Posts

Memilih Untuk Berhenti

Adalah kenyataan, yang membuatku tersadar bahwa banyak hal yang tidak bisa dilakukan ketika diriku ditimpa begitu banyak beban pekerjaan. Dengan waktu yang terbatas, tenaga yang lekas terkuras, hanya kesadaran akan kebutuhan keluarga yang membuatku tetap waras. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika harus menjadi sapi perah yang segala miliknya diremas hingga tuntas. Tidak ada waktu untuk rekreasi dan menyalurkan hobi, bahkan untuk mengeluh pun sudah tidak punya waktu lagi, selengkapnya ada disini Jikalau pekerjaan bisa sedemikian keras, apakah aku harus bertingkah sebaliknya? Memelas atau bertambah semakin keras? Ah entahlah. Saat ini, di kepalaku yang tersisa hanyalah gambaran-gambaran buram yang tidak jelas dan tidak terjelaskan.

Tidak Ada Waktu

Akhir-akhir ini ada begitu banyak hal yang aku pikirkan. Mulai dari jam kerja yang semakin keterlaluan, beban pekerjaan yang semakin berat, serta mulai terasa merosotnya ketahanan tubuh dalam menghadapi semuanya. Aku merasakan begitu Lelah, baik secara fisik maupun psikis, sampai-sampai yang aku inginkan hanyalah tidur, tidur dan tidur. Apakah ini artinya aku sedang mengalami Burn-Out ? Hari demi hari, kondisi tidak semakin baik, apalagi jika ditambah dengan cuaca yang tidak menentu, kadang hujan gerimis kadang hujan badai, seringkali aku merasa begitu muak, ingin rasanya memberontak dan teriak. Tapi aku tidak bisa. Tubuhku menyerap semuanya, tubuhku meredam semuanya. Bahkan, untuk pertama kalinya, sholat malam dan tadarus membaca kitab suci, tidak memberi efek sama sekali.  Apakah ini tandanya aku harus istirahat dan menghentikan semuanya? Berhenti sejenak, dan memberi jeda yang aku butuhkan selayaknya spasi di setiap kalimat yang aku tuliskan. Karena semakin tidak ada jeda, segala se

Sebuah Tulisan Sederhana

Image
It took all the strength, I had just not to fall apart. I’m trying hard to mend the pieces of my broken heart. And, I spent so many nights just feeling sorry to myself. I used to cry, but now I hold my head up high.~~ (Cake – I Will Survive) Sedari kecil, saya diajarkan untuk hidup sederhana, bukan ala kadarnya tapi sederhana. Sederhana dalam arti yang sebenarnya, Jika yang ada tersedia itu merk A, kenapa harus repot-repot dan memaksa mencari untuk merk B? Ya begitulah adanya. Sesederhana itu. Pelajaran yang diajarkan oleh orang tua, tetap saya ingat sampai kini.   Bahkan beberapa keinginan yang saya punya, itu sebenarnya sangat biasa, dan sangat sederhana. Bagi sebagian orang, keinginan yang saya punya begitu biasa, begitu normal seperti orang yang lainnya. Hidup bahagia, tenang tentram, berkeluarga, dengan beberapa anak, dan memiliki pekerjaan tetap. Sungguh biasa sekali bukan? Ya memang begitulah adanya, sesederhana itu. Hanya saja terkadang semesta dan takdir membuat hal itu s

Yang Tidak Terjelaskan

Terbangun dengan kepala berat di pagi hari, tidak ingat apa yang terjadi semalam, dan tidak tahu sedang berada dimana. Beberapa helai pakaian berserakan di tempat tidur, dengan beberapa gaun wanita berserakan juga di lantai. Entah milik siapa, tidak ada bedanya, tidak ada yang yang tahu ini punya siapa, itu punya siapa. Kesadarannya masih belum pulih benar, ketika melihat lampu kamar mandi menyala, dengan gemericik suara shower yang teredam oleh pintu kamar mandi yang tak seberapa tebalnya. Terlihat siluet bayangan seseorang di bawah shower dari balik kaca buram pembatas di pintunya, entah dia siapa, entah pria entah wanita, entah kenapa dirinya tidak mengenakan apa-apa. Apa yang terjadi sebenarnya? Begitu pikirnya. Tidak lama kemudian, suara shower tak terdengar lagi, terganti oleh suara senandung merdu seorang wanita. Dia hendak memejamkan matanya kembali, ketika tercium semerbak aroma wangi yang begitu dia kenali. Ah entahlah, mungkin sedang bermimpi, begitu kilahnya. Kesadarannya

Sebuah Tulisan: Sungguh Tidak Jelas

Image
Terkadang hidup bisa sedemikian tidak jelasnya, jika hanya dihabiskan untuk mencari penjelasan tentang apa yang tidak jelas dalam hidup. Karena semakin banyak mencoba untuk mencari penjelasan, maka semakin banyak pula hal-hal tidak jelas yang meminta penjelasan. Hidup memang seperti itu, apalagi jika hidup di suatu negara yang sangat indah dan selalu disirami cahaya matahari setiap tahunnya. Banyak sekali penjelasan yang berkeliaran di linimasa. Apalagi di grup WA, entah di grup keluarga atau di grup SMA, semuanya bertingkah seolah menjadi ahli yang pandai dalam menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak dipahaminya. Mengoceh sana, mengoceh sini, kutip teori itu, kutip teori ini, bila perlu pakai ilmu cocoklogi. Segala sesuatunya yang sekiranya agak cocok, dia jelaskan dengan menggebu, kepada mereka yang membutuhkan penjelasan, membutuhkan pencerahan.

Melihat Angan Bekerja

Image
Setidaknya, dibutuhkan kurang lebih uang satu juta rupiah untuk melakukan reparasi sepeda motor. Ada beberapa bagian yang perlu diganti dengan yang baru. Salah satunya adalah rem depan. Tidak banyak yang dipedulikan dari rem depan, selain tugas fungsionalnya sebagai pengendali laju sepeda motor. Jika bagian itu tidak berfungsi dengan benar, maka akan menciptakan kekacauan yang bisa menimbulkan celaka bagi pengendaranya. Sungguh betapa pentingnya rem depan, namun seringkali diabaikan. Tapi duit darimana?? Seperti halnya rem depan, logika pun perlu diperhatikan dengan seksama. Agar nantinya, logika tetap sehat dan waras dalam mengatur laju kecepatan alam pikiran bawah sadar yang sering kali mencetuskan hal-hal yang tidak jelas. Belum lagi, kecenderungan alam pikiran yang jika tidak dikendalikan akan mudah terhasut oleh bujuk rayu perasaan. Alangkah bedebahnya hidup ini jika segala aspeknya selalu terbawa bujuk rayu perasaan. Hilang akal sehat, tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan

Tidak Ada Mudik Tahun Ini

Image
Tidak ada keluarga yang sempurna, tapi bagi saya, keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali. Kembali dari tanah rantau, untuk menata diri, untuk menjaga tali silaturahmi, agar tetap terjaga dan terajut rapi.  Kami Tidak Mudik Menjelang Hari Raya, banyak orang yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebatas mudik ke kampung halaman. Tidak peduli di tengah jalan akan berdesak-desakan, terjebak kemacetan hanya untuk berkumpul dan merayakan hari raya bersama keluarga. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, masih banyak orang yang rela menerobos segala larangan dari pemerintah untuk mudik. Karena tidak lengkap rasanya, hari raya tanpa berkumpul dengan keluarga.