Posts

Showing posts from 2020

Happy Ied Mubarak

Corona, Corona, Corona. Covid-19. Quarantine. Lockdown. Work from home. Blablabla. Vaccine doesn't exist. WHO. Bill Gates. Jerinx. Elite Conspiracy. Blablabla Corona still exist. Oh god!
Now, I'm questioning myself if I'm starting to like quarantine days. Why do I feel little bit sad.
I Shouldn't by the way, quarantine days is gonna end soon. It means all of this suffer is gonna end soon as well. It's because, I've heard that on June 2, School will start normally. It means, things will go as It did.
Everything gonna be okay. I hope so.
I'm starting to like "The New Normal". But, life has a funny way. It happens everytime. Because, when I'm starting to like something, then It disappears. Again and again.
How sad?! Well, that's how life works, doesn't It?
At least, this pandemic gives me more a little time to contemplate everything that I've been through. As a (half) introvert I've already felt more relaxed than ever. Insha Alla…

Mencoba Menulis Kembali

Lantas apa lagi yang mesti kutulis, jika segalanya hilang dan tak terbaca Kenangan lamat-lamat memudar, harapan hari esok hanya mimpi-mimpi mencekam Sekali waktu, besok, lusa atau hari yang tak mengenal musim Aku mungkin hanya bisa mengenangmu, hanya bisa mengenangmu. (Nissa Rengganis, Tentang Mata dan Sebuah Kota Tak Bernama)
Lantas apa yang harus aku tulis? Jika rasa dan kata perlahan memudar, lalu lenyap dalam ketiadaan. Tiada lagi yang tersisa, selain abu dan remahan kalimat yang berserakan di dalam kepala. Hujan tidak mengenal musim, di dalam kepalaku, ia bisa menciptakan banjir bandang yang menghanyutkan segalanya, termasuk aku beserta kata demi kata, yang tidak sempat dituliskan oleh aku, dan menjadikannya niscaya lalu lenyap dalam ketiadaan yang nyata.           Sepanjang malam, aku dan pikiranku saling berdialog, berdiskusi perihal segalanya, perihal semua kata-kata yang sudah dibebaskan, dan berbagai macam upaya yang akan dilakukan untuk menjemput lagi semuanya. Mengantarnya kemba…

Hidup Memang Dongeng

Hidup memang dongeng. Tidakkah kau tahu itu?
Dulu sewaktu kecil, memiliki mimpi menjadi Pegawai Bank merupakan sebuah mimpi yang penuh anomali. Anomali karena sebagian besar anak-anak seusiaku dulu memimpikan jika sudah besar ingin menjadi seorang Tentara, Polisi, Guru, Dokter, atau bahkan Bintang Film. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mereka, hanya saja ketika ditanya mengapa aku memiliki cita-cita untuk menjadi Pegawai Bank ketika besar nanti, alasanku sungguh sederhana. Karena menjadi Pegawai Bank, merupakan pekerjaan yang keren, berseragam rapi, bekerja di tempat ber-AC, dan yang terpenting alasan terakhir karena menjadi Pegawai Bank setiap harinya bekerja dengan banyak uang. Sungguh alasan yang matrealis betul. Ku tempuh pendidikan formal selama dua belas tahun, plus empat tahun plus ekstra ketika kuliah, Mimpi itu tetap aku pegang erat-erat meskipun setiap tahun persentase besaran keyakinan akan mimpi itu semakin surut saja. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa semakin…

Dari Satu Bagian

Cuaca siang yang panas tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk tetap berbaris di tengah lapangan. Seorang Bapak Tua dengan peci hitam di kepalanya sedang berbicara, entah beliau sedang membicarakan apa, yang pasti suara kencang toa di depannya begitu menganggu telinga. Suara dengingannya lama kelamaan semakin kurang ajar saja. Mungkin sebentar lagi telinga kiri minta undur diri. Beruntung sebelum surat pengunduran diri dituliskan, telinga kanan tiba-tiba mendengar suara merdu. Suara merdu seorang wanita, tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat sekitar, dan aku menemukan sumber suara. Dengan kemeja putih dan rok hitam, dia berdiri satu barisan denganku. Namanya Dewi Anjani. Sama seperti aku, dia juga mahasiswa baru.