjang senja yang kesepian, di baliknya muncul semburat senyum malam yang temaram. Semesta datang membawa berita, berita suram di balik kenangan masa lalu yang mencoba untuk mengulang. Mengulang-ulang layaknya komedi putar yang hanya berjalan di tempat namun rasanya kayak memutar jauh menerjang cakrawala, mendaki gunung melewati lembah... *oke kalo yang terakhir itu lirik ninja hatori*

Hujan deras tangan makin meremas. Meremas setiap helai rasa yang mulai menjadi kebas. Kebas tanpa rasa, hanya sesal yang terasa. Terasa begitu perih layaknya perut yang mulai menagih untuk diisi. Aku lapar, namun hatiku jauh lebih lapar. Rasanya kelaparan akan makanan jauh lebih menyenangkan dibanding kelaparan akan kurangnya kasih sayang. Kasih sayang orang tua yang mengurang akibat kejamnya dunia kerja yang saling menantang. Saling menantang hukum alam, layaknya hukum rimba yang saling mencincang. Tak ada yang tersisa, hanya gurat kesal dan marah tatkala jam pulang mulai berdentang. Memanggil pulang namun jiwanya terkekang. Terkekang dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan. Mengorbankan aku, anak yang (katanya) paling disayang.


Hujan makin deras, deras dan lepas. Lepas satu persatu layaknya helai baju yang terkibas akan belaian nafsu yang memeras. Memeras setiap tetes jiwa hampir nyaris tanpa sisa. Pada akhirnya hanya sesal yang tersisa. Tersisa tanpa guna layaknya sebuah busa yang terperas dengan keras. Makin malam makin sesat, semakin sesat maka semakin tersesat. Tak tahu arah jalan pulang.

Hujan semakin menjadi-jadi, namun sesak semakin bertubi-tubi. Bertubi-tubi menerjang setiap sisi logika dan rasa menjadikannya kebas layaknya tersuntik zat anestesi. Malam makin memuram, cahaya makin temaram. Membuatnya lupa mana jalan yang benar. Membuatnya mengira-mengira namun pada akhirnya kembali pada bagian akhir yang sama. Sama rata, sama rasa, namun tetap sendirian juga. Tak bisa pulang, hanya bisa mengulang. Mengulang-ulang setiap kenangan lama yang telah usang. Tanpa daya, tanpa kuasa, hanya doa yang jadi pelipur lara. Ah menjadi sesat memang memusingkan.

Comments

  1. Kok aku malah salah fokus ke lagu ninja hatori ya .____.

    ReplyDelete
  2. semoga kita selalu di atas jalan kebenaran

    ReplyDelete
  3. wah keren ams masuk ke relung kalbu mantap mas....

    ReplyDelete
  4. Sesat dan entah kemana arahannya ya, semoga masa itu cepat berlalu, semangat mas, :)

    ReplyDelete
  5. Menjadi benar pun kadang memusingkan

    ReplyDelete
  6. haduh ini kata-katanya mantap banget,jadi baper gini bacanya :)

    ReplyDelete
  7. Memang seperti itulah hujan, selalu menginspirasi bagi yang suka kepadanya. Yang tidak suka, meneduhlah.

    ReplyDelete
  8. jika sesat itu punya arti, maka sesatlah. #alamak heuheuheu

    ReplyDelete
  9. aku malah bingung tujuannya.. ;p

    ReplyDelete
  10. rip rip
    https://aksarasenandika.wordpress.com/2015/03/16/mencoba-move-on-dari-jenderal-soedirman/

    ReplyDelete
  11. ini biar aku cepet nangkep isinya, mesti baca buku apa, bang?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia