Semuanya bermula, pada suatu hari ketika aku mendapatkan undangan wawancara kerja di Bekasi.
Semuanya bermula, pada suatu hari ketika aku mendapatkan undangan wawancara kerja di Bekasi.
Pada awalnya, aku sangat ketakutan ketika melihat segala kekacauan yang ada di kepalaku. Kekacauan yang ditimbulkan oleh kenyataan, perihal hasil Test Antigen yang mengatakan bahwa aku reaktif Covid-19. Dan, harus segera melakukan Test Swab untuk memastikan semuanya. Pada titik ini, tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari rencana pulang kampung untuk menikmati waktu liburan akhir tahun, karena kemungkinan untuk mendapatkan hasil swab negatif itu seperti mengharapkan ayam mengeong, mustahil. Tapi, bagaimana lagi? Karena memang begitulah prosedurnya, siapa saja yang akan menggunakan moda transportasi publik diharuskan memiliki bukti hasil test antigen negatif.
Tidak ada yang bisa dijelaskan lagi, ketika hasil swab keluar. Dan, memang benar adanya, hasilnya menunjukkan bahwa aku positif Covid-19. Tidak ada yang bisa aku jelaskan lagi, perihal apa yang ada di kepalaku saat itu. Segalanya hening, segalanya sunyi, bahkan kekacauan yang timbul di hari kemarin setelah melihat hasil test antigen pun tidak ada lagi. Aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan keinginan untuk menangis pun tidak ada. Segalanya hening, segalanya sunyi, segala kosong. Sampai kekosongan itu tergantikan oleh suara isak tangis istri, yang terdengar dari ruang tamu. Ya, sembari menunggu hasil swab keluar, aku dan istri sudah jaga jarak, tidur pun terpisah. Sungguh Demi Neptunus, pedih sekali melihat istriku menangis karena melihat hasil swabku yang positif Covid-19. Hati kian pedih, tatkala harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa memeluk istriku, sekedar untuk menenangkannya dan menghiburnya. Puji syukur, hasil swab istriku itu negatif. Jadi, hanya aku saja yang positif Covid-19.
Makna Kehidupan*
Diri yang
bercerita menjadi bintang dalam artikel “A
Problem”, karya Jorge Luis Borges. Artikel ini tentang Don Quixote, sosok
pahlawan yang menjadi judul novel terkenal Miguel Cervantes. Don Quixote
menciptakan dunia imajiner bagi dirinya sendiri, yang di dalamnya dia menjadi
pahlawan legendaris, maju memerangi raksasa dan menyelamatkan Putri Dulcinea
del Toboso. Dalam realitasnya, Don Quixote adalah Alonso Quixano, seorang
lelaki tua dari dusun; sedangkan putri Dulcinea adalah perempuan petani miskin
dari desa tetangga; dan raksasa-raksasa adalah kincir-kincir angin.
Borges bertanya-tanya, apa yang terjadi jika dengan keyakinan dalam fantasi-fantasi itu, Don Quixote menyerang dan membunuh orang sungguhan? Borges menanyakan sebuah pertanyaan fundamental tentan kondisi manusi: Apa yang terjadi bila benang-benang yang dipintal oleh diri kita yang bercerita menyebabkan gangguan berbahaya bagi diri kita dan orang di sekitar kita? Ada tiga kemungkinan utama; kata Borges.
Pojok Warung Blogger
27 Oktober
adalah Hari Blogger Nasional, sekarang tanggal 3 November.
Hari Blogger Nasional mungkin sudah
terlewat beberapa hari, namun tidak ada kata terlambat bagi saya untuk
menuliskan ucapan selamat hari blogger nasional.
Selamat Hari Blogger
Nasional
Sudah itu saja
Keywords : Blog, Blogger, Warung Blogger, Pojok Warung Blogger
Saya tidak tahu harus dimulai dari mana, namun ketika saya mencoba memikirkannya, itu sudah berlangsung terlalu lama. Saya harus segera menghentikannya, dan memulai menuliskannya. Perihal apa saja yang saya ketahui dari Pojok Warung Blogger.
Pojok Warung Blogger merupakan sebuah grup Whatsapp milik Warung Blogger. Warung Blogger itu sendiri merupakan salah satu Komunitas blogger yang ada di Indonesia. Saya kurang tahu kapan berdirinya Warung Blogger, namun saya sudah menjadi pengikut Warung Blogger sejak jaman kuliah dulu, sekitar tahun 2013. Seingat saya, baru di tahun 2017 saya bergabung di Pojok Warung Blogger.
Pojok, seperti halnya pojok-pojok yang lainnya, seringkali dijadikan tempat untuk membicarakan suatu hal. Baik secara terang-terangan ataupun secara bisik-bisik tetangga. Tidak terkecuali di Pojok Warung Blogger. Banyak sekali hal-hal yang dibicarakan di Pojok WB, dan share link menjadi salah satu topik yang sering dibicarakan oleh para anggotanya. Jadi begini, dalam satu minggu, Pojok WB menyediakan dua hari khusus, selasa dan jumat untuk Share Link.
Share Link
merupakan kegiatan yang paling ditunggu di Pojok WB, karena di hari itu, para
anggotanya bebas Share Link tentang tulisan terbaru di blog mereka. Tidak
hanya tulisan terbaru, tulisan lama pun boleh diikutkan dalam Share Link. Hanya
saja tulisan tersebut minimal berumur satu bulan dari tanggal terbitnya. Mengikuti
Share Link memberi beberapa manfaat, salah satunya adalah tulisan kita
akan semakin banyak dikunjungi dan dibaca orang, belum lagi dengan manfaat
untuk saling kenal satu sama lain, dan saling berbagi kabar terbaru, terkhusus kabar
terbaru tentang lomba-lomba blog yang sedang berlangsung. Selain menambah
jumlah viewer tulisan, share link juga bisa menjadi waktu yang
tepat untuk melihat respon pembaca. Karena siapa saja yang mengikuti acara Share
Link wajib untuk saling berkomentar satu sama lain.
Tidak hanya Share Link, Pojok WB juga menawarkan hari Bahasa. Hari Bahasa, hari dimana para anggotanya wajib menggunakan Bahasa sesuai dengan harinya. Hari Senin untuk Bahasa Indonesia, Hari Kamis untuk Bahasa Inggris. Jadi, di Hari Bahasa ini para anggota Pojok WB wajib menggunakan Bahasa yang sesuai dengan hari Bahasa dalam setiap percakapannya. Hari Bahasa melatih para anggota Pojok WB untuk berberbahasa yang baik dan benar. Tentu secara tidak langsung akan memberi manfaat, terkhusus dalam tata penulisan di blog.
Terkadang jika sedang beruntung, di Pojok WB sering sekali bermunculan berbagai macam tawaran kerja sama yang melibatkan perusahaan dan blogger. Kerja sama yang mana mempunyai fee yang cukup untuk menambah uang jajan setiap bulannya. Belum lagi dengan adanya tawaran untuk mengikuti seminar yang melibatkan Warung Blogger, biasanya para anggota Pojok WB ditawari juga untuk ikut dalam berbagai seminar.
Kini, Pojok WB menjadi satu-satunya pengingat
bagi saya, bahwa ada blog yang harus saya urus. Karena sudah lebih dua bulan
sejak terakhir kali saya mengikuti kegiatan Share Link di Pojok WB. Hal ini
dikarenakan saya yang tidak lagi menulis tulisan baru di blog saya. Beruntung,
di Hari Blogger Nasional di Tanggal 27 Oktober kemarin, Pojok WB mengadakan kegiatan
One Week One Post yang bertemakan Pojok Warung Blogger
(Pojok WB).
Jadi, kenapa tidak sekalian saja, untuk saya ikut serta?
Selamat Hari Blogger Nasional
Tulisan ini diikutsertakan dalam One Week One Post yang bertemakan Pojok Warung Blogger
Negeri Senja,
Negeri Senja, adalah buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma;
sebuah buku yang menceritakan tentang Negeri Senja dan segala kehidupan di
dalamnya dari sudut pandang seorang pengembara. Negeri Senja merupakan sebuah
negeri yang mana matahari tidak pernah tenggelam. Tidak ada pagi, siang, dan
malam, karena sepanjang hari dilalui dalam keadaan senja. Namun di sebuah
negeri dimana matahari tidak pernah terbenam, bagaimana caranya waktu berlalu? Tidak
ada yang tahu.
Negeri Senja memberi pengaruh besar pada saya, terkhusus dalam hal gaya bahasa, gaya penulisan, dan pemilihan kata. Negeri Senja dituliskan dalam gaya bahasa yang mudah dipahami, dan banyak sekali kata-kata yang baru pertama kali saya temui. Selain itu, Negeri Senja memiliki Gaya penulisan cerita yang sedikit sekali dialog. Negeri Senja diceritakan menggunakan sudut pandang orang, yang mana hal ini menjadikan segala sesuatunya diceritakan secara naratif yang menjadikannya sedikit dialog dalam cerita.
Kamar ini,
Dinding bersuara seperti kaset rusak yang berputar menggemakan lagu-lagu lama yang pernah menjadi favorit kita. Kipas angin berputar di pojok kamar, yang dengan sabar terus berputar, seolah sedang mengingatkan bahwa hubungan kita tak beda jauh dengannya. Hanya berputar-putar saja. Menyebarkan angin segar bagi mereka yang mengharapkan persatuan kita, atau membuat masuk angin bagi mereka yang mengharapkan kita berpisah secepatnya.
Lampu kamar tak lagi terang, tatkala kau datang, dengan badan basah kepayahan. Hari itu sedang hujan deras. Kau memaksa untuk datang, hanya sebatas untuk menyiksa diri dan menggumamkan pertanyaan “Esok hari bagaimana hidup akan berlanjut?” Tak ada lanjutan atas pertanyaan setelah tubuhmu menggigil kedinginan.
Sudah lewat berhari-hari, sejak terakhir kali aku menulis di lembar ini. Lembar kosong yang tetap dibiarkan kosong. Banyak peristiwa yang terjadi, banyak cerita yang terlewati, banyak sekali alasan yang dijadikan alibi dibalik terhentinya produksi karya. Karya yang tersusun dari kata, kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang bermula pada sebuah tanya, lalu merunut menjadi sebuah jawaban, yang kemudian menjadi sebuah cerita. Cerita yang diceritakan oleh Sastra Ananta. Namun, semua hanyalah sebatas angan saja, yang terjadi kenyataannya adalah tiap kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang sempat ingin dituliskan, semuanya ditelan kembali. Semuanya tidak jadi dimuntahkan karena berbagai macam alasan, salah satunya ialah alasan itu sendiri. Alibi.
Terakhir kali aku menulis itu di waktu hari raya, dengan tema Virus Corona. Di Hari Raya, tulisan itu timbul ke permukaan. Timbul sebagai penanda, penanda bahwa Sastra Ananta masih ada. Bagaikan penanda gabus yang terapung di permukaan air sebagai penanda jaring yang terbentang di bawah permukaan. Banyak sampah yang tersangkut jaring, tidak hanya persoalan hidup saja, namun juga persoalan lainnya, termasuk persoalan yang ditimbulkan oleh Virus Corona.