Belum Waktunya Pulang

Tak terasa sudah hampir 20 tahun lebih hidupku berjalan. Tanpa terasa waktu telah begitu cepat berkilat. Meninggalkan sisa kilatan masa kecil yang terasa masih hangat, melekat kuat dalam setiap jengkal pikiran. Memenuhi ruang kosong yang mereka sebut hati. Masih terasa kosong, tapi biarlah begitu. Karena kosong adalah isi, isi adalah kosong, ah begitulah petuah Jenderal Tian Feng dahulu kala. Masih aku ingat dengan lekat. Ah begitulah aku, mudah sekali tercekat dalam sekat penat. Sekat yang begitu saling merekat.

https://rewinnita.files.wordpress.com/2012/10/tumblr_mboug8ln841qaobbko1_500.jpg

Waktu terus berjalan dan aku terus mencari. Mencari sesuatu yang tak bisa aku ganti. Mengganti dengan istilah manusia yang mudah untuk mereka mengerti. Aku tak mengerti, dan terkadang aku tak peduli untuk memberinya makna akan sebuah arti pada mereka. Karena aku tahu bagaimana rasanya memberi arti spesial pada seseorang, namun nyatanya spesialku itu tak ada artinya, hanya sepasang karet gelang sebagai pertandanya. Bagaikan nasi goreng spesial yang perlahan menjadi basi, menjadi tak layak untuk dikonsumsi. Menjadikannya sosok yang berbeda dalam sisi yang lain. Sisi lain yang tak bisa aku mengerti.

Segala pelarian sudah pernah aku rasakan. Dinginnya rasa sepi, gelapnya lorong waktu, sampai perihnya jalan bergerigi pun sudah dilalui. Layaknya anjing buta yang berlari tanpa kendali, mencari sosok tulang kesayangan yang entah tertinggal dimana. Layaknya pengungsi yang berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Hanya berlari, berlari, dan terus berlari. Berlari dari bayangan, lari mencari tempat aman menunggu panggilan pulang. Mencari tempat aman yang aku sebut sebagai rumah cadangan. Rumah cadangan penghapus seribu kenangan.

Sekiranya aku sudah disana. Melakukan ini, melakukan itu, tanpa melihat kembali apa yang sudah berlalu. Layaknya sosok petani yang terus menabur benih tanpa pernah melihat kembali benih mana saja yang sudah ditaburnya. Aku sudah disana, di pojokan rumah dengan gagang telepon warisan orang tua angkatnya. Menunggu dering telpon, menunggu kabar gembira, menunggu harapan. Harapan akan pulang ke kampung halaman. Menunggu pulang.

https://muhamadromdoni.files.wordpress.com/2012/06/manusia-dan-harapan.jpg?w=323&h=258

Harapan pulang itu ada, namun dengan siapa? Pertanyaan itu selalu saja ada dan terus ada. Harapan pulang itu seperti peluang sekaligus lubang jebakan, lubang jebakan yang siap menelan siapa saja. Aku tak mau jika harus kembali ke lubang jebakan itu, aku tak mau. Hanya ada satu tempat yang seharusnya segera memanggil pulang. Tempat bebas tanpa halangan, dan tanpa terjebak peperangan. Itulah dia, Surga Khayangan. Namun apa daya menunggu panggilan pulang itu layaknya menunggu panggilan wawancara kerja untuk kantor cabang. Lama tak kunjung datang.

Ah sudahlah, mungkin belum waktunya untuk pulang.

Comments

  1. Emang menunggu panggilan pulang sama ajaa kaya menunggu panggilan kerjaa ? Apaa menunggu panggilaan hati wkwkwk
    Bagus bangeeet tulisannya
    Subhanallah

    ReplyDelete
  2. gak usah cepet2 pulang. Mampir dulu sini ngopi2 :D wkwkwkw

    ReplyDelete
  3. Hay Tukang sastra, tulisanmu bagus. Hehe

    ReplyDelete
  4. Hay Tukang sastra, tulisanmu bagus. Hehe

    ReplyDelete
  5. Jadi gimana enaknya? sebelum pulang jalan2 buat ngopi dulu sambil belanja boleh ngga? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya sih enaknya ngopi dulu sebelum pulang

      Delete
  6. semoga waktu pulang itu belum terlewat :)

    ReplyDelete
  7. nanti ada saatnya waktunya pulang, teruslah berkarya dulu sebelum wakunya pulang nanti :)

    ReplyDelete
  8. Sambil nunggu pulang, mending kita main catur dulu :-D

    ReplyDelete
  9. Tian Feng? Cu Pat Kai. :))

    Anjir, ujung-ujungnya bawa-bawa kerjaan gitu. Berasa banget buat gue. XD

    ReplyDelete
  10. Sm daku jg blm waktunya plg, blm siap tepatnya

    ReplyDelete
  11. gapapa kalau belum waktunya pulang tunggu aaja sampai waktunya datang :D .. keren diksi nya euy

    ReplyDelete
  12. harapan pulang memang selalu ada. tapi apa gunanya, pulang tanpa membawa pendamping hidup

    ReplyDelete
  13. ntar waktunya pulang pas mudik lebaran aja :D

    ReplyDelete
  14. paragraf terakhirnya itu ngena banget!
    gue bacanya gak bisa berenti.

    pulanglah disaat hatimu sudah pulang

    ReplyDelete
  15. jangan cepet-cepet pulang mas, kita sama kok tapi mungkin beda cerita nya. mampir dulu kita ngopi terus ngepel sama-sama ;d

    ReplyDelete
  16. Belum Bel pulang :D jangan buru buru tar gak di absen :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia