Posts

Semesta, Bumi, dan Matahari

Image
I just left my whole world behind me. And sometimes i feel lonely There nothing’s left inside me, But in the outside, i don’t see anything Feel nothing Except worries!
Semuanya terlihat biasa saja, sampai pada akhirnya aku harus meninggalkan seluruhnya di belakang kemudi logika, dan membiarkan logika menjelaskan semuanya. Itu pun jika dia bisa melakukannya. Terkadang aku merasa sendirian, bahkan di tempat keramaian seringkali aku merasa sendiri.
Di tempat ramai, yang banyak bunya-bunyi, seringkali tercipta dengung yang tidak bisa aku mengerti. Pada mulanya hal itu tidak aku sadari, sampai suatu ketika aku menyadarinya, menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam kepala. Lebih tepatnya ada sesuatu yang berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya yang berbeda itu apa.

Sebuah Cerita: Lampu Kamar Depan

Lampu kamar depan rumahmu perlahan padam, pertanda sebuah isyarat, bahwa sebentar lagi kamu akan beranjak pergi. Dari dalam rumah, terdengar suara motor yang dituntun perlahan, lalu muncul keluar dari balik pintu. Terlihat kamu yang sudah memakai helm berlogo tiga huruf mati, pertanda akan segera pergi. Tapi sebelum itu terjadi, aku tahu pasti, kamu akan berhenti dulu, memarkirkan motormu di depan pintu, merogoh sakumu, mengeluarkan kunci, lalu menggembok rumahmu, dan perlahan mengekol motormu. 
Satu engkol, dua engkol, dan motor tak kunjung nyala, dari seberang rumah, aku terus mengamatimu, lalu dirimu terlihat menepuk jidat, lupa bahwa ternyata kunci motor belum dipasang ke motor. Ah pantas saja motor tidak mau menyala. Aduhai bodohnya dirimu, tak pernah berubah sedari dulu.

Sebuah Pertanyaan

Pernahkah kalian bertanya pada diri sendiri perihal pertanyaan yang sebenarnya ada di sekitar kita, tapi entah disadari atau tidak, kita sering mengabaikannya. Pertanyaan yang mana bisa membuat kening berkerut-kerut ketika memikirkan jawabannya. Padahal pertanyaan itu sungguhlah sederhana. Hidup ini sebenarnya untuk apa? Untuk apa kita hidup?
Kalian jangan melihatku seperti itu?! Aku pun sampai sekarang belum tahu jawabannya, makanya aku tanya ke kalian, apakah kalian bisa membantuku dalam menjawab pertanyaan itu? Atau setidaknya kalian bisa menemukan jawabannya untuk kalian sendiri. Ya setidaknya, jika kalian sudah menemukan jawabannya, kalian jangan lupakan aku ya? Sampai umurku hampir dua puluh enam tahun pun aku masih belum bisa menjawab pertanyaan itu.

Apakah Ada Bedanya?

Seribu bayangan terpantul di balik kaca, dengan nada-nada ritmis yang mengalun di dalam kepala, seakan mengimbangi suara gerimis yang perlahan semakin menjadi di atas kepala. Tiada hal lain yang bisa dilakukan, selain melihat dan mendengar apa yang terjadi di luar kepala. Segala sesuatunya terjadi begitu saja, semua pengulangan itu, semua pertanyaan itu, semua hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku, kini kembali, dan membawa satu pertanyaan untukku, Apakah Ada Bedanya?
Apakah ada bedanya? Jika hanya diam menunggu, berharap ada sebutir peluru yang menembus kepalaku hanya untuk membuktikan kepada dirimu bahwa isi kepalaku hanyalah otak yang terus menerus memikirkan kamu. Jauh sebelum itu, aku selalu bertanya, apakah ada bedanya? Jika saja semuanya itu hanyalah pertanyaan sederhana, atau setidaknya sebuah khayalan menunggu jeda di waktu hujan yang tak kunjung reda? Yang membuatku terjebak di depan pos satpam, yang mana lokasinya entah dimana.

Kontradiksi Dari Dalam

Pada tempat yang tak tercatat, dalam setiap perjalanan waktu. Ada saja satu atau dua doa yang tersesat dan menetap, enggan beranjak, hanya untuk memberi jejak, bahwa ada anak muda yang melintas dan menitipkan mereka pada tempat yang tak tercatat. Jauh sebelum dia melanjutkan langkah, ada setitik harapan yang perlahan memijar dari balik kegelapan matanya, yang bahkan orang buta pun tetap bisa melihat betapa terangnya pijar yang kian membesar. Dalam setiap tindakannya, harapan itu tampak nyata, namun apakah dia berhak untuk tetap memperjuangkan harapannya? Meski tanpa kata, dia tetap saja diam dalam usahanya? Anak muda itu adalah Aku.
Jauh dan dekat adalah sebuah jarak yang relatif dan begitu tampak bentuknya oleh mata, dan bisa diukur dengan angka-angka. Lalu, bagaimana dengan jarak antara harapan dan kenyataan yang terkadang terasa begitu jauh dan dekat dalam satu waktu? Aku seringkali bertanya-tanya, dan mengutarakannya pada setiap kata-kata yang tak sempat aku ucap ketika aku merindu…

Lelaki yang Beruntung

Image
Selalu ada rahasia yang tersimpan di balik rahasia. Tiada yang tahu rahasia apa yang disembunyikan di balik rahasia, dari semua yang tahu secara pasti kebenarannya adalah rahasia itu sendiri. Aku dan kamu tidak pernah tahu, sekiranya jika aku mengaku tahu, maka itu hanyalah sebuah tipu-tipu agar kamu terkesan kepadaku yang ternyata sok tahu. Namun, untungnya kamu tidak tahu, jadi rahasia itu tetaplah menjadi rahasia antara aku dan kamu.
Jika saja lentera bisa diterbangkan di waktu terang, niscaya apa gunanya menampilkan muka yang bersahaja jika pada akhirnya semua tahu bahwa itu hanyalah kedok semata, hanya untuk menutupi belang yang sekarang semakin bercorak, semakin semarak, namun entah kenapa membuat seluruh mulut pengkritiknya berhenti menyalak.

Jika Dipikir-pikir Lagi

Image
Jika dipikir-pikir lagi, terkadang aku merasa bahwa aku telah dilahirkan di tempat yang salah, di lingkungan masyarakat yang salah. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, ada relik panjang yang membuatku berpikiran seperti itu tanpa melihat kembali lewat sisi yang lain, sisi yang mana mengatakan bahwa “Dirimu lebih baik diam saja. Dan, terima nasibmu!

Aku tidak tahu siapa yang mengatakannya. Logikaku berpikiran bahwa yang mengatakan semua itu adalah hati kecilku, namun ketika diperhatikan dengan seksama hati kecilku ternyata masih meringkuk dalam tidur nyenyak. Lalu, siapa yang tadi berkata?