Hari Minggu Pertama

Minggu pertama di bulan Maret, tidak banyak yang terjadi, hanya ada sedikit jeda yang tercipta oleh kata demi kata yang terangkai menjadi sebuah cerita, cerita yang telah lama usai. Tidak banyak yang perlu diperdebatkan, tidak perlu dipermasalahkan, semua orang punya cerita-cerita lama. Tidak bisa dilupakan tidak bisa diabaikan, semuanya melekat erat pada ingatan. Banyak yang menolak lupa, banyak pula yang menolak ingat, semuanya sama saja. Menjaga cerita-cerita itu tetap di kepala, selamanya. Kecuali, jika dirimu terkena amnesia.

Berita bahagia bisa berwujud beraneka rupa, salah satunya berupa undangan pernikahan. Sabtu kemarin, ada dua undangan pernikahan yang datang dan tak sengaja aku lewatkan. Undangan pernikahan dari dua orang kawan; satu dari kawan sependakian, satu lagi dari kawan yang sempat menjadi kekasih di masa lalu. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain mengirimkan ucapan selamat atas pernikahan mereka, dibungkus dengan berbagai macam doa, turut berbahagia sekaligus permohonan maaf atas ketidakhadiran di pernikahan mereka. Bagi mereka, ada dan tiada, toh ketidakhadiran bisa diwakilkan dengan doa, dan juga mereka menyiarkan secara langsung pernikahan mereka via akun media sosial mereka. Jadi tidak perlu dirisaukan. Semoga mereka bahagia dengan pernikahan mereka, dan menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warohmah. Lekas mendapatkan momongan, ceunah. 

Pagi yang cerah, setidaknya sampai saat ini. Seperti halnya isi hati wanita, tidak ada yang tahu bagaimana cuaca siang nanti, sore nanti. Cuaca bisa sedemikian labilnya, berubah-ubah sesuka hatinya, terkadang cerah sepanjang hari, terkadang turun hujan deras tanpa mendung sama sekali, seolah tidak peduli dengan banyaknya manusia yang pontang-panting berlarian menyelamatkan cucian mereka. Brengseknya lagi, seringkali setelah cucian diselamatkan cuaca seketika cerah kembali. Seolah tanpa dosa, dia lepaskan lagi matahari. Brengsek sekali.

Brengsek, hanya itu yang terucap ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, bukan masalah derasnya, tapi masalah datangnya yang tanpa diduga. Langit masih cerah ketika hujan pertama datang, begitu deras, begitu konstan, begitu bernafsu, seolah sedang melakukan ritual tertentu, lalu tiba-tiba hujan reda begitu saja. Iya, hujan berhenti begitu saja. Beruntung jemuran sudah diselamatkan, tiada yang basah, hanya saja mulut ingin melepas sumpah serapah. Tidak ada niat untuk menjemur pakaian lagi. Persetanlah.

Begitu banyak hal yang bisa aku lakukan di hari minggu, apalagi semenjak kehilangan pekerjaan, rutinitas mingguan berubah semuanya. Tidak ada lagi agenda bangun siang, tidak ada lagi ada agenda mandi sore, semua dilakukan di pagi hari, tanpa terkecuali dengan mandi. Mandi pagi di hari minggu adalah sebuah keajaiban, sebelas dua belas nilainya dengan upacara sedekah laut. Karena terkadang, mandi pagi di waktu libur adalah sebuah ritual yang sakral, tidak bisa dilakukan sembarangan. Oleh sebab itu, kadang harus menunggu wangsit turun dulu baru mandi. Dan, tidak jarang wangsit turun setelah jam lima sore.

Sebulan sekali, setidaknya begitu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk menyempatkan mengisi blog dengan sebuah tulisan. Tulisan bebas, tanpa tema, tulisan apa saja. Dan, ketika aku melihat kembali apa yang sudah aku tulis sebulan ini, setidaknya janji itu masih bisa aku tepati. Menulis blog terkadang bisa menjadi satu-satunya waktu dimana aku bisa menjadi aku yang lain, tanpa memisahkan antara individu yang satu dengan yang baru, menyublim begitu saja, tercampur dalam rasa dan aksara. Setidaknya menulis bisa menjadi terapi, sekaligus cara agar isi kepalaku tetap waras. Dulu, tuntutan pekerjaan begitu menyiksa badan; namun kini tuntutan mencari pekerjaan jauh lebih menyiksa pikiran. Tidak jarang, pikiran menciptakan pengandaian-pengandaian yang sedemikian brengseknya. Semisal: Andai saja aku anak menteri, mungkin mencari pekerjaan tidak akan sesulit ini.

Ah, sebenarnya tidak banyak hal yang aku inginkan di dunia ini. Jika harus dituliskan, mungkin keinginanku tak sebanyak jumah jemari yang ada di kedua tangan. Setidaknya itulah yang aku ingat selama ini. Terkadang banyak keinginan bisa menyiksa pikiran. Memaksa pikiran mencari cara untuk mewujudkan keinginan, tak jarang banyak orang yang termakan oleh keinginannya, rela melakukan berbagai cara kotor untuk mewujudkannya. Beruntungnya, aku tetaplah aku, yang tidak banyak mau. Aku lebih suka untuk menerima apa yang ada, apa adanya, begitu saja tanpa umpatan tanpa keluhan. Tapi tetap saja, untuk masalah pekerjaan, entah kenapa aku sering sekali lepas kendali dan mengeluh perihal betapa sulitnya mencari pekerjaan di tengah pandemi.

Mencari pekerjaan di tengah pandemi sungguh susah susah gampang. Sesungguhnya banyak sekali lowongan pekerjaan yang tersedia, namun semuanya kandas di hadapan batas maksimal usia. Selama menjadi seorang pencari kerja, tidak sedikit aku menemukan berbagai macam cerita dan pengalaman baru. Seperti nyaris menjadi korban penipuan perusahaan palsu. Jadi modus operandinya adalah mengundang wawancara kerja bagi siapa saja yang mendaftar dan mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan mereka melalui salah satu situs pencari kerja. Kala itu, aku sudah nyaris mau berangkat ke lokasi wawancara. Untuk memastikan kevalidan perusahaan tersebut aku bertanya ke berbagai kawan di komunitas pencari kerja, Menanyakan perihal alamat perusahaannya ada dimana, perihal kevalidan apakah benar lokasinya ada di ruko-ruko pertokoan, dan hampir sebagian besar menjawab agar aku tidak usah pergi kesana karena itu lokasi perusahaan bodong yang sudah banyak memakan korban. Modusnya, mereka meminta secara paksa sejumlah uang kepada para pencari kerja dengan alasan yang tidak jelas. Sungguh, beruntungnya aku.

Cerita lengkapnya bisa kalian baca disini: Lowongan Kerja

Hari Minggu, pada akhirnya menawarkan sebuah opsi untuk menutup hari. Merutuki diri tentu bukan opsi yang menarik, namun menuliskan sebuah puisi bisa menjadi polemik. Bukan karena tutur katanya yang unik, atau diksi penulisannya yang menarik, tapi karena aku tidak bisa membuat puisi. Brengsek. Kenapa juga aku membuat opsi membuat puisi?!

Terlalu banyak suara-suara yang bersinggungan di dalam kepala, menciptakan diorama yang tak jelas alurnya. Tapi aku diam saja, aku mendengar semuanya. Diam-diam aku mengamati semuanya, mengamati bagaimana pada akhirnya suara-suara di kepala membentuk suatu pola. Pola yang jika aku rangkai akan menghasilkan berbagai macam tulisan. Tulisan yang tidak jelas arahnya, tulisan yang sayangnya sekarang lagi kalian baca. 

Karawang, 7 Maret 2021

Comments

  1. Tetap semangaat yaa
    Memang banyak kendala/ tantangan saat pandemi

    ImnsyaAllah kita bisa melewatinya

    ReplyDelete
  2. Banyak suara tidak jelas yang bisa ditulis di blog. Dengan tambahan literatur tertentu bisa jadi postingan yang arahnya jelas

    ReplyDelete
  3. Sehat selalu. Masanya utk kontemplasi diri dan mengingat apa yg sudah dilalui utk melnjutkan kedepan

    ReplyDelete
  4. Masa pandemi ini memang memengaruhi banyak sektor kehidupan. Semoga Kak Fandy bisa mendapatkan pekerjaan yang terbaik di waktu yang tepat. Tetap semangat, ya, Kak.

    ReplyDelete
  5. Hmm saranku kalau cuaca sedang tidak jelas begini lebih baik buat jemuran di dalam rumah, atau jemuran di luar rumah dengan atap transparan. Jadi gak repot angkat dan taroh jemuran

    ReplyDelete
  6. Puk puk sabar memang belakangan ini cuaca ga mrnentu banget kadang panas terus tiba2 hujan tapi juga abis ujan tiba2 panas lagi.

    ReplyDelete
  7. pasti Tuhan sedang memberikan ujian untuk naik kelas ya kak, Tetap semangat dan fokus, karena tidak ada hasil yang menghianati usaha. mari kita bahagia

    ReplyDelete
  8. Tetap semangat mba Nanta, begitulah kepala ada banyak sekali pemikiran. Tapi akhirnya jadi p ostingan blog ya mba hehehe

    ReplyDelete
  9. Tiba-tiba saja menemukan tulisan ini. Memang sedang nggak jelas aku mau kemana. Ha. Ha. Ha. Ha.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi