Progres Pertama : Menulis Tak Lagi Mudah

Kamar ini,

Dinding bersuara seperti kaset rusak yang berputar menggemakan lagu-lagu lama yang pernah menjadi favorit kita. Kipas angin berputar di pojok kamar, yang dengan sabar terus berputar, seolah sedang mengingatkan bahwa hubungan kita tak beda jauh dengannya. Hanya berputar-putar saja. Menyebarkan angin segar bagi mereka yang mengharapkan persatuan kita, atau membuat masuk angin bagi mereka yang mengharapkan kita berpisah secepatnya.

Lampu kamar tak lagi terang, tatkala kau datang, dengan badan basah kepayahan. Hari itu sedang hujan deras. Kau memaksa untuk datang, hanya sebatas untuk menyiksa diri dan menggumamkan pertanyaan “Esok hari bagaimana hidup akan berlanjut?” Tak ada lanjutan atas pertanyaan setelah tubuhmu menggigil kedinginan.

 “Ah sebentar lagi mungkin aku kena masuk angin.” Begitu katamu.

Di luar masih hujan deras, dan dirimu kini sudah berganti baju. Tiada lagi gigil yang menyiksamu, berganti harum aroma tubuh yang bercampur basah. Aku masih diam menanti saat yang tepat untuk bertanya, perihal kabar yang dikaburkan oleh hujan. Tentang sebuah rencana orang tua yang hendak menjodohkanmu dengan wanita pilihan mereka. Namun, aku tetap diam saja. Membayangkannya saja sudah membuat pening kepala.

Di dalam kepala, semua rasa menjadi resah. Resah dan gelisah.

Seperti kau tahu, kita tidak bisa menyanggah rasa yang singgah. Tetapi ragu yang lahir dari bentuk kesakitan masa lalu, kini kembali datang kepadaku, seperti sedang mengintaiku dari jauh, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam, dan menyeret kembali ke jurang kesedihan seperti dulu. Dulu, jauh sebelum kamu datang ke dalam kehidupanku.

Kamu tidak tahu, pada sepasang matamu aku menemukan setumpuk buku-buku kehidupan, yang aku baca seperti buku puisi yang penuh luka. Di dalamnya ada banyak cerita, tapi tak pernah kutemukan kita. Hanya ada kata-kata yang menggemakan sebuah sosok, sosok perempuan tak bernama. Siapakah dia? Aku ingin tahu, tapi tidak mau tahu.

Malam yang muram menyisakan kesedihan di luar rumah. Adakah kamu menjelma subuh yang dingin dan menopang ingatan masa lalu? Ataukah kamu ingin membuat bab baru?


Di Karawang, siang begitu terik. Tetapi cinta tumbuh dan menggebu di dalam dada. Kamar memerangkap cerita lama dan syahdu, cumbu bergelayut penuh drama, dan mulut tak henti mendesah menyebutkan sebuah nama. Cuaca kota yang panas seketika menjadi dingin tatkala harus dihadapkan dengan wajah penuh senyum, dan dua mata indah yang sedang menatapnya, tanpa busana, tanpa kata, hanya diam, dan membiarkan senyumnya yang mengatakan semuanya. Bahwa aku cinta kamu sejadi-jadinya. Selamanya.

Di jalanan, kendaraan saling bising, juga kami yang saling berbagi kecup dari masa lalu yang menyesakkan. Dari balik jendela kamar, segalanya terlihat jelas. Termasuk pantulan wajahmu yang kini tak lagi tersenyum. Hanya diam dengan tangan yang kian rekat memelukku lebih erat. Tanpa suara, tanpa banyak bicara, nafasmu terdengar begitu berat di telinga, seolah meminta jeda dari siksa rindu yang tak ada habisnya. Aku rindu kamu; bisikmu sebelum melepasku.

Aku duduk di ujung kasur dan melihat dirimu yang tak lagi tersenyum. Matamu meranggas mendamba cinta, jiwamu kering oleh derita cinta, hatimu remuk dipenuhi duka, perlahan air mata melompat dari matamu yang terluka. Jauh di ujung senja, langit menjadi merah pertanda kabar pisah dari Sang Surya, diam-diam kamu beranjak pergi, meninggalkan semuanya disini, tanpa spasi, tanpa janji, tanpa basa-basi, yang tersisa hanya pisau rasa yang tak lagi punya hati, untukku, melakukan harakiri. Sendiri.

Di Kamar ini, dinding kembali bersuara tanpa jeda. Mengirimkan lagu lama, untuk diputar kembali, sekadar untuk mengulangi rasa sakit, yang dulu dan sampai kini masih ada di dalam hati. Tak mau pergi, meski sudah banyak hati yang ditumbalkan untuk masa lalu.

Di kamar ini, waktu tergigit oleh pikiran yang membuai kata-kata. Aku mengisahkan diriku seperti buku dongeng yang berakhir tak bahagia. Kucangkul suaramu dari kamar tidur yang menumbuhkan kenangan. berisik yang meninabobokan aku sebelum pagi membunuh kedekatan. Tak ada esok, ia mati sebelum waktu membunuh dirinya sendiri.

 

Tulisan ini dikembangkan dari beberapa Puisi karya Afrianti Pratiwi – Edisi Mei-Juni 2020

Kini, merangkai kata tak lagi mudah. Hidup pun kian susah, korban wabah semakin bertambah. Remuk redam tenaga medis bertahan dalam sumpah, banyak orang yang menjadi bedebah. Sengaja melanggar protokol kesehatan yang diatur pemerintah. Hanya demi konten-konten sampah. Ingin rasanya dilempar dengan sumpah serapah. Bedebah.

Merangkai kata tak lagi mudah. Menulis cerita semakin susah. Tulisan semakin payah. Bah!

Tampaknya, kita harus tahu, bagaimana menghargai hidup, dan kita harus bersyukur masih diberi hidup.

Dan kini, Kepalamu penuh puisi usang. Berima, bersajak, dan diksi meracunimu sampai tak berkutik. Kau membayangkan bagaimana cara tidur ketika badai di kepalamu semakin kuat. Satu-satunya alamat yang kau tuju adalah tidur lelap. Dan kau mengalah atau terlalu lelah untuk marah atau untuk Pasrah.

Hari Kelima Belas, Afrianti Pratiwi

 

Comments

  1. Terima kasih Kak Fandhy. Kuterharuuuuu huhu. Ditunggu tulisan lainnya yaaak.

    ReplyDelete
  2. kegelisahan hati dan pemberontakan jiwa cukup mampu menjadi ide tulisan yang bernas dan menyentuh sanubari. cakep!

    ReplyDelete
  3. Soal Corona, aku udah jarang ngomong sih. Ngabisin kata sementara ngerangkai aja sudah . Pakai aksi aja dan itu buat diri sendiri. Kalau mereka gak ngelakuin ya terserah. Semua orang juga lelah

    ReplyDelete
  4. Aku mau nangis, dalem banget menyayat hati tiap kalimatnya. Aku yg orang biasa aja ingin menyumpah pada orang2 yang melanggar protokol, apalagi para tenaga medis ya, pasti penuh kecewa melihat realita

    ReplyDelete
  5. Menjalin sebuah romansa kisah dengan pasangan memang penuh liku dan luka. Entah di bagian mana yang salah, terkadang kita kerap memberikan penilaian yang tak berkesudahan.
    Kalau cinta, cukuplah bilang cinta.
    No excuse seperti kipas angin yang rela memberikan angin kepada siapa saja yang membutuhkan kesegaran. Tulus.

    ReplyDelete
  6. Yup. Hidup memang kian susah. Korban wabah pun memang bertambah. Tapi kita tak akan berhenti berkisah. Ini bukan cerita tak sudah. Tapi ini tetaplah kisah yang indah. Yang akan menjadi candu pengobat rindu... Berkisahlah!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana