Posts

One Week One Post : Pengarang Yang Menginspirasi

Negeri Senja, Negeri Senja, adalah buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma; sebuah buku yang menceritakan tentang Negeri Senja dan segala kehidupan di dalamnya dari sudut pandang seorang pengembara. Negeri Senja merupakan sebuah negeri yang mana matahari tidak pernah tenggelam. Tidak ada pagi, siang, dan malam, karena sepanjang hari dilalui dalam keadaan senja. Namun di sebuah negeri dimana matahari tidak pernah terbenam, bagaimana caranya waktu berlalu? Tidak ada yang tahu.Negeri Senja memberi pengaruh besar pada saya, terkhusus dalam hal gaya bahasa, gaya penulisan, dan pemilihan kata. Negeri Senja dituliskan dalam gaya bahasa yang mudah dipahami, dan banyak sekali kata-kata yang baru pertama kali saya temui. Selain itu, Negeri Senja memiliki Gaya penulisan cerita yang sedikit sekali dialog. Negeri Senja diceritakan menggunakan sudut pandang orang, yang mana hal ini menjadikan segala sesuatunya diceritakan secara naratif yang menjadikannya sedikit dialog dalam cerita.

Progres Pertama : Menulis Tak Lagi Mudah

Kamar ini,Dinding bersuara seperti kaset rusak yang berputar menggemakan lagu-lagu lama yang pernah menjadi favorit kita. Kipas angin berputar di pojok kamar, yang dengan sabar terus berputar, seolah sedang mengingatkan bahwa hubungan kita tak beda jauh dengannya. Hanya berputar-putar saja. Menyebarkan angin segar bagi mereka yang mengharapkan persatuan kita, atau membuat masuk angin bagi mereka yang mengharapkan kita berpisah secepatnya.Lampu kamar tak lagi terang, tatkala kau datang, dengan badan basah kepayahan. Hari itu sedang hujan deras. Kau memaksa untuk datang, hanya sebatas untuk menyiksa diri dan menggumamkan pertanyaan “Esok hari bagaimana hidup akan berlanjut?” Tak ada lanjutan atas pertanyaan setelah tubuhmu menggigil kedinginan.

Tulisan Tengah Malam

Sudah lewat berhari-hari, sejak terakhir kali aku menulis di lembar ini. Lembar kosong yang tetap dibiarkan kosong. Banyak peristiwa yang terjadi, banyak cerita yang terlewati, banyak sekali alasan yang dijadikan alibi dibalik terhentinya produksi karya. Karya yang tersusun dari kata, kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang bermula pada sebuah tanya, lalu merunut menjadi sebuah jawaban, yang kemudian menjadi sebuah cerita. Cerita yang diceritakan oleh Sastra Ananta. Namun, semua hanyalah sebatas angan saja, yang terjadi kenyataannya adalah tiap kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang sempat ingin dituliskan, semuanya ditelan kembali. Semuanya tidak jadi dimuntahkan karena berbagai macam alasan, salah satunya ialah alasan itu sendiri. Alibi.Terakhir kali aku menulis itu di waktu hari raya, dengan tema Virus Corona. Di Hari Raya, tulisan itu timbul ke permukaan. Timbul sebagai penanda, penanda bahwa Sastra Ananta masih ada. Bagaikan penanda gabus yang terapung di permukaan air seb…

Happy Ied Mubarak

Corona, Corona, Corona. Covid-19. Quarantine. Lockdown. Work from home. Blablabla. Vaccine doesn't exist. WHO. Bill Gates. Jerinx. Elite Conspiracy. Blablabla Corona still exist. Oh god!
Now, I'm questioning myself if I'm starting to like quarantine days. Why do I feel little bit sad.
I Shouldn't by the way, quarantine days is gonna end soon. It means all of this suffer is gonna end soon as well. It's because, I've heard that on June 2, School will start normally. It means, things will go as It did.
Everything gonna be okay. I hope so.
I'm starting to like "The New Normal". But, life has a funny way. It happens everytime. Because, when I'm starting to like something, then It disappears. Again and again.
How sad?! Well, that's how life works, doesn't It?
At least, this pandemic gives me more a little time to contemplate everything that I've been through. As a (half) introvert I've already felt more relaxed than ever. Insha Alla…

Mencoba Menulis Kembali

Lantas apa lagi yang mesti kutulis, jika segalanya hilang dan tak terbaca Kenangan lamat-lamat memudar, harapan hari esok hanya mimpi-mimpi mencekam Sekali waktu, besok, lusa atau hari yang tak mengenal musim Aku mungkin hanya bisa mengenangmu, hanya bisa mengenangmu. (Nissa Rengganis, Tentang Mata dan Sebuah Kota Tak Bernama)
Lantas apa yang harus aku tulis? Jika rasa dan kata perlahan memudar, lalu lenyap dalam ketiadaan. Tiada lagi yang tersisa, selain abu dan remahan kalimat yang berserakan di dalam kepala. Hujan tidak mengenal musim, di dalam kepalaku, ia bisa menciptakan banjir bandang yang menghanyutkan segalanya, termasuk aku beserta kata demi kata, yang tidak sempat dituliskan oleh aku, dan menjadikannya niscaya lalu lenyap dalam ketiadaan yang nyata.           Sepanjang malam, aku dan pikiranku saling berdialog, berdiskusi perihal segalanya, perihal semua kata-kata yang sudah dibebaskan, dan berbagai macam upaya yang akan dilakukan untuk menjemput lagi semuanya. Mengantarnya kemba…

Hidup Memang Dongeng

Hidup memang dongeng. Tidakkah kau tahu itu?
Dulu sewaktu kecil, memiliki mimpi menjadi Pegawai Bank merupakan sebuah mimpi yang penuh anomali. Anomali karena sebagian besar anak-anak seusiaku dulu memimpikan jika sudah besar ingin menjadi seorang Tentara, Polisi, Guru, Dokter, atau bahkan Bintang Film. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mereka, hanya saja ketika ditanya mengapa aku memiliki cita-cita untuk menjadi Pegawai Bank ketika besar nanti, alasanku sungguh sederhana. Karena menjadi Pegawai Bank, merupakan pekerjaan yang keren, berseragam rapi, bekerja di tempat ber-AC, dan yang terpenting alasan terakhir karena menjadi Pegawai Bank setiap harinya bekerja dengan banyak uang. Sungguh alasan yang matrealis betul. Ku tempuh pendidikan formal selama dua belas tahun, plus empat tahun plus ekstra ketika kuliah, Mimpi itu tetap aku pegang erat-erat meskipun setiap tahun persentase besaran keyakinan akan mimpi itu semakin surut saja. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa semakin…

Dari Satu Bagian

Cuaca siang yang panas tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk tetap berbaris di tengah lapangan. Seorang Bapak Tua dengan peci hitam di kepalanya sedang berbicara, entah beliau sedang membicarakan apa, yang pasti suara kencang toa di depannya begitu menganggu telinga. Suara dengingannya lama kelamaan semakin kurang ajar saja. Mungkin sebentar lagi telinga kiri minta undur diri. Beruntung sebelum surat pengunduran diri dituliskan, telinga kanan tiba-tiba mendengar suara merdu. Suara merdu seorang wanita, tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat sekitar, dan aku menemukan sumber suara. Dengan kemeja putih dan rok hitam, dia berdiri satu barisan denganku. Namanya Dewi Anjani. Sama seperti aku, dia juga mahasiswa baru.