Posts

Showing posts from October, 2017

Cerita Tentang Nyonya Lakarna

Malam belum larut benar, tatkala aku temukan dirinya terbaring sesenggukan di atas tempat tidurnya. Dirinya terlihat begitu berantakan, dengan tisu bekas pakai berceceran di lantai kamarnya. Nampaknya dia masih tersadar, tatkala aku usap rambutnya, seolah memastikan bahwa dirinya itu nyata. Kedua matanya terlihat memerah, tatkala ku sibak rambut panjang yang menutupi wajahnya.
Dirinya masih belum mau membuka mulutnya, tatkala ku angsurkan gelas berisi air putih kepadanya, sekedar untuk menenangkannya. Namun dia tak segera meminumnya, dia hanya melihat, dan menimang-nimang seolah heran tatkala melihat isi gelas yang dia pegang. Kesabaran, hanya itu yang aku punya saat itu. Kesabaran menunggu, sejenak menanti dirinya tenang, dan mau menceritakan semuanya. Dirinya terlihat begitu terguncang, pundaknya nampak bergetar, sesenggukan, dan sedikit mereda, tatkala pada akhirnya dia mulai minum air dari gelas yang dipegangnya.

Sebuah Pertanyaan Agung

Pernahkah kamu merasa, kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab tanda tanya itu. Tanda tanya agung.” – Reuben, (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh).
Kehidupan di dunia ini akan terasa berbeda jika tanpa manusia. Populasi manusia tersebar secara acak di berbagai belahan dunia. Tersebar ke segala penjuru, dari sudut ujung Semenanjung Siberia sampai ke tepian Semenanjung Iberia, dari ujung Kutub Utara sampai ke seberang selatan Benua Antartika, tercecer segala jenis manusia yang terbagi dalam berbagai macam suku bangsa, ras, agama, dan bahasa. Semua hidup bersama, dengan satu tarikan nafas yang sama, di bawah langit yang sama, di Bumi yang sama, dengan sebuah tanda tanya yang sama. Tanda tanya tentang dirinya. Untuk apa dirinya hidup di dunia?

Tidak Sesuai Harapan

Suatu sore, aku berjalan jauh memutar, melingkari setiap sudut kota yang biasa aku lewati setiap pulang kerja, lalu berkelok menyasar menembus jalanan lain. Sengaja menghindar, menjauh dari keramaian, memilih berjalan sendiri, memilih lorong yang sepi. Sekiranya di lorong sepi aku merasa sendiri, namun nyatanya aku tak sendiri. Dari kejauhan aku melihat senja yang bertopang dagu sendiri. Melebarkan senyum simpulnya, mengharapkan balas jasa atas setiap keindahannya. Tapi terkadang hanya pertanyaan sama yang jadi balasannya, “Mampukah aku bertahan?”
Ada seorang laki-laki tua, terduduk sendiri di pojokan jalan, yang perlahan menyepi berkawan sepi. Kedua tangan tuanya, begitu lincah menari di atas lembar putih kertasnya. Menggambar sesuatu untuk hadiah perpisahan anak kecilnya, menggambar keindahan senja yang terakhir katanya, senja terakhir sebelum waktu penghakiman tiba. Penghakiman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. “Tapi apa harus begitu?. Kenapa tetap menerimanya?” begitu …