Perihal Kerja, Cinta, dan Bahagia

Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, termasuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Sebagian besar dari kita mungkin sudah ada yang bekerja, dan ada pula yang belum bekerja. Bekerja dan mendapat pekerjaan menurutku adalah soal waktu dan keberuntungan. Ada kalanya kita bekerja namun di waktu yang salah. Contohnya seperti anak kecil yang terpaksa bekerja dengan menjual koran sehabis waktu sekolah demi membantu ekonomi keluarganya. Namun ada pula yang belum bekerja di waktu yang tepat. Contohnya seperti saya, tak usah dijelaskan, namun intinya saya masih belum bekerja sampai saat ini. Well, maksud saya sesuai definisi bekerja menurut orang kebanyakan. Dan tiap orang definisinya tentu saja selalu berbeda antara satu dan yang lainnya.

http://majalahdia.net/sudut-pandang/bekerja-sebagai-sebuah-persembahan/

Sebagian besar bertanya apa itu bekerja yang sebenarnya? Jika mengacu pada bekerja adalah bekerja, maka bekerja pun bisa dilakukan dimana saja tanpa perlu diatur dengan kontrak kerja. Seperti kata Buya Hamka, Kalau hanya sebatas kerja, kera pun bekerja. Dan jika sebatas hidup, kambing pun hidup. Jadi bekerja yang benar benar bekerja itu bagaimana? 


Perihal definisi yang benar benar tepat, saya pun tidak tahu. Tapi menurut saya bekerja yang benar benar bekerja adalah bekerja yang berdasarkan panggilan hati, bukan karena paksaan ataupun hanya sekedar untuk memberi jawaban dari pertanyaan basa-basi “Bekerja dimana sekarang?”. Tapi bagaimana bekerja yang berdasarkan panggilan hati? Menurut saya, bekerja yang berdasarkan panggilan hati, adalah bekerja yang rasanya seperti bermain, namun bermain seperti bekerja, bekerja yang mana ketika melakukannya hati terasa ringan, jiwa terasa lapang. Begitulah bekerja yang berdasarkan hati.

Mungkin sebagian orang sudah menemukan pekerjaan yang sesuai hati mereka, namun banyak pula yang terjebak pekerjaan yang terpaksa. Sungguh beruntunglah mereka yang sudah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka. Menurut saya keberuntungan dari segala keberuntungan dalam pekerjaan, adalah mereka yang melakukan pekerjaan seperti melakukan kesenangan. Dan mereka melakukannya lebih dari sekedar bekerja, namun semua yang dilakukan oleh mereka rasanya seperti sedang melakukan sebuah hobi, dan tentunya hobi yang dibayar. Ah senangnya jadi mereka.

http://www.glitzmedia.co/post/kenali-kelima-hobi-yang-dapat-meningkatkan-kecerdasan-otak-anda

Ah rasanya menyenangkan sekali di posisi mereka. Tapi terkadang anggapan yang menyenangkan itu akan gugur seketika jika kita harus melihat proses bagaimana mereka berjuang untuk itu semua. Pengorbanan waktu, pengorbanan hati dan pikiran, berulang kali harapan yang pupus di tengah jalan, berulang kali kesempatan yang terberangus oleh kenyataan, berapa banyak air mata yang dicucurkan dalam tiap usaha dan doa mereka, dan menjadikannya mereka layak untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai hatinya, karena memang mereka berhak mendapatkannya. Janganlah kalian iri akan mereka, tapi terpaculah dan jadikan pemantik bara api dalam jiwa yang sempat padam, kobarkanlah kembali bara api dalam hati kecilmu, namun tetaplah dijaga bara api itu jangan sampai membesar dan membakar jiwamu, dan menghanguskan sisi hati nuranimu. Lalu bagaimana dengan diri saya? Namun sayangnya saya masih jauh dari tahap itu, sekedar untuk mendapatkan pekerjaan pun saya belum mampu. Masih dalam tahap mencari, mencari dan mencari.

Punya pekerjaan yang mapan dan bekerja dengan penghasilan di atas kata lumayan, bagi sebagian orang (khususnya orang tua anak gadis mereka) adalah sebuah kriteria, kriteria yang pada nantinya akan menjadi patokan dan tolak ukur mereka untuk memilih seorang lelaki yang berhak menjaganya, menjaga sepanjang hidupnya. Dan saya pun tak merasa heran, jika ada orang yang bilang bahwa “Ketampanan akan kalah dengan kemapanan.” Ya memang benar, dan sebagian orang tua terkadang menganggap kemapanan adalah tolak ukur yang utama dalam memilih pasangan untuk anak gadis mereka. Namun bagaimana nasib mereka yang tak punya kemapanan, tak punya ketampanan, dan tak punya pekerjaan? Apa iya mereka tak berhak untuk mendapat pasangan jiwanya? Ah saya pikir tidak begitu, sekiranya mereka (saya) layak untuk diberi kesempatan untuk membuktikannya, bahwa ketampanan dan kemapanan bukanlah hal yang utama dan segalanya.

Hal yang utama dalam setiap pemikiran sebagian orang tua adalah kebahagiaan anak (gadis) mereka. Dan tentu saja arti kebahagiaan tiap orang itu berbeda-beda, semua tinggal bagaimana kita mencarinya. Tiap bahagia antara cinta, bekerja, dan hidup adalah sesuatu hal yang sama namun berbeda. Seperti kata Hector dalam film Hector Search For Happiness, “Gluck ist, wenn man dafur geliebt wird, wie man ist.” Kira-kira artinya begini, “Kebahagiaan adalah bagaimana kau mencintai seseorang, apa adanya.” Untuk tiap-tiap kebahagiaan anak-anak (gadis)nya, tiap orang tua terkadang menancapkan kriteria yang terlalu dalam untuk digali, dan terlalu tinggi untuk didaki tiap lelaki, namun begitulah cerminan seberapa besar arti anak(gadis)nya di mata mereka.

https://upikabi83.wordpress.com/2014/04/23/arti-bahagia-bersama-yang-dicinta/

Perihal bahagia, terkadang banyak orang yang berharta mengaku tidak bahagia dengan kehidupannya. Hal ini terbalik dengan orang yang tak punya apa-apa namun begitu bahagia dengan hidupnya. Jadi sekiranya apa yang salah di antara keduanya? Apa yang menjadi pembeda? Menurut saya, hal yang jadi pembeda adalah cara bagaimana melihat hidup yang sebenarnya. Mungkin orang yang berharta tak bahagia karena dia disibukkan dengan banyak acara, dan salah satunya acara untuk menjaga hartanya, menjaga hartanya dan tentu saja menambah hartanya lagi dan lagi, entah bagaimana caranya. Lalu seputar orang yang tak punya apa-apa namun begitu bahagia dengan hidupnya dikarenakan karena mereka tak lagi sibuk menjaga hartanya, namun cukup menjaga rasa bahagianya dengan cara bersyukur pada yang maha kuasa, sekiranya bisa makan tiga kali sehari sudah cukup baginya. Jadi yang jadi pembeda itu hanyalah rasa syukur, tapi bagaimana sama orang yang berada di posisi “Orang berharta bukan, Orang tak punya apa-apa juga bukan.”? Ah entahlah.

Terkadang yang dibutuhkan oleh sebagian besar dari mereka yang kurang beruntung (seperti saya) dalam mencari pekerjaan dan pasangan, terkadang hanyalah sedikit waktu tambahan. Waktu tambahan untuk membuktikan bahwa kita layak untuk berbahagia, dan layak untuk membagikan kebahagiaannya kepada sesuatu hal, baik itu pekerjaannya maupun pasangannya. Terkadang berulang kali jatuh membuat trauma, namun di satu sisi juga membuatnya tertantang. Tertantang untuk bangkit dan mencobanya sekali lagi, lagi dan lagi. Tak peduli meskipun kegagalan akan terulang kembali. Namun siapa yang peduli ketika kembali gagal mencobanya, maka mencoba kembali tak ada salahnya.



Pada akhirnya tulisan ini seperti memberi kesadaran bagi saya, bahwa sesungguhnya saya ini masih sangat jauh dari mereka. Masih jauh dari posisi mereka, masih kurang lama dari waktu yang mereka butuhkan untuk mendapatkan semua, dan tentu saja masih terlalu kurang dalam mencoba, berusaha, dan berdoa. Jangan khawatir jika kalian belum mendapatkan pekerjaan, jangan khawatir jika kalian belum mendapatkan pasangan, dan jangan khawatir jika kalian merasa kurang beruntung. Sekiranya saya pun mengerti, bahwa dalam hidup tak ada yang instan, segalanya butuh proses. Saya tak tahu bagaimana saya tahu tentang semua itu, tapi sekiranya saya tahu bahwa terkadang saya hanya perlu cukup tahu untuk sekedar mencari tahu. Mencari tahu tentang segalanya yang akan terjadi, karena saya percaya bahwa ujar-ujar “Life has a strange sense of humor, and sometimes God makes up for it by working in mysterious ways” memang benar adanya. 

Purwokerto, Minggu Malam, 10 Januari 2016.

Comments

  1. Iya, jangan khawatir.. semua sudah diatur oleh Tuhan.. yang penting kita sebagai manusia harus berusaha dan berdoa.. :-)

    ReplyDelete
  2. "Bekerja yang berdasarkan panggilan hati, adalah bekerja yang rasanya seperti bermain, namun bermain seperti bekerja, bekerja yang mana ketika melakukannya hati terasa ringan, jiwa terasa lapang." <- Aku setuju dengan kalimat ini..

    Sejujurnya, aku belum mendapat pekerjaan yang sesuai dengan hatiku. Terkadang pekerjaanku masih dari sebuah paksaan. Namun, caraku mengatasinya adalah tetap sabar dan berusaha agar tidak terjebak dalam situasi seperti itu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nikmati saja nur, terkadang banyak diluar sana yang belum punya pekerjaan :)))

      Delete
  3. Artikelnya saya banget Mas, galau benar mengenai tiga hal ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya tiga hal itu memang terkadang sesuatu yang sensitif :D

      Delete
  4. Quote dari Buya Hamka memang keren ya. Aku sering baca itu dimana-mana. Memang nyesss sih. Kalimatnya sederhana tapi maknanya dalam :)))

    Aku juga cukup galau sama pekerjaanku sekarang. Nggak sesuai passion. Dan karena nggak sesuai itulah jadinya kayak nggak semangat. Juga jadi kelihatan bodoh. Mau resign, tapi ingat adek yang masih harus kuliah bertahun-tahun lagi. Huhu. Eeh maaf. jadi curhat :'D

    Semoga Mas Fandhy segera dapat pekerjaan ya. Semoga dapat pasangan juga. Aamiin. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat ichaaak! *lho kok komen di blog orang*

      Delete
    2. hahaha iya sama cha, aku pun masih punya adik yg masih sekolah dan harus dibiayai juga, dan untungnya kamu masih ada pekerjaan, jadi aman...
      tapi terima kasih atas doanya, semoga kamu dan zai cepat tiba ke kursi pelaminannya X)

      haha kak laili mah X)

      Delete
  5. Semangat cari kerjanya mas ! semoga lekas bekerja sesuai passionnya

    Ngomong ngomong soal kerja, saya pun kadang merasa kurang cocok dengan passion saya. Tapi sebisanya tetap di bawa happy biar kerja jadi ibadah ^^

    Pernah tertohok sama quotes "Bersyukur itu, kalau senin sibuk kerja.. bukan senin itu nyari kerja"

    Jadi bersyukur sama pekerjaan yang sekarang aja, karena saya pun cuma lulusan smk ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah alhamdulillah ya sudah punya pekerjaan walau hanya lulusan SMK saja :)))

      Delete
  6. nyatanya, mencari pekerjaan memang tak semudah yang diimpikan. dan alangkah beruntungnya mereka diluar sana yang bekerja sesuai dengan passion, hobi yang dibayar :")

    ReplyDelete
  7. do the best and let God the rest, begitu kata pepatah ... semangat yaa

    ReplyDelete
  8. kalo sekarang aku ngajar, apa itu termasuk hobi yg dibayar?
    Apa itu definisi bekerja?
    Ah, gak mau 😂😂

    ReplyDelete
  9. Nah setuju nih..pekerjaan yg sesuai passion pasti akan menimbulkan cinta dan membuat bahagia utk dijalani

    ReplyDelete
  10. Tuhan gak bakal diem ko bro.. kalo kita gak males & mau nyari tuh kerjaan.. fighting brother :)

    ReplyDelete
  11. Kata saya sih " bekerja adalah menukarkan tenaga, pikiran dan waktu kita pada pihak (perusahaan) yang mau membayar." Pertanyaan sejuta dolarnya adalah, "siapa dan seberapa besar mereka berani membayar tenaga, pikiran dan waktu kita?" Mungkin ini alasan banyak orang ingin jadi sarjana, supaya mereka dihargai (dibayar) lebih besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha betul bang, saya setuju dengan anda :))

      Delete
  12. Aku sebagai manusia yang kurang bersyukur merasa tertampar baca ini, hahaha. Aku tuh kerjaan sesuai hobi, hidup enak, bahagia terus, tapi tetep aja nggak puas. Nggak ngerasa senang. Mungkin karena kurang beryukur dan karena hidupnya stabil jadi nhebosenin... Eeeeh ini kenapa curhat ~

    ReplyDelete
  13. Bekerja sesuai hobby dengan gaji yang besar adalah koentji kemakmoeraannn

    ReplyDelete
  14. Mas mas celananya kurang pendek
    Wkwkwk

    *kabur :D

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Keinginan orang tua dan anaknya terhadap calon suami emang beda. Kadang ada orang tua yg mau calon mantunya banyak duit tapi anaknya ga. Kadang ada, anaknya yg pgn suaminya pgn banyak duit, hahaha. Tapi sebagai cewek (dan mungkin cewek lain juga berpikiran sama kayak aku), yang dibutuhin itu daya juangnya. Kalau laki2 ga ada daya juangnya mau gimana nantinya?
    Semangat fandhy! Moga cepet dapet kerja ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau keinginan orang tua mu perihal kriteria calon suamimu itu gimana ndang? haha

      Delete
  17. Emang mau kerjanya jadi apa, Fan?

    Sumpah, gue juga nanti kalo lulus bingung. Gue kan Manajemen, ya. Antara mau jadi marketing, atau tetap fokus nulis-nulis curhatan terus pengin kerja di bagian kepenulisan atau penerbitan. Hahaha.

    Santai aja, sih. Gak perlu risau. Selama udah berusaha dan berdoa maksimal, nanti juga dapet kerja. Mangaatsss!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja, sih. Gak perlu risau. Selama udah berusaha dan berdoa maksimal, nanti juga dapet kerja. Semangat yog!

      Delete
  18. Ngomongin kerja gue belum tau secara luas. Dan intinya berdasarkan yang gue lihat, sekarang kualitas pekerjaan lebih condong dari pendidikan. Jadi kalo sebatas SMA rasanya sulit nyari pekerjaan yang oke. Kalo sarjana mungkin lebih berpotensi. Gitu, sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. butuh perjuangan ekstra ketika mencari pekerjaan :')

      Delete
  19. Kalo kata wong Jowo "sawang sinawang" kita nggak akan pernah tau, karena kita nggak make sepatunya orang tsb. Bahagia adalah koentji, bener banget...setuju;)

    ReplyDelete
  20. Wah, pelik banget tampaknya permasalahannya. Gue belum nyampe ke tahap sana. Semoga deh diberikan kelancaran untuk mencapai hal-hal di atas. Aamiin..

    ReplyDelete
  21. Wah, pelik banget tampaknya permasalahannya. Gue belum nyampe ke tahap sana. Semoga deh diberikan kelancaran untuk mencapai hal-hal di atas. Aamiin..

    ReplyDelete
  22. Bicara soal proses, saya akan terus berproses. Ya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia