Secangkir kopi pertama di pagi hari, tak lagi panas
seperti biasanya. Menjadi hangat seperti kamu ketika tahu bahwa ada sosok yang
menyukaimu. Bagi sang waktu, merubah sikap seseorang terasa begitu mudah. Semudah
merubah panas menjadi hangat seperti kopimu di pagi hari. Kamu memang begitu,
tak suka meminum langsung ketika panas, namun hanya menghirup perlahan
aromanya, lalu dibiarkannya mendingin begitu saja. Seperti halnya kamu dalam
menjerat perhatiannya, begitu keras kau menolaknya, begitu tajam kau
menyindirnya, lalu perlahan kau membalas perhatiannya. Dengan lembut, dengan
hangat, seperti halnya secangkir kopi pagi yang kau minum dengan lambat, dan
terlambat.
Secangkir kopi pertama di pagi hari sekarang tersisa
sesesap saja. Masih saja betah duduk sendiri disini, merenungi waktu, tanpa
peduli akan jeritan handphonemu. “Bos Besar!” hanya itu yang terlihat
ketika sekilas melirik ke layar sentuhnya. Tak peduli, yang dibutuhkan hanya
waktu sendiri. Mau dipecat pun tak peduli, toh yang punya perusahaan itu
dirinya sendiri. Bukannya beranjak, dipanggilnya kembali pelayan dan memesankan
secangkir kopi lagi. Ah begitulah, sebagai pecinta kopi, haram baginya untuk
mengganggu waktunya meminum kopi.


