Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Thursday, July 14, 2016

Sebuah Cerita, Tentang Secangkir Kopi

Secangkir kopi pertama di pagi hari, tak lagi panas seperti biasanya. Menjadi hangat seperti kamu ketika tahu bahwa ada sosok yang menyukaimu. Bagi sang waktu, merubah sikap seseorang terasa begitu mudah. Semudah merubah panas menjadi hangat seperti kopimu di pagi hari. Kamu memang begitu, tak suka meminum langsung ketika panas, namun hanya menghirup perlahan aromanya, lalu dibiarkannya mendingin begitu saja. Seperti halnya kamu dalam menjerat perhatiannya, begitu keras kau menolaknya, begitu tajam kau menyindirnya, lalu perlahan kau membalas perhatiannya. Dengan lembut, dengan hangat, seperti halnya secangkir kopi pagi yang kau minum dengan lambat, dan terlambat. 
http://www.ibu-hamil.web.id/2015/02/bolehkah-ibu-hamil-minum-kopi.html

Secangkir kopi pertama di pagi hari sekarang tersisa sesesap saja. Masih saja betah duduk sendiri disini, merenungi waktu, tanpa peduli akan jeritan handphonemu. “Bos Besar!” hanya itu yang terlihat ketika sekilas melirik ke layar sentuhnya. Tak peduli, yang dibutuhkan hanya waktu sendiri. Mau dipecat pun tak peduli, toh yang punya perusahaan itu dirinya sendiri. Bukannya beranjak, dipanggilnya kembali pelayan dan memesankan secangkir kopi lagi. Ah begitulah, sebagai pecinta kopi, haram baginya untuk mengganggu waktunya meminum kopi.

Read More

Thursday, July 7, 2016

Tulisan Edisi Hari Raya Idul Fitri

Sekiranya selalu ada akhir dari sebuah perjuangan. Pada akhirnya, perjuangan menghadapi segala macam godaan hawa nafsu dan menahan rasa lapar dahaga dengan berpuasa selama sebulan penuh berakhir sudah. Dengan gema takbir sebagai penanda hari suci, hari kemenangan yang ditunggu, setelah berjuang sebulan berpuasa menahan segala godaan nafsu.

http://www.resepmasakankreatif.com/resep-masakan/resep-cara-membuat-opor-ayam-enak-mudah.html

Hari Raya Idul Fitri, Hari yang begitu dinanti, di hari yang suci kita semua kembali fitri dengan dompet penuh dengan lembaran uang yang warna-warni. Hari Raya Idul Fitri, hari dimana kita saling bersilaturahmi dan sembari mencicipi segala makanan yang dikeluarkan dari lemari. Entah itu nastar, kastengels, astor, sampai rengginang semuanya begitu menarik hati. Seperti halnya dia, sosok wanita yang entah kenapa pas hari lebaran semakin cakepan.

Read More

Saturday, July 2, 2016

Sebuah Cerita: Pesan Terakhir

Segelas kopi hitam yang dipesan dibiarkannya menjadi dingin. Hanya pahit yang tersisa ketika dia menyesapnya, menyesapnya perlahan, dalam diam. Sejenak matanya terpejam, menerawang kembali kerlipan kenangan yang perlahan datang terbayang. Tentang adegan-adegan terakhir penghabisan kisan cintanya. Masih hangat di pipinya bekas tamparan, tampak semburat merah tersisa di kulit putihnya. Semua terjadi begitu cepat, seperti halnya kilatan petir yang datang mengagetkan, lalu kabur meninggalkan suara yang menggetarkan langit.

Begitulah dia, sosok wanita yang tersisa dari segelintir lelaki yang masih ada di tengah sepinya Kafe Senja di malam hari. Entah kenapa, dia hanya diam mematung sendiri, mata menerawang ke awang-awang, menatap langit malam yang sesekali menjadi terang oleh kilatan sang halilintar. Dia masih saja diam, ketika kopi hitam kedua pesanannya datang. Membiarkannya, dijejerkan di samping kopi lama yang masih tersisa. Selayaknya kisah cinta yang tak pernah usai, selalu saja ada sisa. Meninggalkannya hanya sekedar untuk mencari penghangat sementara.

Read More

Sunday, June 26, 2016

Cerita Di Toko Buku

Tumpukan buku semakin berdebu seiring berjalannya waktu. Di pojokan sebuah toko buku, terselip sebuah cerita masa lalu. Cerita tentang sepasang kekasih yang saling merindu. Merindu ingin bertemu, merindu ingin bertatap muka, tersenyum lalu tersipu malu. Sepasang kekasih yang hanya bisa merindu tanpa bisa bersatu. Cinta lama kadang begitu indah ketika mengenangnya, begitulah kalimat penutup dalam sebuah cerpen di majalah edisi hari minggu.

*Lanjutan dari tulisan lalu yang berjudul Senja di Bulan Juni*
Read More

Monday, June 13, 2016

Tidur Adalah Kesadaran

Tidur adalah sebuah alasan, alasan untuk pergi sementara dari dunia nyata. Pejamkan mata, lalu pas bangun sadar-sadar udah jam setengah dua. Bangun kesiangan memang seperti makan buah simalakama. Antara pahit dan manis, rasanya tercampur semua. Manisnya tak perlu pusing mikir tugas negara, pahitnya harus jempalitan hidup seadanya. Tak punya uang untuk beli kuota, tak punya uang untuk membeli cincin permata. Cincin permata untuk Pevita. Ah memang, semuanya terjadi karena ada alasannya.

Sekiranya tidur bukanlah pilihan, pilihan ketika mata terus saja menyala. Bukan karena menunggu balasan chat dari dia, atau bolak balik scroll timeline-nya, tapi karena tontonan sepak bola. Turnamen Piala Eropa. Sungguh demi dewa, Piala Eropa datangnya pas bulan puasa. Bisa dibayangkan betapa bahagianya saya sebagai fans sepak bola layar kaca. Antara ibadah dan sepak bola berjalan seirama, berdua bergandengan tangan, duh mesranya. Sekiranya memang benar kata Wina Natalia, Bahagia Itu Sederhana!

Read More

Monday, June 6, 2016

Cerita di Bulan Puasa

Pada akhirnya yang tersisa dari sebuah cerita masa lampau adalah rasa kenangan, yang terpatri dalam ingatan, yang terkenang sepanjang masa, tak peduli akan batasan usia. Seperti halnya sebuah cerita, bulan ramadhan bagiku adalah bulan penuh cerita. Bulan penuh berkah, bulan penuh kegembiraan, bulan penuh acara buka bersama dengan kawan-kawan.

http://www.manfaatonline.com/manfaat-hikmah-dan-keutamaan-puasa-ramadhan/

Tak hanya sebatas menahan godaan minuman dan makanan, godaan akan nafsu mata, godaan dalam berucap kata. Bulan puasa banyak bermunculan berbagai macam cerita. Cerita yang bermacam makna, mulai dari kenangan masa lalu, ataupun kenangan masa kecil, semuanya tercampur begitu saja. Hanya ada di bulan puasa, yang datangnya hanya di bulan ramadhan saja.

Read More

Tuesday, May 31, 2016

Tentang Pengalaman Pertama

Awalnya, mengulas tempat nongkrong anak muda bukanlah aliranku, bukanlah pilihan untuk tulisan dalam blogku. Tapi entah kenapa dengan kebisingan yang aku dapatkan di tempat ini, memberiku ide untuk mengulas sedikit banyak tentang tempat ini, sebuah warung yang lagi terkenal di kalangan anak muda daerah Kota Satria, Purwokerto. Warung Ora Umum.

https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fscontent.cdninstagram.com%2Fl%2Ft51.2885-15%2Fs640x640%2Fsh0.08%2Fe35%2F12534292_1114644515235058_1272080957_n.jpg%3Fig_cache_key%3DMTE3MTQwMTQ0Njg3MTc5MDExMQ%253D%253D.2&imgrefurl=http%3A%2F%2Finstagify.com%2Ftag%2Fmakananpwt&docid=QGoKapbFvqFjZM&tbnid=1pO50UGC9ozZTM%3A&w=640&h=640&bih=667&biw=1366&ved=0ahUKEwjn-LefgYLNAhUIs48KHc4wCwQQMwgpKA8wDw&iact=mrc&uact=8

Ramai derai, penuh canda tawa, dan ditambah hujan deras yang menggila, semakin menambah keramaian siang itu. Aku suka hujan, tapi tak suka ketika dia datang tanpa peringatan. Seketika datang berhamburan, memberiku dua pilihan, lanjut jalan tapi kebasahan atau berhenti lalu masuk ke dalam sekedar nyari makanan. Ya, aku pilih opsi kedua. Tanpa aku sadari, ternyata perut kelaparan bisa menentukan pilihan.

Read More