Senja di Bulan
Juni, tampak begitu indah semburatnya. Pesonanya yang selalu aku suka sejak
pertama kali berjumpa. Laksana candu yang membuatku ketagihan selalu. Tiada
hari tanpa melihatmu, tak peduli sedang turun hujan ataupun turun salju. Dimana
aku melihat langit, disitu aku selalu teringat akan sosokmu, sosok senja yang
seolah mengingatkanku pada sosokmu. Sosok yang dulu selalu ada untukku, bersama
menatap senja dan menghabiskan secangkir kopi madu, kesukaanmu, kesukaanku,
kesukaan kita dahulu.
Senja di Bulan
Juni, awal bulan di hari yang tak sengaja. Tak sengaja kenapa aku berhenti di
tempat itu, kafe pinggir kota yang menghadap langsung ke arah cakrawala. Kafe
Senja, begitulah orang menyebutnya. Entah karena apa, awalnya aku tak tertarik
untuk mendatanginya. Namun hari itu, aku tahu kenapa kafe itu diberi nama Kafe
Senja. Kafe Senja, yang hanya ramai tatkala waktu senja. Kursi di pinggir
jendela, hanya itu kursi yang tersisa, itu pun tanpa sengaja aku harus berebut
paksa dengan seorang wanita. Namanya juga anak muda, tak pernal rela untuk
melepasnya karena dia pikir dia yang pertama mendapatkannya. Dan dia pun
ternyata berpikiran yang sama, sama ngototnya, sama kerasnya, akhirnya kita pun
sepakat berbagi tempat. Aku kursi kiri, kamu kursi kanan. Di depannya
tersanding senja yang ternyata begitu indah terlihat dari sana.