Apa gunanya menabung mendung, jika hujan pun tetap datang tatkala langit tak lagi mendung. Semua tak bisa diprediksi, seperti alam semesta yang penuh misteri. Namun dibanding alam semesta, misteri akan senyumanmu jauh lebih sulit untuk aku pahami. Entah itu senyum bahagia, senyum luka, atau senyuman terpaksa, aku tidak tahu. Satu hal yang aku tahu adalah senyuman itu bukan untuk aku.
Apa gunanya menabung harapan, jika harapan itu sendiri datang hanya untuk menikam lebih dalam. Lebih dalam dari sebelumnya, dan meninggalkannya dengan penuh luka. Luka lebar menganga merobek tiap senti kepercayaan yang ada. Mendadak musnah tak berbekas, layaknya semilir angin malam yang datang hanya membawa kesegaran semu. Kesegaran semu yang justru membuatnya semakin parah. Semakin parah dalam berharap, berharap sesuatu yang tak pasti.
Apanya gunanya memiliki mimpi, jika ternyata itu semua hanya mimpi kosong. Mimpi kosong yang tak kunjung datang, layaknya anak pedalaman yang menginginkan pendidikan yang layak untuk mereka. Buat apa memiliki mimpi, jika itu semua hanya membuatnya takut, Takut untuk bermimpi. Mimpi hanya membuat mereka takut, takut akan kenyataan yang ternyata jauh dari angan, khayalan, dan mimpi mereka. Tak ada ketakutan yang lebih menakutkan dari sebuah ketakutan akan mempunyai mimpi. Takut akan sebuah mimpi sama saja merubah diri menjadi zombie.
Read More