Posts

Sebuah Cerita: Lautan, Senja, dan Aksara

Image
Aku ingin bercerita tentang suatu masa, dimana ada seorang anak lelaki yang nekat pergi seorang diri, menuju rimba industri di sebuah kota kecil dekat ibu kota. Kota yang tak dikenalnya, kota yang tak pernah terlintas di kepalanya, kota yang berjarak delapan jam perjalanan dari kota asalnya, kota yang tak pernah disangka akan memberinya sebuah pengalaman langka, berlayar di bawah senja.

Berlayar di bawah senja, baginya adalah pengalaman yang langka. Dengan menikmati hiruk pikuknya deburan ombak, yang seolah saling bersahutan dengan deru mesin kapal, di tengah lautan, nikmat Tuhan mana yang dia dustakan? Sebagai orang asli pegunungan, lautan adalah khayalan yang sering dia impikan, selayaknya surga yang dirindukan, selayaknya kamu muara segala kerinduan, lautan adalah kemustahilan yang selalu dia usahakan. Sekiranya semesta sedang berbaik hati padanya, dia pun kembali bertemu lautan, tak hanya bertemu, dia pun berlayar di tengahnya, dengan tujuan pulau seberang, ditemani langit senja ya…

Tulisan Tanpa Arah

Image
Akhir-akhir ini, saya merasa ada sebuah pusaran kasat mata yang menyedot segala bentuk semangat yang ada pada diri saya.
Dimulai pada suatu hari, dimana tanpa sengaja ada sebuah benda kasat mata yang datang dan menghantam tepat di tengkuk belakang kepala. Tanpa sengaja, keakuratannya telah memicu aktif sebuah lubang tersembunyi yang ada dalam diri saya, yang terbuka perlahan, menyedot segala sesuatu secara perlahan. Sekiranya, sejak hari itu saya merasa ada yang berubah, tanpa bisa dicegah. Terasa ada sesuatu yang salah.


Gejala pertama dimulai dengan enggannya mata terpejam di waktu malam. Lubang kecil terasa telah tercipta di balik sudut mata, yang kadang kala selalu menghantui lewat gelapnya. Gelap yang tak biasa, gelap yang mampu membuat kesadaran lari terbirit mengadu kepada kedua mata, untuk segera terbuka, dan mengerjap cepat meraba dan mencari saklar di pojokan kamar. Biasanya mata akan tetap terjaga sampai jelang waktu setengah dua, tepat dimana gerobak nasi goreng terakhir ber…

Pentingnya Self-Editing Dalam Menulis

Image
“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir." 
James Whitfield Ellison
Terkadang, jauh lebih mudah menuliskan sesuatu dengan bebasnya tanpa perlu memakai batas-batas tulisan yang bernama kerangka. Seperti halnya dulu, ketika Gusdur masih menjadi orang nomor satu, Bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritku, mengarang bebas adalah keahlianku. Namun dulu adalah dulu, dan kini adalah kini. Semakin banyak aku merasa tahu, semakin banyak pula aku tidak tahu, salah satunya adalah tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Baru sadar, ternyata tulisanku masih banyak kekurangannya.
Sumber : Galedo
Suatu waktu, seorang Lelaki Tua pernah berkata kepada sahabatnya, “Barangkali aku harus bercerita dengan duka suatu saat, pada umur kita, akan berjumpa persimpangan seperti jalan bercabang dua. Dimana aku tela…

Surat Dari Warsawa

Sejatinya hari ini adalah hari pernikahanku, sejatinya, jika aku tak memilih pergi, meninggalkan semuanya. Meninggalkan semuanya, termasuk kedua orang tuaku yang menangis terharu tatkala tahu, aku tak pernah datang ke pesta pernikahanku, pernikahan settingan mereka. Sekiranya, jika dikutuk menjadi batu adalah hukuman terberat bagi seorang anak durhaka, niscaya aku akan segera membeku, mematung jadi batu, tepat di depan pintu pesawat, yang akan membawaku terbang pergi, meninggalkan Indonesia.
Pulasan make up masih saja membekas di sekujur wajahku, terlihat jelas bekas aliran air mata yang membasahi kedua pipiku, tanpa peduli lagi menyekanya, tanpa peduli lagi untuk menghapusnya. Ku tatap lekat awan yang berjejer dari balik jendela, yang berbaris rapi dengan sesekali terganti lautan yang membiru. Entah datang darimana jiwa pemberontak ini. Seumur hidupku, aku selalu menurut pada orang tuaku, soal inilah soal itulah, pilihan pendidikan, pilihan tempat kerja, semua ditentukan oleh mereka. …

Minggu, Harinya Berbahagia

Image
Apakah salah, jika hari minggu hanya diisi dengan acara membaca dan berdiam di kontrakan saja, tanpa pergi ke suatu tempat (wisata) yang mana (katanya) akan membuat hati gembira, bahagia?
Lalu apakah bahagia itu? jika sekiranya bahagia itu hanya dinilai dari aktifitas liburan ke tempat wisata di hari minggu, saya rasa itu terlalu berlebihan. Seperti halnya kata peribahasa “Banyak Jalan Menuju Roma”, sekiranya pula, banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membuat hati bahagia. Tak hanya satu, tak hanya seribu, tak hanya berlapis-lapis seperti iklan wafer di TV, bahagia itu (ternyata) begitu sederhana. Dan tiap orang punya caranya tersendiri untuk merasa bahagia.
Lain hati, lain pikiran, lain pula sudut pandang, begitu pula cara berbahagia, pasti saling berlainan. Seperti halnya yang saya lakukan untuk berbahagia, semua terlihat begitu sederhana. Seperti halnya Nasi Rendang paket Sederhana yang katanya sederhana, yang ternyata harganya membuat saya menyesal telah membelinya, seharga dua ha…

Menjelajah Waktu Bersama Langit Musik

Image
One good thing about music, when it hits you, you feel no pain. – Bob Marley
Musik, semua orang pasti pernah mendengarkan musik. Setiap orang menyukai musik, entah itu dalam bentuk sebuah aransemen instrumental, melodi, atau sebuah lagu. Sebuah lagu yang terdengar dengan sengaja maupun yang tidak disengaja, terkadang membawa sebuah memori yang menyeretnya kembali ke masa lalu, kembali bertemu dengan sebuah romansa kehidupannya yang telah usang, yang telah tertutup hari-hari terbaru.


Dan kini, berkat sebuah lagu yang tersetel secara tak sengaja lewat aplikasi Langit Musik dua hari yang lalu, sebuah romansa datang secara tiba-tiba. Sebuah romansa yang kembali berputar kencang, dan mengingatkanku pada sebuah hari di Bulan Februari, hari ulang tahunnya seorang wanita. Seseorang yang pernah saya anggap seperti martabak, begitu spesial. Terdengar begitu perlahan, mengalun merdu, membuat saya terpaku ragu, lalu saya kirimkan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, lewat sebuah pesan singkat,…

Saya Bertanya Kepada Semesta

Hujan pertama di pagi hari. Gerimis, dingin, dan menggigil, seperti halnya kisah manis yang setiap mengingatnya terasa begitu pahit. Datang terlalu dini, tanpa permisi, lalu menari sesuka hati, menjebak setiap manusia di bilik selimut hangatnya, enggan untuk beranjak dari lelap, memilih menderu, memanaskan, dan memacu mesin tidurnya.
Dua per lima manusia, pernah mengaburkan sebuah berita demi keselamatan dirinya. Entah itu berita buruk yang dianggap baik, atau berita baik yang dibuat buruk. Segalanya dilakukan demi sesuap nasi, katanya sebagai upaya untuk mengepulkan asap di dapurnya. Entahlah mana yang benar, dan mana yang salah, semuanya menjadi nampak tak kasat mata batas kebenarannya. Apalagi ketika disangkut-pautkan dengan masalah keyakinan, segalanya rela dipertaruhkan, demi sebuah pembenaran, demi membela keyakinannya, begitu katanya.