Apa Salahnya Memilih Diam ?

Apa salahnya menjadi diam? Jika diam menjadikannya tenang, kenapa memilih bersuara lantang yang hanya menciptakan perang. Diam bukan berarti kalah, diam juga bukan berarti mengalah, tapi diam itu mencoba untuk menjadi penengah. Menjadi diam itu tak salah, namun seringkali bernilai serba salah. Terkadang diam adalah pilihan terbaik tatkala mulut mulai enggan untuk berucap dan berkata.

http://riniyuvita.blogspot.com/2013_06_01_archive.html

Diam itu tak salah, namun juga tak benar. Diam itu menanti, bukan membisu. Menanti waktu yang tepat untuk berbicara, tak asal berucap bagai senar gitar yang acak bergetar. Jangan bicara tatkala jiwamu murka, jangan berjanji tatkala jiwamu sedang tak bernyali. Bukan bermaksud menghakimi tapi hanya untuk menjaga diri. Menjaga diri dari api janji yang begitu membakar hati. Terkadang aku memilih diam bukan karena tak tahu apa-apa, tapi aku memilih diam karena enggan untuk memperkeruh suasana. Sesungguhnya aku memilih diam ketika banyak pendapat yang ingin aku sampaikan namun oleh mereka ditanggapi layaknya sebuah umpatan. Tak berguna, dan tak diapresiasi. Jadi untuk apa aku banyak cakap?


Jangan menjawab ketika sejuta kata menyerang urat syaraf telinga. Menjadikanmu tuli tatkala kamu memilih untuk membalasnya. Ingatlah kata Putu Wijaya “Jangan bicara ketika kau ingin menyemprot dunia dengan kata-kata, karena di belakangnya mengantri berjuta-juta kata indah yang sedang menanti. Bicaralah ketika kau membisu.” Mendiamkan diri bukan mendiamkan dunia, tetapi mencari celah masalah untuk menyelipkan solusi. Orang bijak berkata karena mereka punya sesuatu untuk dibicarakan.

Jika diam menjadikanmu seperti Macan sekiranya diam menjadi pilihan. Apa gunanya berteriak lantang jika hanya akan menjadikanmu seperti kawanan Anjing jalanan. Kawanan Anjing jalanan yang berisik dan saling mengusik. Imam Syafi’i pernah berkata “Tidakkah engkau lihat bagaimana Macan di hutan belantara begitu ditakuti dan disegani ketika mereka diam. Tidakkah engkau melihat bagaimana orang-orang melempari anjing-anjing jalanan karena terlalu banyak menyalak dan menggonggong tak perlu.” Terkadang aku memilih diam bukan karena tak punya kata, tapi karena menurutku itu lebih mudah dalam menjelaskan semuanya.

Jadi, apa salahnya Aku memilih diam ???

Comments

  1. Termasuk merindu dalam diam?
    Cinta 'diam-diam' ?

    *efek ngomen di sabtu malam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena pada dasarnya jatuh cinta diam diam adalah luka terdalam dalam satu kisah percintaan dalam diam. Ah pusing.

      Delete
  2. Nggak ada salahnya. Itu hak elu, kan? :D
    Kalo berbicara malah membuat lu semakin rumit, diam sangat diperlukan. :))
    Seperti konflik sama pasangan aja, terkadang minta maaf juga salah. Mendingan diam dan tunggu emosi reda.
    Halah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha betul tuh yog, pengalaman membuktikan ya :D

      Delete
  3. semua orang berhak untuk diam.
    selama diam adalah pilhan terbaik, maka membisu saja lah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha ya nggak membisu selamanya juga kali jev :D

      Delete
  4. Mendiamkan diri bukan mendiamkan dunia, tetapi mencari celah masalah untuk menyelipkan solusi. Orang bijak berkata karena mereka punya sesuatu untuk dibicarakan.

    suka ungkapan itu, kak!

    ReplyDelete
  5. Bener, bang. Diam itu kadang merupakan keputusan terbaik. Namun bicara juga diperlukan. Singkatnya, diamlah sesuai dengan kondisinya. Karena ucapan seringkali menjadi penyebab timbulnya persengketaan. Bahkan kematian. Seperti burung di dalam hutan, kalo saja dia diam tak bersuara, pasti pemburu tak akan mengetahui keberadaannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes, anda benar. ingat slalu kata peribahasa "mulutmu harimaumu" jadi jagalah mulutmu sebelum jaga hatimu hahaa

      Delete
  6. diam itu bukan berarti tidak menghiraukan masalah yg sedang terjadi tapi diam itu juga sedang memikirkan jalan keluar suatu masalah.
    nice to meet ya :)

    http://litarachman.blogspot.com/

    ReplyDelete
  7. Setuju banget. Diam emang bukan berarti kalah, tapi menanti untuk menang. Daripada orang yang banyak omong, tapi mereka sendiri nggak tau apa yang mereka omongin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeah kamu tahu sendiri kan jaman sekarang kayak gimana :"))

      Delete
  8. Ada kalanya diam untuk meredam.. Ngga papa kok.. Asal jangan keterusan. Bagaimana pun, menyuarakan pendapat itu lebih baik :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia