Tidak Ada Mudik Tahun Ini

Tidak ada keluarga yang sempurna, tapi bagi saya, keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali. Kembali dari tanah rantau, untuk menata diri, untuk menjaga tali silaturahmi, agar tetap terjaga dan terajut rapi. 


Kami Tidak Mudik

Menjelang Hari Raya, banyak orang yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebatas mudik ke kampung halaman. Tidak peduli di tengah jalan akan berdesak-desakan, terjebak kemacetan hanya untuk berkumpul dan merayakan hari raya bersama keluarga. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, masih banyak orang yang rela menerobos segala larangan dari pemerintah untuk mudik. Karena tidak lengkap rasanya, hari raya tanpa berkumpul dengan keluarga. 

Lalu, bagaimana dengan dirimu, Fan? Apakah mudik? 

Saya tidak mudik. 
Sudah dua lebaran saya tidak mudik. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak diperbolehkan oleh perusahaan tempat saya bekerja dulu. Ya mau bagaimana lagi, saya ya menurut saja, meskipun pada akhirnya saya diputuskan kontrak secara tiba-tiba. Terlalu banyak rasa yang bisa ditangguhkan oleh saya ketika harus mengenang masa-masa di kampung halaman. Terlalu banyak kenangan dan memori yang berkontemplasi di dalam kepala ketika membicarakan mudik. Terlalu banyak rindu yang tidak bisa dijelaskan oleh aksara, kepada orang tua, perihal rasa rindu seorang anak untuk bertemu orang tuanya di Hari Raya. Namun apa daya, pandemi belum reda, dan untuk kali kedua, mudik dilarang pemerintah. 

Mudik sudah menjadi rutinitas tahunan masyarakat Indonesia, karena tidak lengkap rasanya Hari Raya tanpa berkumpul dengan keluarga. Saya pun setiap tahunnya selalu melaksanakan mudik, meskipun terkadang mudiknya itu H-2 sebelum hari raya. Pernah suatu ketika, saya baru bisa mudik H-1 Hari raya karena adanya jadwal lembur kerja mendadak. Dari Karawang, Berangkat mudik jam 7 pagi, sampai di Purwokerto jam 10 malam. Lima belas jam bung! Bayangkan lima belas jam bung! 

Tapi itu dulu, di tengah pandemi seperti sekarang, mudik sudah sedemikian sulit. Salah satu alasannya yaitu untuk menekan angka penyebaran Virus Covid-19, terkhusus penyebaran dalam lingkup keluarga. Jika pun terpaksa dan harus mudik dengan alasan-alasan tertentu, maka diperlukan kesabaran ekstra untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mudik, salah satunya adalah Surat Keterangan Bebas Covid. Ya meskipun banyak di antara pemudik, yang main kucing-kucingan dengan petugas atau pun menerobos melalui jalan pintas, dan banyak yang tidak membawa surat keterangan bebas Covid. 

Beruntung, kemajuan teknologi telah meringankan beban rindu para perantau yang tidak bisa mudik. Dengan adanya fitur Video Call, silaturahmi bisa dilakukan secara virtual. Ya meskipun sebatas melalui layar kaca gadget, namun setidaknya hal itu sedikit banyak bisa mengurangi kerinduan kepada orang tua. Seperti halnya yang saya lakukan di hari raya, hanya bisa bertatap muka dengan kedua orang tua dan adik melalui layar kaca. 

Saling bertanya kabar, berbasa-basi, menanyakan kesehatan, dan perkembangan keluarga di kampung halaman menjadi topik pembicaran, hanya saja sebagian besar yang berbicara hanya bapak dan adik saya. Ibu nyaris tidak banyak berbicara, karena sudah sedemikian rindunya kepada saya. Tak jarang, saya juga kehabisan kata-kata ketika harus berbincang dengan orang tua. 

Ada suatu perasaan yang memberontak dari dalam dada, namun oleh kepala semua dihadang sedemikian rupa, menciptakan kekacauan yang mana hasilnya melenyapkan semua kata-kata. Alhasil, sepanjang durasi orang tua saya bicara, saya hanya bisa merespon sebisanya. Saya tidak bisa berkata-kata lagi, maka pilihan terbaik adalah mengakhiri panggilan telepon, dan melanjutkannya lagi ketika perasaan sudah normal kembali. 

Dalam hati saya berjanji, suatu saat, di lain waktu saya harus paksakan diri untuk mudik ke kampung halaman. Ketemu orang tua, berjumpa dengan sanak saudara, dan berwisata. Menjaga tali silaturahmi dan melepas rindu menjadi fokus utama. Karena saya paham, semakin lama rindu dipendam, semua bisa berubah menjadi dendam. 

Karena Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Tidak Ada Mudik Tahun Ini


Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tema “Mudik Dalam Tulisan” yang diselenggarakan Warung Blogger

Comments

  1. Mohon maaf lahir batin juga ya Mba. Gemes kucingnya hahaha... Nenekku pelihara banyak kucing. Aku dulu juga mpe beranak pinak. Moga pandemi lekas berakhir aamiin

    ReplyDelete
  2. Masya Allah.. lelaki pun bisa kehilangan kata-kata karena teramat rindunya pada kedua ortu, ya. Aku bayangin ibunya Fandhy, pasti lebih sesak lagi dadanya akibat menahan rindu pada putranya.
    Semoga segera bisa mudik dan melepas rindu pada ortu dan sanak keluarga, ya. Tentunya jika kondisi sudah benar-benar aman dan badan sehat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar sekali mbak, harus bersabar dan tahan diri untuk tidak mudik di kala pandemi kayak gini

      Delete
  3. Samaaaa kayak diriku, Kak.
    Thn ini dan th lalu aku tim #GaKemanaMana #GakMudik waktu Lebaran.
    Semogaaaaa corona segera udahan ya
    Kangen bisa mudik thn depan

    ReplyDelete
  4. Saya juga sulit bicara kalau via Vcall. Ga tau mau ngomong apa. Basa-basi pun enggan. Palingan jawab aja kalau ditanya.
    Tapi meski hanya Vcall, menurut saya sudah cukupan lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul sekali, meskipun terkadang kurang afdol jika silaturahmi tidak berjumpa langsung dengan keluarga, tapi mau gimana lagi, masih pandemi.

      Delete
  5. Judulnya auto mengingatkanku akan NicSap dengan Tidak ada New York Hari Ini-nya. Jiakh


    Dulu lima belas jam perjalanan pakai apa Bang? Travel kah? Cukup lama juga ya di jalan.

    Keadaan saat ini memang memaksa untuk menahan rindu, meskipun sebisa apapun pasti jadi kangeeen berat. Moga tahun depan dah lebih baik dan bisa mudik ke Pwt ya, Bang. Bertemu dengan keluarga sekalian melepas rindu di jalan-jalan pewete.

    Selamat Idulfitri juga ya Bang Fan, Mba Anggi, Domba, Beuky, dan siapa lagi tuh nama kucing-kucingnya hehe. Yang terpenting, semoga sehat-sehat selalu juga untuk semua keluarga.

    ReplyDelete
  6. Mohon maaf lahir batin jg ya, Kak.

    Iya sekarang teknologi lbh canggih bisa vidcall dan teleponan. Cuma kadang ada rasa ganjel kalo gak bertemu langsung memang.


    Tidak mudik tahun ini tidak apa2 kak, tapi rindunya jangan berubah jadi dendam, Kak.

    Semoga taun depan bisa mudik ya kak supaya bisa memeluk orangtua dengan erat nanti. Jadi meski gak bisa banyak berkata-kata, tapi orangtua bisa merasakan rasa sayang itu dari pelukan hangat itu nanti.

    ReplyDelete
  7. aku pikir hanya wanita yang tak sanggup menahan rindu, ternyata laki-laki pun berat menahan rindu. ya karena laki-laki juga manusia. pantesan dilan bilang rindu itu berat, kamu enggak akan kuat

    ReplyDelete
  8. wuaaah semoga diberi kesempatan untuk mudik yaaa
    semoga lekas-lekas diberi kelonggaran waktu untuk berjumpa dengan orang tua
    aamiin

    ReplyDelete
  9. Saya juga sudah 2 tahun ga mudik. Dan 2 tahun ini adalah pertama kalinya merantau lagi setelah 5 th tinggal sama ortu. Sedih pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Semoga rindu ke ortu bisa dibayar tuntas dengan pertemuan begitu corona membaik ya

    ReplyDelete
  10. Masyaallah, banyak kata dan rasa yang ingin diungkapkan pada orangtua, terutama ibu tapi seringkali lidah kelu ya kak. Memandang wajah orangtua melalui layar smartphone juga sudah menyenangkan. Semoga pandemi segera usai, kita bisa kumpul keluarga.

    ReplyDelete
  11. Saya juga tidak mudik
    Ingin sekali tapi sangat berpikir panjang
    Bahkan mertua sudah rindu
    Namun apa daya, saya masih menjaga dua anak saya yang masih kecil agar tak tertular di jalan

    ReplyDelete
  12. Kemudian sebel nggak sih Kita udah nahan2 perasaan sampe g mudik, tiba2 orang2 tumplek di pantai Dan jalanan eeeeeaaaa... Tapi perusahaan Dan negara udah bikin aturan yg harusnya emang membuat org2 nggak mudik, tapi da bebel orang2

    ReplyDelete
  13. Mohon maaf lahir batin juga ya, Mas.
    Meskipun tidak bisa mudik tapi berkat teknologi kita masih bisa bersilaturahmi bersama orang tua menggunakan aplikasi yang ada ya ...lumayan bisa mengobati rindu.

    ReplyDelete
  14. Memang seharusnya kita bisa menahan diri untuk mudik demi menjaga kesehatan diri dan keluarga tercinta di desa atau kampung halaman. Met Idul Fitri ya Mas, salam kenal dan mohon maaf lahir bathin.

    ReplyDelete
  15. Mohon maaf lahir batin dan selamat hari raya idul fitri, semoga dilain kesempatan bisa pulang kampung atau mudik kerumah keluarga dan bertemu sanak keluarga besar disana. Dan khusunya pandemi covid-19 ini bisa cepat selesai, sehingga semua bisa berjalan lagi seperti biasanya. Semangat!

    ReplyDelete
  16. Mohon maaf lahir batin ya, Mas. Semoga pandemi ini cepat membaik supaya bisa pulang kampung hehe

    ReplyDelete
  17. Sendu sekali sepanjang membaca.

    Iya, apalagi Lebaran tanpa mudik nggak selalu menyenangkan. Mungkin itu pula yang akhirnya jadi pilihan banyak orang untuk tetap berangkat ke kampung halaman.

    Semoga pandemi ini lekas berakhir. Semoga kita semua kuat, tangguh, menghadapi berbagai hal "baru" yang turut diundang oleh pandemi dalam menjalani hidup setiap harinya.

    ReplyDelete
  18. aku baru mudik akhir bulan mei ini mbak, ini nulis komen pas lagi di kampung halaman. Sama kayak mbak pas lebaran aku nggak mudik juga, malah 2 tahun udah nggak dapet moment lebaran, semoga tahun depan nggak kayak gini lagi ya mbak, rasanya beda, kangen gitu euforia lebaran di desa :(

    Mohon maaf lahir batin ya mba say

    ReplyDelete
  19. Sedih banget ya akhir-akhir ini kita jadi terbatas untuk bepergian salah satunya mudik di momen lebaran. Padahal mudik pas momen lebaran ini jadi hal yang paling seru untuk dilakukan karena bisa kumpul dengan keluarga besar secara lengkap. Tapi, ya mau gimana ya karena kita juga harus menjaga diri dan juga keluarga kita agar memutus tali penyebaran covid ini. Semoga tahun depan pandemi ini segera berlalu dan kita semua bebas melakukan hal apapun salah satunya mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman.

    ReplyDelete
  20. Mohon maaf lahir dan batin juga.

    Semoga esok hari bisa mudik. Saya merasakan apa yang dirasakan, karena adik saya juga tidak mudik.

    Jleb sekali rasanya ketika adik ngobrol dengan Mama video call an. Yang tadinya bahagia, tiba-tiba Mama nangis, pun adik saya. Nyesek rasanya.

    Semoga pandemi berakhir dan kita semua bisa berkumpul lagi dalam kebahagiaan.

    ReplyDelete
  21. Mohon maaf lahir batin yaa. Harapannya semoga tahun depan bisa bebas mudik.

    Udah 2 tahun ini aku halal bihalal dengan keluarga besar pakai zoom. Yah beruntung masih bisa bertatap muka dengan teknologi modern gini.

    Pandemi juga mengajarkan kita tentang, berapa pun harta dan waktu yang kita miliki, kalo memang belum takdirnya, ya udah harus dinikmati dan disyukuri

    ReplyDelete
  22. Saya setuju
    Hanya saja kadang keluarga menjadi penghalan terbesar untuk cita cita yang dianggap ekstrim sehingga butuh ekstra usaha agar semuanya berjalan baik

    ReplyDelete
  23. Demi kebaikan kita semua, gak papa gak mudik, InsyaAllah bila pandemi berakhir kita bisa melepas kangen dengan keluarga besar di kampung

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi