Sebuah Cerita, Covid-19 Itu Nyata

Pada awalnya, aku sangat ketakutan ketika melihat segala kekacauan yang ada di kepalaku. Kekacauan yang ditimbulkan oleh kenyataan, perihal hasil Test Antigen yang mengatakan bahwa aku reaktif Covid-19. Dan, harus segera melakukan Test Swab untuk memastikan semuanya. Pada titik ini, tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari rencana pulang kampung untuk menikmati waktu liburan akhir tahun, karena kemungkinan untuk mendapatkan hasil swab negatif itu seperti mengharapkan ayam mengeong, mustahil. Tapi, bagaimana lagi? Karena memang begitulah prosedurnya, siapa saja yang akan menggunakan moda transportasi publik diharuskan memiliki bukti hasil test antigen negatif.

Swab Test

Tidak ada yang bisa dijelaskan lagi, ketika hasil swab keluar. Dan, memang benar adanya, hasilnya menunjukkan bahwa aku positif Covid-19. Tidak ada yang bisa aku jelaskan lagi, perihal apa yang ada di kepalaku saat itu. Segalanya hening, segalanya sunyi, bahkan kekacauan yang timbul di hari kemarin setelah melihat hasil test antigen pun tidak ada lagi. Aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan keinginan untuk menangis pun tidak ada. Segalanya hening, segalanya sunyi, segala kosong. Sampai kekosongan itu tergantikan oleh suara isak tangis istri, yang terdengar dari ruang tamu. Ya, sembari menunggu hasil swab keluar, aku dan istri sudah jaga jarak, tidur pun terpisah. Sungguh Demi Neptunus, pedih sekali melihat istriku menangis karena melihat hasil swabku yang positif Covid-19. Hati kian pedih, tatkala harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa memeluk istriku, sekedar untuk menenangkannya dan menghiburnya. Puji syukur, hasil swab istriku itu negatif. Jadi, hanya aku saja yang positif Covid-19.

Hanya aku saja yang positif Covid-19.

Aku positif Covid-19, menjadi sebuah kenyataan yang harus aku terima. Tidak bisa aku enyahkan rasa tidak habis pikir dari kepalaku, bahkan sampai saat ini. Sungguh tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku bisa terpapar Covid-19? Karena selama ini, aku merasa sudah sangat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dengan selalu menggunakan masker, jaga jarak, mencuci tangan dengan sabun. Aku melepas masker hanya pada saat makan dan wudhu saja, selain itu selalu memakai masker, namun ternyata aku tetap terpapar Covid-19. Aku tidak tahu dimana aku tepatnya pertama kali terpapar Covid-19. Sampai saat ini, aku masih tidak habis pikir. Kok bisa ya?

Aku tidak menyangka jika akhir tahun harus dilewati dengan isolasi mandiri sendirian di hotel

Aku tidak menyangka jika gejala flu, pilek dan batuk yang sesekali terjadi itu adalah gejala Covid-19. Jujur saja, aku pun tidak menyangka aku positif Covid-19. Sungguh untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Aku tidak menyangka jika liburan akhir tahun harus dilewati dengan isolasi mandiri sendirian di hotel, jauh dari keluarga, jauh dari istri. Covid-19 itu sungguh nyata adanya, dan Covid-19 tidak memilih siapa yang akan ditularinya. Aku yang selalu menerapkan protokol kesehatan pun tetap terpapar Covid-19. Entah bagaimana mereka di luar sana yang abai terhadap protokol kesehatan. Serta menganggap Covid-19 itu konspirasi. Sungguh tidak habis pikir.


Isolasi Mandiri

Isolasi Mandiri memakan waktu sekitar empat belas hari. Tempat isolasi mandiri pilhannya sudah ditentukan oleh Pemda Karawang. Hanya ada pilihan tempat isolasi mandiri; Rumah Sakit dan Hotel. Bagi mereka yang positif Covid-19, memiliki gejala dan memiliki penyakit bawaan, mereka akan langsung dirujuk ke Rumah Sakit yang sudah ditentukan oleh Pemda Karawang. Dan, bagi mereka, termasuk aku, yang positif Covid-19 namun tidak memiliki gejala serta tidak memiliki penyakit bawaan, diharuskan untuk melakukan isolasi mandiri di hotel rujukan Pemda Karawang. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penularan dan mencegah agar Covid-19 tidak menulari lebih banyak lagi. Terkhusus mencegah penularan pada anggota keluarga, teman kerja, maupun tetangga sekitar.

Hari pertama isolasi mandiri dimulai dengan rusaknya jam tidur karena rindu kepada istri. Rindu yang tidak bisa terjelaskan oleh aksara. Rindu yang hanya bisa dijelaskan oleh sebuah pelukan nan erat, yang meleburkan semuanya dalam sebuah rasa nikmat yang hangat. Tapi bagaimana lagi, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa mendengar suara istri dari gadget, tidak serta bisa menghapuskan rasa rindu, tapi mau tidak mau, aku harus mau, mau bersabar dan tetap bertahan dalam isolasi mandiri selama empat belas hari.

Hari-hari isolasi berikutnya berlalu tanpa ada yang bisa dijelaskan, karena berlalu begitu saja. Setiap harinya, kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang itu-itu saja. Pagi, sarapan lalu senam pagi, mendapat jatah obat untuk diminum sehari, masuk ke kamar lalu mandi, sesudah itu menonton Spongebob sampai siang hari. Siang hari berlalu seperti kalimat tanpa rima yang jelas, makan siang, minum obat, sholat, gegoleran di kasur, mengantuk, tertidur pulas sampai sore. Terbangun, lalu mandi, sholat, menonton Spongebob sampai gelap malam. Kegiatan malam dimulai dengan makan malam, sholat, berdiam diri, sholat lagi, menonton film di televisi, membaca buku, rebahan, lalu bingung, menghubungi istri, berdiam diri, sembari menunggu kantuk yang akan mengantarku tidur sampai esok pagi. Dan, semua itu berlalu setiap harinya, hari demi hari, tanpa terkecuali, sampai hari tes swab kembali. Begitu datarnya, begitu samarnya, tiada batasnya, antara hari kemarin dan hari ini. Ya, begitulah kehidupan selama hari-hari isolasi mandiri.

Alhamdulilah, Pada hari ke delapan isolasi mandiri, hasil swab menunjukkan hasil yang negatif sehingga aku diperbolehkan pulang dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Meski begitu, aku masih harus melanjutkan isolasi mandiri di rumah selama enam hari lagi. Dan, selama itu pula aku harus tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, dan jaga jarak. Ya sudahlah, setidaknya isolasi mandiri di rumah jauh lebih nyaman, karena tiada kenyamanan yang bisa mengalahkan kenyamanan rumah sendiri. Lebih dekat dengan istri, meskipun tetap harus jaga jarak, dan menahan diri. Namun, setidaknya itu jauh lebih baik daripada terasing sendiri.


Teruntuk kalian, yang masih tidak percaya akan Covid-19 dan menganggapnya sebuah konspirasi, semoga kalian beruntung. Aku doakan semoga kalian tidak terpapar Covid-19. Karena sungguh Covid-19 itu nyata adanya. Jika pun kalian enggan untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah dianjurkan pemerintah, tolonglah untuk tidak membuat gaduh dengan menyebar kabar burung perihal anggapan bahwa Covid-19 itu tidak ada, bahwa Covid-19 itu konspirasi. Percayalah, Covid-19 itu nyata. Ketika kita tertular Covid-19, kemungkinan hasil akhirnya hanya ada dua; Sembuh atau Meninggal Dunia. Aku sangat beruntung bisa sembuh dari Covid-19.

Covid-19 itu nyata adanya, bukan sebuah aib, bukan pula sebuah konspirasi. Covid-19 juga tidak peduli, tidak pandang bulu, entah mau kaya mau miskin semua bisa tertular. Jadi jangan remehkan Covid-19, tetaplah disiplin menerapkan protokol kesehatan, gunakan masker, serta perbanyak konsumsi makanan-makanan bergizi. Jangan lupa berolahraga, dan tetap waspada menjaga kesehatan diri dan keluarga, karena Covid-19 itu nyata.

Sungguh, Covid-19 itu nyata.


Karawang, 10 Januari 2021

Comments

  1. Semoga itu yang pertama dan terakhir kalinya ya, Vandy. Selamat sudah kembali sehat, negatif, dan bertemu keluarga lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya terima kasih sya, alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Hanya saja efek covid nya masih terasa.

      Delete
  2. Nah, sama kek temenku dia padahal di rumah aja sih pas swab test ternyata positif. Emang gak kebayang sih sama yang biasanya keluyuran tapi gak menerapkan protokol kesehatan. Paling bahaya buat orang-orang rumah tentunya, apalagi kalau OTG.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, itu orang2 yang masih abai terhadap protokol kesehatan, saya hanya bisa doakan semoga mereka baik2 saja. Karena yang menerapakan prokes pun tidak menjamin aman dari covid.

      Delete
  3. Nggak menyenangkan pasti ya akhir tahun mendapatkan berita tersebut padahal sudah berusaha menerapkan prokes, untunglah sekarang sudah menuju kesembuhan ya, tinggal tiga hari lagi isoman per hari ini ya? Lekas2 sehat kembali ya baaang, beneran memang covid itu nyata dan dekat dg keseharian

    ReplyDelete
  4. memang banyak yg denial seputar covid ini.
    semoga kita semua sehaaaattt
    Vandy juga semoga pulih dan sehat paripurna ya

    ReplyDelete
  5. Udah, sekali itu aja ya kena Covidnya, jangan lagi. Emang gak habis pikir, yang nerapin prokes aja kena, apalagi yang abai ya?

    Semoga yang sehat tetap sehat dan kuat

    ReplyDelete
  6. Iya memang benar mas covid-19 itu nyata dan tidak memadang bulu siapa aja bisa kena, walau kita sudah menerapkan prokes. Tapi kita tidak tahu kena dmna. Terpenting jaga kesehatan dan menjaga pula imun, agar tubuh tetap fit atau segar...

    ReplyDelete
  7. eh kupikir tulisan fiksi, karena bahasanya ngalir banget

    semoga lekas sembuh sehat seger waras bahagia yaa

    ReplyDelete
  8. Covid memang nyata kak saudaraku meninggal karena covid dan belum lama sepupu ku 3 orang juga kena, ada yang suami istri juga.

    ReplyDelete
  9. selamat kembali pulang ke rumah ya, Fan. si kopit ini emang bisa bikin perasaan ketar ketir ga karuan. semoga Fandy dan keluarga selalu diberi kesehatan setelah ini. sana, kruntelan sama istri

    ReplyDelete
  10. Enjoy masa-masa sehatnya ya. Semoga segera pulih kembali. Dan istti juga terlindungi dari covid. Aku ikut senang masa tak nyaman akhirnya usai, welcome home

    ReplyDelete
  11. Fan, lekas sehat yaa..
    Semoga Allah beri hikmah dari ujian ini.

    Sekarang kami sedang menunggu hasil SWAB test masku yang ketiga, setelah masku yang pertama dinyatakan positif, beberapa minggu lalu.

    Memang Covid 19 itu nyata.
    Semoga Allah angkat wabah ini dari atas bumi. Aamiin~

    ReplyDelete
  12. Duh, kebayang rasanya waktu tau positif covid. Campur aduk ya, Mas. Ditambah jenuh melanda selama isolasi mandiri. BTW, ga ada film menarik lain selain Sponge Bob di tv hotel,Mas?

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah alhamdulillah lega aku kak, alhamdulillah Allah masih sayang bisa kembali dengan sembuh. Semoga kita semua dlindungi oleh -Nya aamiin.

    ReplyDelete
  14. Mas Fandy masyaallah luar biasa pengalamannya. Semoga ke depannya selalu disehatkan bersama keluarga. Stay safe di manapun berada ya.

    ReplyDelete
  15. Subhanallaj sebuah pengalaman berharga yang patut untuk dibagikan Mas, bisa bayangin bepata jenuh dan membosankan saat isolasi mandiri di hotel :-(

    ReplyDelete
  16. When your website or blog goes live for the first time, it is exciting. That is until you realize no one but you and your. Covid-19 test

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana

Apa Salahnya Memilih Diam ?