Cerita Alena

Bukan bermaksud meratap, atau berharap ditatap, tapi sekiranya pernahkah mulutmu mengecap, kata yang tak pernah terucap?

Bagi setiap manusia, menangis adalah hal yang biasa. Tapi tidak dengan aku yang tak terbiasa untuk mencurahkan rasa lewat cucuran air mata. Aku hanyalah wanita biasa, yang lebih sering tertawa gila daripada berurai air mata. Aku wanita biasa, yang lebih mudah jatuh dari tangga daripada jatuh cinta. Jatuh cinta itu rasanya bagaimana? Apakah rasa sakitnya akan sama dengan jatuh dari tangga? Aku tidak tahu, dan aku ingin tahu. Sejak saat itu. Sejak kepergiannya dulu. Entah berapa lama waktu berlalu, aku tak tahu.


Sulitnya jatuh cinta, berbanding lurus dengan besarnya sebuah rasa, yang aku punya tatkala aku jatuh cinta untuk kali pertama. Untuk kali pertama, aku tertawa dan menangis dalam satu waktu. Tertawa bahwa aku jatuh cinta, menangis menyadari bahwa inilah kali pertama jatuh cinta, terasa begitu terlambat, tapi begitu nikmat. Pelan perlahan, dan begitu terlambat.

Seribu aksara, kulahap tanpa jeda hanya dalam waktu sekian menit saja. Lebih mudah menghabiskannya dibandingkan makan pagiku yang ku biarkan begitu saja. Tergeletak, mendingin, lalu mengering di tepian meja, seperti aku yang kini berbaring tanpa daya di tempat yang sering disebut sofa. Seringkalinya aku menangis tanpa sebab, menangis memikirkan tentang jarak, yang terbentang melintang, menyilang dunia kita menjadi dua bagian. Aku disini, kamu disana. Aku beralaskan busa, kau beralaskan tanah seroja.

Laksana candu, setiap hari tanpa ragu ku tatap terus fotomu, yang tanpa sengaja aku comot  satu dari lembar albummu, dahulu. Biru matamu, mancung hidungmu, dan bahumu yang kokoh, begitu bidang, laksana lembah yang kau buat untuk menampungku dalam segala keluh kesah. Hatiku hanya satu, yang aku berikan hanya untukmu. Hanya itu yang aku punya, selain harga diriku yang begitu kau puja sampai rela menunda, menunggu sampai kita menikah, lalu bercinta dengan bahagia.

Tanggal jadi, sudah tersedia, undangan sudah menyebar ke penjuru kota. Namun tiba satu masa dimana aku sadar, bahwa semua hanyalah sebuah rencana. Rencana yang aku buat sendirian, dari balik ratapan kesedihan seorang manusia biasa, seorang wanita biasa. Bukan bermaksud meratap, atau berharap ditatap, tapi sekiranya pernahkah mulutmu mengecap, kata yang tak pernah terucap? Terasa begitu pahit, saat kau ingin menjerit, tapi yang terucap hanyalah derit-derit yang penuh rasa sakit. Tiada lagi yang tersisa, selain debur ombak yang terdengar, menghampar di lautan.

Semuanya bukan soal aku, juga bukan soal kamu. Aku selalu iya sekata denganmu, namun tidak dengan penciptamu. Tanganku tak kuasa menahan dirimu, yang tercabut pergi dari hidupku, berikut membawa pergi hatiku. Sejak saat itu, sosokmu bukanlah sosok yang nyata, semua kembali menjadi sosok maya, yang terselip manja di balik aksara, yang aku tuliskan rapi dalam linimasa, beranda seratus empat puluh kata.


*@KiranaAlena Sign Out* 

Comments

  1. Alena saudara Alina-nya SGA ya? Atau selebtweet?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaaha bukan kok bang, itu alena yang lain haha X)

      Delete
  2. Saya kagum, mas Fandhy bisa mengambil dari sisi wanita dalam mengisahkan sebuah cerita.
    Padahal penulisnya laki yaa...?

    Suka sekali tulisannya mas.
    Boleh tau merujuk pada novel apa?


    Bacanya jadi teringat novel-novel jaman dahulu yang langka saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe terima kasih atas pujiannya mbak lendy :)))

      Kalau tulisan ini, merupakan murni hasil dari pemikiran sendiri. Ya semacam ide dadakan di tengah malam mbak. Tapi mungkin ini merupakan salah satu hasil akumulasi ide-ide yang aku dapat dari banyak buku yang pernah aku baca..

      Mungkin gaya ceritanya terdengar seperti cerita kukila, semusim dan semusim lagi, atau cerpen yang lainnya, tapi ya mungkin ini hasil akumulasi ide yang aku kombinasikan dengan gaya menulis saya :)))

      Delete
  3. Saya sampai berulang kali membacanya, Mas. Ini kebiasaan saya, kalau menemukan kalimat yang bagus dan penuh makna. Saya ulang terus, berharap kelak, saya juga bisa menulis seperti itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mbak nurul atas pujiannya hehe iya mbak, saya pun sama, terkadang kalau menemukan tulisan yang bagus pun suka membaca berulang-ulang, seolah-olah untuk lebih menghayati cerita dan memaknai apa maksud tulisannya :)))

      Delete
    2. Iya Mas Fandhy, senang membacanya berulang kali untuk lebih menghayati cerita. Cerita dan tokoh ini, fiktif atau nyata, Mas? He he he

      Delete
    3. alhamdulillah kalau ternyata tulisanku mendapatkan respon positif :))

      sebenarnya ini kisah nyata namun fiksi, fiksi namun nyata, entah bagaimana menyebutnya :D

      Delete
  4. with.. sisi feminine dari sosok maskulin. memandang dari sudut mata lentik. butuh berapa lama nih untuk penelitiannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa untuk cerita ini, aku bikin spontan aja bang dodon, gak sempat penelitian. Langsung tulis pas tengah malam lagi dapet ide :D

      Delete
  5. Sya suka prandaian ini"Lebih mudah menghabiskannya dibandingkan makan pagiku yang ku biarkan begitu saja. Tergeletak, mendingin, lalu mengering di tepian meja," serasa sepi, tak trjamah lagi. Keren.

    Mmbaca crita alena sya tringat crpen yg dbuat oleh aan mansyur yg brjudul kukila, sngat kaya dngan satire dn metafora tpi alena rimanya lebih kental dn masuk akal. Manis!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha terima kasih bang reyhan atas pujiannya, iya mungkin saja ya, karena saya pun sudah membaca berulang kali tulisannya Aan Mansyur yang kukila itu, dan tulisan ini mungkin banyak dipengaruhi oleh buku-buku yang sudah aku baca, dan ditambah ide, maka hasil akumulasi dari segalanya ya ini, tulisan yang aku tulis secara spontan lewwat tengah malam

      Delete
  6. whoaaa keren nih bang. Bisa nulis dr sudut pandang perempuan.
    Ini kisah cinta yang beda keyakinan ya bang? Iya bukan yaa heheee

    Tulisannya bener-bener penuh sastra :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ayo tebak lan, ini cerita yang kayak gimana ? wkwk

      Delete
  7. Replies
    1. sosok fiksi yang aku jadikan tokoh dalam sebuah tulisan :))))

      Delete
  8. gatau mau komentar apa.
    tapi gue suka tulisan ini fan. nanti pas ke purwokerto mminjem ya bukunya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah kalo mau pinjem buku skripsi, aku sih ada tuh di rumah kaben wkwk

      Delete
  9. Keren tulisannya mas,, bisa nemenim malam ini sambil minum es.. hehe
    Btw, salam kenal mas :)

    ReplyDelete
  10. Penuturan yang bagus dgn tatanan bahasa yg apik

    ReplyDelete
  11. penulis cerita alena ini kan mamang-mamang kan?...tapi betapa menjiwainya jadi selayaknya mengisahkan dirinya menjadi sosok alena....keren deh ih cara penulisannya makjleb banget euy

    ReplyDelete
  12. selalu saja kalau ke sini berasa membaca tulisan cowok yang feminim, eh bukan feminim yang melambai, tapi romantis ya begitulah. beruntung sekali jika kirana itu sosok yang tak nyata, mungkin wanitamu akan menjadi pecemburu jika membaca postingan ini *eaaaaaaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok kamu tahu kalo wanitaku cemburuan banget, mbak sar? hahaha iya alhamdulillah bisa menulis seperti ini wkwkwk

      Makasih mbak sar :D

      Delete
  13. Alena, Alena, kekasihku... Bilang saja pada orangtuamu.
    Mantap, Kak, tulisannya. Selalu menarik karena punya rima yang unik di setiap tulisan Kak Fandhy ini. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe terima kasih kak happy, iya ini juga masih belajar kok kak :)

      Delete
  14. wih, gokil... pujangga yang satu ini bisa melihat dari berbagai macam gender ya. coba lain kali dari sisi waria, mantep tuh.. atau nggak dari sisi transgender terus di sajak abis :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahahahaha kalo soal sisi waria, akunya nggak bisa jev X)

      Delete
  15. Aaaaah, mas Fandhy :' selalu suka sama gaya menulismu ini. Manis mas. Sumpah. Kamu cowok loh, tapi bisa semanis ini nulis tentang cewek gitu :D kereeen :D

    ReplyDelete
  16. Untuk kali pertama mendarat di laman ini. Akan kucatat alamatnya, agar nanti-nanti bisa berkunjung kembali :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kak sekar atas response positifnya :))

      Delete
  17. Salut buat Fandhy, bisa bikin cerita dengan tokoh perempuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terima kasih kak dian, ini jg masih belajar :))

      Delete
  18. Pertanyaanku sama dengan Iqbal.. Btw aku mau komen tapi nanti via japri aja. Ok XD

    ReplyDelete
  19. Agak susah ni buat komentar karna saya bukan org yg melankolis, tapi ya secara keseluruhan masih bisa membayangkan situasi yg dituliskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha padahal ini bukan termasuk tulisan yang melankolis loh :D

      Delete
  20. Bagus tulisannya, aku berasa kamu jadi cewe wkwkwk

    ReplyDelete
  21. Mas Fandy, bacanya kok jadi sedih ya. Hehhee.. Ayok mas, kapan-kapan boleh kita duet membuat tulisan yang serupa. Bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh baca komentar ini jadi ingat soal rencana kolab tulisan yang belum kesampaian sampais ekarang :)

      Delete
  22. Wih... jadi pengen kenalan ah ama alena. Pengen ngasiin bahu 😄😄 tapi nangis sih normal yak

    ReplyDelete
  23. yang lalu biarlah berlalu, saatnya menancapkan benih benih cinta di hati yang pantas dengan dirimu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup adalah soal memilih, memilih melanjutkan atau melupakan kenangan masa lalu. Semua adalah soal pilihan.

      Delete
  24. yang lalu biarlah berlalu, saatnya menancapkan benih benih cinta di hati yang pantas dengan dirimu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup adalah soal memilih, memilih melanjutkan atau melupakan kenangan masa lalu. Semua adalah soal pilihan.

      Delete
  25. Fandy, kalo Bena kesana, mau pinjem bukunya ya. mau baca secepat kilat..

    ReplyDelete
  26. Bayangin aku yg dulu, wahahah....
    Cinta dunia maya

    Btw, kalo aku blh suka nulis fiksi cowok. Mas Fandi cwok yg jd cewek tp lembut bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha itu gimana, aku yg jadi cewek, lalu yg jadi cowok, siapa?

      Delete
  27. Saya pribadi kurang bisa hanyut dalam suasana melankolis, tapi setelah baca ini bisa membayangkan situasinya yg syahdu

    ReplyDelete
  28. Fandhy sih jago kalau buat sajak beginian.. kirain ini kisahnya Ipeh Alena (blogger juga).. ternyata hanya fiksi belaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bukan ceritanya kak ipeh, mbak :D
      hehe iya ini juga masih latihan mbak

      Delete
  29. Aku seiya sekata dengan mu,tapi tidak Tuhan kita.
    Dia selalu memiliki cerita dengan versi yang berbeda, bisa 180° atau mubgkin tiga ratus enam puluh derajat perbedaannya dengan apa yang diharapkan.
    Ikhlas, ikhlas.

    😭
    Cerita perihal kesedihan, coba diajak lebih mrndalami kepedihan yang tersirat dong ma fan. Aku sih bacanya kurang mendayu seperti biasa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ya namanya juga masih latihan kak :D
      hehe iya itu banyak kata yg tersirat

      Delete
  30. Wah ini LDR ya? Long distance religionship? Muahahaha~

    ReplyDelete
  31. Jadi kesimpulannya, yang lalu biarlah berlalu... cari mantan baru *eh begitu bukan sih Fan..*

    Yg jelas telisik mata batin seorang Fandy sedang menikmati sosok sisa masa lalu :D

    ReplyDelete
  32. Ditinggal meninggal sama calon suami ya?

    Anyway, tulisannya baguuuss. Pengandaiannya indah, tapi pas.

    ReplyDelete
  33. Kasihan banget ya, undangan sudah tersebar ternyata tak berjodoh di dunia.
    Sodorin tisu tuk Alena

    ReplyDelete
  34. Kak Fan :( tolong aku....

    aku nggak betah baca cerita yang isinya deskrpisi doang :(((

    ReplyDelete
  35. aku salit bisa mengambil dari sudut pandang org lain, seakan akan merassakan yg dia rasakan :)

    ReplyDelete
  36. Ini cerita pait juga ya. Ditinggal kawin kah? Semoga ga kejadian di cerita nyata nya ya, fan. Hahaha

    ReplyDelete
  37. Fan, dari beberapa tulisan lu yang gue sempet baca. Gue pikir, ini yang terbaik. Soal diksi, lu udah ga usah ditanya. Tapi proses 'story telling' nya ini rapih banget..

    ayolah kita collab.

    Btw, @kirana_alena siapa? Sign out?

    ReplyDelete
  38. pernahkah mulutmu mengecap kata yang tak pernah terucap ?

    gosh. .
    lafya.

    ReplyDelete
  39. Bisa menulis dengan sudut pandang perempuan? Keren hehe. Penasaran ispirasinya siapa :D

    keluargahamsa(dot)com

    ReplyDelete
  40. Tulisannya asik mas!
    Dan rasanya memang sulit untuk jatuh cinta ya 😳

    ReplyDelete
  41. jadi nyesek gini bacanya, kalau gak jodoh mau bilang apa ya, yang sabar ya Alena puk puk puk.. btw tulisannya keren nih mas :D

    ReplyDelete
  42. Hampir setiap calon pengantin pasti memiliki ketakutan seperti ini. Entah gagal karena keputusan sepihak atau usia yang tak sampai waktunya. Baca ini jadi ingat pas mau nikah. Nostalgia.
    Tp aku bacanya sambil deg2an. Ga terlalu suka yang sad ending. Suka hanyut dalam perasaan trus nangis bombay. Seolah2 aku yg susah move on. Hehe

    ReplyDelete
  43. Hai ka fandy, sastra ananta selalu nikmat. Aku nggak tau mau komen apa. Hahaha kadang jadi silent rider aja di sini.

    ReplyDelete
  44. kalau tidak tahu pemilik blog ini adalah fandhy, pasti dikirain pemiliknya cewek, soalnya sosok alena begitu sempurna deskripsinya

    Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran

    ReplyDelete
  45. Jadi pengen aktif lg nulis fiksi! Thanks for writing this one, bagus bgt.

    ReplyDelete
  46. Gimana caranya nih, menjadi bukan diri kita saat menulis. Apalagi berbeda jenis kelamin? Hehehe, aku kadang bikin, pasti selalu terbawa perasaan, ujung-ujungnya berasa menulis diary alias diri-sendiri.

    ReplyDelete
  47. aku kira pemilik blog ini yg sedang merasakan hal tersebut, tapi ternyata penulis membuat tulisan dgn mengambil sudut pandang berbeda. keren tulisannya. sedih bgt ya, udah LDR, wanitanya udh seneng banget bisa ngerasain yg namanya hubungan percintaan dan berharap bisa kejenjang selanjutnya, eh malah ndak jodoh. :(

    ReplyDelete
  48. Ssdih Kak, tapi munhkin begitulah rasa sakit saat jatuh cinta.

    ReplyDelete
  49. Suka Bgt sama tulisan mu mas fan.


    Andai aku bisa berceritera sepertimu
    Tapi sayang aku tak punya bakat itu

    Keep writing, mas !

    Kandida

    ReplyDelete
  50. Keren banget, mas bisa nulis kayak gini. Kirain yang nulis ini cewek, eh ternyata. Hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia