Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Saturday, October 24, 2015

Tanpa Kata-kata

Kalau berbicara banyak-banyak bisa membuatmu mengerti, maka aku akan melakukannya. Melakukan semuanya dengan caraku, cara yang berbeda. Cukup banyak yang aku tahu, mana yang aku tak tahu, mana yang kamu mau, dan mana yang kamu tak tahu. Aku cukup tahu banyak akan tentangmu, tapi apakah aku harus berkoar-koar kesana kemari agar kamu tahu, bahwa aku cukup banyak tahu tentangmu, tentang banyak hal, tentang berita terbaru, tentang hal yang kau anggap penting.

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://photo3.ask.fm/652/245/356/-59996999-1tbefdm-2ba3phdbkqemhna/preview/avatar.jpg&imgrefurl=http://ask.fm/nisapeye&h=300&w=300&tbnid=VetAnaA_wkt2AM:&docid=2zjn9GOaMI1u2M&ei=5YArVrbfJcKnuQSExZ2oDw&tbm=isch&ved=0CHsQMyhWMFZqFQoTCPblvvyU28gCFcJTjgodhGIH9Q

Aku bisa berbicara seharian tentang berita, tentang berita terbaru yang tak kamu tahu. Menyampaikannya padamu dengan sudut pandangku, dengan caraku, caraku yang kau anggap aneh itu. Aku suka musik, aku tahu segala jenis musik, tapi sayangnya aku tak cukup mahir dalam memainkan alat musik, yang aku tahu soal musik hanya soal musik apa saja yang jadi favoritmu, jadi kesukaanmu. Aku bisa memberimu petunjuk, tentang semua jenis lagu yang mana cocok akan suasana hatimu, mana yang cukup bagus untuk mendongkrak semangatmu, dan mana yang cocok untuk sekedar menyingkirkan awan mendung hatimu, aku tahu lagu yang cocok untukmu. Tapi, apakah kamu mau berhenti sejenak, dan mendengarkan semua saranku?

Read More

Saturday, October 17, 2015

Malam Minggu

Malam minggu bagi sebagian orang adalah malam yang sakral. Banyak orang rela menunggu berhari-hari demi yang namanya malam minggu. Banyak orang yang bilang malam minggu itu waktunya anak muda, waktunya yang muda yang bergelora rasa cintanya, dan bagi yang tak punya kekasih tercinta diharap minggir, ah begitulah kata mereka. Sialan memang, bagi mereka orang yang tak punya kekasih tercinta hanya memenuhi jalanan protokol, dan lebih baik jaga rumah saja. Bah, macam mana pula bisa begitu?! Mentang mentang punya pacar, bisa seenaknya saja! *jomblo marah* Fine!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxVhvNrXJRjBlakV0a9AVvQGq-cmgWC_4LKppwyHWMU6KzfqoypH-asG5_YLpv4jiUu6yLryIPxSmRABhBRSLzN-GmqOFpOItR13yHZ-Ww-hkF3yv0vnocMAM65Y6Yh2_BCsmZRn42Acg/s1600/kata+malam+minggu3.jpg

Malam minggu, malam yang enak untuk melepas rindu. Rindu akan kekasih, rindu akan orang yang terpilih. Terpilih untuk menjadi seorang kekasih. Kekasih jiwa, kekasih hati, kekasih cinta, ah begitulah cinta, suka membutakan semua mata. Malam minggu bagi mereka tak lengkap rasanya bila tak bertemu dan bertamu ke rumah kekasihnya. Ya istilahnya “ngapel, apel, wakuncar” atau apalah istilah mereka. Ya, saya pun pernah mengalaminya dan menikmati bagaimana rasanya wakuncar dulu. Iya, dulu sebelum Belanda datang menjajah Indonesia. Dan saya mencoba maklum melihat tingkah polah anak muda yang sedang dimabuk cinta, di malam minggu, malam penuh cinta.
Read More

Friday, October 9, 2015

Sang Pembaca

Setumpuk buku dipegangnya begitu saja, dengan satu tangan sekaligus lima buku dalam tangkupan. Tangan yang satu sibuk mencari buku baru, tangan yang satu sibuk menjaga lima buku calon ladang ilmu. Matanya menyapu ke segala penjuru, mengamati tanda, mengamati pola, menjadikannya almanak yang kelak akan dipungutnya, dibacanya, dihisap sari pati ilmunya. Perlahan tapi pasti langkahnya perlahan menjadi gontai, bukan karena kesulitan membawa beban buku yang terlalu banyak, tapi karena beban pikiran yang menumpuk bertumpuk menjadikan pikirannya lapuk, layaknya kerupuk yang sudah tak berbentuk.


Membaca, mungkin hanya itu pelariannya. Dengan kacamata minus yang jadi ciri khasnya, dengan belang warna di antara kedua frame lensanya, dia perlahan beringsut menyeret tubuhnya menjauhi segala keriuhan sekitarnya. Tercatat lima belas buku berada di tangannya, berbagai macam jenis, komik, novel, cerpen, sampai resep makanan pun dia bawa. Nampaknya dia mengambil buku secara acak, menjadikannya ajang penghiburan diri. Kadang tertawa, kadang terbahak, kadang tergugu, kadang tersenyum getir, begitulah dia ketika sedang membaca bukunya. Tanpa peduli tatapan aneh orang-orang sekitar, lembar demi lembar buku pilihannya telah habis dia babat, dia baca, dia kelumat segala maknya, dia resap segala ilmunya. Ah baginya, bahagia itu sederhana. Cukup membaca berbagai macam buku, tak peduli buku baru ataupun lama, toh nikmatnya tetap sama.

Read More

Thursday, September 17, 2015

Sastra Ananta

Seorang anak muda tak sengaja terjebak dalam guyuran hujan sore hari. Hujan sore hari yang mendadak datang mengguyur segala badan, tanpa sempat berkelit, dan basah seketika. Hanya bisa mengumpat, “Persetan keparat!” begitu teriaknya. Sumpah serapah begitu saja tercelat keluar dari mulutnya. Tak peduli pada langit, tak peduli pada bumi, baginya hari ini adalah hari yang berat. Setelah tercelat dari pekerjaannya, terpegat dari kekasihnya, dan kini digapyak dengan hujan deras yang menambah derita. Ah konspirasi semesta, begitulah dalihnya. Ah persetan tak peduli, kapan lagi menikmati hujan dua ruangan. Ruang hati dan ruang semesta. Baginya itu terasa seperti menebar mimpi di antara tidurnya. Gratis tak perlu malu pada gadis manis yang pernah jadi kenangan termanis. Menangis dalam gerimis, ah nikmatnya.

Read More

Monday, September 7, 2015

Belum Waktunya Pulang

Tak terasa sudah hampir 20 tahun lebih hidupku berjalan. Tanpa terasa waktu telah begitu cepat berkilat. Meninggalkan sisa kilatan masa kecil yang terasa masih hangat, melekat kuat dalam setiap jengkal pikiran. Memenuhi ruang kosong yang mereka sebut hati. Masih terasa kosong, tapi biarlah begitu. Karena kosong adalah isi, isi adalah kosong, ah begitulah petuah Jenderal Tian Feng dahulu kala. Masih aku ingat dengan lekat. Ah begitulah aku, mudah sekali tercekat dalam sekat penat. Sekat yang begitu saling merekat.

https://rewinnita.files.wordpress.com/2012/10/tumblr_mboug8ln841qaobbko1_500.jpg

Waktu terus berjalan dan aku terus mencari. Mencari sesuatu yang tak bisa aku ganti. Mengganti dengan istilah manusia yang mudah untuk mereka mengerti. Aku tak mengerti, dan terkadang aku tak peduli untuk memberinya makna akan sebuah arti pada mereka. Karena aku tahu bagaimana rasanya memberi arti spesial pada seseorang, namun nyatanya spesialku itu tak ada artinya, hanya sepasang karet gelang sebagai pertandanya. Bagaikan nasi goreng spesial yang perlahan menjadi basi, menjadi tak layak untuk dikonsumsi. Menjadikannya sosok yang berbeda dalam sisi yang lain. Sisi lain yang tak bisa aku mengerti.
Read More

Tuesday, August 25, 2015

Peluang Keuntungan Bernama Investasi

Kondisi perekonomian dalam negeri yang lagi tak menentu serta gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang terus melemah membuat banyak orang melakukan pertimbangan sebelum memulai usaha baru. Banyak jenis usaha dan investasi yang ditawarkan tapi belum tentu menjanjikan hasil yang memuaskan, dan namanya juga investasi selalu mengandung resiko. Mulai resiko kerugian, kehabisan modal, sampai resiko modal dibawa kabur pun ada. Namun kembali ke jenis investasi dan bagaimana cara kerjanya harus kita ketahui, guna meminimalisir kerugian ataupun mencegah kasus modal yang dibawa lari.

Jaman sekarang banyak sekali jenis-jenis investasi yang ditawarkan, mulai dari investasi tanah, investasi rumah, investasi emas, sampai investasi di Perdagangan Berjangka Komoditi. Mungkin bagi sebagian orang masih belum mengerti apa itu Perdagangan Berjangka Komoditi? Well sekilas saja Perdagangan Berjangka Komoditi adalah suatu bentuk perdagangan suatu komoditi yang tidak melibatkan perpindahan fisik tersebut, dan dalam perdagangan berjangka komoditi yang diperjualbelikan itu nilainya. Komoditi yang dimaksud antara lain, Emas Murni London (Loco London Gold), Valuta Asing (Foreign Exchange (Forex)), dan Index Saham (Nikkei, Hangseng, dan Kospi), dan beberapa lainnya. Efek dari sistem trading ini adalah kecepatan likuidasi-nya, karena setiap saat kamu bisa memulai transaksi dan menutupnya berapapun harga yang tampil di layar monitor.
Read More

Wednesday, August 12, 2015

Sebuah Nostalgia Kemerdekaan

Hari ini tepat sebulan setelah kepergianmu, kepergian sosok madu pemanis hidupku. Aku duduk sendiri dengan secangkir cappucino hangat favoritmu. Masih di kedai kopi yang sama, tempat pertama kali aku dengar lembutnya suaramu ketika pertama perkenalan dulu dan seraknya suaramu tatkala menahan tangis di waktu perpisahan dulu. Semua masih terdengar dengan jelas di pelosok pikiranku. Menjadikannya gaung dan gema yang saling memantul kesana-kemari tanpa bisa berhenti. Selalu berputar kesana-kemari menjadikanku lupa bahwa aku sekarang sudah sendiri. Tanpamu, tanpa rayu manjamu, dan tanpa pelukan hangatmu. Tanpa kamu sosok maduku, pemanis cerita hidupku

Sekarang aku sendirian di tempat yang sama tatkala hati kita bersatu menjadi satu, kau dan aku menjadi kita. Sekarang aku sendirian di tempat yang sama ketika kita tertawa bersama, saling berbagi canda tawa duka dan air mata. Masih disini menikmati setiap alunan musik lagu favorimu. Lagu yang membuatku seolah kembali ke waktu dimana kita menyanyi bersama di balkon rumahmu. Kau yang menyanyi, dan tugasku cukup mengiringi, mengiringi merdunya suaramu dengan petikan gitar kesayanganku, hadiah ulang tahun darimu.
Read More