Tidur adalah sebuah alasan, alasan untuk pergi sementara
dari dunia nyata. Pejamkan mata, lalu pas bangun sadar-sadar udah jam setengah
dua. Bangun kesiangan memang seperti makan buah simalakama. Antara pahit dan
manis, rasanya tercampur semua. Manisnya tak perlu pusing mikir tugas negara,
pahitnya harus jempalitan hidup seadanya. Tak punya uang untuk beli kuota, tak
punya uang untuk membeli cincin permata. Cincin permata untuk Pevita. Ah
memang, semuanya terjadi karena ada alasannya.
Sekiranya tidur bukanlah pilihan, pilihan ketika
mata terus saja menyala. Bukan karena menunggu balasan chat dari dia, atau bolak
balik scroll timeline-nya, tapi
karena tontonan sepak bola. Turnamen Piala Eropa. Sungguh demi dewa, Piala
Eropa datangnya pas bulan puasa. Bisa dibayangkan betapa bahagianya saya
sebagai fans sepak bola layar kaca. Antara ibadah dan sepak bola berjalan seirama,
berdua bergandengan tangan, duh mesranya. Sekiranya memang benar kata Wina Natalia,
Bahagia Itu Sederhana!




