Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Sunday, November 8, 2015

Pertanyaan Tak Enak

Tercatat sudah 12 hari yang lalu ketika saya terakhir menulis postingan baru di blog ini, entah kenapa waktu begitu cepat berlalu. Sekiranya saya merasa kemarin baru daftar ulang blogger campid, eh sadar sadar udah Bulan November. Tak terasa hampir 2 minggu berlalu sejak postingan terakhir, pikiran saya digunakan untuk sesuatu yang lain dari kebiasaan, yakni sibuk memikirkan akan mencari pekerjaan. Ya benar, saya saat ini lagi menjadi seorang pencari kerja atau kasarnya sebagai pengangguran. Yeah I'm A Jobless now! Jobless not hopeless.

http://www.liputan6.com/tag/pengangguran-as
Jobless Not Hopeless!

Setelah kontrak 2 bulan tak diperpanjang oleh perusahaan lama, tertanggal sejak tanggal 1 Oktober mau tak mau saya harus berpindah juga. Berpindah mencari pekerjaan yang lainnya. Namun sayang seribu sayang, sampai saat ini dari sekian banyak surat lamaran yang saya kirimkan belum ada tanggapan. Well mungkin belum waktunya saya mendapat pekerjaan. Ah begitulah kilah pikiranku mencoba untuk berpikir positif meskipun kadang hati kecil suka teriak-teriak “I NEED A JOB!” Tapi apa mau dikata, segala usaha segala doa sudah terlaksana sudah dicoba namun apa daya semesta tidak mendukung saya untuk mendapatkan kerja. Ah sudahlah, mungkin sekarang jatahnya saya menganggur. Mungkin kelak ada waktunya untuk bekerja, secepatnya. Semoga.

Read More

Tuesday, October 27, 2015

Blogger Camp, Pengalaman Pertama

Akhirnya, setelah menunggu sekian lama Kota Purwokerto mendapat jatahnya.
Ya benar, Kota Purwokerto diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah Acara Blogger Camp 2015. Blogger Camp 2015 merupakan acara kumpul para blogger untuk memperingati dana merayakan Hari Blogger Nasional. Blogger Camp 2015 sendiri diadakan secara serentak pada tanggal 26-27 Oktober 2015 dan serentak diselenggarakan di empat kota di Indonesia, yakni Jakarta, Purwokerto, Surabaya dan Makassar. Blogger Camp 2015 memiliki konsep acara unggulan, sharing session yang diisi dengan berbagi pengalaman antar sesama blogger dan talkshow yang membahas topik yang sedang menjadi tren saat ini. Dan, tema Blogger Camp 2015 adalah “Membangun Kredibilitas Blog”.


Purwokerto, 26-27 Oktober 2015.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Untuk kali pertama, Kota Purwokerto menjadi tuan rumah Blogger Camp 2015. Blogger Camp 2015 untuk wilayah Purwokerto sendiri diadakan di Wisma Putih, Desa Ketenger, Baturaden. 

Read More

Saturday, October 24, 2015

Tanpa Kata-kata

Kalau berbicara banyak-banyak bisa membuatmu mengerti, maka aku akan melakukannya. Melakukan semuanya dengan caraku, cara yang berbeda. Cukup banyak yang aku tahu, mana yang aku tak tahu, mana yang kamu mau, dan mana yang kamu tak tahu. Aku cukup tahu banyak akan tentangmu, tapi apakah aku harus berkoar-koar kesana kemari agar kamu tahu, bahwa aku cukup banyak tahu tentangmu, tentang banyak hal, tentang berita terbaru, tentang hal yang kau anggap penting.

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://photo3.ask.fm/652/245/356/-59996999-1tbefdm-2ba3phdbkqemhna/preview/avatar.jpg&imgrefurl=http://ask.fm/nisapeye&h=300&w=300&tbnid=VetAnaA_wkt2AM:&docid=2zjn9GOaMI1u2M&ei=5YArVrbfJcKnuQSExZ2oDw&tbm=isch&ved=0CHsQMyhWMFZqFQoTCPblvvyU28gCFcJTjgodhGIH9Q

Aku bisa berbicara seharian tentang berita, tentang berita terbaru yang tak kamu tahu. Menyampaikannya padamu dengan sudut pandangku, dengan caraku, caraku yang kau anggap aneh itu. Aku suka musik, aku tahu segala jenis musik, tapi sayangnya aku tak cukup mahir dalam memainkan alat musik, yang aku tahu soal musik hanya soal musik apa saja yang jadi favoritmu, jadi kesukaanmu. Aku bisa memberimu petunjuk, tentang semua jenis lagu yang mana cocok akan suasana hatimu, mana yang cukup bagus untuk mendongkrak semangatmu, dan mana yang cocok untuk sekedar menyingkirkan awan mendung hatimu, aku tahu lagu yang cocok untukmu. Tapi, apakah kamu mau berhenti sejenak, dan mendengarkan semua saranku?

Read More

Saturday, October 17, 2015

Malam Minggu

Malam minggu bagi sebagian orang adalah malam yang sakral. Banyak orang rela menunggu berhari-hari demi yang namanya malam minggu. Banyak orang yang bilang malam minggu itu waktunya anak muda, waktunya yang muda yang bergelora rasa cintanya, dan bagi yang tak punya kekasih tercinta diharap minggir, ah begitulah kata mereka. Sialan memang, bagi mereka orang yang tak punya kekasih tercinta hanya memenuhi jalanan protokol, dan lebih baik jaga rumah saja. Bah, macam mana pula bisa begitu?! Mentang mentang punya pacar, bisa seenaknya saja! *jomblo marah* Fine!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxVhvNrXJRjBlakV0a9AVvQGq-cmgWC_4LKppwyHWMU6KzfqoypH-asG5_YLpv4jiUu6yLryIPxSmRABhBRSLzN-GmqOFpOItR13yHZ-Ww-hkF3yv0vnocMAM65Y6Yh2_BCsmZRn42Acg/s1600/kata+malam+minggu3.jpg

Malam minggu, malam yang enak untuk melepas rindu. Rindu akan kekasih, rindu akan orang yang terpilih. Terpilih untuk menjadi seorang kekasih. Kekasih jiwa, kekasih hati, kekasih cinta, ah begitulah cinta, suka membutakan semua mata. Malam minggu bagi mereka tak lengkap rasanya bila tak bertemu dan bertamu ke rumah kekasihnya. Ya istilahnya “ngapel, apel, wakuncar” atau apalah istilah mereka. Ya, saya pun pernah mengalaminya dan menikmati bagaimana rasanya wakuncar dulu. Iya, dulu sebelum Belanda datang menjajah Indonesia. Dan saya mencoba maklum melihat tingkah polah anak muda yang sedang dimabuk cinta, di malam minggu, malam penuh cinta.
Read More

Friday, October 9, 2015

Sang Pembaca

Setumpuk buku dipegangnya begitu saja, dengan satu tangan sekaligus lima buku dalam tangkupan. Tangan yang satu sibuk mencari buku baru, tangan yang satu sibuk menjaga lima buku calon ladang ilmu. Matanya menyapu ke segala penjuru, mengamati tanda, mengamati pola, menjadikannya almanak yang kelak akan dipungutnya, dibacanya, dihisap sari pati ilmunya. Perlahan tapi pasti langkahnya perlahan menjadi gontai, bukan karena kesulitan membawa beban buku yang terlalu banyak, tapi karena beban pikiran yang menumpuk bertumpuk menjadikan pikirannya lapuk, layaknya kerupuk yang sudah tak berbentuk.


Membaca, mungkin hanya itu pelariannya. Dengan kacamata minus yang jadi ciri khasnya, dengan belang warna di antara kedua frame lensanya, dia perlahan beringsut menyeret tubuhnya menjauhi segala keriuhan sekitarnya. Tercatat lima belas buku berada di tangannya, berbagai macam jenis, komik, novel, cerpen, sampai resep makanan pun dia bawa. Nampaknya dia mengambil buku secara acak, menjadikannya ajang penghiburan diri. Kadang tertawa, kadang terbahak, kadang tergugu, kadang tersenyum getir, begitulah dia ketika sedang membaca bukunya. Tanpa peduli tatapan aneh orang-orang sekitar, lembar demi lembar buku pilihannya telah habis dia babat, dia baca, dia kelumat segala maknya, dia resap segala ilmunya. Ah baginya, bahagia itu sederhana. Cukup membaca berbagai macam buku, tak peduli buku baru ataupun lama, toh nikmatnya tetap sama.

Read More

Thursday, September 17, 2015

Sastra Ananta

Seorang anak muda tak sengaja terjebak dalam guyuran hujan sore hari. Hujan sore hari yang mendadak datang mengguyur segala badan, tanpa sempat berkelit, dan basah seketika. Hanya bisa mengumpat, “Persetan keparat!” begitu teriaknya. Sumpah serapah begitu saja tercelat keluar dari mulutnya. Tak peduli pada langit, tak peduli pada bumi, baginya hari ini adalah hari yang berat. Setelah tercelat dari pekerjaannya, terpegat dari kekasihnya, dan kini digapyak dengan hujan deras yang menambah derita. Ah konspirasi semesta, begitulah dalihnya. Ah persetan tak peduli, kapan lagi menikmati hujan dua ruangan. Ruang hati dan ruang semesta. Baginya itu terasa seperti menebar mimpi di antara tidurnya. Gratis tak perlu malu pada gadis manis yang pernah jadi kenangan termanis. Menangis dalam gerimis, ah nikmatnya.

Read More

Monday, September 7, 2015

Belum Waktunya Pulang

Tak terasa sudah hampir 20 tahun lebih hidupku berjalan. Tanpa terasa waktu telah begitu cepat berkilat. Meninggalkan sisa kilatan masa kecil yang terasa masih hangat, melekat kuat dalam setiap jengkal pikiran. Memenuhi ruang kosong yang mereka sebut hati. Masih terasa kosong, tapi biarlah begitu. Karena kosong adalah isi, isi adalah kosong, ah begitulah petuah Jenderal Tian Feng dahulu kala. Masih aku ingat dengan lekat. Ah begitulah aku, mudah sekali tercekat dalam sekat penat. Sekat yang begitu saling merekat.

https://rewinnita.files.wordpress.com/2012/10/tumblr_mboug8ln841qaobbko1_500.jpg

Waktu terus berjalan dan aku terus mencari. Mencari sesuatu yang tak bisa aku ganti. Mengganti dengan istilah manusia yang mudah untuk mereka mengerti. Aku tak mengerti, dan terkadang aku tak peduli untuk memberinya makna akan sebuah arti pada mereka. Karena aku tahu bagaimana rasanya memberi arti spesial pada seseorang, namun nyatanya spesialku itu tak ada artinya, hanya sepasang karet gelang sebagai pertandanya. Bagaikan nasi goreng spesial yang perlahan menjadi basi, menjadi tak layak untuk dikonsumsi. Menjadikannya sosok yang berbeda dalam sisi yang lain. Sisi lain yang tak bisa aku mengerti.
Read More