Minggu Pagi di Praketa Kopi

Minggu pagi, biasanya masih berkutat di alam mimpi, namun tidak hari ini. Bersama Mas Pradna, Mbak Olip, dan Kawan-kawan Blogger Banyumas, saya sudah duduk manis di Praketa Kopi. Mendapat Undangan, Merayakan satu tahun ulang tahun Praketa Kopi, kami diajak meracik dan menyeduh kopi sendiri. Bukan dengan cara biasa, namun dengan berbagai alat penyeduh kopi yang ada. Bagi seorang penikmat kopi tradisional seperti saya, yang terbiasa membuat kopi dengan cara biasa, membuat kopi dengan alat penyeduh kopi itu sesuatu hal yang tak biasa, pengalaman pertama. Pengalaman pertama, dan tak yakin dengan rasa kopi yang saya cipta. Ah tapi sekiranya, saya sudah pernah mencobanya. 
http://olipeoile.com/2016/04/26/brewing-blogging-with-praketa-kopi/
Sumber: Olipeoile.com 

Praketa Kopi salah satu tempat Warung Kopi Purwokerto yang ada di Kota Satria. Berlokasi di Belakang Bank BNI depan Kampus Unsoed, Jalan HR. Bunyamin 129. Tepat satu tahun yang lalu, 4 Mei 2015, Praketa Kopi pertama kali menyeduh kopi yang pertama. Praketa, dalam bahasa sansekerta memiliki arti Pengetahuan, Pengetahuan yang muncul dari sebuah pengalaman. Praketa Kopi, tempat yang menawarkan pengalaman ngopi, tidak hanya sebatas soal kopi tetapi juga soal bagaimana kita menikmati waktu sendiri. Praketa Kopi adalah sebuah pengetahuan, namun juga sebuah pengalaman, pengalaman menikmati kopi di pagi hari, seorang diri. 


Selain pengetahuan, Praketa memiliki arti sebuah sudut pandang. Praketa Kopi, menghargai setiap sudut pandang tentang bagaimana menikmati kopi. Tak peduli soal kopi tanpa gula, tanpa susu, atau kopi sachet biasa, tak peduli bagaimana menyeduhnya, dengan mesin espresso atau manual brewing, semua punya cara sendiri memaknai rasa nikmatnya secangkir kopi. Karena menikmati kopi bukan tentang benar atau salah, tapi semua tentang segala rasa dan pengalaman, tergantung dari sisi mana kita mengenal dan menikmati kopi. 

Bagi saya, menikmati secangkir kopi di pagi hari adalah sebuah tradisi. Tak peduli menyeduh kopi Single Origin atau Blend Coffe, kopi sachet atau kopi gilingan sendiri, tak peduli di rumah sendirian atau di rumah gebetan, tak peduli di warung pinggir jalan atau pojokan warung kopi mahal, semua sama saja. Karena bagi saya menikmati kopi bukan soal lokasi dimana atau harga berapa, tapi soal bagaimana saya menikmatinya. Menikmati kopi, bagi saya bisa dimana saja, dan hari ini saya memilih menikmati kopi di Praketa Kopi. 

Kopi Pertama pagi ini. Hitam, Pahit, Habis terlalu cepat. Seperti ditinggalkan kekasih tercinta, tanpa tanda bahaya. – Raditya Dika
Buatan Sendiri






Purwokerto, 1 Mei 2016.

Comments

  1. Wah... Mas Fandy udah bisa meracik Kopi sendiri, nih. Kapan-kapan kalo jalan ke Purwekorto, ajakin Aku ke situ ya mas. Biar bisa meracik Kopi khas Pangeran Wortel..

    Terus, yg dibuat sendiri dicoba gak? Atau setelah nyoba langsung pingsan? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha kalo meracik kopi sih bisa, tapi soal rasa ya maaf maaf saja tak jadi jaminan :D

      Delete
  2. nax gawl abess. kerjaannya ngupi-ngupi di cafe. aku mah apa minum ovaltine doang di depan tipi.

    ReplyDelete
  3. Aku bukan penikmat kopi tapi suka kalau datang ke kedai gitu. Ini kayaknya seru nih ngeracik sendiri....

    ReplyDelete
  4. Wah, hurung tau ming ngonoh...
    katrok pisan kiyeh aku...
    hadeuuh....

    ReplyDelete
  5. kalau deket. pasti udah aku susul ini acara. keren inih....

    ReplyDelete
  6. Wah... serunya ngeracik kopi sendiri

    ReplyDelete
  7. Selalu ingin meracik kopi sendiri dengan cara yang tak biasa, dengan mesin. Namun apa daya, aku nggak punya peralatannya di rumah sementara di luar rumah, yang aku tau, nggak ada kedai kopi atau cafe yang memperlihatkan cara meracik kopi sendiri di depan mata. Entah kalau di belakang.
    Waktu itu kepengen beli alatnya. Alatnya itu nggak ribet-ribet amat sih menurutku, malah praktis. Tapi ya gitu, harganya terlalu mahal untuk seorang pelajar sepertiku :(

    ReplyDelete
  8. Asik banget bisa ngeracik kopi sendiri. Btw asik nggak nih tempatnya buat nongkrong? wk

    ReplyDelete
  9. Eng... kopiii :D aku lebih suka sama kopi instan :D pernah nyicipin kopi-kopi begitu, rasanya kok paiiiiiit banget ya ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kopi instan gak sehat Feb. *nyamber komen disini* hahaha

      Delete
  10. Praketa Kopi. Namanya unik ya :) pengalaman dan pngetahuan. Pengalaman ngeracik kopinya nih pasti seru.
    Sayang aku bkan penikmat kopi. Lebih suka susu. Tp kopi susu jg enak sih, gak bgtu pahit. Yg paling aku suka dari kopi itu aroma nya.. menenangkan~ Apalagi kalo ujan2 nyium bau kopi. Hmmmm

    ReplyDelete
  11. Warung kopi sekarang ada di setiap kota, budaya ngopi mulai kenceng dan semoga bukan musiman doang

    ReplyDelete
  12. Emang beda yak cara meraciknya kalau kita bikin manual biasa? Rasanya enak mana? Hahaha.
    Aku ngga terlalu paham perkopian. Kalau di mall banyak benget tuh jenisnya, ada arabika, robusta, dan lain-lain. Itu perbedaannya dari asal daerah atau bagaimana yak?

    ReplyDelete
  13. Wangi kopinya kecium sampe sini mas hehehe..salam kenal
    http://ryokusumonote.wordpress.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia