Posts

Cerita Tentang Kedua Orang Tua

Pada akhirnya, yang tersisa dari seorang manusia adalah kenangan tentang dirinya, seperti genangan air yang tercipta tatkala hujan lebat telah mereda.
Jika pada akhirnya, aku hanya akan mengalami berbagai macam kepahitan dan perpisahan penuh dilema, niscaya ketika akan lahir, aku akan meminta untuk tidak dilahirkan ke dunia.

Di awali sebuah lentera, kegelapan malam sedikit tercerahkan. Dimulai dari setitik cahaya yang perlahan mendekati tepian kota, menjadikannya terang dan jelas, bahwa titik cahaya itu adalah sebuah kereta kuda. Sebuah kereta kuda yang mendekati sebuah rumah di tepian kota, yang oleh orang sekitar dikenal sebagai satu-satunya dokter persalinan yang tersisa.

Belajar Sejarah di Museum Sumpah Pemuda

Image
foto: wikipedia.org
Dari sekian banyak pilihan tempat wisata di Jakarta, pastinya sebagian wisatawan bertanya-tanya apakah di Ibukota ini terdapat satu tempat wisata yang memberikan cerita-cerita sejarah.
Deretan museum di Kota Tua memang punya ceritanya sendiri. Namun, ada satu museum yang juga memiliki banyak sejarah. Museum tersebut adalah Museum Sumpah Pemuda. Namun, siapa sangka museum ini dulunya adalah sebuah kos-kosan yang dihuni oleh para pelajar Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1908, pemilik kos-kosan Sie Kong Liang membuka kamar-kamar penginapan untuk siswa-siswa dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Stovia dan Rechtsschool, RS.

Cerita Tentang Semesta Angkasa Raya

Suatu pagi aku terbangun dengan rasa aneh di kepala, dengan sebuah rasa yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Pagi itu, umurku hampir dua puluh lima, umur dimana konon katanya bagi sebagian perempuan adalah umur yang wajib untuk segera menikah, takut jadi perawan tua, begitu kata para tetangga. Tapi setidaknya di umurku yang hampir dua lima tahun ini sebuah cerita tiba-tiba berputar di kepala. Meskipun masih tampak samar-samar, namun bayangan itu mengingatkanku akan sesuatu.
Sejenak memberi jeda kepada pikiranku untuk memproses lebih jauh, aku putuskan untuk menjerang air, berharap secangkir kopi hitam mampu membuat bayangan itu menjadi lebih jelas. Tak berapa lama, secangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji di atas meja. Aku rengkuh tubuh cangkirnya sejenak untuk meresapkan hangat tubuhnya. Entah kenapa, ketika aku sesap secangkir kopi hitam itu untuk kali pertama, seketika bayangan yang tadi buram mendadak menjadi jelas. Membentuk sebuah cerita, membentuk sebuah nama, seket…

Cerita Dari Balik Reruntuhan

Sore itu hujan turun dengan begitu derasnya, dengan sesekali terdengar petir menyambar, mengkilat lalu meninggalkan gemuruh yang menggetarkan bumi yang kini aku pijak. Dari timur jauh, aku lihat cakrawala berkelap-kelip, dengan bunyi dentuman yang saling menyalak, tanda semakin dekat. 
Sesekali aku melihat pesawat berlambang swastika mondar-mandir di udara, mengejar pesawat berlambang palang merah, seolah ingin memburunya, menghabisinya sebelum dia menjatuhkan perbekalan yang dibutuhkan warga kota. Warga kota akan sebuah kota di timur laut Rusia, yang terkepung hampir seribu hari. Sebuah kota yang diberi nama sang pembebas negara dari kuasa kerajaan lama dan merubahnya menjadi sebuah komuni raksasa. 

Cerita Tentang Nyonya Lakarna

Malam belum larut benar, tatkala aku temukan dirinya terbaring sesenggukan di atas tempat tidurnya. Dirinya terlihat begitu berantakan, dengan tisu bekas pakai berceceran di lantai kamarnya. Nampaknya dia masih tersadar, tatkala aku usap rambutnya, seolah memastikan bahwa dirinya itu nyata. Kedua matanya terlihat memerah, tatkala ku sibak rambut panjang yang menutupi wajahnya.
Dirinya masih belum mau membuka mulutnya, tatkala ku angsurkan gelas berisi air putih kepadanya, sekedar untuk menenangkannya. Namun dia tak segera meminumnya, dia hanya melihat, dan menimang-nimang seolah heran tatkala melihat isi gelas yang dia pegang. Kesabaran, hanya itu yang aku punya saat itu. Kesabaran menunggu, sejenak menanti dirinya tenang, dan mau menceritakan semuanya. Dirinya terlihat begitu terguncang, pundaknya nampak bergetar, sesenggukan, dan sedikit mereda, tatkala pada akhirnya dia mulai minum air dari gelas yang dipegangnya.

Sebuah Pertanyaan Agung

Pernahkah kamu merasa, kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, seolah-olah misi hidupnya pun hanya untuk menjawab tanda tanya itu. Tanda tanya agung.” – Reuben, (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh).
Kehidupan di dunia ini akan terasa berbeda jika tanpa manusia. Populasi manusia tersebar secara acak di berbagai belahan dunia. Tersebar ke segala penjuru, dari sudut ujung Semenanjung Siberia sampai ke tepian Semenanjung Iberia, dari ujung Kutub Utara sampai ke seberang selatan Benua Antartika, tercecer segala jenis manusia yang terbagi dalam berbagai macam suku bangsa, ras, agama, dan bahasa. Semua hidup bersama, dengan satu tarikan nafas yang sama, di bawah langit yang sama, di Bumi yang sama, dengan sebuah tanda tanya yang sama. Tanda tanya tentang dirinya. Untuk apa dirinya hidup di dunia?

Tidak Sesuai Harapan

Suatu sore, aku berjalan jauh memutar, melingkari setiap sudut kota yang biasa aku lewati setiap pulang kerja, lalu berkelok menyasar menembus jalanan lain. Sengaja menghindar, menjauh dari keramaian, memilih berjalan sendiri, memilih lorong yang sepi. Sekiranya di lorong sepi aku merasa sendiri, namun nyatanya aku tak sendiri. Dari kejauhan aku melihat senja yang bertopang dagu sendiri. Melebarkan senyum simpulnya, mengharapkan balas jasa atas setiap keindahannya. Tapi terkadang hanya pertanyaan sama yang jadi balasannya, “Mampukah aku bertahan?”
Ada seorang laki-laki tua, terduduk sendiri di pojokan jalan, yang perlahan menyepi berkawan sepi. Kedua tangan tuanya, begitu lincah menari di atas lembar putih kertasnya. Menggambar sesuatu untuk hadiah perpisahan anak kecilnya, menggambar keindahan senja yang terakhir katanya, senja terakhir sebelum waktu penghakiman tiba. Penghakiman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. “Tapi apa harus begitu?. Kenapa tetap menerimanya?” begitu …