Tentang Pengalaman Pertama

Awalnya, mengulas tempat nongkrong anak muda bukanlah aliranku, bukanlah pilihan untuk tulisan dalam blogku. Tapi entah kenapa dengan kebisingan yang aku dapatkan di tempat ini, memberiku ide untuk mengulas sedikit banyak tentang tempat ini, sebuah warung yang lagi terkenal di kalangan anak muda daerah Kota Satria, Purwokerto. Warung Ora Umum.

https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fscontent.cdninstagram.com%2Fl%2Ft51.2885-15%2Fs640x640%2Fsh0.08%2Fe35%2F12534292_1114644515235058_1272080957_n.jpg%3Fig_cache_key%3DMTE3MTQwMTQ0Njg3MTc5MDExMQ%253D%253D.2&imgrefurl=http%3A%2F%2Finstagify.com%2Ftag%2Fmakananpwt&docid=QGoKapbFvqFjZM&tbnid=1pO50UGC9ozZTM%3A&w=640&h=640&bih=667&biw=1366&ved=0ahUKEwjn-LefgYLNAhUIs48KHc4wCwQQMwgpKA8wDw&iact=mrc&uact=8

Ramai derai, penuh canda tawa, dan ditambah hujan deras yang menggila, semakin menambah keramaian siang itu. Aku suka hujan, tapi tak suka ketika dia datang tanpa peringatan. Seketika datang berhamburan, memberiku dua pilihan, lanjut jalan tapi kebasahan atau berhenti lalu masuk ke dalam sekedar nyari makanan. Ya, aku pilih opsi kedua. Tanpa aku sadari, ternyata perut kelaparan bisa menentukan pilihan.


Kebisingan, adalah kesan pertama yang aku dapatkan ketika masuk ke dalam warung ini. Kebisingan yang timbul akibat ramainya pelanggan yang datang pada hari itu, ditambah dengan turunnya hujan deras di siang itu, memaksaku untuk berteduh, masuk dan memilih tempat duduk tepat di tengah-tengah keramaian warung. Aku memilih untuk duduk sendiri di depan ornamen pohon yang menjadi daya tarik warung ini, dan entah kenapa aku memilihnya tempat itu. Nyaman mungkin. Ah memang sebuah rasa nyaman tak pernah dijelaskan dengan berbagai macam ulasan dan seribu jawaban. Mungkin beginilah rasa nyaman yang dirasakan setiap orang, rasa nyaman tanpa alasan.

http://satelitnews.co/berita-melahap-hidangan-ora-umum.html

Lewat sedikit dari jam waktu makan siang, aku masuk dan memesan makanan. Seperti warung kebanyakan, kita langsung memesan makanan dan langsung membayarnya, dan hari itu aku memilih tiga menu, Es Cappucino (Rp. 10.000) sebagai minuman, dan untuk makanan aku memilih, Roti Bakar Tiramisu (Rp. 12.000) dan Indomie Goreng Sosis Bakar (Rp. 11.500).

Sedikitnya, keramaian dan kebisingan itu cukup mengganggu. Haha ya bagi seorang yang suka kesunyian, kebisingan bisa menjadi sebuah gangguan. Pandangan menyapu seluruh ruangan, telingan menyerap semua keramaian, dan kulit tak bisa menyembunyikan kegugupannya, keringat dingin mulai bercucuran. Ya ternyata aku baru sadar, ternyata aku baru pertama kali masuk ke tempat itu, warung yang lagi terkenal di kalangan anak muda Purwokerto dan sekitarnya. Warung Ora Umum.



Sembari menunggu pesanan, dan memasrahkan kedua telinga untuk mendengarkan semua keramaian, aku memilih untuk membaca buku. Iya, membaca buku di tempat keramaian memang menggelikan. Mata tak bisa fokus, antara memilih membaca buku atau melihat para wanita yang berseliweran di depan mata. Mata tak bisa fokus, untuk sekedar membaca satu halaman pun rasanya berat, berat untuk mengabaikan apa yang tersaji di depan mata. Obrolan para wanita, riuhnya canda tawa mereka. Ah sudahlah, aku kesini niatnya mencari makanan bukan mencari perawan. Eh!

Akhirnya sang buku menyerah, digeletakan dirinya begitu saja dan aku memilih untuk berdiam saja. Berdiam menunggu tiga detik waktu yang disediakan untuk memilih gaya, gaya foto muka, foto selfie seperti kebanyakan anak muda. Ah kok aku jadi malah mencari pengakuan akan eksistensi jati diri? Ya ampun, kamera depan handphoneku ternyata hasil fotonya luar biasa. Ya ampun! Lalu foto lagi, lagi, dan lagi. Malah ketagihan.

Lagi? Eh Tunggu!

Pesanan pertama datang, Es Cappucino. Dengan harga hanya Rp 10.000 saja, entah kenapa menurutku rasanya begitu pas di lidah jawa. Kombinasi antara segar, manis, dan kopinya ditambah cuaca yang lagi hujan deras, terasa begitu (tidak) pas. Tak seperti dia yang antara omongan dan isi hati terkadang suka berbeda. Bilangnya setia, eh ternyata mendua. Bilangnya sudah melupakan dia, eh ternyata masih mengharapkan cinta lamanya. Ah ternyata belum move on dari cinta lamanya. Eh kok jadi bahas masalah dia, aku kan sudah lupa akan sosoknya. Entahlah.

Fokus ke Minumannya

Tak lama berselang pesanan kedua datang, Roti Bakar Tiramisu. Iya aku juga miss you. Eh!
Roti Bakar Tiramisu harganya Rp. 12.000, antara harga dan tampilan ternyata aku keliru. Roti Bakar Tiramisu ternyata dapatnya hanya dua lembar roti tawar biasa. Iya roti tawar biasa. Dilihat dari harganya, seketika aku kangen sama roti bakar pinggir jalan. Roti bakar pinggir jalan harga 12 ribu bisa buat kenyang semalam, kalau Roti Bakar Tiramisu harga 12 ribu bisa buat mikir semalaman. Ya ampun, penyesalan memang selalu datang terakhiran. 

Fokus ke yang ada benderanya
Saat realita membuat impianmu tak terkabul seperti yang diharapkan, tak ada hal lain yang kamu dapat selain kecewa. - Hipwee.com
Ternyata untuk soal rasa, Roti Bakar Tiramisu rasanya enak juga. Ya meskipun dapatnya cuma dua, tapi untuk soal rasa kalian boleh mencoba. Rasa krimnya manis, meskipun rasa-rasanya mirip campuran susu kental dan janji manis. Pinggiran rotinya renyah skripsi eh krispi. Ya meskipun untuk soal harga di luar logika, tapi dari tampilannya tenyata boleh juga. Dengan tambahan bendera di atasnya, sungguh layak untuk difoto dan ditampilkan di instagram kita, sekaligus biar gaya. Memang ya, untuk sekedar gaya terkadang membutuhkan biaya dan pengorbanan di luar logika. Seperti halnya cinta, terkadang bisa membuat orang gelap mata, dan melakukan banyak hal yang di luar logika. Ah begitulah cinta.

Hujan deras tak kunjung reda, dan perut ternyata masih lapar juga. Alhasil, pesanan ketiga jadi pilihan bijaksana. Dan pesanan terakhirku adalah kamu, eh maksudnya Indomie Goreng Sosis Bakar yang seharga Rp. 11.500 untuk tiap porsinya. Seperti halnya Mie Instan yang lainnya, dalam besaran porsi pun hampir sama dengan mie instan biasa. Dan, yang jadi pembeda adalah topingnya, ada sosis bakar dan telor mata sapi. Bukan mata najwa apalagi matahari, ini hanya telor mata sapi.

Bagaimana? Biasa Saja!

Dari tampilan pun menurutku itu biasa saja, namun aku selalu percaya jangan pernah menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja, tapi lihat bagaimana dalamnya, dan bagaimana rasanya. Seperti halnya kamu, meskipun kamu sederhana dan biasa saja tapi bagiku sungguh luar biasa. Namun ternyata ini tak berlaku untuk rasa Indomie Goreng Sosis Bakar yang aku pesan. Pas pertama aku coba potongan sosisnya, dan PYAR! Rasanya keasinan. Mungkin yang masak lagi kepengin kawin, makanya keasinan. Rasa telor ceploknya pun biasa saja, masih enak bikinan mbak-mbak burjo depan kampus dulu, apalagi telor ceplok bikinanmu dulu, yang ini mah kalah jauh. Dan rasa mienya ya seperti rasa indomie biasa, rasa bumbunya pun sama. Ya iyalah namanya juga indomie goreng.

Dari segi pelayanan, menurutku pelayanannya itu Fast Response Gan!. Dengan waktu buka 24 jam, selain Burjo, Warung Ora Umum bisa jadi pilihan terakhir untuk mengganjal perut lapar. Selain itu untuk desain interior ruangan menurutku instagram-able banget. Layak untuk dijadikan background selfie bersama. Untuk perihal koneksi WiFi, tadi aku tak sempat mencoba. Entah ada atau tidak, aku tak tahu kebenarannya.

Dan hasil akhirnya, untuk sekedar pilihan tempat nongkrong, Warung Ora Umum bisa jadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama kawan-kawan. Cocok untuk tempat bergaul, tempat eksis diri, tempat selfie, dan tempat mencari koneksi. Perihal ulasan makanan berat, mungkin lain kali, semoga ada rejeki dan bisa memesan makanan favorit yang ada di tempat ini. Iya, lain kali.


Mungkin sekiranya ini hanya tulisan ulasan yang biasa. Tulisan ini bukan bermaksud untuk promosi atau sekedar mencari komisi. Tulisan ini hanya sekedar pengisi waktu luang menunggu hujan dan menunggu pesanan datang. Jadi sekiranya perut lapar selain membuat sensitif perasaan ternyata bisa juga menjadi ikhwal awal tercipta sebuah tulisan. 
Seperti halnya sebuah Cinta dan harapan palsu, terkadang pesanan datang ke arah meja kita hanya untuk melewatinya, lalu mendarat di meja belakangnya. Seperti halnya ciuman pertama, akan terasa gugup ketika melakukan untuk kali pertama. Terkadang melihat kehadiran sosok wanita pujaan itu layaknya melihat kedatangan makanan pesanan, selalu membuat mata berbinar, wajah tersenyum lebar, dan dada penuh berbagai desiran.
 Purwokerto, Siang Hari di Tengah Hujan Deras, 30 Mei 2016.

Comments

  1. wah kak fandy udah pakai dot com. keren! :D

    ReplyDelete
  2. ngeliat mienya bikin lapeerrr :(

    ReplyDelete
  3. wah gak tanggung porsi yg di pesan kak fandy..
    memang saat hujan itu asyiknya makan.. apalagi sajian mie yg msh hangat, menetralkan suhu badan yg kedinginan krena angin hujan.. :D

    ReplyDelete
  4. bacanya susah deh, mau fokus ke review warung dan makanannya atau ke kalimat-kalimat baper yang tersebar, xD
    aku kayaknya gak bakal ke sana deh, kalo riuh berisik gitu, hahaha

    ReplyDelete
  5. wah asik tuh ya ini warung. kayaknya emang anak muda banget, kalau dilihat dari harga makanannya sih bersahabat. pelayanannya juga fast response pula, gokil abis. buat dijadiin tempat nobar bola asik ya..

    ReplyDelete
  6. Sayangnya aku di Purwakarta. Nggak nyampe :(
    Dilihat dari foto, emang mengesankan sih tempatnya. Luas nggak, Kak?
    Terus, dari menunya ini tongkrongan remaja cocok banget~ yaaa kalo mahal dikit mah, inget weh kita bayar PPN hahaha.
    Btw ngilet liat roti tiramisunya :(

    ReplyDelete
  7. wah... tempat nongki nongki heppy ceria.... cocok buat ngebawa selingkuhan ngga ini? hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((cocok buat ngebawa selingkuhan ngga ini?))) , mbok yaa selingkuh jangan di tempat rame mas :-)

      Delete
  8. Cocok banget nih mas buat anak muda yang ingin berduaan dengan pasangannya.

    ReplyDelete
  9. Ada beberapa poin yang harus gue bahas fan.

    1. Bajunya ga bagus, ganti aja sama yang biru ite,=m.
    2. Roti sama Mie ?? Astagaaa, banyak juga makan lu yaa :-))
    3. Gugup di ciuman pertama ?? Oh , ayolah itulah mengapa harus banyak mencari ilmu sebeleum prakter:p

    ReplyDelete
  10. aku paling jarang pesan menu indomie atau mie instan lainnya kalau di cafe-cafe. karena rasanya pasti ya gitu-gitu juga. cuma ditambain toping. bagus buat sendiri di rumah hehheee...

    btw, bukanya 24 jam ya,,, waaah bisa jadi piliha kalau laper tengah malam nih yaak :)

    ReplyDelete
  11. Iya..biasa aja! hehe..yang keren tulisannya, salam kenal mas :) monggo mampir
    http://ryokusumonote.wordpress.com

    ReplyDelete
  12. Lah dia selfie di postingan kuliner hahaha eh yaa gakpapa juga sih :P

    ReplyDelete
  13. Bang pipi mulai melebar tuh
    makan terus nih kayaknya
    hihihi

    ReplyDelete
  14. Sendirian aja mas, ti hati di godain tanmud tanmud (tante muda). Kalo butuh rekan nongkrong apalagi yang makanannya enak enak kaya begitu, call me aja mas saya sanggup kok ngabisin makanan begitu apalagi makanan sisa *lah jadi promosi modus* becanda ya mas :D

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
  15. Wah keren yaa menu di Warung nya , biasa tapi dikemas dg menarik.

    ReplyDelete
  16. hampir sama kaya postingan sya sebelumnya, pertama kali mencicipi tempat baru. Beda nya saya agak beruntung karena langsung dapet enak makanannya, sampai nagih. hehe

    journeysn

    ReplyDelete
  17. Replies
    1. Huaaa. aku udh komen pnjang wktu itu ilang yah? Apa emg blm komen? Prsaan udah:o Ah, yaudalah. Maafkan aku. Wkwk.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia