Tanpa Kata-kata

Kalau berbicara banyak-banyak bisa membuatmu mengerti, maka aku akan melakukannya. Melakukan semuanya dengan caraku, cara yang berbeda. Cukup banyak yang aku tahu, mana yang aku tak tahu, mana yang kamu mau, dan mana yang kamu tak tahu. Aku cukup tahu banyak akan tentangmu, tapi apakah aku harus berkoar-koar kesana kemari agar kamu tahu, bahwa aku cukup banyak tahu tentangmu, tentang banyak hal, tentang berita terbaru, tentang hal yang kau anggap penting.

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://photo3.ask.fm/652/245/356/-59996999-1tbefdm-2ba3phdbkqemhna/preview/avatar.jpg&imgrefurl=http://ask.fm/nisapeye&h=300&w=300&tbnid=VetAnaA_wkt2AM:&docid=2zjn9GOaMI1u2M&ei=5YArVrbfJcKnuQSExZ2oDw&tbm=isch&ved=0CHsQMyhWMFZqFQoTCPblvvyU28gCFcJTjgodhGIH9Q

Aku bisa berbicara seharian tentang berita, tentang berita terbaru yang tak kamu tahu. Menyampaikannya padamu dengan sudut pandangku, dengan caraku, caraku yang kau anggap aneh itu. Aku suka musik, aku tahu segala jenis musik, tapi sayangnya aku tak cukup mahir dalam memainkan alat musik, yang aku tahu soal musik hanya soal musik apa saja yang jadi favoritmu, jadi kesukaanmu. Aku bisa memberimu petunjuk, tentang semua jenis lagu yang mana cocok akan suasana hatimu, mana yang cukup bagus untuk mendongkrak semangatmu, dan mana yang cocok untuk sekedar menyingkirkan awan mendung hatimu, aku tahu lagu yang cocok untukmu. Tapi, apakah kamu mau berhenti sejenak, dan mendengarkan semua saranku?


Aku bisa bicara seharian tentang segala mimpimu, segala mimpu yang kita rangkai bersama dulu. Di bangku ini, di kursi ini, di taman kota ini. Di tempat kita saling bertemu sekedar untuk menyanyikan satu persatu lagu dengan latar langit malam kota yang jadi favoritmu. Maukah untuk sekedar mengingatnya lagi, mengingat kembali remah-remah kenangan masa lalu, perihal semua tentang usaha kita yang saling bahu-membahu mewujudkan semuanya. Aku bisa berbicara semalaman tentang politik, tentang satu hal yang tak kamu mengerti. Membahas semua tentang korupsi, tangan-tangan kotor yang mencoba menjadi bersih, mencuci tangan lewat kran-kran birokrasi dengan uang sebagai pembersih utamanya. Tapi, apa yang aku bisa katakan? Semua yang aku katakan olehmu dianggap hanya angin lalu, hanya bagian dari sebuah hal yang klise. Dan dari apa yang aku lihat dan aku dengar, semua menjadi tak berarti di hadapanmu, tanpa makna, tanpa kata-kata.

Aku bisa bicara banyak hal tentang kehidupan, tentang bagaimana kehidupan terus berjalan meskipun sudah begitu banyak perang, dan bagaimana kita semua masih hidup setelah masa perang berlalu. Aku bisa berbicara sepanjang malam tentang dunia, tentang bagaimana aku butuh waktu tiga puluh tahun hanya untuk menemukan satu gadis. Aku bisa menyingkirkan semua omong kosong tentang pencarianku, pencarian tentang satu gadis itu yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah dirimu. Tepat di depan mataku, dan itu kamu. Tetapi ketika aku mencoba untuk mengatakannya, kau anggap semua seperti sesuatu yang tak pernah kamu dengar. Membuatku merasa bahwa semua itu tak ada maknanya, tak ada artinya, menjadikanku kehabisan kata-kata. Membuatku tanpa kata-kata.

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/f5/2c/28/f52c286a5b9096637d1315553e58893b.jpg&imgrefurl=https://www.pinterest.com/candi_shelburne/the-script/&h=354&w=236&tbnid=nmARxYjIgViHNM:&docid=nedazdZbULpAyM&ei=5YArVrbfJcKnuQSExZ2oDw&tbm=isch&ved=0CCAQMygHMAdqFQoTCPblvvyU28gCFcJTjgodhGIH9Q

Ya, aku bersumpah bahwa ini benar. Tidak ada kata yang tepat di dunia ini untuk menggambarkan tentang dirimu. Percayalah, aku sudah mencoba menjelaskannya lewat ilmu pengetahuan, tapi tak bisa. Sekiranya saja, melihat sosokmu dalam benakku sudah cukup untuk membuat mulutku beku, lidahku terasa kelu, dan seketika diam mati kutu. Kamu, sosok gadis yang mampu membuatku mencinta sekaligus membenci dalam satu waktu. Menjadikanku ragu sekaligus siap untuk maju. Kamu adalah aku, aku adalah kamu, begitulah katamu dulu, kata-kata yang terucap di depan pantulan kaca. Kamu, sosok yang membuatku ada dan tiada. Kamu, sosok gadis yang membuatku banyak berucap sekaligus menjadi diam senyap. Satu kata, sebaris kata, sejuta kata, apapun itu di depanmu menjadi tak berguna, menjadi tak ada artinya, membuatnya tanpa makna, menjadikanku tanpa kata-kata. Di depanmu aku bagai prosa tanpa makna, tulisan tanpa kata-kata.

Yeah, I swear this much is true, There are no word in this world that describes you.

The Script - No Words


*Untuk bahan tulisan tersebut, sebagian kata aku ambil dari lirik lagunya The Script – No Words. Dan sebagian kata-kata yang lainnya aku tulis dengan kata-kata sendiri*

Comments

  1. Sabar, Gan. Mungkin dia bukan lawan bicara yang tepat dan seimbang dengan kamu.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sadar kalo dikomentarin sama temennya Zuck dan Linn :')

      Delete
  2. Karna memang, nggak semua bisa diwakilkan dengan kata-kata. Seperti... saat mendiskripsikan pasangan yang sangat dicinta. Tak cukup dengan sebaris puisi atau sebait do'a. :')

    ReplyDelete
  3. Gue seneng banget ma ni lagu,, jleb banget,,
    Btw mungkin ente keseringan stalking doi gan, haha
    Salam kenal
    Xapinos.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Yang bagian ini "Di depanmu aku bagai prosa tanpa makna, tulisan tanpa kata-kata." ckck kasian-kasian. Tapi dibikin enjoy ajalah semuanya

    ReplyDelete
  5. Gue baru tahu lagu The Script yang itu. Thanks, Fan. :D

    Yah, terkadang untuk bahagia kadang nggak perlu dijelasan lewat apa-apa. Termasuk tanpa kata-kata.

    ReplyDelete
  6. akkk gue suka sama lagu ini, apalagi ngedengerinnya sambil baca potingan ini, jadi berasa bikin spechless aja.

    membenci dan mencinta dalam satu waktu < ah gue banget nih :X

    ReplyDelete
  7. Kak Fan, aku suka sekali dengan tulisan ini. Rasanya mengingatkanku sama kejadian serupa beberapa tahun lalu. Mirip, haha. *brb unduh lagunya*

    ReplyDelete
  8. Bagus. 30 tahun bukan waktu yang sebentar. Saya mengalaminya.

    ReplyDelete
  9. nice written (yet sad and touched). aakkk! *nomorecomments*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa Salahnya Memilih Diam ?

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Politik Kekerabatan : Studi Kasus Politik Dinasti di Indonesia