Posts

Tulisan Akhir Bulan Juli

Suatu sore, aku berjalan jauh memutar, melingkari setiap sudut kota yang biasa aku lewati setiap pulang kerja, lalu berkelok menyasar menembus jalanan lain. Sengaja menghindar, menjauh dari keramaian, memilih berjalan sendiri, memilih lorong yang sepi. Sekiranya di lorong sepi aku merasa sendiri, namun nyatanya aku tak sendiri. Dari kejauhan aku melihat senja yang bertopang dagu sendiri. Melebarkan senyum simpulnya, mengharapkan balas jasa atas setiap keindahannya. Tapi terkadang hanya pertanyaan sama yang jadi balasannya, “Mampukah aku bertahan?”
Ada seorang laki-laki tua, terduduk sendiri di pojokan jalan, yang perlahan menyepi berkawan sepi. Kedua tangan tuanya, begitu lincah menari di atas lembar putih kertasnya. Menggambar sesuatu untuk hadiah perpisahan anak kecilnya, menggambar keindahan senja yang terakhir katanya, senja terakhir sebelum waktu penghakiman tiba. Penghakiman atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. “Tapi apa harus begitu?. Kenapa tetap menerimanya?” begitu …

Bullying Itu Tidak Lucu

Image
Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia, pernah berkata bahwa, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”(*) Tapi bagaimana dengan mereka, mereka yang mengaku sebagai mahasiswa, dengan tega melakukan tindakan yang tercela. Menghina dan membully seorang mahasiswa juga yang kebetulan berbeda dengan mereka. Konon kabarnya, si korban hampir setiap hari menerima bully­an dari teman-teman kampusnya. Sedemikian kesalnya, si korban melemparkan tempat sampah ke arah pembully-nya. Dan, lebih menyedihkannya lagi adalah mahasiswa-mahasiswa lain yang melihatnya justru menertawakannya, seolah-olah itu merupakan hal yang biasa terjadi, dan dianggap lucu. Bullying itu tidak lucu, gaes!
Dan, lewat rekaman video berdurasi beberapa detik ini, seluruh dunia pun sadar bahwa sesungguhnya kegiatan bullying itu masih saja menghantui, terkhusus bagi mereka yang memiliki kekurangan dalam tubuhnya.
Ini videonya:  Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=FNd8Dc…

Tulisan Pertama di Bulan Juli

Image
Setelah kesana kemari melakukan pencarian, akhirnya tiap orang akan kembali bertemu dengan sebuah tempat dimana ia memulai (pencarian) untuk kali pertama. – T.S. Elliot
Agenda sebelum kembali ke tanah rantau, adalah menata apa yang sudah ada. Termasuk menata rasa ikhlas untuk meninggalkan sementara kenangan bahagia yang terwakilkan oleh aksara, yang tertumpuk rapi di dalam lemari tua. Menatapnya, bagiku merupakan bahagia yang sederhana. Terasa sederhana, namun begitu nelangsa. Sekiranya andai aku bisa menambah waktu liburan lebih lama, dengan sangat rela, akan aku habiskan untuk membaca setumpuk buku baru yang belum terbaca. Atau setidaknya mengenang kembali kisah cinta Alamanda, di dalam buku Cantik itu luka.

Selain orang tua, tumpukan buku-buku inilah yang selalu mengingatkanku akan kata pulang. Mengingatkan akan sebuah mimpi lama, yang sampai sekarang belum terwujud juga. Rumah. Tempat segala rasa kembali berpulang, tempat merubah segala gundah menjadi remah-remah penuh hikmah, Rumah…

Alangkah Lucunya

Lembar kosong, hanya lembar kosong yang masih terpampang di depannya. Setelah sekian lama duduk sendirian, disini, di pojokan Kafe Lagundi. Secangkir kopi hitam nampak di depannya, dingin, dan tak tersentuh. Seperti halnya gadget di sakunya yang terus bergetar sedari tadi, tanpa sempat dia angkat, apalagi dia jawab. Terpampang di layarnya, sebuah nama, nama seorang wanita yang lambat laun perlahan menjadi sebuah cerita lama yang terulang lagi dan lagi, di benaknya. Seperti hantu yang terus menghantuinya, meskipun dia sudah mengikhlaskannya pergi, kini dia muncul lagi, disini, di tempat yang sama, empat tahun lalu, dan kini dia menunggunya kembali.
Waktu perlahan terus berputar, seperti halnya kepingan kenangan yang terus berputar di kepalanya, seperti sebuah proyektor yang menampilkan kilasan-kilasan akan masa lalu, yang sesungguhnya enggan untuk mengingatnya, namun juga senang untuk menontonnya berulang kali. Adalah sebuah alasan, tatkala dia memutuskan untuk enyah dari kota yang sama…

Cerita Sedih di Hari Minggu

Image
Saya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, perihal sorak surai yang mendadak muram, perihal pengulangan yang terjadi untuk ketiga kali, entah apa yang terjadi, saya selalu menjadi orang terakhir yang terdiam tak percaya, dengan segala yang terjadi. Untuk ketiga kalinya, saya kembali menerima medali perak, entah mengapa saya merasa aneh. Aneh yang membingungkan. Bingung perihal ketidakberuntungan yang selalu memayungi, kalah untuk ketiga kali di laga puncak. Jujur saja, semua itu membuat saya tidak mengerti.
Perihal malam yang tak sesuai dengan harapan, harapan bahwa sekiranya keping terakhir akan saya dapatkan tadi malam. Namun nyatanya yang saya dapatkan hanyalah keping-keping hati yang berserakan. Seperti halnya derai air mata yang tercucur dari mata mereka, namun anehnya hal itu tidak terjadi pada saya. Apakah saya sudah mati rasa? Ataukah saya sudah kehilangan rasa percaya? Entahlah.

Best Blogger Moment

Image
Hidup itu seperti sekotak coklat, kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kau dapatkan. – Forrest Gump
Dua ribu dua belas, adalah tahun pertama, dimana saya mulai menuliskan sebarisan kata tanpa makna, yang mana kemudian saya sebarkan semuanya lewat blog. Pada awalnya, niat menulis di blog hanyalah untuk kepentingan tugas kuliah saja. Tugas kuliah Media Politik yang mewajibkan tiap mahasiswanya membuat sebuah esai politik yang mana kemudian dipostingkan di tiap blog miliknya. Awalnya hanya iseng semata, namun siapa sangka semua menjadi awal dari segalanya. Awal dari cerita-cerita yang tak pernah saya sangka bahwa saya bisa menuliskannya, disini, di Sastra Ananta.

Sastra Ananta, adalah nama yang dipilih untuk blog saya. Kenapa? Sastra Ananta berasal dari Bahasa Sansekerta, merujuk pada dua kata pertama; Sastra (Tulisan/Karya) dan Ananta(Tiada habisnya), jika digabungkan maka artinya adalah “Karya yang tiada habisnya”. Orang bilang Nama adalah doa, nama adalah harapan, itulah sebabnya n…

Sebuah Cerita: Lautan, Senja, dan Aksara

Image
Aku ingin bercerita tentang suatu masa, dimana ada seorang anak lelaki yang nekat pergi seorang diri, menuju rimba industri di sebuah kota kecil dekat ibu kota. Kota yang tak dikenalnya, kota yang tak pernah terlintas di kepalanya, kota yang berjarak delapan jam perjalanan dari kota asalnya, kota yang tak pernah disangka akan memberinya sebuah pengalaman langka, berlayar di bawah senja.

Berlayar di bawah senja, baginya adalah pengalaman yang langka. Dengan menikmati hiruk pikuknya deburan ombak, yang seolah saling bersahutan dengan deru mesin kapal, di tengah lautan, nikmat Tuhan mana yang dia dustakan? Sebagai orang asli pegunungan, lautan adalah khayalan yang sering dia impikan, selayaknya surga yang dirindukan, selayaknya kamu muara segala kerinduan, lautan adalah kemustahilan yang selalu dia usahakan. Sekiranya semesta sedang berbaik hati padanya, dia pun kembali bertemu lautan, tak hanya bertemu, dia pun berlayar di tengahnya, dengan tujuan pulau seberang, ditemani langit senja ya…