Posts

Happy Ied Mubarak

Corona, Corona, Corona. Covid-19. Quarantine. Lockdown. Work from home. Blablabla. Vaccine doesn't exist. WHO. Bill Gates. Jerinx. Elite Conspiracy. Blablabla Corona still exist. Oh god!
Now, I'm questioning myself if I'm starting to like quarantine days. Why do I feel little bit sad.
I Shouldn't by the way, quarantine days is gonna end soon. It means all of this suffer is gonna end soon as well. It's because, I've heard that on June 2, School will start normally. It means, things will go as It did.
Everything gonna be okay. I hope so.
I'm starting to like "The New Normal". But, life has a funny way. It happens everytime. Because, when I'm starting to like something, then It disappears. Again and again.
How sad?! Well, that's how life works, doesn't It?
At least, this pandemic gives me more a little time to contemplate everything that I've been through. As a (half) introvert I've already felt more relaxed than ever. Insha Alla…

Mencoba Menulis Kembali

Lantas apa lagi yang mesti kutulis, jika segalanya hilang dan tak terbaca Kenangan lamat-lamat memudar, harapan hari esok hanya mimpi-mimpi mencekam Sekali waktu, besok, lusa atau hari yang tak mengenal musim Aku mungkin hanya bisa mengenangmu, hanya bisa mengenangmu. (Nissa Rengganis, Tentang Mata dan Sebuah Kota Tak Bernama)
Lantas apa yang harus aku tulis? Jika rasa dan kata perlahan memudar, lalu lenyap dalam ketiadaan. Tiada lagi yang tersisa, selain abu dan remahan kalimat yang berserakan di dalam kepala. Hujan tidak mengenal musim, di dalam kepalaku, ia bisa menciptakan banjir bandang yang menghanyutkan segalanya, termasuk aku beserta kata demi kata, yang tidak sempat dituliskan oleh aku, dan menjadikannya niscaya lalu lenyap dalam ketiadaan yang nyata.           Sepanjang malam, aku dan pikiranku saling berdialog, berdiskusi perihal segalanya, perihal semua kata-kata yang sudah dibebaskan, dan berbagai macam upaya yang akan dilakukan untuk menjemput lagi semuanya. Mengantarnya kemba…

Hidup Memang Dongeng

Hidup memang dongeng. Tidakkah kau tahu itu?
Dulu sewaktu kecil, memiliki mimpi menjadi Pegawai Bank merupakan sebuah mimpi yang penuh anomali. Anomali karena sebagian besar anak-anak seusiaku dulu memimpikan jika sudah besar ingin menjadi seorang Tentara, Polisi, Guru, Dokter, atau bahkan Bintang Film. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mereka, hanya saja ketika ditanya mengapa aku memiliki cita-cita untuk menjadi Pegawai Bank ketika besar nanti, alasanku sungguh sederhana. Karena menjadi Pegawai Bank, merupakan pekerjaan yang keren, berseragam rapi, bekerja di tempat ber-AC, dan yang terpenting alasan terakhir karena menjadi Pegawai Bank setiap harinya bekerja dengan banyak uang. Sungguh alasan yang matrealis betul. Ku tempuh pendidikan formal selama dua belas tahun, plus empat tahun plus ekstra ketika kuliah, Mimpi itu tetap aku pegang erat-erat meskipun setiap tahun persentase besaran keyakinan akan mimpi itu semakin surut saja. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa semakin…

Dari Satu Bagian

Cuaca siang yang panas tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk tetap berbaris di tengah lapangan. Seorang Bapak Tua dengan peci hitam di kepalanya sedang berbicara, entah beliau sedang membicarakan apa, yang pasti suara kencang toa di depannya begitu menganggu telinga. Suara dengingannya lama kelamaan semakin kurang ajar saja. Mungkin sebentar lagi telinga kiri minta undur diri. Beruntung sebelum surat pengunduran diri dituliskan, telinga kanan tiba-tiba mendengar suara merdu. Suara merdu seorang wanita, tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat sekitar, dan aku menemukan sumber suara. Dengan kemeja putih dan rok hitam, dia berdiri satu barisan denganku. Namanya Dewi Anjani. Sama seperti aku, dia juga mahasiswa baru.

Cerita Bima Sakti

Image
(Sastra Ananta) Duduk di samping jendela, melihat mereka bermain bebas. Menari kesana kemari, di bawah guyuran hujan, berlari riang, bermain air, tak peduli baju celana basah semuanya, tak peduli betapa repotnya nanti si bapak akan mencuci pakaiannya. Mereka kembar bersaudara. Semuanya bergembira, begitu juga aku yang melihat mereka dari balik kaca jendela.
Tidak jauh dari tempat dudukku, terlihat bapaknya yang mengawasi mereka dari balik jendela. Dia tersenyum saja melihat tingkah kedua anak kembarnya. Kembar bersaudara, Ardea Auriga dan Ardella Auriga, terlahir dengan jeda lima menit dengan Ardea sebagai yang pertama melihat dunia, begitu kata bapaknya. Sesekali dia melirik ke arah tempat dudukku, sembari geleng-geleng kepala dengan senyum di wajahnya, seolah meminta maaf kepadaku sekaligus mengharap pemakluman atas tingkah anak kembarnya. Dan, aku hanya tersenyum saja. Memakluminya.

Karena Saya Adalah Saya

Sastra Ananta, adalah nama yang diberikan orang tua kepada saya, dan Sastra Ananta memiliki beberapa makna. Namun bagi mereka, nama adalah sebatas nama, tak peduli maknanya apa, meskipun banyak orang mencibir mereka perihal pilihannya, karena menurut mereka nama adalah doa. Apalagi jika menyangkut pemberian nama untuk anak, karena mereka menganggap pemberian itu menyangkut masa depan anak. Dan, Sastra Ananta menurut mereka itu tidak memiliki makna. Namun jawaban orang tua saya justru sederhana saja;
Lha wong kita sebagai orang tuanya biasa saja, kalian yang bukan siapa-siapa kok malah repot mengurusi soal nama anak kita? Tenang saja, Ada Tuhan di atas sana yang sudah mengatur semuanya. Kalian manusia lebih baik diam saja!
Dan, seketika mereka langsung terdiam mendengar jawaban orang tua saya.

Suara Samar-samar

Gulma tumbuh lebat di pekarangan depan rumah yang tak terawat. Semak-semak tumbuh subur di lahan sawah yang kini tak ditanami lagi, saling menyeruak di antara batang padi yang mengering. Gulma dan semak sungguh tiada bedanya. Hanya satu perbedaannya, tempat mereka tumbuh. Jika diibaratkan, halaman depan rumah itu seperti tampilan seseorang, sedangkan lahan sawah yang tak ditanami lagi itu ibarat seperti akal pikiran. Gulma dan semak sama merusaknya. Jika dibiarkan menyebar, mereka akan mengambil alih semuanya. Menguasai semuanya. Hanya ada satu cara untuk menghentikan semuanya, membabatnya. Menghabisinya sampai akar-akarnya. Agar tidak tumbuh lagi, agar tidak muncul lagi. Bila perlu, dengan cara-cara revolusi. Membakarnya sampai hangus jadi abu.
Kata orang, Banyak Jalan Menuju Roma, begitu pula menuju Istana. Sungguh banyak jalannya. Ada yang lewat jalur bawah, merangkak dari dasar, menabur suara di antara hiruk pikut perkotaan, tiada yang sadar sampai suatu ketika dia muncul ke permuk…