Memilih Untuk Berhenti

Adalah kenyataan, yang membuatku tersadar bahwa banyak hal yang tidak bisa dilakukan ketika diriku ditimpa begitu banyak beban pekerjaan. Dengan waktu yang terbatas, tenaga yang lekas terkuras, hanya kesadaran akan kebutuhan keluarga yang membuatku tetap waras. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika harus menjadi sapi perah yang segala miliknya diremas hingga tuntas.

Tidak ada waktu untuk rekreasi dan menyalurkan hobi, bahkan untuk mengeluh pun sudah tidak punya waktu lagi, selengkapnya ada disini

Jikalau pekerjaan bisa sedemikian keras, apakah aku harus bertingkah sebaliknya? Memelas atau bertambah semakin keras? Ah entahlah. Saat ini, di kepalaku yang tersisa hanyalah gambaran-gambaran buram yang tidak jelas dan tidak terjelaskan.

Adalah kenyataan, yang tetap membuatku sadar bahwa ada begitu banyak hal di dunia ini yang jika dilihat dari sudut lain, bisa membuat orang tertawa. Baik menertawakan atau ditertawakan, semuanya sama saja. Mau tidak mau, aku harus tetap melakukannya, seorang diri, tanpa terkecuali. Dan, semakin lama aku merasakan perubahan drastis pada tubuh yang hari ke hari tenaga begitu terkuras habis. Apakah sudah waktunya aku untuk berhenti atau langsung saja menangis?

Penyesalan, aku memiliki banyak sekali penyesalan, yang jika diakumulasikan bisa membuatku kenyang dan tak perlu membuatku bekerja seperti sapi gila. Namun, kembali lagi pada kenyataan, bahwa semakin banyak aku memikirkannya, semakin banyak pula kesadaran yang aku dapatkan. Kesadaran bahwa aku ini sedang kerja apa dikerjain?

Adalah kenyataan, sekali lagi, adalah kenyataan yang menyadarkan bahwa begitu banyak hal yang sudah aku lalui sampai saat ini. Sudah begitu banyak Alamat baru yang aku hafal di luar kepala. Tanpa terkecuali, perasaan betapa bedebahnya terjebak kemacetan di pagi hari, atau perasaan betapa menyesakkannya dihajar hujan badai di sepanjang jalan. Alangkah beruntungnya mereka yang bisa bekerja nyaman di dalam ruangan, tanpa perlu dihajar hujan badai atau sengatan terik matahari. Bekerja memang melelahkan, begitu kata mereka, yang seolah sedang mencoba menghiburku.

Akhir-akhir ini ada begitu banyak hal yang aku pikirkan. Mulai dari jam kerja yang semakin keterlaluan, beban pekerjaan yang semakin berat, serta mulai terasa merosotnya ketahanan tubuh dalam menghadapi semuanya. Aku merasakan begitu Lelah, baik secara fisik maupun psikis, sampai-sampai yang aku inginkan hanyalah tidur, tidur dan tidur. Apakah ini artinya aku sedang mengalami Burn-Out?

Hari demi hari, kondisi tidak semakin baik, apalagi jika ditambah dengan cuaca yang tidak menentu, kadang hujan gerimis kadang hujan badai, seringkali aku merasa begitu muak, ingin rasanya memberontak dan teriak. Tapi aku tidak bisa. Tubuhku menyerap semuanya, tubuhku meredam semuanya. Bahkan, untuk pertama kalinya, sholat malam dan tadarus membaca kitab suci, tidak memberi efek sama sekali. Apakah ini tandanya aku harus istirahat dan menghentikan semuanya?

Pada akhirnya, aku memilih untuk berhenti. Pamit. Undur Diri. Tanpa basa-basi, tanpa kisi-kisi, tanpa tanda keluhan yang biasa dikeluarkan oleh mereka yang ingin mengundurkan diri. Aku tetap professional dalam bekerja, dan tetap menyelesaikan segala pekerjaan dengan benar. Terasa berat memang, dan akan tetap terasa mendadaknya, bila dilakukan di lain hari. Daripada menahan diri, menahan hati yang semakin tidak kondusif lagi, maka jauh lebih baik untuk pamit, undur diri.

Ini bukan masalah bersyukur atau tidak bersyukur, segala sesuatunya tidak sesempit itu. Mereka yang tidak pernah merasakannya, secara langsung dan tidak langsung akan mencibir, dan menyebutku sebagai orang yang tidak pernah bersyukur karena sudah memiliki pekerjaan. Sekali lagi ini bukan masalah bersyukur atau tidak bersyukur. Perspektif dalam hal ini tidak seciut ini. Kamu tidak akan pernah memahami (pekerjaan) seseorang sampai kamu berada di sudut pandangnya dan merasakan bagaimana pekerjaannya.

Sampai pada akhirnya, kamu akan mengerti. Mengerti dan memahami alasan kenapa aku memilih untuk berhenti, dan mengundurkan diri.

Karawang, 30 November 2021

Comments

  1. Hemm, terkadang begitulah kehidupan sulit dimengerti apalagi kalau tentang perasaan dan mental kita. Rapuh.

    ReplyDelete
  2. Jika memang sudah sangat membebani hati..kurasa tak ada salah nya utk dilepaskan. Yang penting jngan ada penyesalan. Semangat ya..semoga segera dpat yg lbh baik..

    ReplyDelete
  3. Tetap semangat kak, saya waktu itu pernah istirahat sejenak dari dunia maya. Entah kenapa selama pandemi rasanya harus saling menyemangati

    ReplyDelete
  4. Jadi inget waktu dulu saya milih membuat surat untuk mengundurkan diri. Bikinnya sambil nangis, nggak bikin juga tetep nangis. Sampai bertahun-tahun kemudian juga masih bertanya-tanya apakah itu keputusan yang tepat. Tapi lama-lama juga jawabannya semakin mengarah bahwa saya telah melakukan hal yang benar. Yang saya perlukan hanya memilih lingkungan yang lebih suportif kepada saya, bukan lingkungan yang toksik.

    ReplyDelete
  5. kalau kondisi benar2 sesuai deskripsi, sudah sepantasnya mengundurkan diri. dari pada tubuh dan jiwa terbebani, lebih baik cari yang menenangkan hati. Memiih pekerjaan adalah sebuah opsi, jangan bertahan jika memperburuk kondisi. Maka, carilah.. yang lain, cari

    ReplyDelete
  6. Memang terkadang kita perlu berhenti sejenak dan mengambil jeda. Untuk menenangkan pikiran dan menetralkan perasaan.

    Yang paling tahu kapan harus berhenti adalah diri kita sendiri

    Semangat mas. Semoga dimudahkan segala urusannya.

    ReplyDelete
  7. sepertinya saya familiar dengan perasaan seperti ini. dua tahun lalu saya pun begini, ada indikasi burned-out. atau memang burned-out. untuk ngurusin printilan sepele saya sudah tidak sanggup. akhirnya saya ngajuin surat resign 2x setelah surat yang pertama disobek :")

    ReplyDelete
  8. Penyesalan memang selalu ada di belakang tetapi aslinya tak ada yang perlu disesali karena sudah menjadi takdir hidup seseorang.

    Menjeda memang lebih baik daripada berkabung dalam sebuah masalah terus-menerus.

    ReplyDelete
  9. Kadang kalau tekanan dalam pekerjaan sudah terlalu berat memang mau nggak mau membuat kita harus memilih untuk berhenti. InsyaAllah nanti akan diberikan ganti yang lebih baik yaa

    ReplyDelete
  10. Setiap orang memiliki perspektifnya masing-masing. Nggak mengapa jika kita memiliki pemikiran yang berbeda dengan mereka. Toh kita sendiri yang memahami apa yang kita inginkan. APa yang terbaik untuk kita. Dan mereka hanya bisa melihat lalu kemudian berkomentar. Semangat, Kak.

    ReplyDelete
  11. Mundur adalah jalan terbaik, jangan terlalu dipaksakan.. Tetap berusaha dan mengandalkan Tuhan, pasti ada jalan.. Yuk semangat, jangan mengeluh..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Twitter Kena Suspend? Jangan Khawatir

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Bisa Berencana