Cerita Dari Tengah Laut

Terkadang memendam rindu terlalu lama itu seperti menendam bara dalam sekam, tampak samar, namun semakin lama terpendam api semakin besar, semakin berkobar, membuatmu hangus terbakar.

Setiap pagi, yang pertama kali aku lihat dari setiap bangun tidurku adalah setumpuk buku, yang membujur menumpuk menjadi satu, tepat di sampingku, tepat di sebelah tidurku. Seringkali dalam tiap ruas kesadaranku yang belum pulih benar, terkadang setumpuk buku itu terlihat seperti kamu, yang tampak tersenyum malu-malu, lalu mengecup pipiku, sembari mengucap selamat pagi padaku.


Adalah sebuah keniscayaan yang kadang terasa getir, tatkala kesadaranku sudah pulih benar, yang kulihat di sampingku ternyata setumpuk buku. Rasanya seperti diterbangkan ke angkasa, hanya untuk dihempaskan seketika. Pada setiap kali aku terbangun di waktu dini hari, terkadang, aku masih sering merasakan hangatnya dekapanmu di tubuhku, harumnya parfummu, wangi rambutmu. Begitu manis, yang terasa sementara, lalu menjadi getir ketika menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi.

Sejauh mata memandang, yang aku lihat hanyalah hamparan biru samudra, dengan ombak yang kadang bergolak renyah menciptakan buih-buih penuh serpih akan kenangan tentangmu. Seringkali angin laut memabukanku, namun terkadang angin laut mengingatkanku akan sosokmu, yang seringkalinya sigap bereaksi ketika melihat wajahku yang mulai pucat pasi. Terkadang kekhawatiranmu yang berlebihan itu membuatku rindu, karena hanya kamu yang begitu, bahkan orang tuaku pun tidak begitu.



Sepagi ini, kapal yang sedang aku tumpangi masih tampak sepi. Padahal matahari sudah tampak tinggi, sedangkan daratan masih berjarak beribu-ribu li, namun tampaknya anak buah kapal masih sibuk dalam dengkurnya, setelah semalaman berpesta pora, bersama beberapa gadis pesanan kaptennya, serta ditemani berekor-ekor ayam kampung, dan bertangki-tangki rum yang dikirimkan oleh Jauhari pemilik Pulau Selatan.

Mula-mula para anak buah kapal bertingkah baik sekali, begitu penurut dan ringan tangan, gesit pula, dan tampaknya membunuh lalat pun tak mampu,* tapi begitu melihat kapal buruan mereka menjadi beringas. Tanpa ampun mereka akan menebas siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Sungguh menyenangkan bisa berlayar bersama mereka, meskipun terkadang hati kecilku menjerit ngeri ketika melihat mereka dengan mudahnya menggayang perut sesama pelaut.

Aku tahu umurku mungkin sudah tidak layak untuk disebut anak muda, namun sebagai seorang manusia, sungguh tidak lengkap rasanya, jika tidak mengingkari umur dengan pelabelan anak muda yang tampaknya seringkali membuatmu tertawa.

Di antara para anak buah kapal, aku mungkin menjadi yang paling tua, hanya berbatas lima tahun dengan umur Kapten Kapal, seumuran dengan Nahkoda Kapal, namun ada rentang wibawa di antara kami yang menjadi jarak, dan memisahkannya seperti Florida dan Bahama. Roman mukanya terlihat dingin, kalem, tenang, cocok dengan pembawaan yang tidak banyak bicara, namun ketika dia mulai beraksi dengan Pedang melengkung dari Arabia, niscaya kau pun takkan percaya bahwa dia adalah seorang nahkoda.

Seringkalinya dalam tiap buku yang aku baca, selalu aku tuliskan sebaris kalimat penghiburan, “Kau tak perlu risau, dimanapun ia berada, ia sedang menunggumu sekarang.*” Jujur saja tiap hari aku rindu kepadamu, tapi melihat kondisiku yang terjebak di kapal asing tak bernama, sungguh rasanya sulit betul untuk mengenyahkan rasa rinduku padamu.

Menahan rasa rindu terlalu lama sebenarnya itu tidak diperbolehkan, karena pada akhirnya hanya akan menyeretmu pada satu prasangka, yang kemudian merembet ke arah prasangka yang lainnya, lalu menenggelamkanmu dalam lautan rasa penuh cemburu buta. Terkadang memendam rindu terlalu lama itu seperti menendam bara dalam sekam, tampak samar, namun semakin lama terpendam, api akan semakin besar, semakin berkobar, membuatmu hangus terbakar.


Dunia tampak terbalik, banyak orang yang merindukan liburan dengan melakukan pelayaran, aku justru rindu sekali hidup di daratan. Lama dalam sebuah pelayaran, terkadang memancing sisi pribadi lautku, yang menelan apa saja yang hanyut ke arahmu. Termasuk perihal kabar kamu kini tak lagi sendiri. Sungguh malang betul, jika kabar itu ternyata nyata. Disini aku hangus terbakar menahan rindu, kamu disana asyik berpeluh saling cumbu dengan kekasih barumu. Sungguh, persetan memang. Meski dada terasa begitu himpit menyempit, namun logika tetap aku lebarkan seluas cakrawala, melihat segala sesuatu dari sisi lainnya, dengan penuh kerelaan akan segala sesuatunya, dan tetap berharap bahwa kabar itu hanyalah sebuah kabar palsu.

Sungguh bingung rasanya menghadapi prasangka yang saling berhadapan seperti dua sisi cermin yang berseberangan. Antara percaya dan tidak percaya, seringkali membuatku sering berprasangka bahwa sebenarnya kamu telah tiada, atau telah menjadi istri seorang pemuda kaya raya. Kemana saja segala rasa akan bermuara, aku bebaskan semuanya.

Kemana saja aku akan pergi, aku akan tetap mengingat bahwa masa lalu adalah omong kosong belaka. Dan percaya bahwa kenangan tak akan kembali lagi tiap pagi. Tiap bulan yang telah lewat tak bisa aku kejar lagi. Pada akhirnya, cinta yang paling liar dan yang paling ngotot yang akan bertahan dan berlangsung lama.* Tapi, apakah semua itu sebanding dengan rasa rindu yang kini sudah menghanguskanku? Entah aku tidak tahu.

Jika bumi adalah sebuah daratan luas tanpa batas, lalu bagaimana dengan riuh prasangka yang kini sudah melebihi ambang batas? Membutakan logika, dan menjadikanku seorang pencemburu buta. Jujur saja, sering kali aku merasa cemburu pada mereka yang bisa dekat denganmu. Bagaimana mungkin aku melarangmu melakukan ini itu, jika sampai saat ini pun aku masih jauh darimu? Tak bisa dekat denganmu. Karena terpenjara dalam status penumpang tak berbayar dalam bahtera tak bertuan, yang mengantarkan pada samudra penuh kebimbangan. Sendirian.

Jika sebatas mengingatmu saja sudah mampu menggantikan segala wajah muramku dengan wajah penuh rona bahagia, lalu bagaimana jika pada akhirnya, kamu adalah orang pertama yang aku lihat menggantikan setumpuk buku yang biasa menemani tidurku?

Lalu, jika melihat fotomu saja sudah menumbuhkan sayap-sayap harapan akan masa depan. Lalu, bagaimana rasanya jika tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, dan mendapatimu tertidur nyenyak dalam pelukanku? Sungguh, aku tidak bisa membayangkannya.

Namun, Percayalah, sungguh, aku pun sangat ingin merasakannya. Kalau bisa, Segera!

Laut Matapan, 27 Desember

------------------------------------------------------------------------------------


(*) Dikutip dari Buku Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez

Comments

  1. Gambaran bajak lautnya lumayan bikin bergidik, trutama pas baca 'saat mengganyang perut sesama pelaut' :) .

    ReplyDelete
  2. Wah diksinya Okay...
    Memilih cinta dan cita2 memang perkara pelik. Ketika kau memilih cita2, maka cinta akan selalu terkenang.. memilih cinta cita2 selalu terkenang..

    ReplyDelete
  3. Sabar ya Fan jika dia lebih memilih pemuda dari seberang lautan. Ya namanya juga...

    ReplyDelete
  4. ini beneran nggak sih? aku merasa pedih euy

    ReplyDelete
  5. Apakah ini perkara dengan si gadis yang pernah ada dalam instagram? #eh
    Bangkit anak muda!

    ReplyDelete
  6. hmmmm....cerita cinta dan perjuangan ya. Aku suka dengna kalimat-kalimatnya, walaupun belum pernah ke tengah laut sudah terbayang seperti apa rasanya

    ReplyDelete
  7. ini cerita dari curahan hati ya mas fandy, biasanya sebuah tulisan bisa jadi mencurahkan perasaan atau apa yang ada dipikiran.CMIIW.
    saat berada di posisi ini sebaiknya memang positive thingking sih, apapun yang terjadi ya itulah hal yang harus kita terima. kuncinya berdoa meminta yang terbaik untuk kita dan si pujaan hati yang jauh disana. apapun itu yg penting terbaik untuk semua.

    ReplyDelete
  8. Pria yang merindukan daratan. Ombak dan angin menjadi kawan. Menabung rindu di antara buih-buih samudera.

    ReplyDelete
  9. Serem juga ya..ngebayangin berada di lautan lepas dalam jangka waktu yang lama. Terombang-ambing di lautan, menanti daratan. Gak nyaman.
    Kalau bener ini kisah seorang pelaut yang selalu merasa rindu dengan kekasihnya, sedih juga ya...

    ReplyDelete
  10. Fiksi kah...? Atau kisah nyata...
    Kadang memiliki pasangan seorang pelaut..semacam ada prasangka buruk., bakalan selingkuh..dll

    Tapi ini ..bukti pelaut juga sedih dan rindu memikirkan kekasihnya.

    ReplyDelete
  11. mungkin ini yg dirasakan para pelaut yg berlayar dan berbulan bulan tidak pulang
    kejenuhan dan kehampaan sesekali pasti melanda
    apalg yg sdh berkeluarga

    ReplyDelete
  12. Dari bangun tidur. Tiba tiba ada di laut. Kapan perginya, kak?

    Diksinya udah mulai lebih "halus" ini Fan. Bias antara fiksi sama nyatanya juga bagus.

    Cuma pas loncat ceritanya itu. Gue belum nemu nih

    *Sok sokan nih komennya gue*

    ReplyDelete
  13. Handsup! Keren banget diksinya, ceritanya ngalir banget kayak keran air yang lagi bocor wkwkw. Kusuka cara penyampaian perasaannya :")

    ReplyDelete
  14. dan kelanjutannya semua itu hanya mimpi belaka ya mas? lautan memang mempunyai ciri khas sendiri sesuai dengan pengalaman melaut

    ReplyDelete
  15. Ku suka penggambarannya.
    Hanya saja apakah ini akan ada kelanjutan ceritanya?

    Karena kalau tidak, maka akan menjadi curhatan semata.

    Kereenn banget, Fan...

    ReplyDelete
  16. Aku gak terlalu suka jika harus lama2 di perairan kaya laut karena blm bisa renang

    Kita memang harus hati2 dr rindu. Kadang prasangka datang dan bikin kita hilang akal

    ReplyDelete
  17. Duh Fandhyyyyyyyyyy! pengen deh bisa nulis begini, tapi gak bisa, gw mah nulisnya ngalor ngidul.

    ReplyDelete
  18. Jadi... apakah ini mimpi? Aku harus bangun sekarang? Atau melanjutkan terombang ambing dilaut?

    ReplyDelete
  19. Semoga rindu itu tidak segera menghanguskanmu. Tapi justru berbuah manis tatkala dia mampu menjadi pengganti setumpuk buku yang tiap pagi kau jumpai saat membuka mata. Semoga disegerakan, ya :D

    ReplyDelete
  20. Wah.... Menggenggam rindu di tengah ombang-ambingnya samudera itu sama dengan menggenggam bara api di tangan. Panas dan terbakar pasti akan menjadi resiko yg harus di tanggung.
    Semoga rindunya akan lepas bak gelombang bersua menepi pinggir pantai.

    ReplyDelete
  21. Keren. Kemana aja saya baru tau ada blog sebagus ini. Menambah kosa kata baru lagi :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana