Posts

Showing posts from September, 2015

Sastra Ananta

Seorang anak muda tak sengaja terjebak dalam guyuran hujan sore hari. Hujan sore hari yang mendadak datang mengguyur segala badan, tanpa sempat berkelit, dan basah seketika. Hanya bisa mengumpat, “Persetan keparat!” begitu teriaknya. Sumpah serapah begitu saja tercelat keluar dari mulutnya. Tak peduli pada langit, tak peduli pada bumi, baginya hari ini adalah hari yang berat. Setelah tercelat dari pekerjaannya, terpegat dari kekasihnya, dan kini digapyak dengan hujan deras yang menambah derita. Ah konspirasi semesta, begitulah dalihnya. Ah persetan tak peduli, kapan lagi menikmati hujan dua ruangan. Ruang hati dan ruang semesta. Baginya itu terasa seperti menebar mimpi di antara tidurnya. Gratis tak perlu malu pada gadis manis yang pernah jadi kenangan termanis. Menangis dalam gerimis, ah nikmatnya.

Belum Waktunya Pulang

Image
Tak terasa sudah hampir 20 tahun lebih hidupku berjalan. Tanpa terasa waktu telah begitu cepat berkilat. Meninggalkan sisa kilatan masa kecil yang terasa masih hangat, melekat kuat dalam setiap jengkal pikiran. Memenuhi ruang kosong yang mereka sebut hati. Masih terasa kosong, tapi biarlah begitu. Karena kosong adalah isi, isi adalah kosong, ah begitulah petuah Jenderal Tian Feng dahulu kala. Masih aku ingat dengan lekat. Ah begitulah aku, mudah sekali tercekat dalam sekat penat. Sekat yang begitu saling merekat.

Waktu terus berjalan dan aku terus mencari. Mencari sesuatu yang tak bisa aku ganti. Mengganti dengan istilah manusia yang mudah untuk mereka mengerti. Aku tak mengerti, dan terkadang aku tak peduli untuk memberinya makna akan sebuah arti pada mereka. Karena aku tahu bagaimana rasanya memberi arti spesial pada seseorang, namun nyatanya spesialku itu tak ada artinya, hanya sepasang karet gelang sebagai pertandanya. Bagaikan nasi goreng spesial yang perlahan menjadi basi, menj…