Kamar ini,
Dinding bersuara seperti kaset rusak yang berputar menggemakan lagu-lagu lama yang pernah menjadi favorit kita. Kipas angin berputar di pojok kamar, yang dengan sabar terus berputar, seolah sedang mengingatkan bahwa hubungan kita tak beda jauh dengannya. Hanya berputar-putar saja. Menyebarkan angin segar bagi mereka yang mengharapkan persatuan kita, atau membuat masuk angin bagi mereka yang mengharapkan kita berpisah secepatnya.
Lampu kamar tak lagi terang, tatkala kau datang, dengan badan basah kepayahan. Hari itu sedang hujan deras. Kau memaksa untuk datang, hanya sebatas untuk menyiksa diri dan menggumamkan pertanyaan “Esok hari bagaimana hidup akan berlanjut?” Tak ada lanjutan atas pertanyaan setelah tubuhmu menggigil kedinginan.